Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )

Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )
Bab#17. Red & Black.


__ADS_3

Setelah menyelesaikan urusannya di kantor. Black mengatakan pada Leo apa yang diinginkan oleh Red. Walaupun, dirinya sendiri pun sempat kaget dan hampir berpikir jika Red terganggu akan permintaannya kala itu.


Akhirnya pria itu menceritakan semuanya. Tentang vidio call tengah malam buta, demi menuntaskan hasrat yang hampir membuatnya gila. Bahkan Black dapat merasakan efeknya hingga saat ini.


Pada akhirnya, Red dan Black harus pasrah dipajang pada pelaminan sederhana. Karena mereka berdua sepakat untuk memajukan rencana pernikahan yang kemudian hanya di saksikan tamu inti saja.


Berakhir juga momen dimana mereka berdua mengikat janji dan berikrar satu sama lain. Untuk menerima lahir dan batin serta apa adanya hingga sepanjang usia. Tetap setia dalam suka maupun duka, melangkah bersama serta bahu membahu dalam membangun bahtera rumah tangga.


Red terlihat menjilati bibirnya, masih terasa kala Black menciumnya tadi. "Ck, kenapa aku jadi seperti orang bodoh saat ini. Bagaimana bisa kejadian barusan terbayang terus di pikiranku," batin Red yang tersenyum tipis.


"Ish!" umpatnya pelan, tentu saja di tujukan untuk dirinya sendiri. Seandainya ia membawa lip balm, sudah di poles bibir itu yang mana bekas di cium oleh Black tadi.


"Aku lebih menyukai pernikahan macam begini. Setidaknya pernikahan kita menjadi lebih private, kau setuju denganku kan sayang?" tanya Black sambil memandang wajah istrinya di mana wajah Red pada saat ini terlihat bersemu merah.


"Apa-apaan Red? Kenapa kau selalu berdebar setiap dia memanggilmu dengan sebutan itu? Kenapa juga hati ini seakan gendang yang di tabuh saat perang? Ternyata kau bisa lemah juga karena laki-laki." Red asik bergumam di dalam hatinya. Ia nampak bingung dengan perasaan aneh yang saat ini tengah ia rasakan saat ini.


Red minta pernikahan dipercepat nyatanya karena Black telah melihat seluruh bentuk tubuhnya. Ia hanya perlu jaminan secara pasti, untuk menegangkan hatinya yang terus merasa bersalah.


Acara yang disusun sudah selesai secara keseluruhan. Kini tinggal acara bebas untuk kedua mempelai. Momen pelemparan bunga juga sudah terlaksana. Di ikuti beberapa teman dari kedua mempelai dan juga penghuni mansion utama termasuk para pekerja.

__ADS_1


Karena memang Leo hanya mengundang tamu inti saja. Beberapa karyawan dan orang penting dari beberapa perusahaan termasuk para pekerjanya.


Setelah para karyawan mendatangi Black dan Red untuk memberi selamat pada kedua mempelai itu kini tiba para pekerja yang bertempat di mansion.


Ada seorang wanita paruh baya naik ke atas pelaminan kemudian memegang tangan kedua ajudan hebat tersebut yang telah ia anggap sebagai anaknya sendiri.


Madam Cornella, wanita paruh baya yang telah bertanggung jawab selama puluhan tahun di mansion Xarberg sebagai kepala pelayan menggenggam hangat kedua telapak tangan itu saya tersenyum memandangi wajah kedua mempelai.


"Akhirnya, Mami bisa merasakan kebahagiaan seperti seorang ibu, di mana saat ini Mami melihat kalian berada di momen terpenting seumur hidup. Wanita tua ini masih merasa seperti berada di alam mimpi. Jujur saja, aku tidak menyangka jika akhirnya dapat melihat kalian berdua saling menggenggam tangan juga berjalan bergandengan dari atas altar hingga ke atas pelaminan. Terima kasih Lorenzo, terima kasih telah memberikan kebahagiaan ini untuk Levina. hati Mami sudah tenang sekarang, lega rasanya ketika kalian dapat menjalani hidup dengan seharusnya." Madam Cornella tidak dapat menyembunyikan perasaannya, air mata kebahagiaan itu luruh begitu saja membasahi kedua pipinya, hingga menetes melewati dagunya yang bulat.


Salah satu pelayan muda yang berdiri di belakang madam ternyata sudah sesenggukan sedari tadi, Wanita muda itu ikut terharu melihat pemandangan di depan matanya saat ini.


Ia tak menyangka jika kedua ajudan hebat ini akan bersatu, karena selama ini mereka pun tau dan bahkan seluruh pekerja di mansion pun tau bagaimana kelakuan keduanya selama ini.


"Apa ini May?" tanya Red heran.


"Ini hadiah untuk kalian berdua dari kami persatuan pelayan di mansion," jawabnya pelan.


Pelayan muda yang bernama May hanya tersenyum malu, bahkan ia tak sedikitpun sanggup memandang pada ajudan Black yang nampak gagah dengan stelan tuxedo putih gading.

__ADS_1


Akan tetapi May, tidak bisa berhenti mengagumi kecantikan Red dengan gaun pengantin berwarna sama. Senada dengan warna jas pengantin yang di kenakan oleh Black.


May, pamit kemudian memundurkan langkahnya hendak turun dari panggung, tapi Red menarik tangannya.


"Kita foto yuk, panggil yang lainnya," kata Red dan pelayan muda itu pun mengangguk girang serta segera memanggil kawan-kawannya. Sejurus kemudian madam Cornella memberi kode pada sang juru kamera.


Beberapa gambar telah di tangkap dan diabadikan. Kini Black turun ke bawah panggung mencari sepasang suami istri yang begitu berjasa atas keberlangsungan resepsinya. Meskipun, bersembunyi dengan mengatasnamakan permintaan ngidam nyonya Nadia.


"Tuan, Nyonya!" panggilnya, senyumnya terbit begitu cerah. Ketika matanya menangkap sosok yang ia cari sejak tadi.


"Hei, kenapa pengantin terlihat begitu sibuk?" kelakar Leo pada ajudannya itu.


"Saya ingin mengajak anda berdua untuk berfoto," ucap Black pada kedua majikannya itu.


"Ku pikir kau melupakan kami Black!" sindir Nadia yang terlihat cantik dengan gaun berwarna dusty.


"Maaf Nyonya, saya sama sekali tidak bermaksud." Black menundukkan kepalanya.


Black pun mengedip pada Blue agar naik ke atas pelaminan juga nanti. Pria yang kebetulan menerima lemparan bunga itupun menggeleng.

__ADS_1


"Gak asik Lo!" kata Black dengan gerakan bibir dan tangannya yang menunjuk menggunakan dua jari.


...Bersambung...


__ADS_2