Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
Rukaya


__ADS_3

"Assalamu'alaikum, Ustadza," sapa Khalifa kepada Rukaya.


Tadinya Khalifa tidak ingin bertegur sapa bersama Rukaya, tetapi untuk menjaga situasi agar tetap kondusif di dalam ruangan, maka ia pun mengenyampingkan perkataan suaminya beberapa waktu lalu.


"Wa'alaikumsalam," sahut Rukaya.


Sikap gadis berbaju biru muda tersebut seperti menggambarkan seseorang yang tak bersahabat. Meski demikian, Rukaya tetap menghormati Khalifa selaku istri dari pimpinan pondok pesentren tempatnya mengajar.


Dua bulan lalu Jamal memintanya untuk resign dari pesantren itu, tetapi Rukaya menolak. Jamal dan Ratna tidak ingin memaksakan kehendak kepadanya, maka ia pun tetap menjalankan tugas seperti biasa.


"Bagaimana rasanya mengajar di pesantren? Pasti kau sedikit kaku, karena masih baru pertama kali, bukan?" imbuh Rukaya.


"Alhamdulillah lancar. Saya pun tidak merasa canggung apa lagi kaku. Alhamdulillah saya bahagia. Apa lagi ini adalah pesantren tempat suami mengajar." Entah apa yang sedang dipikirkan Khalifa sampai ia keceplosan memperjelas statusnya di depan Rukaya. Alhasil Rukaya pun terbakar cemburu.


"Begitu, ya?" Ekpresi gadis itu pun semakin canggung. Ada rasa malu yang menyelimuti hati serta pikirannya.


Ia merasa Khalifa sedang memojokan dirinya. "Oh iya, apakah saya boleh bicara sebentar sama Ustadza?" pinta Rukaya setelah beberapa saat diam.


"Boleh, silahkan."


"Tidak di sini. Apakah Ustadza bersedia ikut bersamaku ke taman belakang?"


"Boleh, ayo." Khalifa tidak berpikir dua kali untuk memenuhi permintaan gadis tambatan hati dari suaminya itu.


Setibanya di taman, Rukaya dan Khalifa duduk di kursi. Mereka diam untuk beberapa saat. Canggung serta bingung harus memulai dari mana untuk menyampaikan isi hati.


"Apakah tidak ada yang ingin Ustadza sampaikan padaku? Bila tidak ada, maka sebaiknya saya permisi." Sudah sepuluh menit duduk bersama. Namun, Rukaya masih belum mengatakan apa-apa. Alhasil Khalifa merasa jenuh.

__ADS_1


"Bukankah kau tahu, bahwa aku dan Mas Alvin saling mencintai?"


Deg!


Belum sempat Khalifa berdiri tegak, Rukaya melontarkan kalimat yang sukses mencubit hati. Sebagai seorang istri, tentu saja Khalifa cemburu.


"Iya, aku tahu," sahut Khalifa akhirnya setelah menetralkan perasaan yang kian resah.


"Lalu mengapa kau masih mau mengajar di tempat ini? Apakah kau ingin memastikan hubungan kami seperti apa?" Sontak Khalifa merasa terkejut sekaligus heran pada sikap Rukaya kali ini.


Dikiranya gadis itu tidak mempersoalkan pernikahannya bersama Alvin. Namun, siapa sangka di balik kepolosan serta sikap diam yang selama ini ia tunjukan, justru tersimpan cemburu terselubung.


Meski demikian, Khalifa masih tetap sanggup menahan diri. Tak ingin gegabah dalam menyerang Rukaya.


Di sisi lain, Alvin pasti tidak akan membela dirinya bila terjadi pertikaian. Bukankah akan memalukan jika cinta segi tiga mereka diketahui oleh semua pihak?


Untuk yang kesekian kalinya, Khalifa harus menahan diri agar tak salah langkah. Rukaya adalah gadis yang dicinta oleh suaminya. Bila terjadi sesuatu, Alvin tak akan mudah percaya padanya. Sebaliknya, Rukaya lah yang akan menjadi pemenang.


Mereka seolah saling bermusuhan satu sama lain. Tadinya Khalifa tidak ingin menunjukan rasa cemburunya kepada Rukaya, tetapi wanita itu terus mempersoalkan dirinya.


"Mengapa kau tidak menolak khitbah Mas Alvin?" Akhirnya Rukaya menyampaikan isi hati yang sebenarnya dalam pertemuan tersebut.


"Sebaiknya hal ini kau tanyakan langsung kepada Mas Alvin. Mengapa dia tidak menolak perjodohan ini dan justru meminangku. Aku rasa dia yang lebih tahu jawabannya ketimbang aku," sahut Khalifa datar. Namun, penuh penekanan.


