Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )

Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )
Bab#50. Red & Black.


__ADS_3

"Black apa kau tidak mengenalkan Blue pada Arnett?" tanya Red, yang melihat kedua orang itu diam saja tak saling bicara.


"Nampaknya mereka berdua pernah saling mengenal sebelumnya. Iya kan Blue?" tebak Black tepat sasaran. Sehingga lemparan katanya itu membuat Blue dan Arnett tersentak kaget.


"Hah! Masa? Kapan?" cecar Red, yang juga kaget tentu saja.


"Hah, i–itu--" Blue tergagap mendapat serangan pertanyaan dari pasangan di hadapannya ini. Sementara Arnett hanya bisa tersenyum datar.


"Kita makan aja yuk. Udah laper nih!" ajaknya Arnett pada Red. Daripada dirinya harus menjawab pertanyaan yang dia sendiri pun tengah bingung mengartikannya.


"Haih, kenapa pula kau mengalihkan pembicaraan. Pokoknya, kamu hutang penjelasan, awas aja kalo gak cerita." Sambil melangkah, Red terus saja mencecar Arnett. Membuat dokter cantik itu meringis.


"Sayang, duduklah. Biar aku yang ambilkan makanan untukmu," titah Black setelah mereka berempat sampai di meja makan.


Black membalik piring yang telah di siapkan oleh pelayan lalu mulai menyendok nasi. Aksinya itu, tak luput dari perhatian Blue dan Arnett yang ada di hadapannya.


Mereka hanya bisa melongo tanpa kedip, mungkin bernapas pun tidak.


"Aku sengaja perintahkan asisten rumah tangga kita untuk membeli beberapa makanan kesukaanmu, kamu mau yang mana?" tanya Black, tangannya melayang di atas meja, sembari menunggu jawaban dari istrinya itu.


"Aku mau sambal cumi, tumis genjer sama bakwan udang," sahut Red santai. Tanpa ia sadari, beberapa pasang mata di depan menatapnya kagum.


"Jadi begini tampang si Ajudan killer ini kalo lagi melayani istri?" batin Blue yang sungguh tidak percaya jika saja ia mendengar ini dari orang lain.


"Oh, Black. Bisakah kau tidak membuatku iri. Kenapa kau dan juga majikanmu itu begitu manis dengan istri kalian?" batin Arnett yang semakin frustasi dengan kesendiriannya.


Karena, sejak malam kelam itu ia tak percaya diri untuk memulai hubungan dengan laki-laki. Siapa sangka, justru hari ini ia kembali bertemu dengan laki-laki asing yang menghabiskan malam panjang dengannya itu.


Blue sekilas melirik ke arah wanita di sebelahnya. Akan tetapi pada saat itu Arnett tengah tenggelam pada masa lalunya.


"Ayo makan! Emangnya bakalan kenyang kalo cuma di liatin aja tuh makanan!" seru Black.


Kata-katanya barusan sontak saja membuat mereka berdua tersedak berjama'ah. Padahal, belum juga makan apa-apa.


"Duh, kalian kompak banget sih. Sampe keselek aja barengan gitu," sindir Red seraya tertawa, kemudian ia tersenyum. Pasalnya, ia juga menyadari, kalau sejak tadi mereka berdua itu salfok melihat setiap tingkah laku manis suaminya.


Black kembali sibuk melayani istri tercintanya. Mengambilkan ini dan itu, menawarkan minum, menyeka keringat, lalu mengelus perut. Seakan di meja makan ini, hanya ada mereka berdua.

__ADS_1


"Kalian berdua nikah saja," kata Black spontan, seraya memasukkan makanan ke dalam mulutnya, santai.


Uhukk ... Uhukk!!


Kali ini bukan lagi tersedak, akan tetapi kedua tamunya ini benar-benar sudah tercekik udara.


"Blue, Lo kan lagi nyari istri. Arnett juga sudah siap tuh, kan kamu juga lagi calon suami kan, Ar?" cecar Red. Membuat dokter cantik itu langsung memasukkan makanan banyak-banyak ke dalam mulutnya.


"Hei, makannya pelan-pelan aja," kata Blue yang melihat Arnett semakin gugup sehingga memasukkan semua makanan tanpa ia kunyah lebih dulu.


Arnett masa bodoh tanpa menggubris peringatan dari pria di sebelahnya. Melihat kedua pipi wanita ini menggembung, seketika sebuah lengkungan sabit tercetak dari kedua sudut bibir Blue.


"Akhirnya lu anteng juga Blue. Biasanya suka gak jelas kalo deket perempuan cantik. Mungkin kalian memang berjodoh." Black tanpa sadar telah memperhatikan ekspresi sahabatnya itu.


