Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )

Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )
Bab#11. Red & Black.


__ADS_3

Saat sedang asiknya mengobrol dengan Red dari balik telepon, terdengar suara pengumuman bahwa para penumpang Pesawat Elang boeing xxxx sekian harus segera bersiap.


"Aku akan menghubungimu lagi nanti, Red. Pokoknya aku bakalan kangen banget deh apalagi sama bibir kamu yang tipis tapi manis itu, sayang," goda Black yang sengaja mengucapkan kalimat terakhir pada percakapannya dengan teramat jelas.


Sebab Black dapat melihat melalui ekor matanya, akan pergerakan dari wanita yang berjalan mendekat ke arahnya kemudian kembali memasukkan ponsel itu ke dalam sakunya.


"Serius sekali, siapa dia? Pacarmu ya? Kau ternyata romantis juga," ucap wanita yang bernama Paulina. Dimana wanita ini tau-tau muncul dari belakang Black.


Pria dengan rambut sedikit gondrong yang selalu di kuncir itu hanya tersenyum miring menanggapi sangkaan dari wanita sok tau ini. Black takkan menjawab ataupun memberi penjelasan.


Bukan karena ia tak ingin menegaskan statusnya saat ini, namun dia tak mau ada komunikasi tak penting dengan wanita yang nampaknya memiliki sebuah rencana kepadanya di luar konteks proyek.


Entah kenapa ia curiga, namun itulah yang dapat Black rasakan saat ini.


Black nyatanya juga hendak menjaga kehidupan privasinya. Ia paham benar siapa Paulina dan juga bagaimana kekuasaan dan sikap arogan dari sang pemilik perusahaan yang mana saat ini telah sengaja mengirim wanita cantik tanpa isi ini.


"Siapa dia, Black?" tanya Leo singkat pada saat ajudannya itu berada di sisinya.


"Sepertinya hanya lalat yang akan sedikit mengganggu jika tidak kita pukul dengan raket listrik," kata Black asal.


"Kenapa memukul lalat dengan raket listrik? Kau pikir mereka sama dengan nyamuk?" tanya Leo heran.


Black hanya tertawa dengan perumpamaannya itu. Tanpa memiliki keinginan untuk menjawab pertanyaan tuannya.


"Sebaiknya kita siap-siap, Tuan. Sebentar lagi nomer penerbangan kita akan di panggil." Setelah berkata Black segera berlalu dari hadapan Leo tanpa sedikit pun memandang pada Paulina yang telah berada di dekat mereka saat ini..


"Sial kau Zo! Kau bahkan tak ingin menatap dan menoleh ke arahku sedikitpun. Akan tetapi sikapmu ini membuatku semakin berhasrat untuk memiliki dirimu!" batin Paulina dalam hati disertai tatapannya yang tajam menghunus dari belakang punggung Black.


Salah satu sudut bibirnya terangkat ke atas. Hingga mencetak senyum sinis. Senyum yang menyiratkan sebuah rencana.


Di dalam pesawat. Paulina bahkan mengusir asisten yang di ajak oleh Black. Ia menukar nomer kursi mereka. Sementara, Black yang nyatanya telah mengetahui kelakuan wanita itu hanya melirik sekilas.


Kemudian ia kembali melihat layar pada tabletnya. Mempelajari proposal yang di kirim oleh beberapa perusahaan yang terikat pada projek yang sama.


"Kenapa kau terlihat sibuk sekali, istirahatlah," ucap Paulina yang duduk di kursi depan Black dengan lembut serta seulas senyum yang ia sungging kan di wajah cantiknya itu.


"Pekerjaan seorang ajudan memang seperti ini. Sejak dulu aku tak pernah memanjakan diriku. Bekerja untuk mengawal tuan Leo sudah mendarah daging dan merasuk hingga ke tulang sum-sum. Berbeda dengan anda yang sejak kecil mungkin telah menjadi tuan putri." Black sengaja bicara dengan tatapan yang masih fokus pada gadgetnya. Nada sarkas itu ia tujukan untuk mematahkan jurus dari Paulina selanjutnya.


