Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )

Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )
Bab#57. Red & Black.


__ADS_3

Kendrick yang diturunkan di kawasan homo itu tak terima. Ia keluar diam-diam tanpa sepengetahuan orang lain. Ia berhasil lolos, tetapi ia langsung pergi ke arah perusahaan miliknya yang kini sudah menjadi milik Black. Ia datang ke perusahaan itu ketika malam hari. Entah apa yang akan dia lakukan, tetapi ia membawa beberapa tangki minyak.


"Habislah kau, Black! Perusahaan ini, jika tidak menjadi milikku, maka ia juga tak akan bisa menjadi milikmu!" ujar Kendrick. Ia lalu menyiramkan bensin ke sekeliling bangunan, sebelum akhirnya melemparkan sebuah korek api dan, BOOMM!!!


Api membakar seluruh bangunan perusahaan. Namun, tiba-tiba ia kebingungan, nampaknya ia melupakan sesuatu. Ia lalu masuk ke dalam perusahaan dengan menerobos api, entah apa yang akan ia lakukan, tapi ia menaiki anak tangga dan berlari menuju ruang penyimpanan keuangan. Ia membuka brankas yang kata kuncinya belum diganti, ia mengambil beberapa emas batangan dan segepok dolar. Namun, ketika ia hendak keluar, ternyata ruangan di depannya sudah dilalap api.


Kendrick mundur, kini ia terjebak. "Sial! Bagaimana caranya agar aku bisa keluar dari sini? Lagi pula, kenapa aku bodoh sekali? Harusnya aku mengambil uang ini dulu baru membakarnya!"


Kini ia dihadapkan dengan dua pilihan yang sulit juga rumit, di mana jika ia menerobos keluar maka api akan menyambarnya, jika ia tetap bertahan di sini, maka ia juga akan tewas terpanggang. Kendrick mulai memutar otak, ia tak mau mati secepat ini setelah ia puas melakukan balas dendamnya, tapi ini nyawanya bagai di ujung tanduk.


Kendrick berlari ke arah jendela, di luar sana api pun nampak berkobar merah. Sedangkan sebentar lagi ruangan tempatnya berada akan ikut terbakar juga. Mau tak mau akhirnya Kendrick menerobos api yang ada di depannya, tetapi sial baginya, beberapa kayu patah karena api, dan menimpa kepalanya. Ah, entahlah, nampaknya ia tewas terpanggang di sana.


Pagi-pagi sekali Black, Red, Leo, Blue dan beberapa orang datang ke perusahaan milik Black yang sudah menjadi abu tak tersisa. Black menundukkan kepalanya, merasa memang takdir tak memihak padanya untuk memiliki kembali perusahaan tersebut.


"Tak apa, Black, kau masih memiliki aset lainnya. Kau masih bisa bekerja di perusahaanku," ujar Leo menenangkan.


Sedangkan dari jauh tim pemadam kebakaran datang dengan tergesa. "Mohon maaf, Tuan, tetapi kami menemukan satu jasad yang terpanggang di dalam bangunan ini tepatnya di lantai dua. Kondisi jasadnya sangat mengenaskan, tetapi Tuan-tuan boleh melihatnya untuk memastikan jasad siapa ini," ucap petugas tersebut.


Black dan Leo mengernyitkan dahi. "Um, jasad? Maksud Anda ada orang yang tewas dalam kejadian ini?" tanya Black.


"Ya, benar, Tuan."


"Ayo, kita lihat saja," ajak Leo.


"Red kau tetaplah di sini, karena wanita hamil tidak baik melihat yang buruk-buruk seperti itu. Jadi, sebaiknya kau menunggu saja di sini!" ujar Black, yang langsung di bantah oleh Red.


"Aku berani melihatnya. Jadi, biarkan aku ikut!" pinta Red tegas.

__ADS_1


Black yang hafal sifat istrinya mau tak mau mengiyakan. Percuma menolak Red yang bersikeras dengan keinginannya.


Black, Red, Leo, serta Blue mengikuti petugas damkar untuk melihat sosok jasad yang dimaksud. Di dalam sebuah kantong jenazah berwarna oranye salah satu petugas membukakan resleting kantong tersebut. Black, Leo, dan Blue seketika itu juga langsung membulatkan kedua manik mata mereka, karena sama sekali tidak mengenali jasad yang hangus karena luka bakar tersebut.


