Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
Pindah Rumah


__ADS_3

Sesuatu yang mustahil di mata manusia, tetapi dalam pandangan Allah bisa menjadi kepastian mutlak yang tak terelakkan.


Seperti yang terjadi dalam hidupku, mungkin sebagian besar orang melihatnya sebagai sesuatu yang mustahil. Namun, di mata Allah tak ada yang namanya tidak mungkin. Jika Dia sudah berkata "Kun faya kun." Maka jadilah itu.


Allah meniupkan ruh ke dalam rahimku tanpa ku merasakannya. Janin yang selama ini tak pernah ada dalam benak, kini bersemayam di dalam sana.


Pantas saja dua bulan terakhir aku merasa seperti ada sesuatu yang bergerak di dalam perut. Terkadang dia menendang, kadang pula menggeliat melilit. Sehingga membuatku tak nyaman.


Bodohnya, aku tidak merasa curiga sama sekali. Padahal bayi ini kerap memberiku petunjuk akan kehadirannya.


"Ifa, mengapa hanya berdiri saja di depan pintu?" Mas Al datang dari arah pintu depan. Mengagetkanku yang terdiam menyaksikan kebahagiaan orang-orang di depan mata.


"Astagfirullah, Ifa. Wajahmu pucat sekali, apa kau sakit?" imbuh Mas Al, mencemaskan diriku.


"Alhamdulilllah aku baik-baik saja kok Mas. Aku hanya sedikit kelelahan," jawabku berbohong.


"Yakin kamu baik-baik saja?"


"Iya."


"Lalu mengapa tidak masuk? Mengapa hanya berdiri di ambang pintu?"


Aku bingung harus memberi jawaban apa atas pertanyaan Mas Al yang satu ini. Haruskah aku berkata jujur, bahwa aku juga sedang mengandung anak Mas Alvin?


"Apa karena ada dia?" Lantas Mas Al menunjuk Rukaya dengan menggunakan dagunya.


"Kami baik-baik saja kok, Mas. Ini bukan tentangnya." Maafkan aku yang tidak bisa berkata jujur, Mas.


Aku terpaksa membohongi pria baik itu, karena tak ingin membuatnya sedih. Aku tahu Mas Al sangat menyayangiku. Apa jadinya bila ia tahu lagi-lagi Mas Alvin mengabaikan perasaanku.


Selain dari itu, ini memang bukan tentang Rukaya. Melainkan tentang Mas Alvin yang tak pernah adil terhadapku.


Dia telah melanggar janji yang telah kita sepakati dulu. Aku yang tak pandai berdebat, memilih mengalah. Lagi pula Allah memerintah kita untuk menjauhi debat, agar hati tetap terjaga.


"Ifa, mau sampai kapan kau menutupi perasaanmu? Aku tahu kau sedang menahan sesuatu di dalam hati, kan?" Tebakan Mas Al memang benar. Namun, tak lantas membuatku mengiyakan begitu saja.


"Khalifa? Sejak kapan kau di situ? Mengapa hanya berdiri saja? Ayo kemari." Umi yang mulai menyadari kehadiranku, mengajak untuk bergabung.

__ADS_1


"Iya, Umi. Aku mau ke kamar sebentar. Kebelet." Namun, aku menolak secara halus.


Sengaja aku berdalih ingin membuang hajat. Sedang sejujurnya aku merasa mual. Perutku kembali terasa nyeri dan seperti diaduk-aduk, hingga membuat kepala pening.


"Kau dari mana saja? Mengapa sejak pagi aku tidak melihatmu?" Kali ini Mas Alvin yang bertanya.


Nada kalimatnya pun terasa dingin. Entah sampai kapan pria ini membenciku. Mungkin hingga aku memutuskan untuk pergi. Haruskah aku melakukannya?


"Dari Dokter. Maaf aku tidak meminta izin sebelum keluar rumah. Aku tadi terburu-buru," jawabku.


"Bagaimana hasil pemeriksaannya, Nak? Apa kau baik-baik saja? Sepertinya Abah lihat wajahmu masih pucat," tanya Abah.


Sumpah demi apapun itu, aku tidak tega bila harus membohongi mereka. Namun, aku sendiri tak berdaya. Aku benar-benar tidak terima saat aku mengandung anak Mas Alvin, Rukaya juga ikut mengandung. Serasa duniaku akan segerah runtuh.


"Alhamdulillah aku baik-baik saja. Dokter menyarankan  agar lebih banyak istirahat," jawabku sembari memegang perut ini.


Nyaris saja air mataku jatuh menetes ke pipi. Akan tetapi, sekuat tenaga aku menahannya.


"Kalau begitu aku ke kamar dulu. Mau istirahat sebentar," lanjutku.


"Iya."


