
Kejadian dari kehadiran Paulina nyatanya berimbas pada awal rumah tangga Black dan juga Red.
Malam pertama yang seharusnya indah Kini menjadi suram. Karena Red bahkan meminta Black untuk tidak masuk kedalam kamar mereka.
Wanita itu hanya butuhkan waktu untuk menelaah kejadian ini. "Ku harap kau mengerti, aku hanya butuh waktu untuk menenangkan hatiku yang bergejolak. Karena aku tidak bisa menghajar siapapun saat ini," kata Red tanpa menatap ke arah lawan bicaranya yaitu, Black.
Ia pun menutup pintu kamar dan membiarkan Black mematung kaku di depan kamarnya. Leo telah menetapkan kamar mereka di dalam bagian mansion, bukan paviliun pekerja lagi.
Black tertawa sumbang. Menertawakan nasibnya yang begitu miris.
Ia pun berlalu dengan kedua tangannya yang terkepal hingga buku-buku jemarinya memutih. Rahangnya mengerat keras hingga terdengar suara gerahamnya itu saling beradu.
Black menemui Blue dan meminta bantuan dari kawannya itu.
"Apa kau ingin meminta bantuan tuan untuk masalah ini?" tanya Blue.
"Tidak. Biar aku yang menyelesaikan masalah ini. Tuan tak perlu tau dah ikut campur. Gue rasa Paulina cuma serangga kecil. Cuma aja, sekarang Red ngambek dan ah ...!" Black tak tau lagi harus berkata apa ia pun kembali menenggak minumannya.
Bukan alkohol maupun miras tetapi, kopi hitam yang di racik khusus. Karena pada mansion ini terdapat mini bar yang biasa ia gunakan bersama Blue. Sementara sang empunya sendiri jarang menggunakannya. Kecuali jika menyambut tamu.
Mau sampai berapa gelas lagi kau menelan minuman kafein itu?" tanya Blue yang rasanya sudah lelah untuk meracik kopi esspreso.
"Aku tidak ingin tidur malam ini, Blao," jawab Black sekenanya.
Plak!
"Sekali lagi manggil gitu, gue tinggal!" protes Blue sambil memberi pukulan telak pada kepala Black. Akan tetapi, kawannya itu hanya tertawa getir.
"Miris sekali hidup kau, Men!" ledek Blue.
Jika Black perempuan mungkin dia sudah menangis saat ini. Karena Blue tau bagaimana kehidupan Black sebelumnya. Kawannya itu telah menceritakan semua sebelumnya.
Bahkan selama ini, Black hanya sekedar genit pada perempuan tapi tidak sampai meniduri mereka. Karena Black memang tak mau sembarangan membuang benihnya itu.
Apalagi, semenjak pria ini menyukai Red. Maka Black dengan gigih berusaha menahan diri sambil mencoba mencuri hati wanita dingin itu.
"Semangat, Men. Jangan kecil hati, karena kan sekarang Red udah jadi milik Lo selamanya. Wanita itu cuma butuh waktu sebentar. Dan gue yakin besok dia pasti bakalan baik-baik aja. Gue tinggal ya. Sorry gak bisa nemenin Lo begadang sampe pagi karena gue harus nyiapin meeting buat besok," tutur Blue, sambil menepuk pelan bahu kawannya itu.
Black pun mengangguk pasrah. Jika dirinya harus sendirian tanpa teman bicara hingga pagi nanti. Karena memang pria ini telah memutuskan untuk tidak tidur malam ini.
Black seakan tengah menghukum dirinya sendiri.
Pria itu benar-benar tidak tidur sampai pagi. Bahkan setelahnya ia harus bersikap biasa dan tetap menjalankan tugasnya.
__ADS_1
Akan tetapi, Leo yang menyadari ada yang tak beres dari ajudannya ini memutuskan untuk bertanya. "Apa kau begadang bersama istrimu atau kopi?" tanya Leo yang mana hal itu membuat kedua mata Black memanas.
Dadanya naik turun menahan sesak. Ah, di tanya begini malah ingin menangis.
"Tuan, bolehlah saya menangis. Rasanya sesak dan sakit sekali?" tanya Black dari depan kemudi.
"Hentikan dulu kendaraannya!" titah Leo.
Black pun menepikan kendaraannya dan langsung meletakkan kepala di atas stir kemudi.
"Keluarkan saja emosimu, karena kita tidak bisa menahannya. Hal yang manusiawi bagi manusia untuk menangis melepas sakit dan kecewa yang mendera batinnya. Akan tetapi setelah ini kau harus merancang rencana untuk membalas pada mereka yang telah mengganggu hidupmu yang seharusnya tenang," tutur Leo memberi wejangan.
Sementara, ia membiarkan Black menumpahkan semua yang tengah pria ini rasakan.
