Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
Mengapa Kau Sangat Bodoh?


__ADS_3

Tidak ada wanita yang rela dimadu. Tidak ada wanita yang bersedia berbagi kasih. Tidak ada wanita yang bahagia rumah tangganya dimasuki orang ketiga.


Bila itu terjadi rasanya sangat sulit dijabarkan dengan kata-kata. Dan bila ada wanita yang bersedia dipoligami dengan alasan tertentu, maka ia termasuk salah satu manusia berahlak luar biasa, karena rela membagi suaminya.


Mungkin semua orang akan menyebutnya bodoh, gila, tidak masuk akal, dan lain sebagainya.


Bahkan ada juga yang mengatakan, bahwa wanita itu begitu rendah karena mempertahankan pria yang tak pernah membalas cintanya. Namun, adakah yang bisa memahami keputusan wanita itu?


Semua orang melihat dari sudut pandang keburukan, negatif, serta kebodohan, tanpa melihat hikma yang kelak akan dipetiknya setelah memutuskan untuk dimadu.


Memang terasa sulit dan sesak pada mulanya. Namun, seiring berjalannya waktu semua akan jadi terbiasa. Wallahualam bissawab.


"Mengapa kau mengizinkan suamimu poligami? Apakah kau adalah Siti Aisyah yang rela dipoligami Rosulullah karena risalah Allah? Dan apa kau suka melihat wanita lain bersenda gurau bersama sumimu? Apa kau bahagia menyaksikan ijab qobul suamimu untuk yang kedua kalinya bersama perempuan lain? Kau benar-benar tidak masuk akal! Mengapa kau begitu bodoh?!"


Umi Kalsum mencerca Khalifa dengan beragam pertanyaan sulit. Sehingga gadis itu memejamkan mata, seakan tak kuasa membayangkan semua perkataan kerabatnya tersebut terjadi di kemudian hari. Sesungguhnya Khalifa tidak ridha. Namun, ia mempunyai sudut padang tersendiri ihwal keputusannya.


"Iya, Umi benar. Aku memang sangat bodoh dan tak masuk akal karena mengizinkan suamiku untuk menikahi wanita lain. Namun, aku mempunyai alasan di balik keputusanku ini, Umi," jawab Khalifa sembari menahan tangis.


"Lalu apa alasanmu? Bisa kau jabarkan kepada kami?" tanya Yusuf.


"Kami menikah karena perjodohan, dan tanpa ku tahu, bahwa aku telah memasuki hubungan orang lain. Mungkin aku tidak merebut suami orang saat itu, tetapi aku telah mematahkan hati sesama wanita. Aku tahu kalian tidak akan memahami jalan pikiranku ini. Aku juga telah memutuskan untuk tidak lagi mengejar cinta suamiku, karena sampai kapanpun juga dia tidak akan membuka hatinya untuku. Mungkin ini adalah balasan dari setiap dosa yang telah ku perbuat kepada Allah. Aku telah melupakan cintaku pada-Nya, dan lebih mengejar cinta suamiku. Sedangkan Dia lah yang menumbuhkan cinta di hati setiap hamba-Nya. Aku melupakan banyak hal semenjak menikah. Aku bahkan mengurangi kadar cintaku kepada Allah karena terlalu sibuk mengharapkan suami. Namun, sekarang tidak lagi. Sebab, Allah telah menghukumku dengan membawa gadis lain dalam rumah tangga kami. Mungkin orang lain akan menganggap ini adalah sebagai kutukan, tetapi bagiku ini adalah jalan menuju cinta kasih Allah. Wallahualam."


Siapa sangka bila Khalifa telah berbesar hati dalam menerima keputusan suaminya. Alih-alih kecewa serta marah, ia justru menemukan jalan lain menuju surganya Allah.


Banyak hikmah yang Khalifa petik dari peristiwa rumah tangganya. Selama ia mengenal pria, ia kerap menyibukan diri mengejar cintanya, sampai melupakan siapa yang membolak balikan hati untuk menumbuhkan cinta itu sendiri.


Khalifa tidak sepenuhnya menganggap ujian itu sebagai hukuman, melainkan cara Allah menunjukan cinta kasih kepadanya. Sebab, Dia maha pengasih lagi maha penyayang.

__ADS_1


Sementara Alvin yang mendengar percakapan antara keponakan dan tante itu seketika terketuk pintu hatinya. Mengapa ia sampai tega menyakiti wanita yang telah mencintainya begitu besar.


Karenanya, cinta gadis itu berbelok arah. Dahulu ia hanya mencintai Allah, tetapi semenjak mengenal dirinya, maka cinta itu pun berpaling padanya.


