
Aku sadar, bahwa tak ada manusia yang sempurnah, termasuk diriku yang dipenuhi sifat egois.
Ya, aku adalah wanita egois. Betapa tidak, demi memenuhi hasrat duniawi, aku rela merusak martabat wanita lain. Sedangkan aku sadar betul, bahwa dia juga adalah korban dari perjodohan.
Jika hari ini Mas Al tak mengutarakan isi hatinya, mungkin selamanya aku akan terjebak dalam ikatan ini.
Aku tidak akan pernah menyadari perbuatanku yang telah menciptakan luka di hati Mba Khalifa.
Sejak menjadi madunya, tak sekalipun aku memperlakukan dia secara kasar. Aku sangat menghormati wanita itu.
Bukan karena dia maduku, melainkan sesama manusia sekaligus wanita.
Namun, siapa sangka bila sebagian orang menganggap caraku menghargainya salah.
Ada yang menginginkan, bahwa aku cukup menjadi rekan kerja Mas Alvin. Itu lah caraku menghargai Mba Khalifa. Tidak perlu menikahi suaminya.
Benar kata Mas Al, bahwa poligami yang kami jalani ini justru akan membuat kaum Hawa ketakutan. Sebab, cara melakukannya salah total. Dimana di dalamnya telah terjadi kecurangan.
Di zaman modern seperti sekarang, tidak ditemukan lagi poligami seperti Rosulullah.
Setelah mengetahui tiga belas wanita yang dinikahi Rasulullah SAW, dapat diketahui di antara wanita tersebut sebagian besar adalah seorang janda dan ada pula seorang budak wanita yang dimerdekakan oleh Nabi dengan cara dinikahi.
Meskipun banyak wanita yang dinikahi Nabi, sikap beliau terhadap istrinya sangatlah mulia, seperti suka membantu pekerjaan rumah tangga, tidak pernah melukai istri, dan berperilaku adil terhadap para istrinya.
Alasan Rasulullah SAW melakukan poligami adalah dengan tujuan yang baik, yaitu untuk meringankan penderitaan, menaikkan derajat, dan menjaga dari fitnah kaum musyrik.
Namun, sangat disayangkan, berpoligami pada zaman Nabi dan zaman sekarang sangat berbeda. Ketika Rasulullah berpoligami, akhlak yang beliau lakukan terhadap istrinya adalah bukti, bahwa Rasulullah sangat memuliakan wanita.
Berbeda dengan saat ini, tak jarang laki-laki melakukan poligami hanya untuk memuaskan nafsunya dan kemudian tidak bisa berbuat adil terhadap istrinya.
Sadar, bahwa yang aku lakukan adalah salah besar, maka aku pun memutuskan untuk menemui Mba Khalifa di kediamannya dengan ditemani oleh Mas Al.
Semula Mas Al menolak, karena tidak ingin disangka pengkhianat oleh Mba Khalifa. Namun, aku terus memaksa.
Aku tidak ingin terus hidup dalam bayang-bayang rasa bersalah. Setidaknya, sebelum Allah memanggilku atau sebaliknya, aku telah meminta maaf kepada wanita yang telah ku lukai hatinya itu.
__ADS_1
"Sejujurnya, tanpa kau meminta maaf, Khalifa telah memaafkanmu sejak dulu. Dia bukan lah tipe wanita pendendam," ucap Mas Al.
"Aku tahu, tetapi aku tetap ingin meminta maaf padanya secara langsung. Bukankah lebih afdhol jika aku bertemu empat mata dengannya?" balasku.
"Baiklah, aku tidak akan menahanmu." Setelah lama berbincang-bincang, akhirnya aku menemui Mba Khalifa, ditemani oleh Mas Al.
Sementara Maryam bersama Umi di hotel. Mereka sedang istirahat.
Sebelum pergi, aku pamit pada Mas Alvin dan juga Abah.
Dalam perjalanan menuju kediaman Mba Khalifa, detak jantungku tidak karuan. Perasaan ini berkecamuk. Ada rasa takut, malu, dan bersalah. Semua rasa itu datang secara bersamaan.
Setengah jam kemudian, kami pun tiba. Khalifa membuka pintu rumah setelah beberapa kali memberi salam.
Ku lihat mata Mba Khalifa membeliak. Terkejut atas kehadiranku yang tak ia duga.
Lantas tatapannya beralih pada Mas Al yang sengaja memperlihatkan dirinya kepada Mba Khalifa.
"Ada apa ini?" tanya Khalifa heran.
"Silahkan masuk," titahnya.
Mas Al tidak turut serta, dia hanya duduk di teras rumah.
