
"Mengapa kau tidak mendiskusikan bersama Umi dan Abah perihal hubunganmu bersama Ustad Alvin? Mengapa kau memutuskan sendiri? Bukankah Abah dan Umi masih hidup? Dan satu lagi, mengapa harus Ustad Alvin dari sekian banyak pemuda di dunia ini? Mengapa harus dia, Nak? Tidakkah kau tahu, bahwa dia telah mempunya istri? Apakah kau tega merebut suami orang? Sebagai sesama wanita, harusnya kau mencubit kulitmu sendiri." Jamal menasehati Rukaya yang terlanjut membuat keputusan tanpa merundingkan bersama keluarga, terutama dirinya sebagai Ayah.
Jamal merasa dikhianati oleh Putrinya sendiri. Terlebih lagi pria yang menghendaki Rukaya adalah pria beristri. Di situlah letak kekecewaan pria paruh baya tersebut.
"Rukaya, mengapa kau tidak mengakhiri hubunganmu dengannya, Nak? Apa kau tega menyakiti hati wanita lain?" Ratna turut mendukung pernyataan suaminya, membenarkan tiap kata yang terucap.
Keduanya sama sekali tidak tahu menahu perihal hubungan Rukaya bersama Ustad Alvin. Disangkanya mereka telah mengakhiri hubungan tersebut.
"Aku juga tidak tahu tepatnya kapan jatuh cinta pada Ustad Alvin, Umi, Abah. Aku juga sudah berusaha untuk melupakannya. Bahkan aku berjuang keras untuk menghindar. Namun, tetap tidak bisa. Sampai akhirnya aku menyerah dan memutuskan untuk menerima permintaannya. Aku tahu ini salah, karena telah menanggalkan prinsip yangg selama ini ku pegang teguh. Aku bahkan melukai hati sesama wanita, lantas aku bisa apa ketika cinta itu menyiksaku hingga membuat batin ini menderita?" lirih Rukaya, merasa bersalah terhadap kedua orang tuanya.
"Apakah kau sudah memikirkan konsekuensi yang kelak akan kau terima kedepannya? Akan banyak hinaan serta makian orang-orang di sekelilingmu. Kau akan dicap sebagai perusak rumah tangga. Kau bahkan akan dianggap sebagai wanita pendusta. Apa kau tahu itu artinya apa?" Jamal lantas berdiri, mengajukan pertanyaan yang sarat akan makna.
"Iya, aku tahu, dan aku telah memikirkan segalanya secara matang-matang. Menurut agama, tidak masalah bila seorang wanita menjadi istri kedua atau suami itu memutuskan untuk poligami. Toh kami sudah sepakat," jelas Rukaya mantap.
"Apakah kau tidak bisa mengubah keputusanmu?" tanya Ratna penuh harap.
__ADS_1
Sebagai seorang Ibu yang melahirkan, tentu saja Ratna merasa terpukul atas tindakan Putrinya itu. Hatinya pun nelangsa, tetapi Rukaya bukanlah Anak kecil yang tak mampu membedakan baik buruknya duniawi. Terlebih lagi gadis itu paham soal agama. Sungguh cinta melumpuhkan logika.
"Maafkan aku, Umi," lirih Rukaya merasa bersalah pada kedua orang tua yang telah melahirkannya itu.
"Baiklah, jika itu keputusanmu. Abah tidak bisa memaksakan kehendak. Namun, jika boleh Abah berpesan, setelah menikah kau harus tahu posisimu sebagai istri kedua. Jangan mengambil yang bukan hakmu. Jangan pernah menyetir suami serta madumu. Kelak akan banyak kerikil terjal yang akan kau hadapi, maka perkuat hati dan mental serta jangan menyalahkan takdir, karena kau lah yang memilih jalan ini. Kelak akan banyak fitnah, baik itu berasal dari orang-orang terdekat, maupun yang tak mengenal kita lebih dalam. Bila hatimu merasa cemburu pada madumu, maka kau harus berlapang dada, karena sejatinya tak ada manusia di dunia ini yang benar-benar berlaku adil. Mungkin menurutnya telah adil pada kalian, tetapi bisa jadi kau tidak merasa puas. Ketahuilah, Nak, bahwa keadilan hanya milik Allah. Sekarang Abah tidak ingin menceramahimu, karena kau paham betul tentang agama. Namun, jangan pernah abaikan petuah orang tua. Hormati madumu selayaknya saudara. Walau bagaimanapun juga kau berasal dari pihak yang patut disalahkan bila terjadi perselisihan antara kau dengannya."
