
Tiada siapapun di dunia ini yang menginginkan kegagalan dalam berumah tangga.
Allah memang sangat membenci perceraian, tetapi tidak mengharamkannya.
Jika dalam rumah tangga itu tak ada cinta serta tanggung jawab, maka apalah arti sebuah relasi?
Berumah tangga itu ibarat mengukir nama di atas batu. Jika bagus ukirannya, maka bagus pula nama kita dikenang dalam hati seluruh umat manusia yang melihatnya.
Pun sebaliknya, jika buruk ukiran itu, maka buruk pula nama kita.
Seperti yang telah ditorehkan Mas Alvin terhadapku. Seluruh keluarga kami merasa kecewa terhadapnya. Dia seolah tak menunjukkan rasa tanggung jawab sama sekali.
Bahkan ketika pertama kali kami bertemu setelah sekian lama hidup terpisah.
Anehnya, dia bersedia begitu saja untuk menceraikanku. Padahal beberapa bulan lalu dia begitu gigihnya mempertahankan rumah tangga yang telah rapuh ini.
"Khalifa Humaira binti Muhammad Ibrahim Marsela, mulai saat ini saya menjatuhkan talak tiga kepadamu." Dan dengan lantangnya Mas Alvin menjatuhkan kalimat talak itu kepadaku. Maka putus sudah ikatan di antara kami berdua.
Samar-samar aku mendengar suara tangisan bayiku yang baru berusia lima puluh hari itu di dalam kamar usai Mas Alvin menggelar talak padaku.
Mungkin saja bayi itu dapat merasakan perihnya perpisahan bagi kedua orang tuanya.
Beruntungnya tak ada satu pun dari mereka yang menaruh curiga, atau mendengar suaranya. Mungkin Allah memang sengaja, agar proses perceraian ini berjalan lancar. Dengan begitu aku pun bebas dari segala ikatan bersama Mas Alvin.
Ku lihat wajah mantan kedua mertuaku lesu tak bersemangat. Aku bisa pastikan, bahwa mereka sedang sedih melihat kami yang memang harus berpisah.
Bila diteruskan pun percuma, toh statusku tidak jelas. Aku mempunyai suami, tapi lebih layak disebut sebagai janda. Sebab, suami yang tak pernah menunjukkan batang hidungnya di kediamanku.
"Alvin, apakah kau tidak bisa memikirkan kembali keputusanmu? Setidaknya perbaikilah hubungan kalian." Samar-samar ku dengar Umi meminta Mas Alvin untuk mempertimbangkan kembali keputusannya menceraikanku.
Sementara hal itu sangat mustahil, karena kalimat talak telah jatuh padaku.
__ADS_1
Ironisnya, tanpa ragu Mas Alvin menalakku dengan talak tiga sekaligus. Seolah dia benar-benar yakin, bahwa ikatan pernikahan kami tak dapat diselamatkan lagi.
Ku lihat Mas Alvin diam saja. Ekspresinya sangat dingin. Dia pun melihatku dengan tatapan yang aneh.
Keanehan ini tak dapat ku jabarkan dengan kata-kata.
Bila ku perhatikan, kondisi Mas Alvin seperti sedang tidak baik-baik saja. Dia terlihat lebih kurus dan pucat. Persis seseorang yang tak terurus.
Apakah Mas Alvin sedang sakit? Ah sudahlah, bukan urusanku. Toh kami bukan lagi suami istri. Lima menit yang lalu kami telah resmi bercerai.
Sekarang Rukaya lah satu-satunya wanita dalam hidup Mas Alvin. Aku telah kalah dalam hubungan ini.
Selama berumah tangga bersama Mas Alvin, aku seperti sedang berkopetisi bersama Rukaya. Kira-kira siapa yang mampu memenangkan hati Mas Alvin. Namun, sayangnya aku tak pernah menjadi juara.
Mungkin aku yang pertama dalam hidup Mas Alvin, tetapi selalu menjadi yang kedua dalam hatinya. Atau mungkin aku tak pernah ada dalam hidup mantan suamiku itu.
Entah mengapa, aku menyebut Mas Alvin sebagai mantan suami, rasanya seperti tanpa beban. Mungkin karena terbiasa hidup sendiri. Aku seakan terlatih untuk menjadi janda.
Sementara ku lihat Mas Al duduk di teras depan rumah. Entah mengapa dia lebih memilih berada di luar ketimbang menyaksikan perceraian adiknya.
