
Tiba-tiba kedua mata Paulina membola, ketika sebuah laba-laba besar menggelantung dari atas kepalanya. Serangga tersebut tepat berada di depan hidungnya.
"Kyaaa! Laba-laba! Huaaa ...Mamiiii!" Paulina hanya bisa menjerit dengan suara yang serak lagi kecil karena tenaganya yang teramat lemah. Sementara dalam hatinya ia menjerit ketakutan sampai akhirnya wanita itupun pingsan.
Beberapa saat kemudian, ternyata udara semakin dingin. Paulina tersentak bangun pada saat telinganya mendengar suara mendesis yang mendekat ke arahnya.
Bahkan rumput-rumput kecil serta semak belukar yang tak jauh dari tempatnya seketika bergoyang, akibat dari pergerakan suatu makhluk yang saat ini tengah melata ke arahnya.
Paulina seketika membelalakkan sepasang matanya. Ketika hewan melata dengan tubuh panjang bercorak belang hitam kuning itu menjulurkan lidahnya yang bercabang.
Hewan itu semakin mendekat ke arah Paulina yang kini tak mampu lagi bergerak. Ingin rasanya Paulina dapat menggerakkan kakinya dan pergi dari tempat mengerikan ini. Tetapi entah kenapa seluruh tubuhnya terasa kaku untuk digerakkan.
"Pergi! Pergi jauh dariku sialan!" makinya pelan. Bahkan suaranya kini serak dan hampir tak terdengar. Bagaimana ia mau teriak minta tolong? Lagipula, siapa yang lewat di jalan sepi pinggiran hutan seperti ini.
Senjata makan tuan, salahnya sendiri membawa Red kemari dan kini dirinya sendiri yang berakhir mengenaskan di tepi hutan sepi.
Hewan tersebut telah mendapatkan status keadaan makhluk lain di dekatnya berkat sensor lidah bercabang yang menjulur dari moncongnya.
Kemudian sinyal itu di diterima otak dan di sampaikan ke seluruh tubuhnya. Karena tubuh makhluk hidup yang berada di dekat hewan melata itu mengeluarkan sensor panas.
Paulina semakin gemetar ketakutan karena ia tau apa akibat jika di patuk lelah hewan berbisa tersebut. Sementara dirinya belum mau mati, ia masih berharap ada seseorang yang menolongnya. Cairan pesing telah bercampur dengan keringat dan darah. Darah yang berasal dari luka di hampir sekujur tubuhnya.
"Zo sialan! Jika aku mati saat ini aku akan mendatangimu sebagai hantu sekalipun! Aku, tidak akan membiarkan hidupmu tenang!" jerit Paulina dalam hatinya. Sembari merasakan perih di sekujur tubuhnya.
__ADS_1
Paulina berusaha untuk menghindar dengan menyeret tubuhnya menjauh sekuat tenaga. Akan tetapi pergerakannya itu telah memancing sifat agresif dari hewan melata yang mengandung racun mematikan tersebut.
Gerakan mendadak pada saat Paulina beringsut menjauh dari hewan yang menjijikan serta menakutkan itu nyatanya menimbulkan gesekan pada daun-daun dan ranting di atas tanah.
Mengisyaratkan sebuah ancaman pada ular tersebut. Sehingga membuat hewan vertebrata yang masuk dalam golongan reptil itu melancarkan serangan dengan cepat.
"Akh! Sshh!" Paulina sontak kaget bahkan sampai kedua bola mata membesar, pada saat hewan karnivora tersebut mematuk keningnya. Diapun langsung meringis tatkala rasa panas karena bisa ular mulai mengalirkan sensasi membakar di dalam aliran darahnya.
Sepersekian detik kemudian dadanya mulai sesak, wajahnya pucat bagaikan mayat. Racun itu telah menyebar dalam darahnya, mengehentikan kerja alat vitalnya secara bersamaan. Jantung, paru-paru, hati dan juga ginjal. Dalam hitungan kurang dari lima menit semuanya berhenti bekerja.
Tubuh Paulina kaku tak bergerak dengan kedua mata yang membuka lebar serta mulut yang mengeluarkan busa.
Sungguh Na'as jika kejahatannya selama ini terbayar kontan karena akibat dari perbuatannya sendiri.
Tak lama kemudian ada pengendara mobil truk pengangkut barang yang lewat dan berhenti sebentar karena ingin buang air kecil.
"Hei, aku menemukan mayat!" teriak seorang pria pada kawannya yang menunggu di dalam mobil.
"Cih, dia berantakan sekali."
" Sepertinya memang sudah tidak bernyawa, Bang."
" Ya, sudah kita tinggalkan saja. Anggap saja tidak melihat. Gue gak mau direpotin sama mayat kagak jelas gini," kata pria tersebut kepada kawannya.
__ADS_1
____________
"Bagaimana bisa kau mengusir putriku begitu saja!" marah Millie pada Kendrick.
"Itu hukuman untuknya karena telah gagal dalam misi dan malah mengakibatkan kerugian besar dalam projek perusahaan. Seharusnya, Paulina tidak menggunakan napsunya pada Lorenzo!" bentak Kendrick pada istri keduanya itu.
Pria paruh baya ini tak peduli akan apa yang terjadi pada anak tirinya itu. Satu hal yang pasti ia hanya tak ingin rencana yang telah ia susun sedemikian tapi menjadi berantakan.
"Kau kan bisa memberikannya kesempatan kedua tanpa harus mengusirnya! Kalau sudah begini, kemana aku harus mencari putriku!" protes Millie masih dengan nada tinggi.
Kendrick yang tidak suka pada orang yang berbicara kencang padanya pun melemparkan tatapan tajam ke arah istrinya itu.
Tangannya yang besar tiba-tiba melayang dan mendarat di sebelah pipi Millie dengan keras.
PLAK!
Bahkan sampai menimbulkan bunyi yang cukup kencang.
"Akkhh!" teriak Millie yang jatuh terjerembab ke lantai.
"Pergi sana cari putrimu dan jangan lagi kembali padaku!" hardik Kendrick. Ia tak lagi membutuhkan wanita ini setelah berhasil mendapatkan apa yang pria ini inginkan.
"Kau mengusirku setelah mendapatkan seluruh harta warisanku, Ken! Bajingan kau!" teriak Millie marah. Wanita ini tak tahan lagi karena sang suami kerap menindasnya.
__ADS_1
...Bersambung...