Khalifa Humaira

Khalifa Humaira
Awal Kebohongan


__ADS_3

"Apa kau sengaja ingin Abah dan Umi memarahiku?" Langkah Khalifa sontak terhenti. Niatnya untuk kembali mendadak terurung, karena perkataan Alvin.


"Rupanya di balik cadar, kau menyimpan sejuta kemunafikan!" sarkas pemuda itu penuh penekanan. Sehingga Khalifa semakin tersudutkan.


Entah apa yang membuat Alvin mencetuskan kata-kata pahit itu kepada istrinya sendiri. Kebencian tersebut seolah mendarah daging dalam tubuhnya. Sedangkan pernikahan tersebut baru seumur jagung. Terhitung seminggu lalu mereka resmi menikah.


Air mata Khalifa tak dapat terbendung lagi. Ia memalingkan wajah begitu genangan cairan tersebut tumpah ruah. Sungguh ia tak pernah merasakan sakit hati seperti ini.


"Assalamu'alaikum." Khalifa kembali berbalik, tak peduli Alvin marah padanya setelah ia memutuskan untuk kembali ke rumah tanpa dia.


"Aku bilang jangan kemana-mana!" Alvin berdiri, lalu mencegat Khalifa, memegang tangan gadis itu untuk pertama kalinya.


Mata keduanya pun saling beradu untuk sepersekian detik. Sehingga timbul getaran aneh di dalam hati Alvin, sedang dia tidak menyukai rasa itu.


"Maaf." Lantas Alvin melepas pergelangan tangan istrinya seraya meminta maaf.


"Aku ingin pulang, Mas," lirih Khalifa, menatap penuh permohonan kepada Alvin. Hatinya terlanjur sakit.


Niat hati hendak mengunjungi pesantren tempatnya dulu menimba ilmu saat pertama kali. Mengidolakan tempat yang luas tersebut. Namun, ternyata pimpinannya saat ini seakan tak bermoral.


"Hm." Tak ingin memperkeruh suasana, akhirnya Alvin setuju untuk pulang.


Di perjalanan, mereka tak saling bicara. Hanya keheningan yang menemani keduanya. Bahkan suara musik religi pun tak diputarnya. Mereka hanyut dalam pikiran masing-masing. Hingga tanpa sadar air mata Khalifa tumpah tatkala ingatannya kembali berpadu pada peristiwa beberapa saat lalu. Sesakit inikah rasanya dibenci seseorang?


Lima belas menit perjalanan, akhirnya mobil sedan Alvin memasuki pelataran rumahnya. Kemudian Khalifa keluar dari mobil tersebut tanpa mengatakan apa-apa.


"Loh, kok cepat banget pulangnya? Emang gak jadi kelilingnya, ya?" Umi Huraira duduk di kursi ruang tamu, mendapati Sang menantu tengah masuk ke dalam rumah.


"Ini Umi, perut Khalifa mendadak sakit. Makanya kami buru-buru pulang," sambar Alvin, buru-buru memberi jawaban atas pertanyaan Uminya.


"Benar begitu, Nak?" Umi menghampiri Khalifa, lantas memegang pundaknya. Umi seolah mencurahkan kasih sayang terhadap gadis malang tersebut.


"Iya, Umi. Oh iya, kalau tidak keberatan, apa boleh saya masuk ke dalam kamar, Umi? Sepertinya bukan hanya perut yang sakit." Kasihan Khalifa, harus turut mengimbangi kebohongan suaminya. Sedangkan tak terlintas sedikitpun untuk berkata dusta.


"Tentu saja boleh, Sayang," sahut Umi Huraira.

__ADS_1


"Assalamu'alaikum," pamit Khalifa.


"Waalaikumussalam."


"Eh, kau mau kemana? Umi mau bicara sama kamu." Alvin hendak turut masuk ke dalam kamar, tetapi Umi menahannya.


"Ada apa, Umi?" Kini Ibu dan Anak itu duduk di kursi.


"Apa benar istrimu sakit perut? Atau ada hal lain yang sedang kalian sembunyikan dari Umi?" Sebagai seorang Ibu yang melahirkan Alvin, tentu saja Umi Huraira dapat merasakan sesuatu yang tak baik telah terjadi.


"Sembunyi apaan sih, Mi? Khalifa beneran sakit kok. Emang Umi gak lihat wajahnya yang kusut tadi?" sahut Alvin, berbohong.


Entah dari mana Alvin mempelajari sifat dusta, sedangkan selama ini ia menjunjung tinggi nilai kejujuran. Sepertinya kebencian terhadap Khalifa telah melumpuhkan logika serta ahlaknya.


"Baiklah, kalau begitu kau harus memperhatikan istrimu. Kasihan dia, dia baru saja kehilangan Abahnya. Barangkali kepergiannya ke pesantren tadi untuk sejenak menghibur diri." Umi memilih untuk percaya kepada Alvin tanpa menaruh rasa curiga sama sekali. Toh selama ini wanita yang masih terlihat cantikmeski tak lagi muda itu tak pernah merasa dibohongi oleh kedua Putranya.