Gadis bercadar itu memutar balikan perkataan Rukaya. Posisi Khalifa dan Alvin saat itu berada di tempat yang sama. Mereka sama-sama tidak tahu menahu perihal perjodohan tersebut.


"Jangan memutar balikan fakta!" sarkas Rukaya mulai meninggikan suara.

__ADS_1


Khalifa tersenyum sinis, seolah akhirnya tahu sifat asli Rukaya.


"Saat itu, mengapa kau tidak meminta Mas Alvin meminangmu sebelum terjadinya khitbah? Dan mengapa kau justru menyalahkan aku? Apakah aku yang menginginkan pernikahan ini? Jangan lupa, aku juga korban di sini. Aku tidak pernah meminta siapapun untuk meminangku, dan aku tidak pernah mengambil hak siapapun. Saat Mas Alvin datang ke rumah, dia masih lajang dan bukan milik siapa-siapa. Apa lagi suami orang. Lantas mengapa kalian memperlakukan aku seperti tersangka utama?" Panjang lebar Khalifa mengutarakan pemikirannya.


Hari pertama saat mengajar, alih-alih mendapat kesan baik, ia justru merasa sakit hati. Rukaya yang dianggapnya bisa menjadi teman baik, justru menyerang dirinya.


"Namun, bukankah kau tahu, bahwa kami saling mencintai?" Lagi-lagi Rukaya mengulang kalimat yang sama. Alhasil Khalifa pun semakin cemburu. Pasalnya gadis itu seolah hendak menegaskan, bahwa Alvin hanya mencintai dirinya, serta menginginkan ia menjadi istri dari pria tersebut. Sedangkan Khalifa ibarat benalu dalam hubungan mereka.


"Aku juga baru tahu setelah kami menikah. Andaikan aku tahu ada kau di antara perjodohan itu, aku tidak akan sudi menerima khitbah pria yang tidak menghargai seorang wanita. Jika kau ingin masih mempertahankan perasaanmu dengannya, jangan lupa, bahwa sekarang dia adalah suami orang. Bukankah kau paham akan agama? Kau juga mengajar tentang fiqih. Aku tidak perlu mengajarimu, karena kau yang lebih pandai dari aku." Khalifa lantas berdiri dan meninggalkan Rukaya dengan perasaan hancur.


Betapa tidak, pemuda yang dulu disangka Abahnya dapat memimpin rumah tangga dengan baik, justru menyakiti dirinya, mengabaikan hak serta kewajiban. Sungguh Khalifa tak dapat menjabarkan perasaannya. Terlalu sakit yang ia rasa. Alvin menghancurkan segala masa depannya.


Memang belum ada yang hilang darinya. Khalifa masih perawan. Namun, satu dunia tahu, bahwa ia telah menikah. Terlebih lagi kedua mertua mengharapkan adanya cucu dari mereka.


Bagaimana bisa Khalifa memberi cucu, sedangkan suaminya tak pernah menggauli dirinya walau hanya sekali. Bahkan untuk sekedar mengecup kening, sama sekali tidak pernah. Apakah seorang anak bisa di download seperti acara komedi? Tentu saja bukan seperti itu konsepnya.


"Apa yang kau lakukan bersama Rukaya di taman?" Rupanya pertemuan keduanya diketahui oleh Alvin.


Khalifa menyeka sisa air matanya, lantas ia pun berkata, "Mengapa Mas tidak bertanya langsung pada wanita itu? Bukankah kalian sangat dekat. Ah ya, bukankah kalian masih saling berhubungan satu sama lain?"


"Jangan mengalihkan permibicaraan!" sarkas Alvin meninggikan suara tujuh oktaf.


Khalifa merasa terintimidasi oleh suami serta Rukaya. Tak ada yang memahami perasaannya. Gadis itu bagai terjepit tembok tebal.


"Mas, aku lelah. Bisakah aku istirahat sebentar?" Khalifa memilih menghindari perdebatan, atau setan akan semakin memanasi hati suaminya.


"Dengar, jika aku tahu kau sampai menyakiti Rukaya, maka aku tidak akan tinggal diam. Kau akan aku keluarkan dari pesantren ini. Tidak peduli Abah dan Umi marah padaku. Cam kan itu!" Lihatlah sikap Alvin yang begitu sarkasme. Dicengkeramnya lengan Khalifa sekuat tenaga, lalu menghempasnya dengan kalimat tajam.

__ADS_1


Alvin tidak pernah mau tahu betapa menderitanya Khalifa. Dia hanya mampu melihat duka Rukaya.


Khalifa kembali menangis kesakitan. Andaikan bukan karena amanah mendiang Abah, maka ia rela menceraikan suaminya.


__ADS_2