
Leo yang mendengar jeritan sang istri dari arah balkon, langsung berlari cepat ke arah asal suara.
"Sayang apa yang terjadi padamu?" tanya Leo panik setelah ia masuk ke dalam kamar mandi. Kaget sekali, karena Nadia tengah terduduk di depan kloset.
"Perutku sangat sakit, aku bahkan ... kesulitan untuk ... bernapas," jawab Nadia terbata, karena wanita ini harus mengatur napasnya yang terlihat sesak.
"Oh God!" Kedua mata Leo semakin terbelalak ketika ia melihat cairan merah yang merembes dari kedua paha istrinya itu.
"K–kau berdarah!" pekik Leo lagi semakin panik. Sehingga Leo langsung menggendong Nadia dan membawanya ke atas kasur. Tak perduli bagian bawah tubuh Nadia yang basah dan penuh darah.
Bahkan cairan merah itu telah merubah warna seprai mereka yang putih bersih.
"Kita harus kerumah sakit sayang. Kau bertahan ya. Aku akan menghubungi Black lebih dulu," kata Leo. Sekilas mengecup kening Nadia yang berkeringat.
Pria berahang tegas ini mengeluarkan ponsel dari balik saku celana pendeknya.
Sementara itu, di kamar yang lain nampak pasangan pengantin baru yang belum lama habis belah nangka.
"Aku mau bersihkan tubuh dulu ya. Kamu istirahatlah, karena aku tidak akan mengulanginya malam ini," kata Black dan pria itu langsung menuju kamar mandi.
Tak lama terdengar suara dering nyaring dari ponsel yang berada di atas nakas.
"Apakah yang menelepon tuan Leo? Tengah malam begini, pasti ada yang urgent," gumam Red, yang susah payah berusaha beringsut turun dari pembaringan.
"Benar, ini tuan Leo. Halo, Tuan!" sahut Red, sambil meringis kecil merasakan nyeri di area pribadinya.
"Mana Black!" seru sang tuan di seberang sana.
"Black sedang di kamar mandi tuan. Ada apa, biar nanti saya sampaikan," kata Red yang dapat menyadari bahwa ada sesuatu yang terjadi.
"Nyonya kalian terjatuh di kamar mandi. Cepat siapkan mobil kita kerumah sakit sekarang. Dan jangan lupa untuk menghubungi dokter kandungan!" titah Leo dan tak lama panggilan pun terputus sepihak.
__ADS_1
"Astaga nyonya," ringis Red, seraya menatap nanar layar ponsel yang sudah kembali gelap.
Kemudian Red kembali menyeret langkahnya ke depan kamar mandi. Ia mengetuk pintu sambil berteriak memanggil suaminya. "Black cepat keluar!" teriaknya kenceng campur panik.
Black langsung keluar dengan badan yang masih basah. "Ada apa sayang? Apa ada sesuatu yang terjadi padamu?" cecar Black panik yang mana langsung memindai Red dari atas hingga bawah.
"Nyonya Nadia jatuh dikamar mandi dan barusan tuan Leo mengabari. Cepat siapkan mobil," jelas Red cepat dan kini gantian dia yang masuk kedalam kamar mandi.
"Apa! Nyonya jatuh, tapi kan sedang hamil besar, apakah--" Black sesaat termangu sebentar, dan ia pun terlonjak kaget setelah menyadari apa yang terjadi.
"Aku keluar duluan sayang!" teriak Black sebelum ia keluar dari kamarnya.
Tak lama Red pun keluar dan bersiap. Ia sebagai pengawal pribadi Nadia berkewajiban untuk ikut ke rumah sakit. Meskipun ini adalah hari libur mereka.
Leo membalut raga Nadia dengan selimut lalu menggendongnya keluar kamar setelah Black mendatanginya.
Seluruh pelayan di dalam mansion terlihat panik dan juga sibuk menyiapkan beberapa barang keperluan Nadia yang kemungkinan besar akan melahirkan.
Black mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang, Tak lama kemudian Leo meneriakinya agar lebih cepat lagi membawa kendaraan itu melaju ke rumah sakit.
Nadia menggeleng pelan seraya memaksakan senyumnya, menyembunyikan sakit yang seakan meremas perutnya itu kuat. Nadia hanya terlihat sesekali menarik dan membuang napas saja.
"Sudah lebih baik, karena kau ada di sampingku Leo," jawab Nadia. Agar sang suami berkurang kekhawatirannya. Lagipula, ia masih bisa menahan rasa nyeri yang masih datang dan pergi itu.