Di dalam kamar, Khalifa menangis sejadi-jadinya. Dadanya terasa sesak, seperti tak sanggup bernapas. Udara seperti terasa kotor untuk dihirup.


Tak lama pintu kamar terbuka, dan muncullah Alvin di sana. "Ehem, aku minta maaf atas perkataanku tadi." Buru-buru Khalifa berdiri seraya menyeka air matanya.


Kemudian Khalifa memposisikan diri berbaring di atas kursi sofa, membelakangi suaminya yang sudah keterlaluan.


Alvin duduk di tepi ranjang, membuka peci putih yang ia kenakan. Lantas berbaring sembari memikirkan Rukaya.


Dalam hati Alvin berkata, "Maafkan aku Rukaya, aku telah mengkhianati janji kita." Alih-alih mengintropeksi diri atas kesalahannya kepada Khalifa, Alvin justru mengingat Rukaya yang terluka. Sedang istrinya tengah menangis darah di belakangnya. Sungguh pria tak berperasaan.


Sementara itu, di rumah Rukaya. Gadis dengan hijab abu-abu itu duduk di kursi rias. Memandang wajahnya yang berurai air mata.


Ya, Rukaya sedang menangis mengingat Alvin dan Khalifa. Dia terbakar cemburu. Dalam hati Rukaya berkata lirih, "Mengapa bukan aku, Mas?"


"Assalamu'alaikum." Sedetik kemudian suara Umi terdengar dari balik pintu kamarnya.


Buru-buru Rukaya menyeka air mata itu dengan kedua telapak tangan. Lantas berdiri membuka pintu seraya berkata, "Waalaikumsalam."


"Kau sedang apa? Ada yang Umi ingin sampaikan padamu," kata Umi Ratna.

__ADS_1


"Iya, silahkan Umi."


"Mengenai Ustad Alvin, apakah kalian sudah ada rencana untuk menikah? Tidak baik loh tungguh lama-lama. Nanti setan masuk di antara kalian." Rukaya lupa memberi tahu kedua orang tuanya perkara pernikahan Alvin bersama Khalifa.


Lihatlah hasilnya sekarang, gadis itu merasa malu. Ada rasa bersalah yang luar biasa hadir dalam hatinya.


Wajah Rukaya pun tertunduk lesu, tak sampai hati menatap mata wanita yang telah melahirkannya itu.


"Ada apa, Nak? Apa terjadi sesuatu? Mengapa kau murung?" Naluri keibuan Ratna pun bereaksi, merasakan Putrinya itu sedang tak baik-baik saja.


"Umi." Sebab tak sanggup mengungkap kebenaran ihwal hubungannya bersama Alvin, maka Rukaya pun menangis dalam pelukan Sang Bunda.


Ditumpahkannya segala kesedihan di dada wanita tersebut, lantas ia menangis sejadi-jadinya.


"Ada apa, Nak? Apa yang terjadi? Mengapa kau menangis?" Alhasil Umi Ratna pun panik. Pasalnya, sejak berangkat ke pesantren beberapa saat lalu, Rukaya tak menunjukan sesuatu yang mencurigakan. Ia tampak baik-baik saja.


Ratna mengusap wajah cantik Rukaya, lantas memapah gadis tersebut untuk duduk di tepi ranjang. "Minumlah dulu." Kemudian wanita paruh baya itu memberi Rukaya segelas air putih.


"Istigfar, Nak. Setelah itu cerita sama, Umi apa yang terjadi. Jangan buat panik," ucap Ratna.


Selama beberapa menit, Rukaya menghela napas. Menetralkan perasaan yang kian meronta.


Hatinya masih sakit dan berdarah, karena kekasihnya. Sekarang ditambah lagi dengan perkataan Umi Ratna. Betapa hancur hati gadis berparas manis tersebut.


Tidak pernah terpikirkan olehnya, bahwa kisah cinta yang ia rangkai bersama Alvin, justru kandas di tengah jalan.


Masa depan yang dulu dirancang dengan baik serta jeli, seketika hancur berantakan seiring dengan adanya perjodohan.


Rukaya tidak bermaksud menyakiti siapapun dalam kisah ini, tetapi pantaskah ia menerima perlakuan Alvin yang tak adil?


Andaikan sejak awal ia tahu perjodohan itu, maka ia pun tak akan pernah membuka hati untuknya.


Terlebih lagi membagi tahu kedua orang tuanya ihwal hubungan mereka. Rukaya merasa diri terlalu gegabah.


"Umi, Ustad Alvin sudah menikah bersama wanita lain." Sampai akhirnya Rukaya menguatkan iman memberitahu Umi Ratna terkait pernikahan Alvin.

__ADS_1


__ADS_2