Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
A' Man Talk


__ADS_3

Ingatanku masih terpaku pada jawaban Khalifa yang begitu peduli terhadap amalanku.


Diizinkannya aku untuk menikahi Rukaya, agar tidak terjadi dosa zina. Meski, tahu imanku tidak goyah. Namun, Khalifa mengantisipasi segala sesuatunya dengan sangat teliti.


Sadar, bahwa manusia tak ada yang sempurnah, dia pun merelakan pernikahan kami.


Maa Syaa Allah, satu kata pujian ku haturkan untuknya.


Masih bertanya apakah aku menyesal melepas wanita itu? Tentu saja aku menyesal. Umi dan Abah menikahkanku pada gadis yang tepat, tetapi ku tolak secara harfiah.


Seakan paham tentang ilmu agama, aku merelakan wanita yang mencintaiku setulus hati.


Setiap hari ku salahkan dirinya atas perjodohan kami. Tanpa ku sadari, bahwa dia juga adalah korban di sini.


Setiap orang tua pasti menginginkan jodoh yang terbaik bagi anak-anaknya.


Tidak akan ada orang tua yang menjerumuskan buah hati mereka demi ego semata. Kecuali orang tua yang serakah serta haus akan harta.


Khalifa yang diketahui yatim piatu, harusnya ku jaga selayaknya keluarga. Ku bimbing dia yang katanya masih fakir ilmu.


Akan tetapi, lihatlah yang ku perbuat. Aku justru melukai perasaannya lagi dan lagi.


"Aakk..." Sembari mengendarai mobil, aku marah pada diri sendiri. Memikul setir, meluahkan amarah berbalut sesal.


"Huhuhuhu, Ifa." Lantas aku menepi dan menangis menyebut nama Khalifa.


"Maafkan aku, Ifa. Aku telah melakukan dosa. Aku menyiksamu ribuan kali. Namun, kau masih saja berupaya untuk mempertahankan pernikahan kita. Ifa..." lirihku, masih menyebut nama Khalifa yang ku cinta.


Batin ini benar-benar tersiksa. Saat hendak ku lukai kulitku, maka rasanya sungguh hambar. Aku telah mati rasa.


"Huhuhuhu." Lagi-lagi aku menangis sesal.


Manusia macam apa aku ini? Melukai pasangannya tanpa henti.


Satu wanita ku perlakukan bagai Ratu, sedangkan yang satunya lagi seperti babu.


Padahal mereka memiliki hak yang sama. Namun, aku terus saja berat sebelah hanya karena nafsu semata.

__ADS_1


Berulang kali Abang menasehatiku, tetapi ku tetap lalai akan tanggung jawab sebagai kepala rumah tangga.


Tidak mampu ku bimbing kedua istriku, karena merasa, bahwa mereka sama cerdasnya denganku. Tanpa ku sadari, bahwa ilmu manusia hanyalah seujung kuku.


Aku terlalu berbangga hati. Menganggap diri paling terbaik. Faktanya adalah aku tidak lebih dari sampah jalanan.


Ingin rasanya aku berdamai dengan keadaan. Namun, semakin aku mencoba semakin aku tersiksa.


Ya Allah, seperti inikah rasanya memendam cinta? Sungguh sakit tak tertahankan.


Ingin meraih kembali tangan wanita itu, tetapi terlanjur ku buang jauh.


Mungkin rasa sakit yang ku alami saat ini tidak sebanding dengan apa yang dilalui Khalifa selama menjadi pasanganku.


"Astagfirullah." Puas meluapkan emosi, akhirnya aku menyebut nama Allah. Lantas menginjak pedal gas, melanjutkan perjalanan.


Malam harinya di rumah. Pukul sembilan malam aku sampai. Mendapati Bang Al yang baru juga kembali.


"Abang, apakah kita boleh bicara?" pintaku.


Terlihat Bang Al menghela napas berat. Mungkin saja dia sedang iba terhadapku yang tampak kusut.


Kami pergi ke taman belakang rumah. Mengobrol banyak hal di sana. Waktunya a man talk.


"Sudah lama kita tidak duduk berdua seperti ini ya, Bang?" ungkapku, memulai pembicaraan setelah beberapa saat diam.


"Ya, sudah lama. Semenjak masalahmu bersama Khalifa kian pelik." Aku membenarnya jawaban Bang Al kali ini.


Memang hubungan kami semakin rumit seiring dengan peliknya rumah tanggaku bersama Khalifa.


Kami jadi jarang bicara. Apa lagi duduk berdua seperti sekarang.


"Mengenai tadi siang, aku minta maaf. Untuk hal yang tidak mendasar, aku telah melukai harga diri Abang," ucapku setulus hati. Kepalaku tertunduk lesu. Wajahku pun sendu.


