
" Oh, Zo. Aku itu datang hanya ingin memastikan kalau kau dalam keadaan baik-baik saja atau sedang amnesia," sindir Paulina yang masih percaya diri untuk tetap berada di atas pelaminan.
"Jangan bicara sembarangan! jika kau sudah tidak ada kepentingan, maka pergilah!" usir Black tegas pada Paulina.
Nyatanya wanita cantik itu hanya terkekeh pelan. kemudian ia mengulurkan tangannya bermaksud untuk menggenggam tangan Black, namun lagi-lagi pria itu menepisnya.
"Tentu saja ada maksud dan keperluan selain mitu Zo. Aku juga membawa kado untukmu jadi singkirkan wajah sinis mu itu!" sarkas Paulina, seraya menyerahkan kotak kado tersebut dengan kasar.
Black langsung menoleh ke arah Red dan seketika mendapat tatapan tajam dari istrinya itu. Sontak bulu kuduknya langsung merinding. Black dapat membaca ketidaksukaan Red pada saat kotak kado kecil itu mendarat di tangannya.
Black kembali menghadap Paulina. " Aku tidak mengundangmu, jadi kau tidak perlu memberikan apapun padaku, pulanglah!" Black menyerahkan kembali kota kado kecil itu ke dalam genggaman Paulina, dan sekali lagi mengusir wanita itu dari hadapannya.
Wanita cantik berparas Indo-latin itu menoleh seketika ke arah Red, si pengantin wanita.
__ADS_1
"Perempuan sial! Bagaimana mungkin seorang pria seperti Zo dapat menurut hanya dengan tatapan mata wanita di sampingnya ini. Sepertinya Zo benar-benar gegar otak!" Paulina terus mengumpat Red di dalam hatinya.
Perasaan kesalnya nampak menggurat kecantikannya yang cetar bukan main. Selama mengenal Lorenzo alias Black, pria itu tidak pernah kasar padanya apalagi mengusirnya hingga membuatnya malu di depan umum.
Sebelumnya pria di hadapannya ini akan selalu tergoda dengan pesonanya. Bahkan dirinya sengaja berlama-lama di salon, berpakaian bagus, melakukan ritual khusus pada tubuhnya, rambutnya, wajahnya semua hanya demi menarik perhatian Zo agar kembali padanya.
Akan tetapi apa yang dapatkannya saat ini? Hanya sebuah penghinaan di saat pria itu menolaknya mentah-mentah demi wanita biasa saja yang sekarang sudah menjadi istrinya. Apa benar pria ini adalah Zo yang ia kenal selama ini? Pria yang sering pernah menjalin kasih dengannya beberapa tahun lalu.
"Kau mengusirku, hm! Inikah perlakuanmu terhadap tamu yang memberikan kado dan selamat untuk pernikahanmu! Apa kau tidak dapat menghargai kedatanganku, demi hubungan baik kita selama ini!" pekik Paulina dengan raut wajah tak terima. Wanita ini mulai terbawa emosi, hingga kini ia menoleh pada Red dan dirinya maju selangkah lebih dekat.
Black mencekal lengan Paulina kencang. "Pergilah dari sini sebelum aku melemparmu keluar!" ancam Black pelan namun penuh penekanan.
Paulina sedikit meringis namun wanita ini tetap saja keras kepala. " Sadarkah, Zo. Kau lihatlah contohnya diriku ini, sungguh sempurna bukan? kau bisa membandingkannya. Atau kau ... jangan-jangan kau adalah gadis polos yang sudah membeli kucing dalam karung? Kau tidak tahu siapa sebenarnya suamimu itu. Pria seperti apa dia dan wanita seperti apa yang dia sukai!" tukas Paulina merujuk pada Red untuk menggoyahkan hatinya.
__ADS_1
"Pergi kau Pau--"
"Biarkan dia meneruskan ucapannya!" Potong Red menahan apa yang hendak di lakukan Black pada sang mantan.
"Dengarkan istrimu. Biarkan aku menjelaskan siapa kau yang sebenarnya. Bahkan menurutku dia tidak akan mampu menandingi permainanmu. Aku ... bahkan ragu apakah dia itu mengerti apa yang aku katakan saat ini." Paulina benar-benar menganggap bahwa Red adalah gadis polos.
Nyatanya, Paulina benar-benar tidak tahu apapun, wanita itu terus saja mengeluarkan persepsinya sendiri. tanpa disadari bahwa dirinya tengah mempermalukan dirinya sendiri.
Red pada saat ini sungguh benar-benar sedang menahan kesal di dalam hatinya saat. Dia hanya bisa memberi remasan pada gaunnya. hal yang sama pun dirasakan oleh Black. Pria itu tengah berusaha menahan dirinya untuk tidak ingin melakukan hal di luar batas.
Lagipula Black tidak ingin merusak momen istimewanya. Paulina, yang notabene adalah mantan kekasihnya yang telah sekian tahun tidak pernah lagi dihubunginya.
"Ingin rasanya ku sobek mulut merah bergincu itu. Setelahnya ku tendang dia ke sungai Amazon," batin Red, dimana saat ini kesabarannya sudah setipis tisu.
__ADS_1
...Bersambung...