
"Crinkle!" panggil Blue, pada salah satu karyawan pria di dalam kotak kerja mereka.
"Iya, Pak Blue, ada apa?" kagetnya, pasalnya ini masih pagi. Tak biasanya, asisten killer ini sidak di saat seperti ini.
"Siapa karyawan di sini yang sudah menikah sebulan dua bulan?" tanya Blue serius dengan nada tegas. Jika di depan para karyawan, maka jiwa kepemimpinannya akan keluar.
"Ada Pak, si Rayon," jawab Crinkle.
"Panggil deh dia kesini," titah Blue.
"Baik Pak, sebentar," jawabnya singkat dan padat. Crinkle pun memanggil Rayon dengan nyaring. Membuat pria berambut klimis ini seketika mengorek telinganya yang berdengung.
"Ah, ya! Ada apa!" kagetnya. Pasalnya, pria itu selalu serius kala bekerja. Apalagi, ini adalah akhir bulan. Saatnya tim keuangan mengakumulasi hitungan.
"Lu, baru nikah kan Ray?"
"I–iya, Bro," jawab karyawan itu gugup pada Crinkle. Sebab ia tidak menduga kalau ada Blue juga di sana.
"Ikut!" titah Blue tanpa memberi penjelasan apapun dan tanpa menunggu persetujuan dari karyawan tersebut.
"Apa yang telah kau lakukan?" tanya Crinkle dengan gerakan mulut pada kawannya itu. Rayon yang justru tak mengerti hanya menanggapi dengan gelengan kepala cepat dan bahu yang diangkat.
Setibanya di ruangan ajudan Black.
"Masuklah, dan ingat. Jawab dengan baik dan benar apa yang di tanyakan oleh ajudan senior, atau pekerjaanmu yang jadi taruhannya," pesan Blue yang terdengar seperti sebuah ancaman bagi karyawan tersebut.
Glek!
Karyawan itu menelan ludahnya susah, lalu mengangguk dengan cepat. Seketika telapak tangannya menjadi dingin dan berkeringat.
Rayon pun masuk bersamaan dengan Blue.
"Duduklah!" titah Black dengan aura yang membuat tungkai si karyawan bergetar.
"Ada apa sih? Gue bikin salah apaan emang?" batin Rayon khawatir akan nasibnya.
Karyawan tersebut duduk perlahan, dengan menundukkan kepalanya.
"Berapa lama kau menikah?" pertanyaan dari Black yang tegas, membuka sesi interogasi.
"Tiga bulan, Tuan," jawab Rayon.
"Baru selama itu, eh sebentar maksdnya."
"Iya, Tuan. Bahkan, kami mau jalan empat tahun di musim ini," jawabnya, seraya memberanikan diri untuk mengangkat kepalanya.
" Selama itu, apa pernah istrimu bertingkah aneh?" tanya Black lagi, hingga ucapannya kali ini mampu membuat dahi Rayon berkerut.
"I–itu, sepertinya belum pernah tu–tuan," kata karyawan itu jujur.
__ADS_1
"Sepertinya jawabanmu tidak memuaskan ku. Kayaknya bonus besar buat kamu bakalan di potong." Kata-kata Black ini membuat wajah
Rayon, pucat pasi seketika.
"Maaf, Tuan. Deskripsi anehnya seperti apa? Karena, memang wanita itu sering kali bertingkah aneh dan membingungkan," jelasnya. Membuat Black kini memajukan tubuhnya.
"Jadi, istrimu juga suka bertingkah aneh? Lalu mengusirmu untuk tidur di sofa?" tanya Black lagi tanpa sadar ia tengah mengumbar aib rumah tangganya
Sontak, Blue dan Rayon sekuat tenaga menahan dirinya untuk tidak tertawa. Menurutnya, ajudan seniornya ini begitu luar biasa, bagaimana bisa mengalami hal menyedihkan seperti itu.