"Berbahagialah Mas bersama Rukaya. Semoga kelak kalian memiliki keturunan yang soleh lagi solehah. Berbakti terhadap kedua orang tua, serta menyebarkan ilmu agama tanpa pamri," doaku setulus hati.
Setelah ikatan kami putus, tak sedikitpun rasa benci menghinggap di hati. Aku bahkan masih menghormati Mas Alvin selayaknya keluarga.
"Ifa, tolong maafkan Umi dan Abah bila selama menjadi mertua, kami tak berlaku adil terhadapmu, Nak. Kami tidak bisa mencegah Alvin yang telah membuatmu kecewa, hingga harus berakhir dengan perceraian. Sebagai orang tua, kami telah gagal menjadi mendidik Alvin selama ini. Sungguh, Umi tidak pernah bermimpi bila hal ini akan terjadi terhadap kalian berdua. Umi mengira kita akan terus bersama sampai maut memisahkan. Namun, rupanya Allah berkehendak lain."
Umi mencurahkan segala isi hatinya kepadaku di sudut ruangan.
Beliau sengaja mengajakku bicara empat mata. Mungkin karena rasa bersalah yang teramat besar terhadapku tak dapat disembunyikan.
"Umi, mungkin hubungan nasab kita telah putus, tetapi tidak dengan hubungan kita. Umi sudah ku anggap sebagai orang tua sendiri. Tolong maafkan aku yang tak sempurnah ini. Aku masih belum bisa menjadi menantu yang baik. Juga istri yang baik bagi suaminya. Aku telah gagal menunaikan tugas dan kewajiban. Sekali lagi maafkan aku bila sekiranya ada sikap dan perbuatan yang menyakiti perasaan Umi dan Abah selama menjadi menantu. Maafkan telah mengecewakan Umi karena tak bisa mempertahankan rumah tangga kami," lirihku dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
Aku bisa berpisah dari Mas Alvin, demi Allah aku rela. Namun, tidak dengan Umi dan Abah. Mereka sangat baik luar biasa.
Umi menyayangiku seperti anak kandung sendiri. Pun Abah yang tak henti mengasihiku.
Bahkan ketika Rukaya masuk ke dalam rumah itu. Kasih sayang mereka terhadapku tak berubah sama sekali. Justru semakin tertambah kadarnya.
Umi dan Abah tak pernah membeda-bedakan aku dan Rukaya. Memang mereka kecewa terhadap Mas Alvin serta Rukaya, tetapi sifat benci dalam keluarga itu sangatlah dijauhi. Sebab, hal tersebut hanya akan memutus silaturahmi semua orang.
Setelah mengatakan banyak hal, kami pun berpisah. Namun, sebelum itu Mas Alvin mengajakku bicara empat mata dalam kurun waktu tiga menit. Dalam pertemuan singkat itu, Mas Alvin menitip pesan menyentuh.
Sumpah, untuk pertama kalinya aku menyaksikan ketulusan seluas samudra di mata Mas Alvin untukku saat ia berkata, "Berbahagialah."
Sontak air mataku jatuh membasahi pipi serta cadarku.
Aku pikir hati ini telah sembuh, tetapi rupanya luka di dalam sana masih menganga lebar.
Mas Alvin sukses menorehkan luka yang teramat besar dan dalam.
"Maafkan aku bila selama menjadi istrimu, aku telah banyak melakukan dosa," balasku setulus hati.
Setelah itu mereka benar-benar meninggalkan rumah ini.
Ku lihat ekspresi Mas Al di depan pintu ruang tamu tak terbaca. Entah mengapa aku selalu gagal menafsirkan mimik mantan Kakak iparku itu.
Kemudian ia pun melempar senyumannya kepadaku.
"Selamat tinggal Mas Al. Kini hubungan kita hanya tinggal kenangan. Aku bersaksi, bahwa engkau adalah orang baik. Selama menjadi Adik iparmu, kau selalu menjagaku setulus hati. Memperhatikanku selayaknya saudara. Aku yang butuh sosok Kakak, justru merasakan kasih sayang itu darimu. Terimakasih Mas telah mengasihiku. Tolong jangan kecewa padaku, aku tahu kau sedang memendam sesuatu di dalam sana."
Batinku terus bergejolak menatap punggung Mas Al yang pelan-pelan menghilang dari netra sembabku.
Aku sangat kehilangan tiga orang itu. Mereka adalah orang baik yang dikirim Allah untuk menjagaku selama kurang lebih dua tahun ini.
__ADS_1
"Ifa, masuklah. Anakmu butuh asi."