Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )

Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )
Bab#42. Red & Black.


__ADS_3

Pasangan yang tengah berbahagia itu pun melenggang dengan santai di area pasar malam tersebut tak peduli jam berapa saat ini. Mereka berdua berjalan beriringan sembari menautkan jemari satu sama lain.


Melihat senyum yang terus tercetak di wajah cantik yang sangat dirindukannya ini, Black menarik bahu itu untuk merangkul tubuh wangi yang didambakan dengan sangat olehnya.


Setelah menemukan kursi, Black mengajak Red untuk duduk. Ia pergi sebentar untuk membeli dua gelas es poci, dan segera kembali menghampiri istrinya lagi.


"Wah, makanannya banyak juga ya!" seru Red, seraya menunjuk pada kresek yang di letakkan di hadapannya.


Spontan, Red memajukan tubuhnya. Kemudian, ia mendekatkan wajahnya secara cepat ke arah Black.


Cup!


Black yang terkaget seketika segera menoleh, ketika merasakan ada sesuatu yang dingin dan basah menyentuh pipinya.


Mata keduanya pun saling menatap penuh arti.


" Hei, sayang. Ingatlah untuk berkedip," kata pria yang rambutnya agak berantakan ini. Seraya mengulurkan jarinya untuk mencolek dagu Red.


" Ah, ya! Aku selalu lupa untuk berkedip jika sudah memandangmu," godanya pada pria tampan di hadapannya.


"Wah, langka ini!" seru Black dengan senyum lebar sekali. Membuat Red menyesal karena telah mencoba memuji


"Terima kasih," ucap Red, dengan menampilkan senyumnya yang manis. Sangat manis, hingga pria di hadapannya melelehkan kristal bening dari ujung matanya.


"Kau tidak membenciku lagi?"


"Yeaayy ...!" Black pun mendekap raga ramping istrinya itu, lalu tertawa dengan keras.


"Black, kau ini kenapa!"


Mendengar keterkejutan istrinya, Black spontan menghentikan tawanya. Lalu, ia segera mengajak Red pergi dari area itu.


Menghindari gegap gempita dari tawa pada pedagang cemilan.


"Ck, Untung gak kenal!" gerutu Black.


"Hei, kenapa jalannya cepat sekali!" protes Red, karena Black terus menarik tangannya.


"Oh! Sayang, maaf. Aku lupa!" sesalnya, seketika langsung menghentikan langkahnya. Kemudian berkali-kali mengusap lembut perut rata istrinya itu.


"Apa kau lelah?" tanya Black dengan semburat khawatir di wajahnya.


"Tidak, aku baik-baik saja," jawab Red.

__ADS_1


"Baiklah, kita pulang saja." Black pun kembali menuntun Red dan mereka berjalan santai.


"Sayang, apa benar kau ingin pulang?" tanya Black, yang menangkap gelagat terpaksa dari Red.


" Iya, kau sudah tidak nyaman berada di tempat ini. Aku tidak ingin memaksamu," ucapnya seraya merunduk. Entah kenapa dia enggan beranjak dari tempat ini.


Red, seperti kembali dalam ruang waktu di mana masa kecilnya begitu ceria.


" Ah, tidak begitu sayang. Mari, teruskan bermain sampai kau puas." Black menggenggam tangan Red lembut kemudian membawa istrinya itu ke tempat permainan.


Seketika wajah istrinya itu pun kembali ceria.


"Main yang itu ya, 𝘧𝘳𝘦𝘦 𝘧π˜ͺ𝘳𝘦!" tunjuk Red, pada stand permainan menembak dengan senjata tempur.


"Biar aku yang mainkan, ini bagian laki-laki perkasa," ucap Black seraya membusungkan dadanya.


"Ck! Aku juga mau bermain!" ketus Red, lantas ia berjalan melewati suaminya. Merangsek ke depan, lalu membeli tiket.


" Sayang, meskipun ini bohongan tapi 'kan berat juga," larang Black, mencoba mengambil alih senjata itu dari Red.


"Apanya berat? Tidak sama sekali!" tanpa menggubris larangan suaminya, Red ternyata dapat memainkan game itu dengan apik. Sampai sang pemilik stand dan pengunjung lainnya di buat melongo oleh kepiawaiannya menembak sasaran.


"Hedehh, mantan anak buah mafia," gerutu Black.


Red pun tersenyum dengan gembira, hadiah yang sejak kecil selalu diimpikannya kini bisa di dapatkannya dengan mudah.