Dirinya saja yang bertampang dan berkantung pas-pasan, belum pernah di usir untuk pisah tidur.
"Jadi, Lo di usir Bray? Kasiman amat dah!" ledek Blue yang nampak puas sekali pada saat mendengar penjelasan dari Rayon.
"Cepat, katakan dan jawab! Aku butuh solusi bukan di kasihani!" sentak Black, membuat sang karyawan terkejut kaget.
"Baik, Tuan! Tapi maaf, bukan maksud saya untuk menggurui anda. Wanita itu, memang sulit untuk di fahami. Coba anda bicarakan berdua dengan kepala dingin karena frustrasi jelas Rayon.
"Aku sudah menanyakan akan perihal itu padanya. Istriku malah bilang, ia benci bila melihat juga mencium bau badanku ini,"
"Hah! Mana mungkin seperti itu. Anda sangat lah rapih dan wangi," jujur Rayon. "Apakah, sikap istri anda ini, datang secara tiba-tiba?" selidiknya lagi.
Black langsung mengangguk." Sudah beberapa hari ini. Sebelumnya, kami baik-baik saja. Ini, membuatku bingung dan sangat sedih. Apa, ia sudah bosan padaku? Apa ia tidak mengantungkan lagi kebahagiaannya padaku?" tutur Black dengan nada lirih. Aura melankolis tiba-tiba menyeruak dari dirinya.
Membuat karyawan di hadapannya ini melongo seketika.
"Tuan, anda tenanglah. Berpikirlah positif dan yang baik-baik saja. Karena, terkadang, isi dan jalan pikiran kita itulah yang akan membunuh kepercayaan diri kita. Bukan kenyataan atau omongan dari orang lain," jelasnya, terdengar bijak untuk pria seusianya.
"Setau saya, perubahan sikap wanita yang tiba-tiba, bisa saja di pengaruhi oleh perubahan hormon. Mungkin, istri anda dalam mode senggol bacok lantaran PMS," jelasnya lagi. Ia berharap jawabannya kali ini, akan memuaskan ajudan Black.
" Tapi?" kaget Black. Kemudian dirinya mengingat-ingat kapan terakhir sang istri kedatangan tamu bulannya nya.
"Tidak! Selama ini, istriku tidak pernah bersikap aneh. Meskipun ia sedang dalam mode siklus bulanannya." Black , mencengkeram belakang kepalanya.
______
"Bukan juga ya." Pria ini pun, ikut menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. Ia ikut pusing, memikirkan masalah bosnya. Mana tugasnya juga belum selesai, sedangkan deadline-nya adalah sore ini.
"Haih, kenapa semakin rumit. Nampaknya aku akan lembur malam ini," batin Rayon.
" Tuan, bagaimana definisi anehnya? Lalu apakah boleh jika saya bertanya pada wanita yang sudah menikah? Saya rasa, itu lebih tepat," saran Rayon pada bosnya itu. Karena dirinya ikutan bingung juga, seakan ia berada di posisi Ajudan Black.
"Baiklah, tapi siapa wanita itu? Apa karyawan wanita di sini ada yang sudah menikah?" cecar Black.
"Bukan pada karyawan sini, tapi dengan istri saya. Bagaimana?" tawar Rayon, mencoba memberi solusi, karena urusan wanita, biasanya yang tau juga ya, kaum sejenisnya.
" Hubungi dia sekarang juga. Aku akan mengganti pulsa mu!" titah Black tak sabaran.
Ray mengeluarkan ponselnya, dan segera menghubungi istrinya itu.
__ADS_1
"Loudspeaker!" perintah Black kemudian. Ketika sambungan teleponnya di angkat oleh yang bersangkutan.
"Ha–halo, sayang!" sapa Rayon kikuk. Pasalnya baru kali ini, ia berbicara dengan istrinya di hadapan orang lain, itupun kaki tangan sang bos besar itu sendiri.
