
Di sisi lain, Leo pun juga sedang berpamitan dengan Nadia.
"Aku akan keluar kota selama tiga hari. Maka, jaga diri dan juga baby twins baik-baik. Jangan keluar rumah jika itu tidak terlalu penting." Leo terus berbicara untuk memberi pesan kepada istrinya. Sambil asik menyesap harum tubuh Nadia di dengan menempelkan hidungnya bahu istrinya itu. Kedua tangannya setia melingkar erat pada perut sambil mengusapnya penuh perasaan.
Tak lama Leo membalik tubuh Nadia untuk menciumi perutnya, perlahan ciuman itu naik ke atas.
"Iya, iya ... udah ih," Nadia berusaha mendorong dada polos suaminya itu dengan satu tangannya. Namun, tak ada efek sama sekali. Justru kini hidung Leo beralih ke lehernya yang putih. Akan tetapi sekarang hampir mirip surat keterangan kelurahan yang banyak cap stempelnya.
"Berhenti, Leo ... ah!" jeritan Nadia nyatanya bercampur desah. Karena gigitan suaminya itu merambat ke bawah hingga tulang selangkanya.
"Kalo berat ninggalin aku, ya udah gak usah pergi," ucap Nadia terbata karena sambil merasakan buaian yang hampir mampu melenakannya.
"Aku tetap harus pergi, meski hati ini sangat berat meninggalkanmu," sahut Leo kemudian kembali meneruskan kegiatan kesukaannya lagi.
"Emh ...!" lenguh Nadia lagi ketika suaminya itu berhasil meraih sesuatu untuk di masukkan kedalam mulutnya. Leo mendahului kedua calon bayinya untuk menikmati benda itu, dan pria itu pun kembali anteng bermain di sana. Sementara Nadia semakin meracau tak karuan.
"Leo ... hentikan. Kemarin kan sudah, aw! Jangan di gigit dong!" Nadia pun reflek menarik telinga Leo agar suaminya itu menghentikan aksinya. Di perlakukan seperti itu Leo justru hanya menampilkan senyum tanpa dosa.
"Gemes sih, jadi kelepasan." Leo pun hanya tersenyum lebar hingga menampilkan jejeran giginya yang putih.
"Haish, bolehkah aku meninju wajahnya yang menyebalkan itu," batin Nadia sedikit kesal akan kelakuan Leo. Pasalnya bukan baru pertama kali, tapi cukup sering. Suaminya itu suka kelepasan menggigit bagian tubuhnya jika sedang gemas atau bergairah.
"Aku tuh memang semakin bulat tau, semua bagian membesar." Nadia berusaha melepaskan dirinya dari kuasa Leo. Ia mulai risih dengan apa yang ada di dalam pikirannya sendiri saat ini.
"Apanya yang bulat? Ini?" tunjuk Leo pada sesuatu yang kini terasa makin pas dalam genggamannya.
"Bu–bukan itu hm ...." Nadia, menjawab sekenanya karena Leo tak juga menghentikan serangannya. Meskipun ia terus berusaha mengalihkan suasana.
"Lalu yang mana? Ini, ini atau yang ini? Kau tau ... jika semua bagian ini aku suka. Semakin berisi dan bikin gemas saja," ungkap Leo jujur sambil memegang beberapa bagian yang ia tunjuk satu persatu.
Hal itu membuat Nadia senang namun juga mencebik karena suaminya itu hanya mencari kesempatan untuk berusaha mengalahkannya lagi.
"Mana ada begitu. Kamu pasti cuma mau bikin aku seneng aja kan biar gak stress," sanggah Nadia.
__ADS_1
"Benar dong sayang," kata Leo lembut sembari menaikkan wajahnya hingga sejajar dengan wajah cantik natural istrinya itu.
"Kalau tidak, mana mungkin sih aku lengket gini sama kamu. Selalu ketagihan sama kenikmatan dan keindahan yang kamu suguhkan. Sampai rasanya, aku gak mau jauh sedikitpun dari kamu. Ingin mengajakmu kemanapun aku pergi." Leo berkata dengan desah dan suara parau.
Tatapan matanya kian berkabut dengan pancaran keinginan yang telah memuncak. Hingga akhirnya ia meraup bibir Nadia yang tengah menganga karena ucapannya barusan.
Mau tak mau, Nadia pun menerima sengatan nikmat yang menggelitik sukmanya. Pesona dan ketangguhan sang suami memang tak kuasa ia tolak apalagi menampik. Belum lagi, jika Leo telah mengucapkan kalimat demi kalimat yang kembali membangkitkan rasa percaya dirinya.
