
"Red, apa kau bercanda. Ingat sayang, kamu sedang hamil muda," bisik Black yang mana tak bisa mengerti lagi akan apa yang menjadi keinginan dari istrinya itu.
"Aku sungguh ingin menantangnya. Keinginan ini begitu kuat. Aku hanya mengikuti naluriku atau jika tidak maka nanti aku akan mengalami rasa mual yang membuatku ingin mengamuk," jelas Red. Berharap Black mau mengerti.
Black hanya bisa mendengus geram. Keinginan Red nyatanya tak bisa lagi diredam.
" Apa syarat untuk mengikuti permainan ini?" tanya Red, tapi tak ada satupun yang menjawabnya. Para pria bertubuh kekar itu hanya menatapnya heran.
"Tuan, tolong katakan pada kekasih anda yang cantik lagi manis ini, kalau permainan kami tentu saja khusus untuk pria. Anda tidak mau kan, jikalau nanti kulitnya akan lecet atau kukunya rusak? Belum lagi tukangnya yang renyah itu bisa saja retak bahkan patah, " jawab sang moderator seraya menatap sinis dengan senyum yang meremehkan.
Black hanya bisa menatap yang berbicara padanya sambil mengepalkan tangan. Karena ucapannya memang benar. Bukan masalah apakah Red mampu atau tidak melawan pria kekar itu, akan tetapi keadaannya saat ini yang tengah mengandung calon bayinya menjadi pertimbangan besar.
"Khusus untuk pria ya? Apa itu artinya kalian takut melawan wanita?" sindir Red, dengan senyum remehnya.
"Tentu saja kamu takut, Nona manis. Takut nanti kamu nangis," celetuk sang moderator dan para pria itu pun tertawa. Lalu Red dengan cepat maju ke depan kemudian mendorong sang moderator dengan cengkeraman pada kerah bajunya.
Red menatap pria yang meledeknya itu dengan tatapan tajam. "Aku bisa saja membungkam mulutnya ini untuk selamanya. Untung saja kau bertemu aku saat ini!" tekan Red dengan tatapan yang mengintimidasi sehingga pria tersebut merasa ketakutan.
Tiba-tiba, Black menerobos kerumunan. Lalu, menarik istrinya dengan cepat untuk menyelamatkan sang moderator.
"Lepaskan dia sayang. Pikirkan keadaanmu saat ini," ucap Black tegas.
Setelah Red melepas moderator tersebut kali ini Black yang menarik pria itu ke hadapannya.
"Istri saya sedang hamil muda. Maka turuti saja apa yang dia inginkan, maka saya akan memberi kompensasi yang menguntungkan untuk kalian," tawar Black setius. Ia yang tidak membawa uang cash banyak. Kemudian, menyerahkan kartu namanya.
"Setelah semua selesai, hubungi saya." Black menyerahkan secarik kartu dengan sepuluh lembar uang merah.
"Baiklah, gampang di atur. Jadi, wanita mengidam ya." Pria tersebut mengangguk dengan seulas senyum.
"Baiklah, Mbaknya bisa melawan jagoan kami." Sang moderator menepuk pundak pria kekar berkaus oblong biru tersebut. Membuat pria tersebut sontak menoleh, sekaligus terheran.
"Apa-apaan lu kampret! Mau menjatuhkan harga diriku gua, apa! Masa yang benar aja gua lawan anak kelinci!' marahnya pada sang moderator.
__ADS_1
"Mau duit, nggak? Lumayan 'nih, bisa untuk biaya bini lu yang mau operasi," bisik sang moderator memberi arahan.
"Oh, jadi gitu ya. Jadi, gua cuma harus pura-pura kalah." Pria kekar itu pun mengangguk pelan.
"Black, apa kau tengah membuat kesepakatan! Aku bisa mengalahkannya sungguhan kau tau!"
" Jangan merekayasa. Aku bisa melawan dia, jangan coba-coba meremehkanku!" hardiknya marah.
" Sayang, tenanglah. Lihat, kau menjadi tontonan orang." Black mencoba membujuk istrinya itu yang mulai menyalak marah.
"Karena itu maka, tarik lagi perjanjian mu dengannya! Aku, mau sungguhan. Bukan pura-pura!" protes Red, seraya menepis tangan Black yang merengkuh pinggangnya.
"Astaga!"
