
Teruntuk Black hari ini adalah yang terbaik sekaligus juga hari terburuk bagi pria itu. Karena pada hari ini pertama kali dalam hidupnya, Ia berani melangkah dan memutuskan sesuatu hal yang paling berat yang ada di pikirannya selama ini, yaitu memutuskan untuk hidup bersama dengan satu wanita selamanya.
Tetapi, pada hari ini juga dirinya seakan ditelanjangi karena aibnya sedikit demi sedikit terkuak.
"Lepaskan aku!" teriak Paulina yang berusaha meronta dari cekalannya Blue.
"Sebaiknya anda keluar dengan baik-baik atau saya akan menyeret secara paksa dan kasar!" ancam Blue kepada Paulina yang terus meronta ini.
Wanita yang berada dalam cekalannya pun mendengus dengan kasar. Kemudian Paulina menepis tangan Blue lalu ia berlari dengan cepat ke atas panggung.
"Enak saja, pokoknya misiku harus berhasil! Aku masih penasaran dengan Zo,"gumam Paulina di dalam hatinya, sambil terus berlari naik ke atas pelaminan lagi.
"Zo!" Paulina memekik ketika telah sampai dihadapan pengantin pria lagi. Membuat pria itu mematung tak percaya. Hingga Paulina tanpa ragu menubruk kan dirinya pada Black. Memeluk pengantin pria itu erat dan menciumi kedua pipinya.
Jangankan kedua mata Black, bahkan kedua mata Red serta Nadia pun seakan hampir loncat dari sarangnya. Karena Paulina saat ini bukan hanya mencium pipi, tapi juga meraup bibir Black dengan penuh napsu dan seenaknya.
Red yang sudah tak tahan lagi pun maju dan menarik bahu Paulina kemudian mendorong wanita ini dengan keras.
Bukk!
"Aww!" Jerit Paulina yang mana saat ini bokongnya telah mencium alas panggung yang keras.
Red telah menarik serta mendorong tubuhnya dengan keras dan cepat. Untung saja Paulina tidak sampai terpental hingga ke bawah pelaminan.
__ADS_1
"Penjaga! tolong bawa wanita ini keluar!" titah Black tegas dengan dengan pandangan menukik tajam. Rahangnya pun terlihat mengeras menahan kesal yang teramat sangat. Ia bahkan saat ini tak berani melihat ke arah Red.
Istrinya itu pasti sedang menahan marah dan juga bingung.
Black sungguh tidak menyangka jika aib dari masa lalunya akan terkuat justru di saat hari pernikahannya. Dimana ia butuh perjuangan panjang hingga bantuan dari istri sang tuan yang mempermudah jalannya mendapatkan hati Levina Arzetty Alias Red.
Kenapa mereka harus muncul ketika Red sudah mau membuka hati untuknya. Meskipun Red tiak pernah mempermasalahkan masa lalunya, akan tetapi Black tau bahwa Red akan tetap sakit hati, jika dihadapkan dengan masa lalunya secara mengagetkan begini.
" Kau keterlaluan Zo! Kau sangat kasar! padahal kau sebelumnya sangat lembut dan manis padaku!" Paulina sontak memasang wajah teraniaya, ia berpura-pura menangis untuk menarik simpati orang lain, tentu saja.
Para tamu undangan lain tak ada yang berbisik-bisik mereka diam saja memerhatikan drama apa yang sedang tersaji begitu seru.
"Jangan berpura-pura! Pergilah sekarang! Karena aku tidak ada urusan lagi denganmu!" bentak Black pada Paulina yang mana wajahnya sudah berlinangan air mata itu.
Apalagi ketika Black menatapnya dengan tatapan tajam. Mau tak mau Paulina yang berada di bawah sana pun bergidik bergidik ngeri. Karena ia merasakan aura kekejaman di sekitar. Ia juga menyadari bahwa ancaman pria tersebut tidaklah main-main.
"Baiklah aku akan pergi, Zo! Aku hanya ingin mengatakan satu hal padamu. Jika kau merindukanku, permainanku, dan belaianku, aku masih mau menerimamu meskipun statusmu sudah beristri saat ini!" Paulina kembali berteriak dengan tak tahu malunya.
..
Membuat Blue dan penjaga lain akhirnya menyeretnya dengan kasar hingga keluar area.
"Idih, dasar perempuan gila! cantik tapi tak tahu malu!" hardik kedua penjaga tersebut bersamaan.
__ADS_1
Blue melepaskan cekalannya pada saat Paulina sudah berada di luar gedung. Bukannya marah wanita ini justru memasang sebuah seringai sinis di wajahnya.
Tiba-tiba seorang pria maju mendekat ke arah Paulina.
"Bagaimana? Apa aksimu tadi berhasil di dalam?" tanya pria tersebut.
"Menyebalkan! Ini sungguh memalukan! Hiks!" Paulina pun berlari tanpa menghiraukan pria tersebut.
"Dasar perempuan cengeng!"
"Biarlah, yang penting Lorenzo sudah merasakan shock terapi." Pria itu nampak menyisir rambutnya dengan tangan seraya menyunggingkan senyum sinisnya.
Sementara itu di atas pelaminan.
"Jangan pernah sekalipun menyentuhku dengan kedua tangan kotormu itu." Red berkata dengan nada yang sangat dingin. Pada saat Black ingin mendekatinya. Dan pria itupun langsung merasakan nyeri di ulu hatinya.
"Sayang. Ini semua di luar kuasaku. Tolong jangan di pikirkan, jangan diambil hati. Jangan sampai hal ini membuat kau berubah pikiran. Ku mohon," ucap Black lirih memelas dengan sorot mata penuh permohonan.
"Aku menikah denganmu demi keinginan nyonya, ingat itu. Sejak awal sudah seperti itu. Jadi, jangan pernah berharap lebih dari ini!" tegas Red tanpa sedikit pun melihat ke arah pria yang telah menjadi suaminya ini.
"Aku akan terus meneror hidupmu, Zo. Lihat saja nanti!" gumam Paulina yang masih tak menyerah.
...Bersambung ...
__ADS_1