Hingga penyatuan penuh cinta itu kembali terjadi, mengakibatkan penggabungan tetes demi tetes keringat di tubuh keduanya. Alunan desah dan deru napas mereka seakan mencipta irama yang membuat suasana kamar yang sejuk menjadi membara.
Hentakan terakhir ternyata telah mencipta sebuah lenguhan yang di susul oleh geraman berat. Pertanda gelora dari masing-masing tubuh telah mencapai ujung puncak nirwana. Mereka telah menuntaskan sesuatu yang membuncah dalam pusat tubuh keduanya.
Beberapa jam kemudian.
Leo melabuhkan kecupannya lagi di kening istrinya itu. Sebelum akhirnya ia masuk ke dalam mobil dengan Black sebagai drivernya. Setelah berada di dalam pria berahang tegas itu segera menurunkan kaca jendela mobil.
"Jangan kemana-mana, ingat! Kamu tidak boleh kelelahan ya. Aku akan sering memberikan kabar padamu, jadi jangan khawatir. Red akan menjagamu, pergilah hanya dengannya. Tunggu saja aku pulang, oke sayang!" pesan Leo beruntun membuat Nadia tersenyum lalu ia melongokkan kepalanya ke dalam jendela mobil.
Cup.
Nadia memberi ciuman singkat pada Leo hingga terciptanya senyum di wajah yang berseri-seri itu.
"Mantap Tuan. Bekalnya udah banyak," ledek Black seraya terkekeh kecil.
Bugh!
Leo terlihat menendang belakang kursi sambil tertawa.
"Sial kau! Beraninya meledekku. Minta bekal sana, sama calon istrimu!" seru Leo balas meledek ajudan Black.
"Sudah dong!" sahut Black menimpali.
"Sudahlah kalian berangkat sana," kata Nadia.
__ADS_1
Sekali lagi Leo menatap istrinya itu lekat, seandainya saja bisa mengajak istrinya itu maka akan ia ajak. Hanya saja, jalur yang mereka datangi nanti cukup terpelosok dan jauh dari kota. Dengan beberapa area medan yang akan cukup melelahkan dan berbahaya bagi wanita hamil.
Beberapa jam kemudian.
Sampailah keduanya di bandara. Seorang pria muda yang telah menunggu Leo di lobi mengambil alih kopernya. Black hanya mengangguk pada salah satu anak buah yang ia ajak secara mendadak semalam. Ia kembali fokus berbicara dengan seseorang melalui ponselnya.
Tiba-tiba ada seseorang yang datang menghampiri Black.
"Hai, apakah kau Lorenzo?" sapa wanita tersebut dengan senyum memikat yang bertengger di wajah cantiknya.
Kebetulan wanita itu telah memesan minuman di tempat mereka menunggu panggilan keberangkatan pesawat.
"Aku Black, bukan Lorenzo," jawab Black seraya menelisik singkat dan segera mematikan panggilan tersebut. Ia memilih memindahkan komunikasi melalui chat.
"Untukmu." Wanita itu pun menyodorkan gelas berwarna coklat kehitaman khas dari salah satu cafe di bandara tersebut.
"Ok, Thanks!" ucap Black kemudian ia memberikan minuman tersebut kepada asisten yang berada di belakangnya.
"Untuk saya Pak?" tanya Shine heran, ia menanggapi minuman tersebut dengan bingung. Pasalnya ia mendengar dengan jelas jika minuman tersebut di berikan oleh wanita cantik itu untuk ajudan Black.
"Aku tidak minum kopi sekarang, tetapi susu." Setelah mengatakannya Black pun berlalu melewati wanita cantik tadi.
Black mencari tempat lain dan mengambil tempat untuk menunggu di pojok cafe.
"Ck. Pria itu sok jual mahal rupanya!" batin wanita tersebut.
Sementara itu di pojok cafe.
"Halo Red sayang. Aku baru saja sampai bandara tapi sudah merindukanmu." Black pun terkekeh dengan tingkat bucin-nya yang sudah akut.
Akan tetapi wanita itu terus memperhatikan Black dengan seringai penuh arti. Tentu saja dengan segala rencana di dalam otaknya.
"Kau itu Lorenzo, dan aku akan kembali mendapatkanmu," gumam wanita cantik itu.
__ADS_1
...Bersambung ...