Melihat sikap Mas Alvin kali ini, membuatku semakin mantap, bahwa aku tak akan memberi tahu mereka perihal kehamilanku.


Mas Alvin tak akan menerimanya. Dia pasti akan membuang kami. Hal itu sangat jelas terlihat dari raut wajahnya yang dingin.


Malam harinya, aku telah membuat keputusan besar. Dimana aku akan segerah pindah rumah. Aku tak ingin lagi tinggal di rumah ini. Melihat Mas Alvin dan Rukaya setiap hari, membuatku tak nyaman.


Sebelum ini aku baik-baik saja. Hanya saja sekarang ada nyawa lain dalam tubuhku. Aku harus menjaganya dengan baik agar tetap tenang. Pun Rukaya yang kondisinya sama sepertiku.


"Bagaimana kondisimu? Apa kau baik-baik saja?" Tiba-tiba Mas Alvin masuk ke dalam kamar.


Sungguh sesuatu yang sangat langkah, dimana Mas Alvin menanyakan kondisiku. "Mas aku ingin bicara denganmu, bolehkah?" jawabku dengan perasaan campur aduk.


"Katakanlah."


Sebelum mengutarakan maksud hati, aku menghampiri suamiku. Lantas menatapnya dalam-dalam. Sebelum akhirnya berkata, "Mas, aku ingin tinggal di rumah mendiang Abah. Apakah boleh?"

__ADS_1


Sontak Mas Alvin menatapku. Namun, lagi-lagi aku gagal menafsirkan arti dari tatapan ini. Mas Alvin memang sangat pandai menyembunyikan perasaan. Hingga kadang membuatku bingung.


"Apa kau memiliki alasan di balik permintaanmu ini?" Jantungku berdegup kencang saat Mas Alvin meminta alasan dari permintaaku. Entah jawaban apa yang akan ku berikan.


"Tidak ada alasan khusus. Aku hanya merindukan rumah," jawabku berbohong.


"Bukankah ini adalah rumahmu juga?"


Seketika aku tersenyum sinis. Kali ini aku tak ingin memendam perasaan lagi. Aku harus mengeluarkan isi hati yang sekian lama terpendam.


"Rumah? Ini bukan rumahku, Mas. Melainkan rumah Mas Alvin bersama Rukaya. Aku bukan siapa-siapa di rumah ini. Aku hanya numpang tinggal. Selebihnya kalian lah pemiliknya!" jawabku akhirnya dengan satu kali tarikan napas.


"Jaga mulutmu, Ifa!" seru Mas Alvin, menghardikku.


"Mengapa, Mas? Apakah Mas membenarkan perkataanku barusan? Bila tidak, lantas mengapa Mas Alvin harus marah?" balasku tak mau kalah.


Lalu Mas Alvin memalingkan wajah ke arah jendela. Seolah tak sudi menatap mataku. Aku pun tersenyum kecut menahan getir di dalam hati.


"Aku tahu Mas Alvin tidak bahagia saat bersamaku. Kini aku merelakan hubungan kita. Aku meridhaimu bersama Rukaya. Aku tidak ingin lagi berada di antara kalian berdua. Mungkin sampai di sini jodoh kita, Mas. Aku sudah cukup berjuang, akhirnya aku lah yang harus mengalah. Terimakasih atas segalanya," lirihku sembari menahan kegetiran.


Dunia ini seakan runtuh saat aku membuat keputusan itu. Namun, apalah dayaku? Memang seharusnya kami berpisah. Toh Mas Alvin tak pernah menghargai hubungan ini.


"Apa maksudmu? Apakah kau ingin kita bercerai?" tanya Mas Alvin.


"Iya, aku ingin kita berpisah," jawabku mantap.


Aku telah membulatkan tekad, bahwa perpisahan adalah yang terbaik demi kebaikan semua orang.


Biarlah anak yang ku kandung ku rawat seorang diri. Memang tak akan mudah menjadi Ibu tunggal. Namun, aku masih memiliki Allah yang maha baik.


"Tidak! Aku tidak akan menceraikanmu. Sampai kapanpun itu aku tidak akan pernah melepasmu! Silahkan pergi ke rumah orang tuamu. Namun, kau tetap istriku walau kau berusaha membasuhnya dengan air garam sekalipun. Apa kau paham?!"


Mas Alvin lantas meninggalkanku setelah mengatakan beberapa hal yang masih tak ku pahami.


Mengapa dia tak ingin melepasku? Sedang dulu dia lah yang paling menginginkan perceraian ini. Lalu mengapa sekarang dia berubah pikiran saat aku menginginkannya?


Bukankah bagus bila aku pergi dari hidupnya? Toh dia telah berhasil menikahi Rukaya. Lalu apa lagi yang diharapkan dariku?

__ADS_1


__ADS_2