
Khalifa Pov.
Hari ini merupakan hari dimana Allah mengharuskanku menyaksikan pernikahan kedua suamiku.
Semuanya terasa berat ku jalani, tetapi aku bisa apa ketika syarat dan ketentuan itu telah disepakati?
Ingin bercerai? Tentu saja aku tidak bersedia menceraikan suamiku. Selain karena cinta, aku tidak ingin melukai janjiku kepada mendiang Abah.
Mungkin orang akan menyebutku gadis bodoh. Apa? Gadis? Sepertinya aku tidak pantas menyebut diriku sebagai gadis lagi. Sebab, peristiwa malam itu.
Ya, dengan segenap jiwa dan raga, telah ku serahkan kehormatan ini untuk suamiku, Mas Alvin.
Apakah aku menyesal? Tentu saja tidak. Bukan karena tergila-gila akan nafsu dunia, tetapi aku tak kuasa melalaikan tugas dan kewajiban sebagai seorang istri.
Bila aku menolaknya, bukankah aku telah melakukan dosa? Hubungan suami istri memang bukan hanya sekedar cinta dan kontak fisik semata, melainkan terdapat komitmen serta kepercayaan.
Aku memang tidak percaya seratus persen pada Mas Alvin, tetapi aku ingin memberinya kesempatan untuk menanamkan kepercayaan di dalam hati ini.
Semenjak kejadian malam itu, aku tak lagi banyak bicara pada Mas Alvin. Segalanya telah berbeda. Kami saling diam-diaman, terutama saat hari dimana ia harus meminta izinku untuk ijab qobul bersama gadis pilihannya terdahulu.
"Saya terima nikah dan kawinnya Glenka Rukaya Pasha binti Muhammad Jamal dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan sepuluh gram emas berlian dibayar tunai."
Dengan sangat lantang suamiku mengikrarkan ijab qobul tersebut. Ia menyebut nama istri keduanya cukup tegas. Berbeda denganku yang kala itu dalam keadaan terpaksa.
Mau tahu bagaimana perasaanku saat ini? Tentu saja sakit dan terluka, walau bibirku selalu berkata tidak.
Aku memang sangat pandai menutupi luka di dalam sana. Tak ingin mengumbar ke siapapun itu, termasuk kepada Abah dan Umi.
Mungkin mereka tahu bagaimana hancurnya perasaan ini, tetapi aku tidak ingin menunjukan kepada mereka sebagai wujud dari kelemahan.
Tanpa sadar air mata ini jatuh saat semua orang mengucap kata 'Hamdalah' pasca ijab qobul terlaksana. Seolah dunia tengah mengejekku. Namun, bukankah aku yang telah memberi izin suamiku untuk menikah lagi? Lantas mengapa aku harus bersedih hati?
"Khalifa." Umi menghampiriku, menatap netra sembab ini dengan mata berkaca-kaca. Aku tahu Umi hendak menangis iba karenaku, tetapi terlihat menahan diri.
"Umi, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja." Umi memegang pundak ini, seakan memberi kekuatan sekaligus memandangku penuh kasih.
__ADS_1
"Mengapa kau harus melakukan ini, Nak? Apa kau tidak mencintai suamimu?" Pertanyaan Umi kali ini tak dapat ku jabarkan dengan kata-kata. Aku hanya bisa tersenyum kecut saat memikirkan segalanya.
Bohong bila hatiku tak terluka, tetapi lagi-lagi ini lah jalan yang telah ku pilih sendiri. Aku mengejar cintanya Allah lewat jalan poligami.
Memang aku tidak pernah menghendaki pernikahan kedua suamiku saat pertama kali melangsungkan khitbah. Tiada pernah ku sangka pula bisa semuanya harus berakhir pedih. Namun, takdir Allah memang sungguh nyata dan harus ku genggam dengan segenap jiwa ini.
"Mba." Tak lama datang lah maduku, berdiri di depan mata ini sembari melempar senyuman manis.
Ya, Rukaya memang terlihat sangat cantik dan manis. Terlebih lagi hari ini, parasnya benar-benar sangat cantik. Berbeda denganku yang tidak memakai pakaian pengantin saat ijab qobul. Polesan make up pun tidak sama sekali.