"Ada hal apa yang membawamu kemari?" Raut wajah Khalifa terlihat datar, meski sempat terkejut saat melihatku tiba-tiba datang berkunjung.
Aku pun menceritakan kondisi Mas Alvin yang mengalami kecelakaan, hingga kondisi terkini.
Mendengar itu pun Khalifa terperanjat tak percaya. Dan pada kesempatan itu lah aku meminta maaf yang sebesar-besarnya.
"Tidak perlu mengingat yang sudah terjadi. Toh keadaan tidak akan pernah kembali. Kita sudah mempunyai kehidupan masing-masing. Aku telah memaafkan kalian jauh sebelum poligami itu terjadi." Seperti kata Mas Alvin dan Mas Al, bahwa Khalifa tidak pernah mempersoalkan diriku.
Dia telah memberi maaf itu untukku setulus hati.
"Lalu bagaimana dengan Putramu? Bukankah Mas Alvin Ayah dari Anak itu?" Tanpa berpikir panjang, aku menyinggung soal Putra Khalifa.
__ADS_1
Sejak tadi percakapan kami hanya berputar pada masalah poligami serta rumah tangga yang telah gagal terbina. Hingga sejenak melupakan tujuan utamaku mengunjungi mantan maduku itu.
"Apa maksudmu?" Bersamaan dengan pertanyaan Khalifa, terdengar lah suara tangisan seorang bayi dari dalam sana.
Perhatian Khalifa pun teralihkan sejenak. Lantas kembali fokus padaku begitu suara bayinya tak lagi terdengar.
"Aku sudah tahu segalanya, Mba. Mas Al yang memberitahuku." Ku lihat raut Khalifa berubah drastis. Terkejut begitu tahu Mas Al adalah orang yang memberitahuku.
"Dia tidak sengaja bercerita, melainkan aku yang mendengar percakapan kalian berdua. Mas Al menolak untuk memberitahuku, tetapi aku memaksa. Sebab, aku pikir Mas Alvin berhak atas Putramu," imbuhku.
"Jika ini tentang bayiku, maka sebaiknya percakapan kita berakhir sampai di sini. Aku tidak ingin memutus tali silaturahmi, tetapi aku tidak akan membiarkan siapapun merebut Putraku. Tidak akan pernah!" sarkas Khalifa, memalingkan wajah penuh ketegasan.
"Mba, kedatanganku kemari bukan untuk merebut Putramu. Melainkan aku ingin mengatakan hal penting lainnya yang tak kau ketahui," lirihku.
"Yang aku tidak ketahui? Jika ini masih menyangkut Mas Alvin, maka sebaiknya kita akhiri saja sampai di sini. Kisah kami telah berakhir beberapa bulan lalu. Kau tidak perlu capek-capek menjelaskan padaku." Dari nada ucapan Khalifa, tampaknya ia masih menyimpan kekecewaan terhadap kami.
Wajar saja, karena kami memperlakukan dia secara sadis.
"Dia mencintaimu, Mba. Mas Alvin mencintaimu," ungkapku akhirnya sembari menatap dalam-dalam mata Khalifa.
Wanita itu pun terdiam. Seolah tidak yakin pada apa yang didengarnya barusan.
"Apa?"
"Iya, Mba. Mas Alvin mencintaimu. Dia menderita setiap hari karena memendam cintanya padamu. Aku sangat tahu sedalam apa perasaannya terhadapmu, Mba," paparku.
"Untuk apa kau mengatakan ini padaku? Apakah kau berharap aku akan kembali dalam kehidupan kalian lagi? Maaf, aku tidak bisa. Terimakasih telah memberitahuku isi hati Mas Alvin. Namun, aku tidak tertarik lagi untuk menggali lebih jauh. Aku telah menutup buku lama itu. Tolong biarkan aku hidup tenang bersama Putraku." Khalifa berdiri membelakangiku.
Aku tahu dia masih marah, tetapi aku memakluminya. Sebab, kami telah bersalah.
"Mengenai Putraku, kau tidak perlu cemas. Dia tidak akan masuk dalam kehidupan kalian. Aku bisa pastikan itu." Sepertinya Khalifa salah paham terhadapku.
"Mba, aku tidak bermaksud melarang Putramu menemui Mas Alvin jika memang kelak dia mau menemuinya. Justru aku akan sangat bahagia," jawabku bersungguh-sungguh.
"Terimakasih, tapi aku masih ada kerjaan yang harus diselesaikan. Assalamualaikum." Khalifa beranjak pergi. Namun, ku cegatnya sembari berkata, "Mas Alvin sedang koma di rumah sakit bakti medika."
__ADS_1