
Hari berganti malam, tetapi belum ada perubahan dari Black, Red semakin cemas, pikiran negatif pun muncul. Ia terlalu kalut hingga selalu berpikir yang tidak-tidak tentang Black. Namun, di saat itu juga Nadia dan Arnett menenangkan pikiran dan hati Red. Hingga larut malam, suasana berubah semakin panik, bukannya membaik, kondisi Black malah memburuk dari kritis menjadi koma.
"Apa yang harus ku lakukan? Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan Black?" ucap Red dengan isak tangisnya yang tak kunjung reda.
"Tidak, Red, Black akan baik-baik saja. Kau tahu kan, kalau Black itu lelaki tangguh juga kuat. Percayalah padaku, Black akan baik-baik saja, ia akan secepatnya sadar, Red," ujar Leo.
"Ya, aku percaya itu, Red. Black juga butuh dukunganmu. Kau tak boleh berpikir yang tidak-tidak, kau harus berpikir positif," tambah Nadia.
Red menganggukkan kepalanya sembari duduk di kursi tunggu. Tak lama kemudian dokter keluar dari ruang rawat Black. Raut wajahnya membuat Red semakin cemas.
"Apa yang terjadi dengan suami saya, Dok?" tanya Red tanpa basa-basi.
"Maafkan kami, tetapi kondisinya masih koma. Semoga besok pagi ia sudah sadarkan diri, kita doakan saja," jawab dokter tersebut.
"Um, sebaiknya masuk saja dan temui suami Anda. Sentuhan, serta suara dari orang terdekat bisa memberi reaksi positif bagi pasien," lanjut dokter itu.
"Apa suami saya akan sadar?" tanya Red memastikan.
"Kita coba saja dulu, Nona," jawab dokter tersebut.
Red pun langsung masuk ke dalam ruangan dengan pakaian yang sudah disterilkan. Ia langsung berdiri di dekat Black yang terbaring lemah di atas brankar dengan berbagai alat medis yang terpasang di tubuhnya serta oksigen yang ada di hidung dan mulutnya. Red memeluk tubuh Black pelan, ia lalu melepaskan pelukannya, duduk disamping Black yang terbaring, menggenggam erat tangannya.
"Oh, Black, sadarlah, aku tahu kau kuat. Kau sudah berjanji tak akan meninggalkanku kan, Black? Kau ingat, ada calon bayi kita yang bersemayam dalam perutku. Kau tak lupa juga kan, Black ... kita pernah memimpikan rumah tangga yang bahagia dengan anak-anak yang lucu. Karena itu bangunlah!" Isak Red dengan jeritan tertahan di tenggorokannya.
Akhirnya tangis itu pun pecah kembali. Ia menangis sesenggukan dengan menenggelamkan kepalanya di antara tangan Black. Hingga waktunya untuk melihat Black pun usai, ia keluar dari ruangan dengan mata sembab.
Mau tak mau, tega gak tega, Red meninggalkan sosok yang tadinya selalu ceria dan perkasa kini terbujur tak berdaya. Red tak mampu membayangkan jika ada hal buruk yang menimpa suaminya itu.
__ADS_1
"Bagaimana, apakah dia bereaksi?" tanya Leo, Red menggeleng pelan.
"Mungkin belum, aku belum berhasil, semoga besok atau lusa," ujarnya. Kini semua hanya menunggu bagaimana Black bisa sadar.
***
Tiga hari telah berlalu usai Black koma, tetapi belum ada jua perubahan yang Black perlihatkan. Hal itu membuat semakin khawatir semua yang menungguinya. Bahkan, Leo tak pulang ke hotel mereka demi menunggui Black dan membiarkan Nadia dan Red yang pulang ke hotel untuk beristirahat demi sang jabang bayi.
Leo duduk di ruang tunggu, ia mulai frustasi. Ia berpikir, ia tak bisa seperti ini terus, ia harus bisa mencari cara agar Black cepat sadar dan ia harus mencari tahu siapa yang membuat Black terbaring koma seperti ini. Leo lalu menelepon Nadia agar cepat ke rumah sakit menggantikan dirinya.
Nadia bahkan rela meninggalkan baby twins bersama para suster mereka.
Jarak hotel yang tak terlalu jauh dari rumah sakit membuat Nadia dan Red cepat datang hanya dalam hitungan menit. Nadia yang bingung dengan sikap Leo yang tiba-tiba berubah cukup bingung.
"Apa yang akan kau lakukan? Kau mau ke mana?" gusar Nadia khawatir. Sebab ia hafal betul ekspresi yang saat ini suaminya tampakkan.
"Tapi ini berbahaya untukmu, bagaimana jika itu adalah Kendrick. Orang yang sama dimana telah berniat menjebak Black pada saat itu?" tanya Nadia cemas.