Sungguh besar cinta kasih Khalifa untuknya. Namun, karena ego serta terbawa hawa nafsu, maka ia menempuh jalan yang terjal.


Alvin telah berubah menjadi pria yang tega lagi bejat. Tidak berperasaan sama sekali. Hatinya seolah mati kala melihat cinta di mata Khalifa untuknya.


"Khalifa, mengapa kau mencintaiku sebesar itu?" lirih Alvin, akhirnya menyadari sisi lain dari Khalifa.


Selama satu tahun berumah tangga, tidak sedikitpun ia memberi kesempatan kepada hatinya untuk menerima Khalifa sebagai istri. Dipandangnya gadis malang itu sebagai perusak serta benalu dalam hubungan orang.


Adalah Rukaya, gadis yang paling diidamkan selama mengenal cinta lawan jenis.


"Sungguh mulia hatimu, Nak. Namun, tidakah kau sakit hati terhadap suamimu?" ucap Yahya yang sejak tadi diam menyaksikan percakapan keponakannya itu.


Yahya lantas berdiri, mengusap kepala keponakannya itu penuh kasih serta rasa bangga. Sebab, baru pertama kali ia melihat seseorang yang begitu dalam memaknai perjalanan hidupnya.


"Paman bangga padamu, Nak. Jika menurutmu ini adalah keputusan yang terbaik untukmu, maka lanjutkan. Dan jangan lupa, bahwa Allah sangat mencintaimu, pun kami sebagai kerabat yang mewakili mendiang orang tuamu." Khalifa lantas merengkuh tubuh Pamannya itu. Lalu menengis di dalam pelukannya.


Meski kecewa kepada Alvin, tetapi ia masih memiliki keluarga yang begitu menyayangi serta menghargainya. Inilah yang seharusnya disebut sebagai cinta tulus.


Lagi-lagi Alvin yang mendengar percakapan itu, sontak meneteskan air mata. Terharu pada apa yang dilakukan istrinya itu.


Sengaja Alvin tak diizinkan masuk oleh Khalifa, karena tidak ingin privasi keluarganya didengar oleh pria tersebut.


Biarlah percakapan mereka menjadi rahasia keluarga. Tanpa Khalif tahu, bahwa Alvin telah mendengar segalanya.

__ADS_1


Sepulang dari kampung halaman, Khalifa banyak diam. Di dalam mobil tak satu kata pun terucap dari mulutnya.


Pandangannya kosong ke sisi jendela. Sedang Alvin tidak ingin merusak suasana hatinya. Ia pun memutuskan untuk memutar musik religi yang kebetulan saat itu berjudul 'Rapuh' milik Opick.


"Apa kau tidak merasa lapar?" Lama diam, akhirnya Alvin berani mengajukan pertanyaan.


"Tidak," sahut Khalifa tanpa melihat wajah Alvin.


Busstt...


Tak lama terdengar suara ban mobil kempes. Sehingga menyebabkan Alvin menginjak pedal rem secara mendadak.


"Kau tidak apa-apa?" Inilah bentuk perhatian tulus Alvin pertama kali kepada istrinya. Sayangnya, hati Khalifa terlanjur membeku. Ia tidak merasakan apa-apa lagi terhadap suaminya itu.


Kini cintanya hanya dipersembahkan untuk Sang pencipta. "Iya," sahut Khalifa dingin.


Seketika hati Alvin tercubit kala harus menyaksikan perubahan sikap istrinya itu. Jika dulu ia memilih untuk mengabaikan, kini pemuda tersebut beralih mengharapkan segalanya kembali seperti dulu lagi.


Ia lebih suka bila Khalifa mengomelinya, menunjukan kasih sayang, serta rasa cinta yang teramat besar untuknya. Namun, apalah artinya itu semua bila hanya bertepuk sebelah tangan. Apakah Alvin ingin melihat Khalifa tersiksa lebih lama lagi?


"Bagaimana jika kita beristirahat sebentar sambil menunggu bantuan datang?" tawar Alvin akhirnya.


"Terserah mana baiknya." Bahkan Khalifa hanya berujar seperlunya, hingga Alvin semakin kebingungan.


Tidak sepatutnya Alvin menuntut Khalifa untuk kembali seperti dulu lagi. Bukankah dia yang telah membuatnya seperti itu?


Sikap Khalifa kali ini bukan tanpa alasan. Dia sudah lelah diabaikan. Perjuangannya disia-siakan. Terlebih lagi hanya dirinya seorang yang berjuang dalam perkawinan mereka. Sedang suaminya sibuk menjaga hati wanita lain. Maka wajar bila ia menutup hati.

__ADS_1


__ADS_2