Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )

Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )
Bab#53. Red & Black.


__ADS_3

Pandangan mata Black mulai mengabur, tetapi ia masih bisa mendengar kata-kata dari Kendrick walaupun samar. Pria tua itu berdiri dengan angkuh sembari berkata, "Asal kau tahu, Black, aku lah yang telah menghabisi kedua orangtuamu. Kakakku dan juga istrinya yang bodoh itu. Dan sebentar lagi, kau akan menyusul mereka berdua, Black. Haha, aku lah pemenangnya saat ini, Black!"


Hanya itu yang Black dengar, sebelum akhirnya ia benar-benar kehilangan kesadarannya.


***


Di rumah milik Red dan Black, pagi itu Red sedang duduk santai di taman belakang rumah mereka sembari menikmati susu untuk ibu hamil yang pembantunya telah siapkan dengan beberapa camilan ringan. Red nampak mengelus-elus perutnya yang mulai membuncit.


"Hei, Sayang, sebentar lagi Daddy pasti akan pulang. Nanti kita akan jalan-jalan berdua ya, Sayang," ucap Red masih dengan mengelus perutnya pelan. Namun, tiba-tiba pembantunya berjalan ke arahnya dengan tergesa sambil membawa telepon rumah.


"Nona! Nona Red!" panggil pembantunya dengan tergesa, Red langsung berdiri.


"Ada apa?"


"Ini, Non, ada telepon dari rumah sakit." Mendengar itu, ia mengernyitkan dahinya, perasaannya mulai tak enak. Red pun mengambil telpon rumah.


'Dengan Nona Red, istri dari Tuan Black?' sapa seseorang dari balik telepon, Red pun menjawab. Namun, tiba-tiba ia menutup mulutnya dengan tangannya, seolah terkejut dan telepon rumah pun terjatuh dari genggamannya.


"Apa?! Suamiku, Black, dirawat di rumah sakit dengan luka tembak di bagian pinggang? Bagaimana mungkin ...?"


Red terduduk di bangku dengan keadaan syok. Pembantunya pun mencoba untuk membantu dan menenangkan Red. Red lalu menyuruh supirnya untuk menuju alamat rumah sakit yang merawat Black.


Dengan berjalan tergesa, ia masuk ke dalam mobil setelah sebelumnya pembantunya memberikan tas yang berisi dompet serta gawai miliknya. Mobil melaju meninggalkan rumah menuju rumah sakit yang berada di kota yang di mana Black menemui kliennya. Ia membutuhkan waktu beberapa jam untuk sampai di rumah sakit itu.


Red yang terus menangis mengambil gawai dan mencoba menelepon Blue dan juga Arnett sahabat suaminya itu. Ya, tak ada yang bisa ia hubungi untuk saat ini selain mereka berdua. Beberapa panggilan tak diterima hingga ia beralih untuk menghubungi nyonya Nadia, hingga panggilan terakhir pun diterima oleh wanita itu. Red tahu, Nadia pasti sibuk hingga tak bisa menerima teleponnya tepat waktu.


"Hallo, Nyonya Nadia!"


'Ya, ada apa, Red? Kenapa suaramu seperti itu? Apa yang terjadi?' tanya Nadia bertubi-tubi, seolah tahu jika Red memang sedang tidak baik-baik saja.

__ADS_1


"Black dirawat di rumah sakit di kota tempatnya menemui klien kemarin. Ia tertembak dibagian pinggangnya!" jelas Red.


'Apa kau bilang? Siapa yang menembaknya? Lalu saat ini kau di mana?'


"Aku juga belum tahu soal itu, tetapi saat ini aku sudah berada di jalan, Nyonya."


'Oke, baiklah. Kau kirim saja alamatnya, aku dan Leo akan menyusulmu dan Black di sana. Jaga dirimu baik-baik, Red. Ingat, kau sedang mengandung.'


Panggilan telepon pun ditutup oleh Nadia. Red masih menangis, tangisnya malah semakin kencang. Pundaknya terguncang karena isakannya. Sang supir hanya diam saja, tak berani untuk bicara, ia tahu betul bagaimana hancurnya Red.


Hingga dua jam berselang, ia pun sampai di halaman rumah sakit. Tanpa basa basi ia langsung turun dari mobil dan berlari menuju ruangan yang merawat suaminya. Tak sulit baginya untuk menemukan ruangan suaminya.


"Apakah Anda keluarga dari pasien atas nama Black?" tanya salah satu perawat.


"Ya, saya istrinya. Bagaimana keadaan suami saya, Sus?" tanya Red tak sabar.


