
Setiap manusia khususnya wanita, menginginkan pernikahan yang sempurnah. Walau sejatinya kesempurnaan hanya milik Allah.
Rumah tangga, bila tak didasari rasa cinta, maka akan buta. Cinta, bila tak didasari kepercayaan, maka akan tuli. Pun kasih sayang, bila tak saling mengenal, maka akan bisu.
Sekiranya seperti itulah gambaran rumah tangga Khalifa bersama Alvin. Keduanya tidak saling mengenal. Namun, gadis itu menghormati serta menghargai suaminya.
Semenjak resmi menyandang status sebagai istri Alvin, Khalifa mengikrarkan janji di dalam hati, bahwa ia akan menjalankan amanah mendiang Abahnya dengan tak lari dari kenyataan andai rumah tangganya hancur berantakan.
Dan lihatlah sekarang, baru beberapa menit menapakan kaki di rumah, dengan lantang suaminya menyuarakan isi hati, bahwa ia tidak menginginkan pernikahan itu terjadi. Ada gadis lain di dalam hatinya.
Sebagai istri yang menjungjung tinggi syariaat islam, serta takut akan Tuhan, tentulah Khalifa menghormati suaminya. Namun, bila suaminya sendiri tidak menghargai pernikahan, lantas sudikah kiranya ia menanamkan cinta kasih?
"Pakai lah bantal dan selimut ini." Alvin memberi Khalifa sepasang bantal serta selimut untuknya. Pemuda itu memutuskan untuk tidur terpisah.
Khalifa yang terlalu sedih dan lelah, hanya bisa menerima pemberian Sang suami.
"Apa kau tidak ingin mandi dulu? Setidaknya mandi lah, kau sangat bau!" Entah sikap macam apa yang sedang ditunjukan Alvin saat ini. Perangainya sungguh bertolak belakang pada apa yang ia ajarkan kepada para santrinya. Seperti dua sisi mata koin yang berbeda.
Lagi-lagi Khalifa tidak mengatakan apa-apa. Dia mencium aroma tubuhnya yang sedikit berkeringat. Namun, tidak mengeluarkan aroma tak sedap.
Sebenci itukah Alvin padanya? Hingga ia menyebutnya bau badan?
"Apa aku boleh meminta handuk mandi? Aku lupa membawanya," pinta Khalifa.
"Wanita ini sungguh merepotkan," gumam Alvin. Namun, masih bisa didengar oleh istrinya.
"Tunggu," imbuhnya.
Alvin membuka lemari pakaian yang berwarna putih tulang. Kemudian ia menarik handuk berwarna biru.
"Ambilah," katanya seraya memberi Khalifa handuk tersebut.
"Tapi ini terlalu pendek. Apa kau tidak mempunyai bathrobe?" Khalifa merasa aneh melihat handuk Alvin. Sudah bisa dipastikan, bahwa kain berbahan tebal tersebut berukuran selutut, yang nanti akan menunjukan sebagian bentuk tubuhnya.
__ADS_1
Alvin memang suaminya, tetapi bukan berarti dengan serta merta Khalifa mengekspose seluruh tubuhnya agar dipertontonkan untuk Sang suami. Gadis itu masih mempunya rasa malu.
"Bukankah tadi kau meminta handuk? Mengapa kau cerewet sekali?" omel Alvin seraya menarik kembali handuk tadi. Lantas mencari bathrobe di dalam lemari.
"Ini! Jangan protes lagi! Atau kau tidur lah di kamar mandi." Perlakuan seperti apa yang coba diterapkan Alvin. Perkataannya sangat kasar disertakan nada tinggi.
Sungguh sangat disayangkan, seorang ustad yang dikenal bijak dan ramah, justru memperlakukan istrinya selayaknya tawanan.
Khalifa masuk ke dalam kamar mandi, membuka satu persatu pakaian yang ia kenakan, termasuk cadar. Lantas meletakan di atas nakas.
Kemudian gadis itu membasuh seluruh tubuh, lalu memakai sabun mandi serta menggosok gigi.
Kebiasaan Khalifa tiap kali usai mandi adalah mensucikan diri dengan berwudhu, meski bukan untuk beribadah.
Sejenak Khalifa berpikir, apakah ia harus menunjukan wajahnya kepada Alvin. Sebab, pria itu adalah suaminya. Namun, jujur saja ia masih malu.
Sempat terlintas rasa tidak suka terhadap pria tersebut, karena sikapnya yang arogan. Namun, lagi-lagi Khalifa mengingat pesan terakhir mendiang Abahnya.
