
Aku yang suami dusta tak akan bisa termaafkan. Betapa tidak, janjiku kepada Ayah Rukaya dapat ku tepati, tetapi amanah mendiang Abah Khalifa sengaja ku abaikan.
Sadar, bahwa aku telah banyak menyakiti Khalifa, akhirnya aku memutuskan untuk melepasnya.
Semula aku hanya ingin memberi Khalifa waktu bersama kerabatnya di kampung halaman. Namun, semenjak kepergian mantan istriku itu, hatiku kian menderita.
Sengaja tidak ku jatuhkan talak sewaktu ia meminta, karena jujur saja saat itu aku masih belum siap melepasnya. Aku teramat mencintai wanita itu. Namun, aku juga terlalu malu mengakui serta menahannya.
Demi Allah aku berani bersumpah, bahwa Khalifa adalah istri solehah. Tak pernah sekalipun ia membuatku kecewa.
Persoalan aku tidak bisa menerima keputusan Abah yang menikahkan kami berdua, maka dia lah tempat ku melampiaskan amarah.
Ya, Khalifa menjadi wadah pelampiasan kekecewaan terhadap kedua orang tuaku. Di samping ia yang tak pernah membantah.
Anehnya, meski ku hina serta ku siksa batinnya, tidak sedikitpun terpikirkan olehnya untuk melepas rumah tangga yang telah gagal sejak awal.
Mungkin tak akan pernah ku temukan lagi wanita sepertinya. Bukan maksud membandingkan, tetapi perasaanku terhadap Rukaya pelan-pelan mulai memudar. Mungkin karena menyadari, bahwa selama ini aku mengejar Rukaya hanya karena merasa penasaran tentang apa itu cinta. Tanpa aku sadari bila cinta itu justru ku dapatkan dari Khalifa.
Mau menyebutku bodoh? Ya, aku memang lelaki bodoh serta pendusta. Menjadikan agama sebagai kedok poligami, nyatanya aku tak pernah berbuat adil terhadap kedua istriku.
Yang satu ku perlakukan seperti Ratu, sedang yang satunya lagi ku injak-injak harga dirinya seperti manusia hina. Hingga sampailah pada titik kejenuhan.
Aku pun terpaksa melepas Khalifa demi kebahagiaan dirinya. Aku harus mengalah demi menurunkan ego yang selama ini ku pelihara.
Andaikan Khalifa menikahi Bang Al, mungkin hidupnya akan jauh berbeda. Dia tidak akan pernah merasakan penderitaan seperti yang ku berikan selama menjadi suaminya.
Sebaliknya, kebahagiaan serta ketenangan lah yang ia genggam. Sebab, ku tahu bila Bang Al sanggup membahagiakan dirinya.
Bang Al adalah lelaki penuh tanggung jawab serta jiwa sosial yang tinggi. Amanah kerap di genggam rapi. Aku sungguh salut padanya. Itulah sebabnya bila melihat Khalifa duduk berdua dengannya membuat hatiku terbakar cemburu.
__ADS_1
Namun, sepertinya aku tak berhak untuk cemburu. Sebab, yang ku lakukan pada Khalifa justru lebih buruk.
Bayangkan saja, aku bahkan berani membawa wanita lain ke dalam rumah ini, meski statusnya telah resmi sebagai istri.
Saat itu ku tatap mata Khalifa penuh dengan duka. Andai dia tak mengenakan cadar, mungkin wajahnya terlihat jelas tengah memerah.
Kasihan dia, harus melalui pahitnya rumah tangga yang sengaja ku beri.
"Mengapa Mas Alvin menceraikan Mba Khalifa? Aku pikir kepergian Mas beserta Umi dan Abah ke sana adalah untuk mengajaknya pulang, tapi ternyata Mas justru menceraikan dia."
Sengaja tidak ku beritahu Rukaya soal perceraianku bersama Khalifa. Sebab, dia pasti akan merasa bersalah.
Selama ini dia selalu dirundung rasa bersalah yang teramat besar. Karena dia lah aku dan Khalifa terpaksa harus hidup terpisah.
Sejujurnya ini bukan tentang Rukaya, melainkan tentangku yang wajib melepas Khalifa demi kebahagiaannya.
Ku rasa sudah saatnya ia meraih mimpi yang tertunda karena pernikahan paksa kami.