Lantas Rukaya memelukku hangat sembari berkata, "Terimakasih."
Maka luruh sudah segenap jiwa dan raga ini. Air mata pun tak kuasa terbendungkan. Ia tumpah hingga mengenai cadarku.
Di balik cadar putih yang ku kenakan, aku melempar senyuman tulus. Demi Allah sangat tulus, alih-alih membenci maduku.
"Ifa." Sepuluh menit kemudian, Mas Alvin datang. Menyebut namaku dengan singkat.
Setelah malam itu, entah mengapa Mas Alvin kerap memanggilku dengan nama itu. Seolah kami sangat akrab dan tak pernah menjaga jarak.
Lantas ia pun memegang kedua tangan ini. Cukup erat, sembari menatap dalam mataku. Entah pesan apa yang hendak disampaikan Mas Alvin lewat sorot matanya yang sulit ku artikan.
"Terimakasih." Setelah lama diam, akhirnya Mas Alvin mengucap satu kata itu kepadaku.
Sedang Umi terlihat meneteskan air mata. Aku tahu, mereka sedang mengasihaniku, tetapi bukan ini yang aku inginkan. Aku hanya ingin kelak Mas Alvin sanggup bersikap adil terhadap kami. Walau ku tahu itu akan sangat sulit.
"Iya, sama-sama." Dengan segenap sisa kekuatan yang ku punya, aku pun menjawab perkataan suamiku.
Malam harinya, di kamar yang setahun lalu menjadi saksi bisu perkataan Mas Alvin saat mengultimatum diriku. Aku menangis terbaring sembari menutup mulut. Berharap agar tak ada yang mendengar suara isakanku.
Ya Allah, begitu sakit nikmat ini. Jika memang yang terjadi dalam hidupku adalah bagian dari jalan menuju kasihmu, maka tegarkanlah aku ya Allah. Setidaknya berikan hamba secuil kekuatan agar aku bisa berdiri tegak.
Tak lama terdengar suara Rukaya dari kamar sebelah. Kamar itu menjadi tempat keduanya memadu kasih. Apa lah daya diriku yang hanya bisa meraung di dalam kamar seorang diri.
Entah apa yang sedang mereka bahas, aku pun menutup telinga agar tak mendengar percakapan dua orang itu.
__ADS_1
Bukannya tak suka, aku hanya takut cemburu sampai setan membisik ke telinga agar membenci maduku.
Satu jam bergelut bersama kesedihan, terdengar suara pintu kamar terbuka. "Ifa."
"Mas Alvin?"
Entah apa yang sedang dilakukan Mas Alvin di kamarku pada malam pertama bersama istri kedunya.
"Sedang apa Mas Alvin di sini? Kemana Rukaya?" tanyaku setelah menye air mata. Tak lupa pula cadar ku kenakan meski di depan suamiku sendiri.
"Aku mau tidur di sini." Sumpah demi Allah, aku sangat terkejut saat mendengar pernyataan Mas Alvin.
Mengapa dia mau tidur di kamarku pada malam pertama mereka? Apakah Mas Alvin sedang bertengkar?
"Mengapa begitu? Semuanya baik-baik saja kan, Mas?" tanyaku.
"Kami baik-baik saja," sahutnya.
"Lalu?"
"Apakah aku tidak boleh tidur di kamar istriku sendiri? Kau terlalu banyak bertanya. Aku lelah, jangan ganggu aku!" Lantas Mas Alvin naik ke atas ranjang yang kini ku tempati.
Sembari menarik selimut, Mas Alvin berbaring membelakangiku. Sedang aku hanya menatap heran punggungnya.
Malam yang seharusnya menjadi momen terindah bagi setiap wanita yang baru menikah, justru ditinggal oleh sang pria.
"Apa kau tidak mengantuk? Masih mau berdiri saja di situ?" Suara Mas Alvin mengacaukan hayalanku.
"Aku tidur saja di sofa," kataku.
"Terserah."
Entah apa yang terjadi padanya, hingga sangat ketus. Mungkinkah Rukaya menyindir Mas Alvin sampai mereka harus tidur terpisah?
"Berhenti menatap punggungku. Aku bisa melihatmu."
__ADS_1
"Ha?"