"Ya, sayang. Kenapa kau gugup? Apa kau sakit?" tanya seorang wanita di seberang telepon.
"Tidak, aku akan baik-baik saja jika kamu bisa menjawab pertanyaan yang akan diajukan oleh Ajudan Black," katanya sambil sesekali melirik kearah Black.
Ketika tatapannya bertubrukan dengan tatapan tajam dari Black, pria itu seketika merasa tenggorokannya tercekat.
"Sebenarnya, aku ada bersama ajudan Black dan Blue."
"Hei! Apa kau telah melakukan kesalahan? Tolong jangan sampai kau di pecat, kau tau kan aku ini sedang hamil!" kecam perempuan di balik telepon itu.
"Tentu tidak sayang, jika kau bisa menjawab pertanyaanku, maka dengan begitu kamu sudah membantu masalah ajudan Black," jelas Rayon lembut pada sang istri.
Rayon pun kembali menegaskan bahwa istri ajudan Black mendadak bersikap aneh hingga mengusir suaminya tidur di sofa, lalu mengatakan kalau ia tidak mau melihat suaminya. Karena benci di dekatnya juga tidak suka bau suaminya.
"Apa kau bisa menjelaskan, apa yang sebenarnya terjadi?" Rayon mulai risau dan panik, karena ajudan Black terus memperhatikannya serta mendengar obrolan mereka dengan seksama.
"Kau ingat tidak, sebelum aku hamil. Aku juga membencimu, sampai aku harus menginap di rumah ibu selama satu bulan. Tapi kini, aku selalu ingin berada di dekatmu. Karena itu jangan pulang larut malam!" tutur istri Rayon dengan sebuah kecaman yang panjang kali lebar dan manis .
Tentu saja hal itu membuat kening Black berkerut dan kemudian menciptakan sebuah gerakan dari sudut bibirnya yang melengkung tajam.
"Baiklah, cintaku. Sepertinya kami sudah menemukan jawabannya. Sampai jumpa, istriku, dan tunggu aku pulang untuk mengusap perutmu!"
Rayon pun mengakhiri panggilannya sepihak, sebelum sang istri mengucapkan kata-kata mesra yang akan membuatnya malu.
"Tuan, bagaimana? Apakah anda puas dengan prakiraan dari istri saya?" tanya Rayon, penasaran.
"Aku sangat puas! Kau bisa kembali ke divisimu, dan selesaikan tugasmu. Jika ada masalah, yang memberatkan tugasmu hari ini. Sebut saja, kau sedang berurusan denganku. Maka, pengawas divisimu tidak akan berani macam-macam," jelas Black, sehingga wajah tegang karyawan di hadapannya ini sirna seketika.
"Baiklah, Tuan. Terimakasih!" ucapnya seraya berdiri dan menundukkan kepala tanda mohon undur diri.
"Catat Blue, jika saja perkiraan istrinya benar, maka seluruh biaya persalinan serta kebutuhan anak karyawan itu, akan ku tanggung sepenuhnya," janji Black.
Kata-kata sang karyawan barusan, sontak membuat Black sangat senang dan bersemangat.
Setidaknya Black mendapat solusi dari rasa pusing akhir-akhir ini selalu menemani harinya. Semenjak Red mencoba mengabaikan, membuat malam panjangnya hanya berteman dengan guling saja.
"Gue, doain. Semoga istri lu si Red benar-benar sedang hamil," kata Blue, sebelum pria itu keluar dari ruangan dengan senyum lebar menghiasi wajahnya.
_____
Black memutuskan menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat supaya lekas pulang dan memastikan sesuatu pada istrinya itu.
"Sayangku ...!!" panggil Black, ketika dirinya telah masuk kedalam kamar antara dirinya dan Red. Namun, suasana begitu sepi, membuatnya menyisir ruangan demi ruangan untuk mencari istrinya itu.
...Bersambung...
__ADS_1