" Kapan Lo berdua siap?" tanya Black yang m membuat kedua tamunya ini kembali tersedak.


"Bisa gak bahas ini nanti aja," kata Arnett, yang sambil menyeka mulutnya dengan tissue.


Tak ada satupun yang menjawab, Black dan Blue nampak saling melempar perintah kata lewat tatapan mereka.


Uhukk!


Lagi-lagi, Arnett terbatuk-batuk. Meja makan ini semacam eksekusi baginya.


"Minumlah." Blue langsung menyodorkan segelas air pada Arnett.


"Nah, 'kan. Blue sudah cocok menjadi suami siaga tuh!" celetuk Red, dengan senyum jahilnya. Senang sekali ia menggoda para tamunya itu. Sampai-sampai, wajah mereka berdua telah memerah bagaikan udang rebus.


"Kau diamlah," Arnett meringis, pelan. Memberi kode agar Red tidak mengungkit lagi masalah perasaan hati.


Blue hanya bisa menghela napasnya untuk saat ini. Meski, ia sama sekali tidak berniat menjawab dan juga menolak tawaran dari pada sahabatnya ini.


"Semoga saja biaya pernikahan kalian nanti juga akan di tanggung oleh taun Leo," tambah Black lagi memanasi.


Selesai makan siang, Black mengajak Red masuk kamar untuk beristirahat. Karena atas saran dari Arnett juga jika Red harus tidur siang setidaknya 20 menit setiap hari.


Tak ad istilah pantangan tidur siang bagi wanita hamil menurut ilmu kedokteran. Karena yang katanya nantinya sang bayi akan bergajih ketika lahir kalau wanita hamil itu tidur siang. Padahal gajih atau lemak yang menutupi permukaan bayi baru lahir itu adalah hal wajar dan memang terjadi pada sebagian bayi baru lahir.

__ADS_1


Terlepas sang ibu tidur siang maupun tidak. Karena lapisan lemah tersebut berguna untuk menghangatkan tubuh sang bayi ketika menerima udara asing setelah ia terlahir ke dunia.


Perlahan maka bayi akan beradaptasi dengan udara dan juga hawa di luar kandungan. Lagipula lapisan lemak tersebut juga akan menghilang dan bersih dengan sendirinya.


Justru wanita hamil sangat membutuhkan istirahat yang cukup demi menstabilkan oksigen dalam kandungan yang berguna untuk pertumbuhan serta perkembangan otak janin.


"Maaf? Apa yang kau pikirkan mengenai ucapan Red dan juga Black?" tanya Blue, dimana dirinya saat ini memutuskan untuk menghampiri Arnett.


"Entahlah. Mungkin tak ada," geleng Arnett, dengan senyumnya yang terlihat di rekayasa.


Dokter cantik itu berusaha menyembunyikan perasaannya saat ini. Sementara Blue


yang pandai menerka ekspresi orang, faham bahwa ada yang tak beres dan menjadi buah pikiran Arnett.


"Pertemuan kita beberapa tahun lalu dan saat ini, ku rasa memang sudah menjadi campur tangan semesta. Jujur saja aku tertarik denganmu dan ingin memulai hubungan serius denganmu. Aku akan mempertanggungjawabkan perbuatanku pada saat itu," ucap Blue tegas. Belum pernah sebelumnya ia berbicara setenang ini dengan perempuan.


Jika sebelumnya maka Blue akan gugup campur grogi. Kemudian yang terjadi adalah ia takkan mampu mengontrol pergerakan dari tangan maupun kakinya karena itulah dirinya acap kali membuat malu dirinya sendiri.


"Kejadian malam itu bukan sepenuhnya kesalahanmu. Aku juga mabuk dan memilihmu untuk di jadikan pelampiasan. Ku harap tak ada orang lain yang tau masa lalu kita," kata Arnett tegas.


"Aku jamin takkan ada yang tau selain berdua dan ranjang di hotel itu," kata Blue mencoba berkelakar.


"Tapi, maaf. Aku belum bisa menerima tawaranmu," ucap dokter Arnett.


Glek!


"Gagal lagi dapet bini. Nasib gini amat!


__________


"Siapkan penyerangan di waktu yang telah ditentukan. Tak ada waktu lagi, setelah informasi yang ku dapati bahwa kini istrinya tengah hamil," titah Kendrick lagi pada anak buah yang telah di tunjuknya untuk menghabisi keponakannya itu.


Saking takutnya jika nanti Black kembali dan merebut apa yang telah ia nikmati selama belasan tahun ini.


Millie hanya bisa diam saja. Pria yang ia nikahi ini sangat kejam bahkan pada dirinya sendiri.


...Bersambung. ...

__ADS_1


__ADS_2