Segera, Black mengambil alih hadiah yang besarnya melebihi tubuh istrinya itu. Bahkan Red agak kesulitan pada saat berjalan. Perlakuan manisnya itu membuat Red kembali tersenyum lebar, pada saat melihat sang suami yang kerepotan.


"Apa kita langsung pulang, atau--" tanya nya pada Red yang tak dapat diteruskan. Karena langkah wanita yang berjalan di hadapannya ini, tiba-tiba berhenti. Red tiba-tiba bersorak kegirangan, seakan tengah menatap sesuatu yang menakjubkan.


"Apa!" kaget Black.


"Red seketika melirik sambil menunjuk dengan ekor matanya.


"Sayang, yang benar saja?" ucap Black pelan, membayangkan tangan kecil istrinya harus beradu kuat dengan pria berbadan besar di sana.


"Aku ingin melakukannya. Keinginan ini begitu kuat, sama, dengan keinginanku ketika hendak menghajar para begal itu. Ayolah Black, kumohon ...," pinta Red dengan wajah memelas, juga tangannya terus menarik lengan baju suaminya itu.


"Maafkan, aku, Red. Tidak lagi, untuk kali ini."


"Kau ini--" Ucapan Red terpotong karena terlihat repot membekap hidungnya. Entah kenapa, tiba- tiba ia mual lagi.


"Kau kenapa?" heran Black. Melihat wajah

__ADS_1


Red seperti sedang menahan sesuatu.


"Aku, mu–mual." Red pun membekap hidung serta mulutnya. Perutnya seakan diaduk-aduk. Sepertinya cilok yang baru saja di makannya hendak meledak keluar.


"Jauhkan dirimu dariku." Red meronta, memaksa agar Black yang tadi mencekal lengannya. Setelah di lepaskan, Red pun segera menjauh dari suaminya itu.


Bahkan, ia menggendong boneka panda raksasanya kedepannya, agar tak melihat wajah Black.


" Kenapa dia kembali lagi seperti semula," lirih Black sedih. Kemudian Red terlihat menghampiri perkumpulan pria berbadan kekar yang tengah melakukan aksi tinju.


" Sayang!" Black memanggil seraya berlari mengejar.


"Cukup! Hentikan kataku! Jangan seperti ini." Black tau-tau sudah mencekal lagi tangan Red dengan kuat.


"Izinkan aku, Black. Kita pasti akan baik-baik saja. Keinginan ini begitu kuat, ku harap kau mengerti." Red berucap sembari menutupi hidungnya dengan telapak tangannya.


"Tidak! Aku tidak akan membiarkan kalian terancam bahaya di hadapanku sendiri!" Black benar-benar menolak keinginan tak masuk akal istrinya itu.


"Izinkan aku, atau kita pisah kamar sampai bayi ini lahir! Apa itu maumu!" pekik Red, dengan mata menatap tajam ke arah Black.


"Kau, kau, memakiku?" Black tak habis pikir, bahwa Red berani membentaknya demi kick boxing.


"Sayang, aku hanya khawatir dengan keadaanmu dan juga calon anak kita. Aku tidak akan sanggup berpisah lebih lama lagi denganmu, tidak akan. Aku ingin menyapa anak kita, sayang." Black memohon pada Red tanpa memikirkan tatapan orang-orang di sana.


"Percayalah padaku, bahwa aku bisa mengalahkan pria bertubuh besar itu!" tunjuk Red, pada pria yang hanya mengenakan singlet berwarna biru tua. Dimana, hal itu memperlihatkan otot-otot tangannya yang besar.


" Oh tidak, sayang ... Meraka bukan tandinganmu!" tolak Black.


Akan tetapi Red tidak menggubris larangan dari suaminya itu, ia tetap maju mendekati arena tinju atau sebuah kotak yang di sebut ring.


"Ayo! Siapa lagi yang akan melawan Hercules!" teriak sang moderator.


Sementara pria yang di sebutkan namanya, sontak berdiri, lalu menunjukkan otot-otot di sepanjang lengan dan bahunya.


"Aku!" Red mengangkat tangannya, membuat Black ingin pingsan saja rasanya. Pria Itu pun tak ayal meluruhkan tubuhnya seketika. Hingga kedua lututnya mencium tanah.


"Oh, Red ...!" panggilnya dengan lirih.


"Maaf, Mbak cantik nan manis. Apa anda tidak salah?" tanya sang moderator heran. Lalu ia tersenyum, karena mengira jika Red hanya meledek saja.


"Sepertinya tidak. Karena aku ingin melawan pria itu!" tunjuk Red pada sosok pria berbadan kekar di atas ring .


"Gue gak mao ya ngelawan tuh cewek!" protes pria bertubuh kekar tersebut.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2