Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )

Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )
Bab#59. Red & Black.


__ADS_3

Sore ini Blue menemui Arnett di apartemennya. Mereka memutuskan untuk menjalin hubungan lebih dekat. Karena niat baik Blue maka Arnett memutuskan untuk menerima pria itu. Mereka menjalani hubungan yang sehat tanpa sentuhan fisik.


"Pikachu, malam ini kita di minta datang ke rumah tuan Leo," kata Blue pada Arnett yang kini berada di dapur. Wanita itu tengah menyiapkan makan malam untuk mereka berdua nanti.


"Wah, asik dong! Aku bisa gendong baby A!" pekik Arnett nyaring karena kegirangan. Padahal dirinya tengah menumis saat ini.


"Seneng banget ya sama bayi?" tanya Blue, gemas, seraya mengelus kepala belakang wanita yang lama kelamaan mencipta rasa sayang si hatinya. Dirinya yang sudah berpakaian rapi tak segan masuk dapur untuk menemani wanita itu memasak.


"He'em, sejak dulu aku memang paling seneng sama anak kecil terutama bayi. Kau tau kenapa? Karena mereka itu lucu dan ketika kita memandang wajah polosnya itu bisa bikin hati tuh kayak adem gitu," tutur Arnett jujur dengan ekspresif.


Blue memandangi wajah polos itu tanpa kedip, bibirnya terus menyunggingkan senyum menanggapi betapa antusiasnya Arnett.


"Mau, punya yang kayak baby A gak?" tanya Blue berkelakar. Seraya memegangi rambut Arnett yang terurai. Sepertinya dokter mungilnya itu ribet sendiri.


Perlakuan Blue itu membuatnya menoleh sebentar lalu tersenyum.


"Mau banget dong. Tapi aku harus nikah dulu sama laki-laki." Arnett menyahuti Blue sembari menuang masakannya ke dalam piring.


"Kalau begitu, kita harus segera menikah," bisik Blue yang agak menunduk untuk mencapai telinga Arnett.


"Apaan sih," respon Arnett menepis wajah Blue agar menjauh seraya bergidik geli. Lalu ia pun terkesiap ketika Blue mendaratkan ciuman dikeningnya.


"Aku serius. Menikahlah denganku!" tegas Blue dengan nada bicara seperti di depan komandan.


Arnett semakin terkejut dengan membulatkan kedua matanya.


"Ini cara kamu melamar perempuan? Di dapur dengan suara yang datar dan ekspresi seperti itu?" sindir Arnett dengan kedua alis terangkat.

__ADS_1


Setelah Blue mendadak bingung.


Apakah yang ia katakan dan lakukan barusan itu salah? Lalu bagian mananya?


Bukankah ia hanya mengutarakan maksud serta keinginannya?


Arnett langsung berjalan melewati Blue yang masih mematung kaku.


"Dasar laki-laki gak peka. Seharusnya kau buat rencana yang spesial. Sewa restoran lalu beli buket bunga mawar yang di tengahnya ada cincin berlian. Sepertinya kau perlu nonton drama Korea dulu sana!" seloroh Arnett sambil menahan tawanya.


"Hah! Apa iya?" gumam Blue pelan.


"Ya sudah ayo!" Blue tiba-tiba menarik tangan Arnett agar mereka keluar dari dapur.


"Hei kau mau mengajakku ke mana itu kompor belum dimatikan!"


Tanpa riasan, tanpa pakaian yang sesuai. Blue benar-benar membawa Arnett ke sebuah cafe yang bertemakan romantis.


"Kau itu cantik mau pakai baju apapun juga. Gak mandi juga beautiful. Dah ayok masuk!" paksa Blue setengah menyeret Arnett.


Sungguh jauh dari romantis apalagi manis.


Blue mendudukkan Arnett di salah satu kursi lalu ia berlalu cepat menuju belakang.


Membisikkan permintaannya kepada dua orang pelayan. Lalu kemudian menyerahkan kartu emas dan sejumlah uang cash.


"Dia ngapain sih?" batin Arnett.

__ADS_1


Selang tiga puluh menit kemudian datanglah sebuah piala es krim lalu satu buket bunga mawar merah yang di bawakan oleh pelayan cafe tersebut.


"I–ini apa, Blue??" kaget Arnett. Walaupun dia tau bahwa ini semua sesuai permintaannya secara tak langsung yang nyatanya di kabulkan oleh Blue.


"Ini kan tata cara melamar gadis kata kamu. Ada bunga, cincin dan kafe romantis. Aku kasih bonus deh es krim kesukaan kamu," jelas Blue dengan senyum tanda kemenangan.


Apalagi, saat melihat wajah melongo dari Arnett.


"Kapan kamu ... beli cincinnya?" bingung Arnett tentu saja.


"Semua itu mudah saja. Tak usah kau pikirkan, tinggal jawab saja, mau gak?" tanya Blue sendiri mendesak.


"Ma–mau apa?" tanya Arnett balik berlagak pilon.


"Cepat terima atau aku kasih ke mbak pelayan aja cincinnya," ancam Blue gemas.


"Eh, iya, iya deh aku terima," jawab Arnett seraya tertawa renyah.


"Ada ya orang lamaran begini."


"Mereka berdua doang kayaknya." Kedua pelayan saling berbisik.


Blue pun tersenyum lebar.


Jadi juga nikah.


Setelah makan, mereka kembali ke apartemen hanya untuk mandi dan berganti pakaian.

__ADS_1


Lalu langsung berangkat lagi menuju mansion Leo.


...Bersambung....


__ADS_2