
Beberapa bulan kemudian, Red tengah menjaga baby Aiyla Moon di rumah Nadia dan Leo. Dengan kondisi perut yang membesar, ia menggendong dan mengajak main Aiyla. Ia begitu senang dengan bayi mungil itu, beberapa kali ia menciumi bayi tersebut karena saking gemasnya.
"Red, turunkan saja dulu Aiyla, kasihan bayi yang ada di dalam perutmu," ujar Nadia yang khawatir.
"Tidak apa-apa, Nyonya, saya hanya gemas saja."
"Jangan panggil begitu sudah kukatakan berulang kali. Panggil aku Kakak saja agar kita seperti saudara," pinta Nadia dengan tulus.
Red langsung speechless.
Pada saat istri majikannya meminta hal itu padanya.
"Apa gak salah? Apakah ini wajar? Tapi kan saya--"
"Cepat katakan atau kita gak bestie lagi," ancam Nadia yang tentu saja tidak sungguh-sungguh.
"Sa–saya ... sangat senang Nyonya. Karena, tuan Leo, juga para pekerja di dalamnya adalah satu-satunya keluarga saya. Saya sangat, merasa tersanjung jika anda--" Red tak mampu meneruskan ucapannya, bahkan pada saat ini ia membekap mulutnya sendiri.
Perubahan hormon telah membuat pribadi Red menjadi lebih melow.
"Kamu adalah keluarga kami. Karena itu cepatlah panggil aku Kakak!" pinta Nadia lagi dengan kedua mata yang sudah berkaca-kaca.
Secara kebetulan nasib mereka berdua itu sama.
Sebatang kata tanpa sanak saudara.
Kemudian bertemu dengan Leo dan diberkahi segalanya.
"Kita ini sama, Red, senasib," kata Nadia yang sudah mulai terisak.
"Anda benar, Nyo-- eh Kak. Tuan Leo yang telah mengangkat derajat kita, seperti sekarang ini," ucap Red terbata karena menahan tangis di tenggorokan.
"Kau adalah adikku mulai sekarang." Nadia pun maju untuk memeluk Red.
"Terimakasih, karena mau menjadi Kakakku," lirih Red dengan bahu yang bergetar.
Namun, tiba-tiba Red merasakan ada yang aneh dengan perutnya. Ia menurunkan Aiyla dari pangkuannya kedalam box bayi dan kemudian memegang perutnya yang terasa kram. "Ah!" Red mengaduh, sedangkan Nadia yang mendengar itu pun menghampiri Red.
"Ada apa, Red?" tanya Nadia, sedangkan Red hanya menggelengkan kepala tak kuat untuk menjawab. Red semakin mencengkeram perutnya yang semakin lama semakin terasa sakit.
"Pe-perut saya sakit, Non, seperti di remas-remas!"
Nadia yang mendengar itu terkejut. "Apa? Jangan-jangan kau mau melahirkan, Red! Astaga, di mana para lelaki itu!"
"Aaakhh!!!" Red berteriak dengan kencang, ia tak kuasa menahan sakitnya lagi hingga air mata pun keluar.
"Black! Leo! Kemarilah cepat! Red hendak melahirkan!"
__ADS_1
Sedangkan Black dan Leo yang tengah bersantai di taman belakang itu pun langsung bergegas menghampiri Nadia dan Red yang ada di ruang bermain anak. Black berlari lebih cepat mendahului Leo.
"Ada apa ini, Nona?" tanya Black yang panik melihat Red sudah terbaring tak berdaya dan terus memegang perutnya.
"Sepertinya Red hendak melahirkan, Black, kita harus segera membawanya ke rumah sakit," ujar Nadia.
"Ah ya? Apakah benar dia ingin melahirkan?" tanya Black.
"Ya sudah, ayo secepatnya kita bawa ke rumah sakit sekarang, Black!" Leo lalu pergi dan keluar menyiapkan mobil, sedangkan Black menggendong Red, dan Nadia memilih untuk menyusul dengan mobil lainnya bersama baby twins.
"Cepat, Tuan! Saya sudah tidak tahan!" teriak Red sambil mencengkeram lengan Black dengan sekuat-kuatnya. Sedangkan Leo dengan mahirnya mengendari mobil tetapi tetap dengan berhati-hati.
Demi ajudan terbaiknya, Leo sampai rela menjadi sopir pribadi. Padahal banyak pekerja lain di mansion..
"Sabar, Sayang, sebentar lagi kita sampai," ucap Black menenangkan Red, tetapi Red malah semakin menguatkan cengkeramannya hingga membuat lelaki itu meringis kesakitan.
"Ya, lima menit lagi kita sampai!"
"Aakhh!!!" Red terus berteriak, sedangkan ketuban sudah pecah di jalan tadi.
Dan beruntung, belum lima belas menit Leo berhasil sampai di rumah sakit. Leo langsung memanggil perawat untuk membawakan brankar. Suasana panik bagi Black yang pertama kali menemani orang yang hendak melahirkan. Sedangkan Leo, baginya ini untuk yang kedua kalinya, tetapi sama saja, ia ikut panik karena Black juga panik.
"Apakah Tuan suaminya? Silakan masuk untuk menemani istri Anda melahirkan," ujar dokter yang akan menangani proses melahirkan Red.
Tanpa basa-basi Black langsung masuk ke ruangan dan meninggalkan Leo yang menunggu di ruang tunggu yang tak lama Nadia menyusul bersama kedua bayinya.