"Tapi kau terus mengeluarkan darah sayang. Naiklah ke sini dan luruskan kakimu." Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Leo menarik tubuh itu ke atas pangkuannya, menyandarkan kepala Nadia di bahu lalu, ia mengusap perut besar istrinya dengan lembut. Leo bahkan tak peduli celana dan jok mobilnya penuh darah.
Leo terlihat berkali-kali melabuhkan kecupannya di kening Nadia.
"Pasti masih sakit, lihatlah perutmu kencang begini." Leo meringis membayangkan bagaimana rasanya ketika otot perut kita ketarik.
"Biasanya, kalau sudah ku usap, dia akan melenturkan. Kenapa sekarang tidak, sayang? apa ada masalah dengannya di dalam?" tanya Leo, bingung. Baru begini saja dirinya sudah sangat panik, entah apa yang akan terjadi pada saat Nadia melahirkan nanti.
__ADS_1
"Mungkin, karena pengaruh jatuh tadi sehingga baby twins kaget sayang." Nadia menjawab sambil sesekali meringis kecil.
"Kenapa? Apanya yang sakit?" Leo kembali keget dan panik. Sepertinya, istri bukan hanya merasakan keram perut, tapi ini seperti tanda-tanda yang di katakan oleh dokter kandungan itu.
"Ini, bawah perutku. Rasanya seperti kencang sekali," jawab Nadia, sambil menarik napasnya kemudian membuangnya. Semua ia lakukan demi mengurai rasa nyeri yang durasi datangnya lebih sering dari tadi.
"Sayang, ini pasti tanda-tanda kau akan melahirkan! Ah, iya. Ini seperti apa yang ku lihat di Vidio itu. Bahkan, wajahmu sudah pucat dan kau juga berkeringat." Leo dengan telaten, menyeka keringat di dahi istrinya. Tapi, dirinya abai dengan keringat yang membanjiri pelipisnya sendiri.
"Black cepatlah!" titah Leo pada sang ajudan yang mengemudikan mobilnya ini.
Red yang berada di sebelah Black menyentuh bahu pria itu agar segera menuruti apa perintah tuannya ini. Kasian juga Nyonya Nadia pasti sangat kesakitan.
"Baik, Tuan, sekitar dua puluh menit lagi kita tiba di tempat tujuan," jawab Black yang juga ikut panik dan khawatir tentu saja. Sekelebat pikirannya langsung berkelana dan membayangkan jika dirinya yang kini berada di posisi Leo.
Black pun seketika bergidik, dadanya pun ikutan sesak, bahkan perutnya juga mulas.
"Sabar ya, sayang, sebentar lagi kita sampai rumah sakit." Leo tak henti-hentinya mengusap dan mengelus perut, serta kening istrinya itu.
Sementara, Nadia yang berada di atas pangkuannya itu sesekali tersenyum. Tangannya terus menggenggam jemari Leo yang berada di atas perutnya.
"Aku sangat bersyukur atas kehadiran dirimu di dalam hidupku Leo. Kau adalah satu-satunya pria yang menerimaku apa adanya dan juga memberikan cinta serta perhatian sebesar ini. Aku merasa sebagai wanita yang paling beruntung di dunia. Baby twins juga pasti merasakan hal yang sama denganku. Mereka berdua pasti bahagia memiliki seorang Daddy sepertimu," batin Nadia penuh syukur. Ia pun memilih untuk menyandarkan kepala di ceruk leher suaminya itu.
Nadia sangat menyukai aroma tubuh Leo di sepanjang kehamilannya ini.
Nadia terlihat terus tersenyum di sela rasa sakitnya. Matanya tak lepas memandang pemilik rahang tegas itu lekat, yang mana saat ini ia terlihat begitu gusar.
"Black cepatlah!" teriaknya lagi pada ajudan yang mengendarai mobil sportnya ini. Padahal sudah kencang. Black juga khawatir dengan keadaan Nadia jika terlalu ngebut.
"Leo, sabarlah. Aku pasti akan baik-baik saja," ucap Nadia berusaha menenangkan hati suaminya.
" Wajahmu saja semakin pucat. Bagaimana aku bisa tenang," Leo pun memandang lekat wajah lemas istrinya itu.
__ADS_1
Red berpegangan kencang karena suaminya benar-benar ngebut saat ini. Untung saja keadaan jalan raya agak lengang karena tengah malam.
...Bersambung...