Aku paham, bila ia menginginkan Khalifa kembali ke rumah ini lagi. Menjalin hubungan selayaknya saudara.
"Maafkan aku telah membuatmu kecewa. Aku lelah, bolehkan aku istirahat sebentar?" Tidak ingin memperkeruh suasana, maka sengaja ku minta waktu untuk rehat sejenak.
Hatiku telah lelah, sedangkan raga ini tak bergairah. Duniaku terasa runtuh semenjak kalimat talak itu ku ikrarkan.
Ironisnya, aku menggelar talak tersebut seolah tanpa beban. Padahal dalam hati berteriak kencang.
Saat detik-detik terakhir perpisahan itu terjadi, ku tatap dalam-dalam mata Khalifa, seakan hendak menyampaikan pesan tersirat, bahwa betapa aku sangat merindukan dirinya.
Saat melihat ia pertama kali sejak kepergiannya, aku ingin memeluk dia. Meluahkan segala rasa yang terpendam.
__ADS_1
Namun, ku sadar, bahwa semuanya telah terlambat. Sempat Umi memintaku untuk mempertimbangkan kembali keputusan ini. Akan tetapi, aku tak ingin membuatnya menderita lebih lama lagi.
Sudah cukup ku berikan luka, kini saatnya ia meraih kebahagiaannya. Ku tahu Khalifa sangat menderita selama bersamaku. Maka dengan setulus hati ku doakan dia semoga berbahagia.
Saat itu ku tatap bola matanya, lantas ku sampaikan satu kata lirih itu kepadanya. Mungkin dia terkejut, mengingat selam ini tak pernah sekalipun ku layangkan tatapan penuh cinta kepadanya.
Kini ku buka lemari, tempatnya dulu menyimpan pakaian yang ku beri. Ku tarik salah satu gamis yang biasa ia kenakan. Rupanya aroma mantan istriku itu masih sangat kentara.
Lantas ku peluk serta ku cium aromanya sembari menangis pilu. "Ifa, maafkan aku."
Ya Allah, seperti inikah rasanya sakit kehilangan seseorang yang dicinta? Sumpah, aku sungguh tak kuat. Aku rela kehilangan harta benda, tetapi kehilangan Khalifa sungguh membuatku tersiksa.
Andaikan sedikit lebih cepat ku sadari perasaan ini, mungkin aku tak akan kehilangan Khalifa.
"Berbahagialah engkau dengan priamu di masa depan. Kelak jangan kenang aku sebagai suami yang bijak. Sebab, aku tak pernah memberimu cinta. Aku adalah suami yang buruk, pemimpin yang gagal, serta Anak durhaka." Masih ku peluk gamis Khalifa sembari mencium aroma khas dirinya.
Tidak ku sangka bila wanita itu pergi dengan meninggalkan jejak bau di kamar yang dulu ku ultimatum dirinya.
Kini kamar ini hanya tinggal kenangan. Semenjak kepergiannya, setiap malam aku tidur di sini sembari memeluk bantal yang biasa ia kenakan.
Aroma parfum strowberry sangat kentara di indera penciumanku. Sungguh wanita itu tiada duanya.
Ia bahkan rela melepas cita-cita demi memenuhi permintaan mendiang Abah untuk menikahi pria pendusta sepertiku.
Rasanya poligami yang ku lakukan membuat para wanita ketakutan. Sebab, cara serta rukunnya salah besar.
Ku permalukan kedua orang tua. Ku siksa batin istriku. Ku pertaruhkan nama baik keluarga serta rumah tangga, serta ku abaikan amanah mendiang mertua demi memenuhi ego semata. Sesungguhnya perbuatan inilah yang merusak akidah agama.
Manusia sepertiku tak patut dijadikan panutan. Setiap hari aku menyebar ilmu agama kepada para Santri. Namun, ahlak serta perbuatanku tidak mencerminkan ajaran agama islam yang sebenarnya.
__ADS_1
"Ifa, aku mencintaimu. Tolong maafkan aku yang kerap menyiksa batinmu. Aku tahu selama ini kau menderita karenaku. Kini kau bisa bernapas lega. Tak akan ada lagi pria yang menindasmu. Demi Allah aku ridha," lirihku, masih di dalam kamarnya sembari memeluk gamis lama Khalifa.