"Ya, aku pastikan itu pasti si pria tua bau tanah tak tau diri. Kau tenang saja, Sayang, aku akan menjaga diriku baik-baik. Aku akan membalas dendam Black padanya, bahkan tak ada ampun untuk manusia seperti dia" ucap Leo dengan penuh dendam yang ada di hatinya.
"Berjanjilah kembali dengan selamat," pesan Nadia sembari mengecup singkat bibir suaminya ini.
"Aku pasti akan kembali untuk kalian bertiga," jawab Leo yang kembali memberi pagutan ke bibir seksi istrinya.
Leo pun meninggalkan rumah sakit dan langsung pergi menggunakan mobilnya, melajukannya dan bertemu dengan teman-temannya di salah satu markas miliknya. Ia menelepon satu persatu orang kepercayaannya untuk menemui dirinya. Ia hanya tinggal menunggu di markas dan menunggu semua kelompoknya berkumpul.
Satu, dua jam, akhirnya semuanya bertemu kembali. Leo berniat ingin membangkitkan kembali klan mafia miliknya, Leon The Kings. Itu semua akan ia lakukan untuk membalaskan dendamnya. Ia tak bisa membalas dendam jika bertindak sendirian, ia perlu teman-teman dari kelompok mafia yang dulu di bawah kekuasaannya.
__ADS_1
"Blue, kau salah satu orang kepercayaanku setelah Black, saat ini aku perlu bantuanmu untuk membantuku membalas dendam kepada Kendrick. Dia yang telah membuat Black koma seperti ini," ujar Leo dengan membara.
Teman-temannya yang lain saling mengangguk. "Aku perlu bantuan kalian juga untuk melakukan hal yang sama. Namun, sebelumnya aku meminta Blue untuk mencari tahu di mana letak markas Kendrick saat ini. Kalian tunggu saja di luar. Kalian yang ahli IT, termasuk kau Blue, gunakan kemampuan kalian untuk melacaknya!" perintah Leo.
Para lelaki kekar itu menurut tanpa membantah apa yang Leo perintahkan. Mengingat Leo adalah jantung untuk hidup mereka. Jika mereka berani melawan atau macam-macam padanya, maka nyawa mereka akan terancam. Leo bisa melakukan apa saja, apa lagi hanya untuk orang kecil di bawah kekuasaannya.
Blue dan beberapa temannya berkutat di depan layar komputer masing-masing, tak sulit bagi mereka menemukan keberadaan Kendrick saat ini.
DING
Suara itu terdengar dari komputer Blue, "Tuan, ini letak lokasi saat ini, di mana Kendrick ada di sana," jelas Blue masih di depan layar. Sedangkan Leo dengan sumringah langsung menghampirinya. "Wah, bagus sekali, bagaimana kau melakukannya secepat itu? Ah, itu tak perlu kau jelaskan, yang terpenting adalah aku berhasil menemukan lokasinya saat ini. Kerahkan semuanya, kita berangkat ke lokasi yang di tuju!"
Semua orang yang ada di markas Leon The Kings pun pergi menuju tiga unit mobil yang sudah disiapkan. Black bersama Blue satu mobil bersama, sedangkan yang lainnya ada di dua mobil lain. Mereka meninggalkan markas dengan Leo yang memimpin di depan.
Jaraknya cukup jauh dari markas Leo, tetapi itu tak jadi masalah, ia bisa menggunakan kecepatan penuh. Selain jenius, penguasa, Leo juga sangat mahir dalam berkendara. Ya, sesuai dengan namanya, Leo, ia bisa apa saja dan mahir dalam melakukan apa saja.
"Apa kau yakin ini markas mereka? Kenapa seperti ini?" tanya Leo mengernyitkan dahi melihat bangunan yang seperti bangunan kosong tak terawat.
"Ya, Tuan, ini yang saya dapatkan. Sebaiknya kita cek saja dulu, Tuan."
"Ah, oke, baiklah."
Leo dan Blue turun lebih dahulu, disusul oleh yang lainnya. Semua memegang pistol di tangan dan pinggang masing-masing untuk berjaga-jaga. Blue memimpin di depan. Ia sedikit terperangah ketika mulai memasuki bangunan tak terawat itu, isinya tak sesuai seperti apa yang terlihat dari luar. Di dalam ternyata ada pintu dari besi baja dengan beberapa mobil mewah yang berjejer.
Leo memberi arahan agar beberapa anak buahnya masuk dan mengecek, benar saja, ketika pintu terbuka ada Kendrick dan beberapa orang-orangnya sangat terkejut melihat kedatangan Leo serta kelompok mafianya.
...Bersambung....
__ADS_1