
Di pesantren, rumah tangga kami menjadi bahan pergunjingan setiap orang. Terutama ketika orang-orang itu melihatku.
Tak satu pun dari mereka yang tak berbicara. Sedang aku hanya bisa menutup telinga. Sebab, tanganku hanya ada dua. Tak cukup untuk membungkam mulut orang-orang tersebut.
Pun para tetangga serta kerabat jauh yang mendadak mendekat setelah mengtetahui pernikahan kedua Mas Alvin.
Mereka berkata, bahwa aku tak pandai melayani suami, hingga Mas Alvin memutuskan untuk menikah lagi.
Ada pula yang berngatakan, bila aku terlalu egois pada diri sendiri. Aku terkesan lebih mementingkan urusan agama ketimbang rumah tangga.
Ada juga yang menyimpulkan, bahwa aku tak pandai menjaga serta merawat suami. Dan masih banyak lagi cerita yang ku dengar dari mulut orang-orang yang sok tahu.
Namun, di antara semua pergunjingan itu, hal yang paling menyakitkan adalah saat kerabat jauh Mas Alvin berkata, jika aku adalah seorang wanita mandul. Sehingga tak dapat memberi Mas Alvin keturunan.
Jika mereka mengatakan, bahwa aku adalah wanita bodoh serta egois, aku masih bisa menelannya mentah-mentah. Aku masih bisa sapu dada sembari tersenyum ceria. Namun, tidak untuk yang satu ini.
Andaikan orang-orang itu tahu yang sebenarnya terjadi antara aku dan Mas Alvin, mungkin mulut laknat itu akan segera diam.
Malam-malam berikutnya, Mas Alvin kerap menghabiskan waktu bersama Rukaya. Sehingga menimbulkan tanda tanya besar dalam benakku. Sebenarnya apa yang terjadi pada malam pertama mereka dulu. Mengapa sampai Mas Alvin datang ke kamarku? Apakah saat itu dia sedang berusaha untuk menunjukan sikap adil padaku? Entahlah, yang pasti saat ini dia tak lagi sama.
"Kau mau kemana?" Kami duduk makan bertiga di dapur. Sedangkan Abah dan Umi sedang mengunjungi kerabat yang sakit di kota Malang. Sementara Mas Al masih ada di dalam kamarnya.
"Mengajar," sahutku singkat.
Sikapku kali ini cukup dingin, sebagai ungkapan protes terhadap cara Mas Alvin memperlakukan kami.
"Berangkatlah bersama kami," ucap Mas Alvin dengan entengnya.
__ADS_1
Bagaimana bisa ada manusia tak tahu malu sepertinya? Aku dan maduku mengajar di pesantren yang sama. Sedang dia menjadi pimpinan pondok pesantren tersebut. Tidakkah hal ini sangat memalukan?
Sedang aku tidak ingin melepas pekerjaan itu. Sebab, aku menganggap para anak satri adalah hiburanku.
Pun Rukaya yang masih bertahan di pesantren tersebut. Seolah tak merasa akan banyak fitnah di sana.
Aku tahu, bahwa Rukaya lah yang lebih dulu menjadi tenaga pengajar di sini. Akan tetapi, aku adalah istri pertama Mas Alvin. Setidaknya ia memikirkan bagaimana perasaanku.
"Mas Alvin benar, Mba. Kita berangkat bersama saja." Sialnya, Rukaya memperlakukan dengan sangat baik. Entah itu di rumah, maupun di pesantren. Lantas alasan apa yang harus ku kemukakan untuk membenci dia?
Apakah karena dia memasuki kehidupan kami? Tapi bukankah dia yang lebih dulu mengenal Mas Alvin ketimbang aku?
Ataukau karena aku terlalu memendam rasa cemburu ini? Meski berusaha kuat agar tidak menyimpan rasa itu, tetapi sebagai manusia biasa terkadang aku pun khilaf. Terlebih lagi Mas Alvin tidak membagi rata cintanya. Dia tak adil padaku.
"Tidak, terimakasih. Aku bisa membawa motor sendiri," jawabku masih dengan sikap dingin.
"Mas Al masih di sini? baiklah, aku pergi bersama Mas Al saja," ucapku.
"Alvin, apakah kau memberi izin? Setidaknya kau harus merestui istri pertamamu untuk keluar rumah bersama yang bukan mahramnya." Entah apa maksud dari perkataan Mas Al, tetapi sepertinya dia sedang menyindir Mas Alvin.