"Apakah itu suara bayi kita, Black?" tanya Red dengan air mata yang menetes karena terharu.
"Ya, Sayang, itu bayi kita. Dan apa kau tahu, kita mendapatkan jagoan, ya, bayi kita laki-laki, Sayang," jelas Black sembari mendekap istrinya. Ia memeluknya dengan bangga karena sudah bertaruh nyawa demi sang buah hati.
"Apa? Ya Tuhan, aku sangat bahagia, apa yang kita harapkan sesuai, Sayang." Red memeluk kembali Black.
Setelah baby boy itu dibersihkan, Leo dan Nadia pun diperbolehkan untuk masuk dan menjenguk bayi tersebut.
"Wah, selamat, Black, kau mendapatkan seorang jagoan yang mirip denganmu, haha," ujar Leo memberi selamat.
"Akan kalian beri nama apa untuk bayi kalian?" tanya Nadia.
"Hem, aku akan memberinya nama, Darius Gouvarte atau Grey untuk nama panggilannya," jawab Black.
"Woah, nama yang sangat bagus, Black," sanjung Leo.
***
Beberapa tahun kemudian
Hari ini, Grey atau Darius Gouvarte sudah bersekolah di taman kanak-kanak, ia tumbuh menjadi anak lelaki yang tampan, tangguh, dan kuat seperti ayahnya. Ia juga pandai beberapa aksi bela diri karena sudah diajarkan oleh sang ayah sejak dini.
__ADS_1
"Belajar yang baik, Nak, nanti jika kau sudah dewasa, kau harus menjadi pria yang tangguh dan kuat. Kau tak boleh gampang mengeluh apa lagi menyerah, kau mengerti itu, Nak?" tutur Black.
"Yes Daddy, Grey mengerti.
"Tapi apakah Grey boleh meminta satu hal, Daddy?"
"Ya, apa, Sayang?"
"Bolehkah Daddy ajarkan Grey memakai senjata api?" Mendengar itu, Black langsung merubah raut wajahnya. Dengan tegas ia menentang, tetapi sembari memberi pengertian.
"Kau tak boleh menggunakan itu, Grey, kau masih terlalu dini, tak bagus untukmu. Kau boleh menggunakannya jika kau sudah dewasa nanti, apa kau paham?" tanya Black.
"Tetapi aku sangat ingin menggunakannya," kekeh Grey.
"Hem, tak boleh, Sayang, kau masih terlalu kecil."
Tanpa mereka sadari, dibalik jendela kaca ada Aiyla yang terkekeh melihat perdebatan antara ayah dan anak itu. Ya, gadis itu lalu berteriak. "Kau jangan macam-macam, Grey, kau harus mendengarkan apa kata ayahmu!" teriak Aiyla dari sana.
Sedangkan Grey yang sedang berdebat dengan Black pun menoleh ke arahnya. "Hei, apa yang kau lakukan di sana, Aiyla? Masuklah, di sini cukup panas! Nanti kau kelelahan!" balas Grey dengan berteriak juga.
Black yang melihat perhatian Grey kepada Aiyla itu hanya tersenyum melihatnya, menganggap jika itu hanyalah perhatian layaknya saudara, lagi pula mereka masih terlalu dini untuk mengenal hal yang lebih jauh.
Namun, dari jauh Aslan, kakak atau kembaran Aiyla menghampiri Grey yang sedang bersama dengan Black. "Dia adikku! Biar aku yang menjaganya, kau tak berhak apa-apa!" ujarnya dengan emosi dan nada tinggi.
"Memangnya kenapa? Dia juga temanku! Saudaraku juga!" balas Grey.
"Hih, dasar kau ya!" Aslan lalu pergi meninggalkan Grey dan Black.
Black yang melihat hal tersebut hanya geleng-geleng kepala, tak bisa juga menyalahkan Aslan, toh mereka ini masih anak kecil, tak bisa diajak bicara terlalu keras.
"Grey, sebaiknya kau dengarkan apa kata Aslan, dia itu cemburu jika kau terlalu perhatian pada Aiyla," ujar Black memberi pengertian.
"Tetapi Aiyla tak pernah aman jika selalu berada di dekat Aslan, Daddy."
"Haha, kata siapa?" Aslan sebagai kakaknya, justru lebih bisa menjaga adiknya.
Grey yang mendengar itu hanya mencibirkan bibirnya. Sedangkan di dalam rumah Leo, Aiyla nampak sedang berdebat dengan Aslan, ia tak terima karena Aslan sudah memarahi Grey. Baginya, anak laki-laki lebih dari apa pun untuknya dibanding Aslan.
"Kau adalah adikku, kau tak boleh dekat-dekat dengan Grey, kau mengerti?"
"Tidak! Tetapi Grey juga adalah temanku! Kau tak bisa melarangku, Aslan!"
Nadia yang mendengar perdebatan anak kembarnya itu pun menengahi. "Hai, dengarkan Mommy, Sayang, kalian berdua dan Grey adalah saudara. Aslan tak boleh membandingkan Grey dan melarang Grey untuk dekat dengan Aiyla ya, Sayang." Mendengar itu, anak kembar itu pun menganggukkan kepala.
"Mereka ternyata sudah tertanam rasa untuk saling peduli satu sama lain. Kau harus menjadi anak yang kuat Grey. Aiyla memang harus selalu kau lindungi," batin Red dengan senyum yang bagaikan bulan sabit di wajahnya yang semakin terlihat dewasa dan cantik itu.
...T A M A T...
__ADS_1