Cukup bijak Jamal menasehati sang Putri. kata demi kata disusunnya seepik mungkin, hingga tersentulah hati Rukaya.
Semula ia mengira Abahnya akan menampar atau menudingnya yang tidak-tidak, siapa sangka bila ia justru memberi petuah yang sarat akan makna.
Ironisnya ia melakukan itu dengan sangat sadar. Tidak ada yang memaksa dirinya. Namun, di sisi lain mungkin Rukaya sudah memikirkan segala konsekuensi atas keputusannya sendiri.
Ia berani berbuat, maka ia juga harus berani bertanggung jawab. Itu lah yang membuat Jamal tak ingin membuat keributan dengan menyakiti fisik serta mental Putrinya itu.
"Terimakasih, Abah. Maafkan aku telah mengecewakan kalian. Aku tahu ini tak akan mudah untuk dijalani. Abah dan Umi juga pasti akan menerima berbagai macam cacian dari orang-orang karenaku. Sekali lagi maafkan aku," lirih Rukaya sembari memeluk tubuh Abahnya.
__ADS_1
Sungguh tak ada orang tua di dunia ini yang menginginkan anak-anaknya menjalani hidup yang tak patut.
Pun Jamal dan Ratna, mereka mendambakan Putri semata wayangnya itu menikahi pria lajang. Mengadakan pesta megah asal tak merugikan diri serta orang lain.
Jamal tak dapat berkata-kata, hanya air mata yang menggenang di pelupuk netra hitam pekatnya.
Sedangkan Ratna terlihat sedih, tetapi tak dapat menyangkal segala yang terjadi. Rukaya telah membuat keputusan penting dalam hidupnya, dan telah melalui garis finis.
Sementara itu, di rumah Ibrahim. Tampak Umi Kalsum dan Yunus serta Yahya merundingkan persoalan Khalifa yang bersedia dimadu oleh suaminya.
"Sampai saat ini aku tidak habis pikir, bagaimana bisa Ustad terkenal seperti Alvin justru memutuskan poligami. Bahkan alasannya yang dikemukakan Khalifa membuatku gagal paham. Entah apa yang sedang disembunyikan anak itu," ucap Yahya, menyayangkan keputusan keponakan serta suaminya.
"Mungkin sebelum memutuskan untuk menerima poligami itu, Khalifa sudah memikirkan konsekuensi yang akan diterima. Tentu tidak akan mudah baginya, dia pasti akan menemukan berbagai macam rintangan dalam rumah tangganya itu. Sebab, tak ada yang bisa berlaku adil seperti Rosulullah. Bahkan Rosulullah sendiri telah adil kepada semua istrinya, tetapi mereka masih juga merasa cemburu, karena seperti itulah sifat para wanita. Mereka dikaruniai rasa sensitifitas yang besar, hingga mampu berimajinasi tinggi. Merasakan kecemburuan yang luar biasa seperti Siti Aisyah contohnya." Berbeda dengan Yahya, Yunus justru berpikir bijak dalam menyikapi persoalan hidup Khalifa.
Memang sungguh sangat disayangkan. Namun, inilah jalan yang ia tempuh. "Benar katamu, Mas. Mungkin Khalifa sudah memikirkan segalanya sebelum memutuskan memberi izin Ustad Alvin menikah lagi. Khalifa bukan gadis bodoh yang bersedia membagi suaminya bersama wanita lain. Tentu ada syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi. Jika Ustad Alvin tidak bersedia memenuhinya, tentu lah mereka tak akan jauh-jauh datang kemari hanya untuk memberitahu kita ihwal persoalan rumah tangganya. Di sisi lain, Ustad Alvin pasti sangat paham betul pada apa yang dilakukannya. In sya Allah dia bisa memperlakukan istrinya-istrinya secara adil. Meskipun tak seadil Rosulullah. Sebab, manusia masih dibekali ego yang tinggi."
__ADS_1
Sama halnya Yunus, Umi Kalsum memahami pola pikir sang keponakan. Meski dalam hati merasa kecewa pada sikap Alvin.