
Sore harinya.
"Semua sudah siap, Black. Lo berdua tinggal datang dan menempatinya saja," ucap Blue yang memang di tugaskan oleh Black sejak lama untuk mencarikannya tempat tinggal.
Black sudah merencanakan ini sejak lama jika dirinya telah menikah maka ia akan keluar dari kediaman Leonardo. Betapa bangganya, karena ia berhasil mendapatkan rumah yang sesuai dengan apa yang diinginkannya selama ini.
Semua adalah hasil kerja kerasnya selama ini. Karena Black memang memiliki impian membangun sebuah keluarga yang harmonis tanpa bayang-bayang dari masa lalu maupun leluhurnya.
Pria ini tak perduli apapun pada masa lalunya. Maupun itu latar belakang keluarganya. Dia telah bertekad sejak pergi dari kerajaan Gouvarte, bahwa dirinya akan berdiri dan berjaya di atas kakinya sendiri.
" Cek rekening Lo, gih!" Black memang terlihat tidak menanggapi ocehan kawannya itu, karena asik memainkan ponselnya. Ternyata dia tengah mengirim sejumlah uang sebagai bonus, sesuai janjinya tempo hari.
"Waw! Tengkiyu Brother!" seru Blue yang nampak berbinar pada saat melihat angka di aplikasi mobile bankingnya.
" Beli sono, motor baru yang lo pengen. Atau, mau lo simpan untuk biaya pernikahan sama May?" ledek Black.
"Hahaha!" Blue tertawa getir. Karena nasib percintaannya tak seberuntung keuangannya.
"Lo jangan bercanda? Masa cewek sekelas May nolak Lo juga." tanya Black, sinis.
"Bisa-bisanya gue kagak bakal nikah dah. Semua cewek kayak anti banget sama gue," keluh Blue.
Padahal pria ini tampan dan memiliki bentuk tubuh yang proporsional. Hanya saja Blue memang memiliki kelemahan dalam berbicara dengan lawan jenisnya.
Pria ini akan mendadak gelagapan dan ceroboh bila dekat dengan wanita yang ia sukai.
"Sampai kapan, lo buang-buang waktu!" seru Black, bagaimanapun ia peduli dengan kawan setianya itu.
"Tauk ah, gue pusing!" celetuk Blue.
__ADS_1
"Oiya Bro. Setelah Lo kelaut dari kediaman Tuan Leo yang pengawasan serta tekhnologi keamanannya ketat. Maka, kemungkinan orang kiriman paman Lo bakalan bisa nembus secara personal sekarang," kata Blue.
Walaupun begitu ia tetapi menolong sahabatnya ini untuk menciptakan pengamanan terbaik di rumah ini.
Tak lama kemudian ada yang mengetuk pintu ruangan yang akan dijadikan Black sebagai tempat kerja pribadi nanti.
Tok ... Tok ... Tok!
Black hanya tinggal memencet tombol, maka kunci otomatis akan terbuka.
"Permisi ...."
Seketika sepasang mata, Blue tak dapat di kondisikan. Hatinya berdebar tatkala melihat sosok cantik yang berdiri di sebelah Red.
Wanita itu pun nampak tak kalah kagetnya namun dengan cepat ia menguasai ekspresi serta perasaannya.
Blue, membatin. Ingin rasanya ia pergi dari ruangan itu. Kehadiran sosok wanita barusan, membuat ingatannya pada malam itu kembali berputar di otaknya. Bahkan, ia sempat mengingat kembali bagaimana rasa, ah ... bibir dan tubuh wanita itu.
Segala gerak gerik Blue dan Arnett yang aneh, ternyata tak luput dari perhatian mata elang Black. Dirinya langsung mencurigai keduanya.
"Ar. Aku ingin memintamu, mencarikan pelayan pribadi untuk istriku. Tentunya harus mengetahui basic cara mengurus dan menjaga wanita hamil," kata Black yang sontak membuat kedua mata Red membulat sempurna.
"Black. Aku bisa mengurus diriku sendiri," tolak Red.
Karena, ia tak mudah mempercayai orang lain, apalagi bila berhubungan dengan segala kebiasaanya. Red tak terbiasa dilayani.
"Aku tidak terima penolakan, kau tau." Black memotong, sebelum istrinya itu mengeluarkan kalimat penolakan selanjutnya.
"Kalau begitu? Kapan bisa mulai bekerja?" tanya Arnett yang berniat membawa saudaranya dari kampung, ia memang menyanggupi permintaan kawannya itu karena, di masa lalu, dirinya pernah berhutang budi pada Black.
__ADS_1
"Datanglah besok." Black menjelaskan dengan tegas dan gamblang. Meski, Arnett, sepertinya tidak terlalu fokus dengan apa yang di katakan olehnya.
"Kenapa aku harus bertemu dengan dia di sini? Dunia nyatanya selebar daun kates," gerutu Arnett dalam hati.
Sudut hatinya terasa berkedut.
_______
Keesokan harinya.
"Selamat datang, Tuan dan Nyonya." Seorang pria berbadan besar dengan otot yang mencuat dari balik kaus hitam ketatnya. Menyambut kedatangan Red dan Black di rumah baru mereka.
"Anda sudah ada di sini?" tanya Red heran, pada pria yang berkepala pelontos ini.
"Sudah, Nyonya. Sejak kemarin malam," jelasnya.
"Lalu, bagaimana keadaan istrimu pasca operasi?" tanya Red, lagi.
"Baik sekali, hanya saja ia masih harus di rawat secara intensif," jelas pria kekar tersebut, yang mana pernah di kalahkan oleh Red si atas ring kick boxing.
"Sabar ya, Bang Togar, tetaplah semangat!" seru Red, dengan senyum yang akan membuat siapapun terlena.
"Parkir mobilnya!" Black segera merangkul bahu Red, dan menuntunnya pelan untuk berlalu ke dalam. Sebelum, si Tagor membalas senyum manis dari istrinya itu.
"Hei, aku belum selesai bicara dengannya," kaya Red.
"Berhentilah tersenyum untuk semua orang!"
...Bersambung ...
__ADS_1