"Saya sudah menjauh dari mereka dan melupakan apa yang seharusnya menjadi hak milik. Sekalipun, saya sudah menjadi orang yang memiliki kemampuan untuk mengambil semua itu kembali tetapi tidak akan saya lakukan. Karena, saya telah memutuskan pergi selamanya dari keluarga dan tidak akan meminta sepeserpun harta meksipun itu semua hak. Tetapi, kenapa mereka masih saja ingin menghancurkan saya!" teriak Black penuh emosi.
"Jika memang mereka menginginkan perang, sebaiknya kabulkan keinginan mereka," kata Leo penuh makna tersirat.
Black yang sadar langsung mengangkat kepala dan mengusap kasar air matanya.
"Maksud tuan?" tanyanya menelisik maksud tuannya ini.
"Meskipun kita mantan mafia bukan berarti kita tak memiliki armada perang bukan?" kata Leo lagi.
Seringai Black pun kembali. Mata merahnya berkilat penuh dendam. Kali ini ia tidak akan diam saja, apalagi sang tuan berada di belakangnya untuk memberi dukungan.
"Terimakasih Tuan. Anda memang yang terbaik!" puji Black dengan senyum penuh semangat dendam membara.
"Kalian adalah keluargaku. Lain kali jangan pendam masalahmu sendiri!" ujar Leo sambil menepuk bahu Black.
Pria di depan kemudi itu pun mengangguk seraya tersenyum penuh arti.
"Soal Red, biar istriku yang bicara padanya."
Sontak perkataan Leo barusan membuat Black menoleh ke belakang kursi penumpang lalu tertawa girang.
"Ah Tuan, terima kasih!" seru Black dengan wajah semringah.
Leo langsung memerintahkan Black agar kembali menjalankan kendaraan beroda empat itu. Setelahnya mereka berdua benar-benar sibuk di kantor. Karena hari ini agendanya sangat padat.
Sementara di mansion.
Nadia terlihat baru saja keluar dari kamar ajudan Red. Setelah Leo meneleponnya tadi, Nadia langsung bergerak sekalipun wanita ini agak mulai kesusahan pada saat membawa perutnya yang besar.
__ADS_1
Seorang pelayan terus ada di sisinya, selama Red cuti menikah.
"Apakah aku sudah keterlaluan padanya?" batin Red.
Saat ini, ia berharap Black ada di hadapannya. Benar kata Nyonya Nadia bahwa tak ada seorang pun yang berhak menghakimi orang lain akan kesalahan dan dosanya di masa lalu. Justru hal yang terpenting adalah bagaimana kelakuannya pada saat ini.
Malam hari Black baru sampai rumah, begitu juga dengan Leo.
Red yang sudah menunggunya meminta Black untuk masuk kamar mereka.
"Terimakasih sayang," kata Red yang langsung masuk kamar mandi dan memutuskan untuk mandi air hangat.
Mendadak Black merasakan tubuhnya menggigil setelah ia mandi. Sementara, di kamar tak ada sosok istrinya itu, namun Red telah menyiapkan pakaiannya.
Red ternyata ada di bawah untuk mengambil makanan bagi suaminya itu.
Sesampainya di dalam kamar, Red mendapati suaminya sedang menutupi tubuh dengan selimut tebal.
"Kau ini kenapa? Aku bawakan makanan untukmu dan juga teh hangat," kata Red ambil menyentuh tangan Black dan betapa kagetnya dia ketika merasakan suhu tubuh pria itu tinggi.
Red menarik punggung tangannya dari kening Black. Kemudian ia beranjak untuk mengambil tempat obat. Red mengarahkan termometer digital ke depan dahi suaminya.
"Black, suhu tubuhmu sangat tinggi. Pantas saja kau tidur jam segini." Bahkan Black terlihat gemetar.
"Black, apa yang kau rasakan?" tanya Red lembut.
"Di–dingin," lirihnya pelan. Lalu ia berkata lagi tanpa sedikit pun membuka matanya.
"Apa? Kau mengatakan apa Black?" tanya Red karena ia tak jelas menangkap suara pria itu.
"Dingin ... peluk," ucap Black agak jelas meski terdengar lemah. Mendengar permintaan dari suaminya seperti itu, Red pun memutuskan untuk membuka piyama tidurnya.
Red juga segera membuka kaos yang dikenakan oleh Black kemudian.
"Kenapa tubuhmu tiba-tiba menjadi demam seperti ini?" gumamnya seraya melakukan pelekatan skin to skin terhadap Black.
Karena ini adalah salah satu cara yang manjur untuk menurunkan suhu tubuh yang tinggi. Yaitu dengan cara menempelkan kulit? antara satu sama lain.
Red mengesampingkan rasa malu atau risih karena ia tak tega melihat keadaan pria yang ternyata telah mencuri hatinya ini kesakitan. Karena itu tempo hari dirinya tak mampu menolak permintaan Black dimana pria itu meminta agar ia telanjang untuk membantunya pelepasan.
Lagipula Red takkan sudi jika Black melepaskannya dengan wanita bayaran. Dia cukup lega, Black menahannya dan justru lari menghubunginya.
...Bersambung...
__ADS_1