" Tapi, itu kan--" Ah, Black hanya bisa mengangguk kepalanya frustasi. Pria ini semakin bingung di buatnya. Keinginan istrinya ini membuat hatinya nyeri dan ngeri.
Bukan masalah mampu atau tidak untuk menang melawan pria kekar tersebut. Karena, kick boxing bukan hanya mengandalkan kekuatan, tapi juga tehnik.
Black hanya bisa menggaruk kepalanya gusar. Istrinya ini telah membuat kepalanya mau pecah.
Dan ....Brakkk!
"Astaga!"
"Mejanya retak!" Para pria itu kaget, ketika meja kayu jati tersebut, menjadi sedikit retak karena pukulan dari Red.
Semua menatap Red kaget pada saat Red menendang meja tersebut hingga bergerak patah menjadi dua bagian.
"Kalian masih meragukan, kemampuanku!" tantang Red, dengan senyum miringnya yang menukik ke atas.
"Sayang, bagaimana bisa kau sekuat ini?" lirih Black,, seraya memijat pelipisnya. Kepalanya benar-benar berdenyut nyeri melihat kelakuan istrinya. Satu masalahnya bahwa Red tengah hamil saat ini.
" Menjauhlah dariku, Black!" Red sontak mendorong suaminya itu, sambil menutup hidung.
__ADS_1
"Kau, cepat lawan aku! Bukankah, kau membutuhkan biaya operasi untuk istrimu!" tebak Red yang langsung tepat sasaran, sekaligus memberikan penawaran.
"B–bagaimana kau bisa tau?!" kaget sang pria kekar, yang di pilih Red sebagai lawannya.
"Sudahlah, lawan saja. Jika kau bisa mengalahkanku. Maka seluruh biaya operasi istrimu aku yang akan menanggungnya." Red langsung mengajukan penawaran sekaligus tantangan.
"Apa anda serius Nona?" Pria kekar itu membukakan kedua mata besarnya. Memang ia berada di tempat ini karena membutuhkan uang yang sangat banyak.
"Tetapi, jika kau kalah. Maka, kau harus siap menjadi anak buahku!"
"Penawaran macam apa itu? Siapa wanita ini sebenarnya? Cara bicara dan pandangnya sangat berbeda dengan wanita pada umumnya. Nampaknya aku harus pergi waspada," batin pria tersebut.
Black, terlihat mengeratkan rahang serta mengepalkan tangannya. Keinginan Red sangat kuat sekali.
"Baiklah, apapun yang terjadi kami tidak akan bertanggung jawab, mengerti!" pesan sang moderator yang berada di tengah keduanya.
"Tentu saja! Aku dan suamiku, tidak akan menuntut kalian. Benar begitu kan Black?" tanya Red memastikan pada sang suami yang berdiri agak jauh darinya itu.
Black menatap tajam dengan mata elangnya. Meski hatinya ingin sekali menangis, kalau perlu merengek agar istrinya ini membatalkan keinginannya. Namun, ia juga takut akan ancaman tidur sendiri dan terpisah selama kehamilan istrinya itu.
Mungkin ini yang di maksud keinginan aneh di kala wanita hamil mengidam. Meski tidak seperti apa yang telah di jelaskan oleh Arnett . Karena, jenis mengidam istrinya ini sungguh di luar nalar manusia.
Pertandingan pun di mulai.
Red telah berdiri berhadapan dengan pria kekar bersinglet. Otot-otot tangannya mencuat, menampilkan urat.
"Baru kali ini, gua tanding sama cewek cantik. Grogi juga ini jadinya. Kalah malu, menang juga malu," gumamnya, sembari mengenakan sarung tangan khusus.
Begitupun dengan Red. Wanita itu juga mengenakan sarung tangan yang di berikan oleh moderator.
"Jangan sungkan padaku, siang tadi aku baru saja menghajar dua begal bertubuh dua kali lebih besar dariku hingga mereka masuk rumah sakit. Jika kalian tidak percaya, buka saja akun tok-tok kalian." Red mencoba membuat orang-orang dihadapannya ini percaya kemampuannya.
Meskipun, dirinya sendiripun tidak mengerti, serta mengetahui darimana asal keinginannya itu. Satu hal yang ia sadari bahwa penciumannya kembali menangkap bau aneh dari suaminya. Serta perasaannya yang mulai kembali kesal asal Black di dekatnya.
__ADS_1
...Bersambung...