Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )

Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )
Bab#30. Red & Black.


__ADS_3

Red dan Black hampir terjatuh dari kursi yang mereka duduki karena tiba-tiba perawat keluar untuk mengabarkan bahwa Nadia sudah siuman.


"Syukurlah, Nyonya akhirnya sadar kembali," ucap Red senang sekaligus lega.


"Kamu benar sayang. Tinggal bagaimana cara tuan nanti mengabarkan pada nyonya bahwa salah satu bayi mereka mengalami kelainan jantung bawaan," kata Black sendu.


Bagaimana pun kedua bayi tersebut adalah tuan muda kecil.


Di dalam ruangan khusus untuk merawat Nadia.


"Biar aku periksa dulu ya," ucap dokter Arnett, sambil mendekati kepala hospital bed tersebut. Setelah Leo, melepaskan pelukan terhadap istrinya, iapun segera mencabut selang oksigen dan beberapa alat yang menempel pada dada pasien secara perlahan dan juga hati-hati. Memeriksa retina, serta denyut nadi. Ia juga menekan dengan pelan kedua dada pasien.


"Minum dulu ya, setelah itu makan. Baru, kau bisa menyusui kedua bayimu setelahnya," ujar Arnett. Dokter muda nan cantik itu juga telah melepas selang infus yang menancap di lengan Nadia.


"Tapi aku ingin menggendongnya sekarang," pinta Nadia sambil menatap nanar pada sosok mungil yang di gendong oleh para perawat itu


"Tentu saja kau akan menggendongnya sayang, baby A juga sangat menginginkannya. Biar aku kenakan pakaian dulu untukmu, ya," tutur Leo.


Nadia pun mengangguk dan menyunggingkan senyumnya. Karena ia dapat melihat lagi wajah Leo, serta merasakan lagi sentuhan suaminya itu.


Nadia, tak sedikit pun melepaskan pandangannya dari wajah suaminya. Ia berpikir tidak akan kembali lagi, untuk sekedar melihat wajah tampan dengan rahang berbulu halus ini.


Leo hanya bisa memberi senyum dan sebuah kecupan ringan di kening. Masalahnya, di ruangan ini begitu banyak orang. Padahal, dirinya ingin sekali meluapkan kerinduannya pada sang istri.

__ADS_1


"Kamu minum dulu, sayang." Leo menyodorkan segelas air. Kemudian, Nadia menenggaknya hingga tandas. Setelahnya Leo menyuapi sang istri makan dengan begitu sabar dan telaten.


"Sekarang, aku sudah boleh menggendong bayiku kan," ucap Nadia penuh harap setelah dirinya selesai makan.


"Baiklah, Nyonya, ini bayi anda." Seorang perawat menyerahkan bayi yang barusan berada dalam gendongannya. Baby Arlan yang sudah kenyang menyusu, nampak terlelap dengan tenang.


Nadia pun menerima dengan tangan gemetar, apalagi ketika bayi mungil dengan kedua pipi gembul itu telah berada dalam dekapannya. Air mata sontak mengalir deras, seiring tangisan haru darinya.


"Sayang, kami sangat merindukanmu," Leo ikut mendekap dari atas, ia merangkul bahu Nadia dan meletakkan dagunya di atas kepala istrinya itu.


"Dia tampan sekali," ucap Nadia penuh binar kekaguman dimatanya.


"Baiklah, keadaan Nadia sudah stabil, nanti akan ada perawat yang mengantar obat. Dua jam lagi, saya akan kembali memeriksa. Sekali lagi, selamat untuk kalian berdua," ucap dokter Arnett dengan tatapan haru.


"Terimakasih. Maaf, jika tadi aku,"


" Sayang, baby As sudah tidur. Sini biar aku memindahkannya ke dalam box bayi," saran Leo.


Nadia terus menciumi, baby As. Sebelum ia memindahkan putranya itu ke dalam gendongan Leo.


"Mana tanganmu, sayang. Biar aku pijat ya." Leo meraih salah satu tangan Nadia, kemudian mulai memijatnya pelan. Karena tadi Nadia berkata kalau tangannya kram.


"Gimana, sudah enakan?" tanya Leo seraya menatap ke dalam manik mata istrinya itu. Tanpa komando, kelopak matanya itu mengedip cepat dan meluruhkan kembali kristal bening dengan deras.

__ADS_1


Leo bahkan merasa kesusahan ketika menelan ludahnya sendiri. Napasnya tiba-tiba tercekat membuat dadanya berdentum tak karuan. Sesak yang selama ini menekannya tiba-tiba serasa ingin meledakkan sesuatu.


Perasaan Nadia pun tak jauh berbeda, hatinya amat tersentuh ketika melihat mata berkaca-kaca di hadapannya. Dengan jakun yang turun naik menahan suara isak agar tetap tertahan didalam pita suara.


Ia tak menyangka dapat kembali melihat wajah tampan suaminya itu. Nadia sontak mengulurkan tangannya untuk menyentuh rahang tegas Leo.


"Maaf, telah membuatmu khawatir. Sekarang, aku mau melihat bayi perempuanku. Dimana dia sayang?" tanya Nadia.


Leo tidak menjawab, ia meraih wajah itu dengan kedua tangannya. Kemudian, meraup bibir kering itu kedalam sesapannya. Tak ada penolakan dari Nadia, karena ia juga teramat sangat merindukan pria yang tengah menciuminya ini.


Leo, semakin menarik raga Nadia kedalam pelukannya. Kedua tangan wanita itu pun terjulur, mengelus punggung lebar suaminya, lalu merengkuhnya.


Leo tak tau harus menjawab apa karenanya ia memilih untuk menciumi Nadia saja. Tak lama Leo pun melepaskan pertautan mereka, ketika napas Nadia sudah terengah-engah.


"Maafkan, aku sayang. Aku terbawa perasaan," ucap Leo seraya menyatukan kening keduanya. Leo mengulurkan ibu jarinya untuk menyeka bibir yang basah karena ulahnya itu.


Nadia memejamkan kedua matanya, merasakan sapuan jari hangat Leo pada bibirnya. Melihat respon istrinya yang seperti itu, membuat pria berahang tegas ini kembali mendaratkan kecupannya pada bibir yang sudah tidak lagi pucat itu.


Nadia membuka kedua matanya, lengkungan senyum tercipta ketika kedua sudut bibirnya ia tarik ke atas.


Leo kembali menangkup wajah itu, untuk kemudian memberi kecupan malaikat pada istrinya.


Leo, memberi kecupan perlahan pada kedua kelopak mata Nadia secara bergantian lalu ke hidung, kedua pipi dan berkarir di kening. Ciuman yang menyalurkan perasaan dalam bukan napsu semata.

__ADS_1


"Mana baby Aiyla ku, Leo?"


...Bersambung...


__ADS_2