Sementara itu, di kamar Alvin tengah duduk di tepi ranjang, menunggu Khalifa mengakhiri ritual mandinya.
Sedangkan gamis yang tadi ia kenakan lumayan kotor.
"Sedang apa gadis itu di dalam sana? Apa dia jatuh pingsan? Bikin repot saja!" omel Alvin seorang diri.
Merasa kesal, Alvin pun memutuskann untuk mengetuk pintu kamar mandi. Hendak memastikan apa yang terjadi pada istrinya.
Namun, sebelum jemari itu berhasil mengetuk, gagang pintu bergerak pelan. Khalifa telah usai.
Lalu wanita itu menunjukan dirinya yang hanya mengenakan bathrobe dengan rambut tergerai basah.
Alvin pun terpana oleh kecantikannya. Rupanya rambut Khalifa hitam lebat serta panjang. Kulitnya putih bersih, sedangkan bibirnya merah merona tanpa sentuhan lipstik sama sekali. Belum lagi hidungnya yang mancung, persis seperti penduduk timur tengah.
Ditambah dengan matanya yang bulat lentik. Ada lubang kecil di kedua pipi gadis tersebut. Khalifa benar-benar gadis yang cantik, mengalahkan Rukaya.
__ADS_1
Tanpa polesan bedak pun ia terlihat cantik dan menawan. Khalifa persis wanita yang berasal dari suku uighyur china. Tampaknya omongan Ilham benar adanya, bahwa Alvin tidak akan menyesali keputusannya menikahi Khalifa.
Secara fisik ia luar biasa cantik. Tentu saja akhlakul karimanya pun turut cantik.
Selama ini Khalifa menyembunyikan kecantikannya dari pandangan mata para kaum Adam. Demi menjaga kehormatan yang ribuan tahun Rasulullah agungkan.
Mendapati suaminya tengah menatap dirinya tanpa berkedip, Khalifa pun menundukan kepala, karena merasa malu. Gadis itu meremas kesepuluh jemarinya. Dalam hati ia berkata, kapan Alvin akan menyudahi pandangannya?
"Ehem." Sedetik kemudian kesadaran Alvin pun kembali. Sudah cukup terpesonanya.
"Pakai bajumu," ucap Alvin seraya membalikan badan, membelakangi Khalifa. Pemuda itu seolah tengah kedapatan mencuri.
"Iya," sahut Khalifa.
Wanita itu membuka koper miliknya, lantas mengambil gamis serta khimar sekaligus cadar.
Sedikit Alvin melirik istrinya itu, mencuri-curi pandang. Setelahnya membalikan badan agar tak melihat Khalifa lebih lama, atau syahwatnya akan terpancing.
Walau bagaimanapun juga Alvin adalah manusia biasa yang masih normal. Mustahil bila tak tertarik pada gadis yang secara nyata berdiri di depannya dalam keadaan memikat.
Kemudian terdengar suara pintu kamar mandi tertutup. Rupanya Khalifa memilih mengenakan pakaian di dalam sana.
"Huft." Lalu Alvin mengembuskan napas lega.
Betapa tidak, sejak tadi pemuda tersebut menahan diri. "Astagfirullah." Kemudian ia pun mengucap kalimat istigfar sembari mengusap dada.
Sementara itu, di ruangan berbeda. Ilham dan Umi Huraira baru saja selesai membersihkan diri.
"Apa menurutmu kita akan segera medapat cucu?" tanya Umi Huraira.
"Kau terlalu berpikiran jauh. Apa kau tidak melihat sikap Alvin yang seolah mengacuhkan istrinya? Mereka baru saja menikah, biarkan mereka saling mengenal satu sama lain dulu," sahut Ilham.
"Aku yakin, Alvin pasti akan jatuh cinta pada Khalifa. Dia adalah gadis yang cantik dan baik hati. Kepribadiannya yang soleh, sudah pasti akan membuat Putra kita bertekuk lutut. Tidak salah kita menjodohkan mereka." Dengan penuh keyakinan Umi Huraira menanam harapan pada pernikahan Putra bungsunya itu. Tanpa mereka ketahui, bahwa sepasang suami istri muda tersebut memiliki masalah serius.
__ADS_1
Alvin tidur di atas ranjangnya, sedangkan Khalifa harus tidur di atas kursi sofa. Sungguh pemandangan yang miris untuk pasangan pengantin baru.