Sejujurnya aku malu menatap mata Bang Al. Sebab, selama ini mencurigai dirinya yang tidak berdosa.


"Lupakan saja. Lagi pula pukulanmu tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan penderitaan yang kau alami." Aku tahu Abang akan mengatakan ini. Dia memang sangat bijaksana dalam menyikapi perbuatanku.

__ADS_1


"So, apa yang ingin kau sampaikan padaku? Apakah ini masih seputar asmaramu yang tak pernah berujung?" Bang Al menyeduh teh yang baru saja diantar oleh Asisten rumah tangga kami sembari bertanya.


"Bang, pernah gak sih Abang menyukai Khalifa?" tanyaku tanpa basa-basi lagi.


Bang Al meletakkan cangkir tehnya di atas meja. Lantas memandangku datar.


Abangku memang sangat pandai menaklukkan keadaan. Dia tetap terlihat tenang, meski berusaha dilumpuhkan.


"Tentu saja aku menyukai wanita itu. Namun, ada perbedaan antara suka dan cinta. Tentu saja kau sudah paham makna dari kedua kata tersebut. Tidak perlu aku menjelaskan lebih detil. Kau cukup dewasa untuk memahami dua kata sifat itu."


Lihatlah, bahkan Bang Al memberiku jawaban diplomatis.


Ya, seperti ini lah dia. Berwibawa serta suka bermain tebak-tebakan.


"Aku paham. Namun, apakah tidak ada sedikit saja rasa cinta di dalam hatimu untuk Khalifa? Yang ingin aku katakan adalah kalian berdua cukup dekat. Di sisi lain, seharusnya Abang lah yang menjadi suaminya, bukan aku."


Aku benar-benar ingin tahu isi hati Bang Al terhadap Khalifa. Mengingat hubungan mereka yang teramat dekat.


Secara harfiah, Bang Al memperlakukan Khalifa selayaknya adik ipar. Namun, pada masa praktikumnya mereka terlihat seperti pasangan suami istri. Dimana keduanya saling peduli.


"Jika kau masih meragukan karakterku, maka akan ku perjelas satu hal padamu, bahwa aku bukan tipikal lelaki egois dan serakah. Aku tidak suka merebut yang bukan hakku, apa lagi mencintai yang bukan milikku. Jauh-jauh aku menimba ilmu sampai ke negeri Mesir, lantas untuk apa aku menodainya demi urusan dunia? Sampai di sini kau paham?"


Maa Syaa Allah, Bang Al memang sungguh luar biasa. Dia pantas menjadi kandidat penerus pesantren Abah.


Sedang aku yang masih fakir ilmu dan perasaan, tak layak dikatakan sebagai manusia berahlak mulia.


"Alvin, dengarkan aku baik-baik. Dahulu kau menyia-nyiakan Khalifa saat kalian bersama. Sekarang relakan lah dia, karena faktanya adalah kau yang mendahului perkara ini. Jika dulu kau gagal dengannya, maka setidaknya jadilah suami yang baik untuk Rukaya. Dia adalah wanita setia lagi bijak. Aku tahu dia merasa bersalah atas perpisahan kalian. Terlebih lagi kondisi kandungannya yang kian membesar. Sebentar lagi kalian akan memiliki keturunan. Maka persiapkan lah mental. Jangan lakukan kesalahan yang sama lagi dan lagi. Sesuatu yang sudah terlepas, akan sulit untuk di raih kembali. Sebab, ini berbicara tentang kepercayaan, bukan soal uang yang bisa didapat kapan saja. Apa kau paham?"


Bang Al mengatakan banyak hal padaku. Entah aku harus menurut atau justru kembali melakukan hal gila lainnya, yakni berupaya menarik Khalifa kembali dalam hidupku.


Ku hembuskan napas berat. Seolah bebanku kian meningkat.


Entah apa jadinya bila Khalifa kembali padaku. Apakah perasaannya masih utuh atau justru telah berubah.


Sorot mata Khalifa tadi siang mencerminkan kekosongan. Seolah aku tak ada lagi di sana.


Dahulu wanita itu menatapku penuh cinta, tetapi sayang tidak ku hargai.

__ADS_1


"Jika kau masih bimbang, maka sebaiknya kau sholat istikharah. Mohon petunjuk kepada Allah. Semoga kau diberi jalan keluar. Sekarang minum lah tehmu, sebelum dingin. Rasanya akan pahit bila disimpan terlalu lama. Seperti hidupmu yang kian pahit." Di sela-sela keseriusan percakapan kami, sengaja Bang Al meledekku hanya untuk memancing tawaku.


"Haha, Abang ada-ada saja." Dan berhasil, akhirnya aku menarik kedua sudut bibir ini. Tergelitik dengan guyonan Abang.


__ADS_2