"Ya Tuhan, siapa dia? Kenapa bisa sampai seperti ini?" tanya Black. Ia lalu memanggil satpam yang berjaga untuk menanyakan apakah ada seorang karyawan yang lembur malam itu. Namun, jawaban sang satpam tidak tahu.


"Jika bukan karyawan, lalu siapa?" tanya Leo.


"Hem, apa mungkin itu Kendrick?" Blue angkat bicara, hanya menduga-duga sebenarnya, tetapi langsung mendapat reaksi terkejut dari kedua tuannya.


"Apa kau bilang?" ucap Leo.


"Ya, bisa jadi," tambah Black.


"Itu tak menutup kemungkinan," lanjutnya.


"Saya bawa dia sesuai apa yang Tuan perintahkan, tetapi saya tak tahu jika sampai begini, saya juga hanya menduga-duga," jawab Blue sembari menunduk.


Leo lalu mengambil gawainya dan menelpon salah seorang yang ada di kawasan homo, rahangnya tiba-tiba berubah mengeras, ternyata apa yang Blue kira benar terjadi.


"Ya, Kendrick melarikan diri dari kawasan itu malam tadi dan ia pasti langsung kemari dan membakar perusahaan," ujar Leo.


"Astaga, dasar pria tua gila!" desis Black.


Akhirnya, mereka pun memakamkan Kendrick di pemakaman keluarga. Black yang meminta akan hal itu. Namun, ia juga masih terpukul, karena perusahaan satu-satunya milik kedua orang tuanya tak ada lagi untuknya.


"Sayang, kau tak perlu cemas, kita masih memiliki aset lainnya seperti rumah, mobil, dan lainnya, itu semua sudah menjadi hak milikmu," ujar Red ketika mereka sampai di rumah usai pemakaman.

__ADS_1


"Ya, sayang, aku hanya sedih saja." Mendengar itu, Red pun memeluk suaminya, memberikan kecupan hangat di bibir Black. Dari kecupan itu membuat Black semakin memeluk tubuh Red erat.


"Aku merindukanmu," ujarnya disambut anggukan pelan dari Red.


"Ya sayangku, aku juga sangat merindukanmu. Dan bayimu ini juga rindu dengan daddy nya." Red semakin bertingkah manja di depan Black.


Ia mengalungkan lengannya di leher Black, sedangkan tangan Black memegang erat pinggang Red. Dan aksi itu pun terjadi, Black membawa Red ke kamar, menghabiskan waktu sorenya bersama Red.


***


Di dalam kamar keduanya melepas rindu berat.


Red nampak menjulurkan kedua tangan yang sejak tadi menempel di dada suaminya, lalu mengalungkannya dileher kekar Black.


Kedua matanya terpejam, ketika bibir hangat Black menyentuh bibirnya. Kemudian pria yang berstatus menjadi suaminya itu, menyesapnya lembut.


Seketika, sebuah sengatan mengalir di sekujur tubuhnya. Apalagi, ketika ciuman itu semakin dalam. Karena Black asik mengeksplor semua yang ada dengan belitan lidahnya.


Mereka berdua menyatukan kening, dengan napas keduanya yang masih terdengar memburu. Lalu sama-sama mengambil napas yang sepersekian detik tadi serasa habis.


Black, kembali mengecup Red sekilas, lalu mengusap bibir yang basah karena ulahnya itu dengan ibu jarinya. Setelah kembali mampu mengembalikan udara ke dalam paru-parunya. Black menangkup kedua pipi Red dan menatap manik mata wanita di hadapannya dengan dalam.


"Aku, sangat merindukanmu. Kejadian beberapa hari ini begitu menekan perasaanku. Aku ingin melepaskannya. Aku tidak sanggup lagi," bisik Black parau.


Red hanya bisa mengangguk pelan, ia telah terbius oleh tatapan dalam pria yang tengah mengungkung tubuhnya ini. Pandangan penuh cinta yang lama kelamaan semakin berkabut karena telah terhipnotis gelora.


Red tau Black mengalami hal yang cukup mengguncang jiwanya. Siapa yang bisa terima jika memiliki saudara yang begitu jahat. Padahal selama ini Black sudah mengalah dengan memilih pergi.

__ADS_1


...Bersambung. ...


__ADS_2