"Baiklah. Um ... um ... kalau boleh tahu, siapa yang membawa suamiku kemari? Apakah dia sendiri atau ada orang lain?" tanya Red ingin tahu.


"Seseorang membawa Tuan Black tengah malam tadi. Kami tak tahu siapa. Namun, tindakannya cukup bagus, karena jika telat sedikit saja, hal fatal pasti sudah terjadi."


'Siapa? Siapa yang membawanya? Apakah si penembak itu? Jika iya, untuk apa? Jika ia ingin Black mati, ia tak perlu melakukan itu,' batin Red.


Red berjalan mondar mandir menunggu dokter keluar dari ruangannya. Ia hanya bisa melihat Black yang terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Bukan hanya luka tembak, ternyata ia terluka juga di beberapa bagian dan wajahnya yang lebam kebiruan.


"Astaga, Black, apa yang sebenarnya terjadi denganmu? Kenapa bisa seperti ini?" bisik Red, ia masih saja berdiri dengan melihat Black dari luar kaca pembatas.


Hingga akhirnya Nadia dan Leo pun datang dengan tergesa. "Red, bagaimana keadaan Black? Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Nadia dan Leo bebarengan. Red sudah tak sanggup untuk menjawab pertanyaan itu, ia hanya menggelengkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan mereka berdua.


Tak lama setelah ia menggelengkan kepala, rasanya kepalanya sangat berat dan begitu pusing. Dan benar saja, Red pun kehilangan kesadarannya karena terlalu syok. Nadia dan Leo yang melihat itu langsung memanggil perawat untuk membawa Red ke salah satu ruangan.

__ADS_1


"Sayang, kebetulan di sini adalah tempat kerja Kakak dari Arnett, dia sebagai dokter bedah di sini. Aku akan memanggilnya untuk memantau Black dan kau tetaplah di sini untuk menjaga Red. Aku takkan lama, Sayang," ujar Leo.


"Ya, baiklah, Sayang, aku akan di sini. Ku harap semua baik-baik saja. Aku akan jaga Red, Jangan sampai kandungannya kenapa-kenapa. Dia masih hamil muda, masih sangat rentan." Nadia menganggukkan kepalanya paham dan Leo tersenyum tenang. Pria itu langsung berlalu setelahmya.


Nadia pun membawa Red ke ruangan untuk diperiksa kandungannya. Beruntung, kandungannya aman dan baik-baik saja. Namun, Red masih pingsan, ia masih belum sadarkan diri, Nadia cukup panik melihat Red yang tak kunjung sadar.


"Kau tenang saja, Nad, Red tidak apa-apa, ia hanya syok dan ia juga kelelahan, ia akan segera sadar, Nad," ujar Arnett yang turut menunggui Red. Dia yang baru turun jaga malam langsung datang.


"Tapi ini sudah cukup lama, bagaimana kalau ia kenapa-kenapa?"


"Kau tenang saja, ia dan bayinya baik-baik saja," ucap Arnett lagi menenangkan.


Dan benar saja, tak lama kemudian Red sadarkan diri, ia memegang kepalanya karena rasanya pusing sekali. Namun, ia tiba-tiba teringat kembali jika Black sedang kritis, ia langsung ingin cepat-cepat menghampiri Black yang ada di ruangan lain.


"Jangan pergi, Red! Kau di sini saja, kau baru sadar!" Cegah Nadia, tetapi Red tak menggubris, ia ingin cepat-cepat pergi menemui Black.


"Red, sebaiknya kau istirahat saja dulu di sini, Black di sana baik-baik saja, ada Leo, dokter, serta perawat yang menjaganya, kau aman di sini, Red. Kandunganmu lebih penting, Red, ingat itu," imbuh Arnett.


"Namun, bagaimana keadaannya? Apakah dia masih kritis? Dia baik-baik saja, kan?" tanya Red lagi.


"Ya, kau tenang saja, Black memang masih kritis, tetapi ia pasti tak apa-apa, kita doakan saja," jawab Arnett ditambah anggukan dari Nadia.


Red menarik napas panjang lalu mengembuskannya. Ya, benar, ia tak boleh egois, ada bayi yang harus ia jaga di dalam perutnya. Dan jika bayi itu kenapa-kenapa, maka Black juga akan marah padanya. Ia harus menjaga bayi ini yang lebih utama.


Red pun menangkupkan kedua telapak tangannya, lalu memejamkan matanya, berdoa untuk keselamatan suaminya.


Ia takkan sanggup menerima kenyataan jika sampai sesuatu yang buruk menimpa pria yang di cintainya itu.


...Bersambung. ...

__ADS_1


__ADS_2