"Iya, aku izinkan. Tidak masalah bila Khalifa pergi bersamamu. Biar aku bersama Rukaya saja." Lantas Mas Alvin melirik Rukaya, melempar senyuman yang tak pernah ditujukan kepadaku.
"Alhamdulillah. Baiklah, kalau begitu kami berangkat dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
Jujur saja, pagi itu aku berangkat dalam perasaan hampa. Ku kira Mas Alvin tetap pada ucapannya. Sialnya, aku terlalu berharap serta percaya diri.
__ADS_1
"Apa kau baik-baik saja?" Di mobil, Mas Al bertanya padaku. Mungkin saja ia merasa iba pada nasib yang tengah ku jalani.
"Alhamdulillah aku baik-baik saja, Mas," sahutku tak bergairah.
"Bila kau tak ingin mengajar, maka sebaiknya jangan dipaksakan. Aku tahu kau menjadikan pesantren sebagai wadah pengalihan perasaanmu yang sakit. Jika kau mau, aku akan membawamu ke tempat dimana kau akan melupakan masalahmu sejenak. Apakah kau bersedia?" Sepertinya ide Mas Al cukup cemerlang. Aku memang butuh hiburan.
"Tidak, sebaiknya kita langsung ke pesantren saja. Aku tidak ingin Mas Alvin salah paham padaku, karena tadinya kita meminta izin ke pesantren. Namun, berakhir ke tempat lain. Aku tidak ingin kemana-mana tanpa izin darinya."
Entah akunya yang bodoh atau karena memegang teguh ajaran agamaku, hingga menjaga martabat suami serta menghormatinya setulus hati. Aku pun menolak ajalam Mas Al yang sejenak membuatku tertarik.
"Baiklah jika kau enggan. Aku tahu kau adalah wanita solehah yang memegang teguh imannya. Sebagai Kakak Alvin, aku meminta maaf padaku, karena tak berhasil mendidiknya dengan baik. Dia memang seorang pemimpin pesantren, tetapi tega menyakiti istrinya." Hatiku semakin sakit kata mendengar ucapan Kakak iparku itu.
Tidak ku duga, bila ia juga merasa bersalah padaku selain Umi dan Abah. Mas Al adalah pria humoris lagi ceria. Dia kerap menggodaku bila sedang duduk sendiri.
Namun, semenjak pernikahan kedua Mas Alvin terjadi. Mas Al seperti menjauhiku. Mungkin karena merasa malu sekaligus bersalah atas yang dilakukan oleh saudaranya terhadapku.
"Mas Al tidak perlu merasa bersalah padaku. Semua adalah takdir Allah yang harus ku jalani. Aku memang kecewa pada Mas Alvin, tetapi aku lah yang memberinya izin. Aku baik-baik saja," sahutku.
"Kau memang pandai menutupi perasaanmu, Ifa. Aku tahu kau sangat terluka, mengapa kau tidak berterus terang saja?" Tebakan Mas Al selalu saja benar. Dan aku tak pandai memungkirinya.
"Andai aku berterus terang, akankah keadaan kembali seperti dulu lagi? Toh pernikahan itu sudah terjadi. Tak ada satu pun dari kita yang mampu mencegah Mas Alvin. Sebab, dia memang sangat mencintai Rukaya sejak awal. Aku lah yang marusak hubungan mereka. Setidaknya aku harus tahu posisiku dimana," jawabku sembari menahan hati.
"Kau tidak merusak hubungan siapapun Ifa, kau tidak merebut Alvin darinya. Kau adalah istri pertama. Sedangkan dia yang kedua. Harus aku akui bila mereka sudah saling mengenal lebih dulu. Namun, kau lah yang dinikahinya saat itu," sarkas Mas Al.
"Aku tahu." Aku tak tahu lagi harus berkata apa. Aku hanya memalingkan wajah ke jendela mobil. Menatap kosong jalanan.
Aku benar-benar lelah. Entah mengapa beberapa bulan terakhir fisiku gampang letih. Pikiran tak tenang, serta merasa mual. Perutku terasa diaduk-aduk.
__ADS_1
Semenjak malam itu, perasaan aneh ini menghampiri tubuhku. Rasanya sungguh tak nyaman. Apakah aku... Ah, tidak mungkin. Ini pasti karena aku terlalu kelelahan. Toh setiap bulan aku masih menstruasi.