"Perlahan kau akan tau Zo. Jika aku bukanlah wanita yang manja dan tak bisa apa-apa," kilah Paulina dengan seulas senyum yang masih setia menghias di wajahnya yang full riasan itu.

__ADS_1


Meskipun sesungguhnya dalam hatinya, wanita itu kesal bukan main.


"Perusahaan kami adalah partner bisnis dari bos-mu. Jabatan tuanku bahkan lebih tinggi darinya. Hal itu lantas menunjukkan bahwa kedudukanku nyatanya juga lebih tinggi dari pada dirimu. Jadi, Ingat batasanmu dan panggil aku dengan seharusnya, atau kerja sama kita berakhir sampai di sini,"kecam Black dengan tegas.


Black ternyata memang membenci Paulina yang mana memanggilnya dengan sebutan yang terus membuatnya kembali mengingat akan masa lalunya yang suram dengan keluarganya.


Paulina yang sadar akan kebenaran dari ucapan Black barusan pun segera meminta maaf.


"Maafkan saya, ajudan Black. Saya tidak akan mengganggu anda lagi." Paulina pun sengaja menahan kesal dengan tetap mempertahankan nada bicaranya.


Paulina tau jika dirinya harus dapat mengendalikan diri agar rencananya dapat berjalan dengan baik. Ia cukup puas dengan terganggunya Black saat ia ada di dekat keduanya.


Bahkan pria itu diam saja akan panggilan sayang darinya wanita masa lalu. Pertanda bahwa pria itu masih mengingat bagaimana kisah kasih haram mereka kala itu.


Leo tak menanggapi apa yang keduanya bicarakan karena, pria itu juga tengah sibuk dengan urusannya sendiri.


Leo bahkan tersenyum pada saat melihat layar gadgetnya. Pria itu nampak bahagia pada saat Nadia mengirimkan Vidio tentang pergerakan baby twins di dalam perutnya.


Black melihat dengan sinis ke arah Paulina. "Kembalikan kursi Shine. Aku sama sekali tidak nyaman berdekatan denganmu." Black sengaja mengusir Paulina bahkan tanpa menengok sedikit pun ke arah wanita tersebut.


Tapi kan aku--"


"Ingat, kau hanya wakil dari perusahaan Cutton. Jangan sampai attitude-mu ini mencemarkan nama baik perusahaan itu!" sarkas Black, hingga,membuat Paulina tak mampu untuk mendebatnya satu patah kata pun lagi.


Terbukti tatapan kedua mata indahnya begitu tajam menghunus hingga relung kalbu karyawan yang masih jomblo itu. Ia bahkan menghentakkan ujung hak sepatunya dengan kencang.


Shine hanya nyengir, menahan sakit pada punggung kakinya. Bahkan pria itu mengeratkan rahangnya agar tidak teriak.


"Kenapa dengan kakimu, Shine?" tanya Black seraya menautkan kedua alisnya, pada saat Shine melewatinya.


"Tidak apa-apa, Bos. Hanya terbentur kaki kursi barusan," jawab Shine asal.


"Lain kali, berhati-hatilah. Bahkan terhadap wanita cantik sekalipun. Jangan sampai keindahan itu menginjak-injak harga dirimu sebagai laki-laki." Setelah mengatakan kalimat ambigu tersebut, Black kembali fokus pada benda pipih di hadapannya.


Apa dia tidak sadar bahwa saat di depan Red bahkan seorang ajudan perkasa yang hebat ini seakan tak ada harga dirinya lagi?


"Baik Bos." Shine hanya menggaruk kepalanya yang pelontos itu seraya menautkan kedua alisnya pertanda bingung.


"Beraninya kau menyindirku, Zo! Lihat saja nanti kau akan ku buat bertekuk lutut sebelum menjumpai akhir masamu!" umpat Paulina dalam hati yang mana kini dirinya berada di belakang kursi Shine.

__ADS_1


Ternyata Black sengaja berkata seperti itu pada anak buahnya dengan cukup kencang dan jelas. Tentunya agar Paulina dapat mendengarnya.


Sesampainya mereka di kota tujuan. Shine segera mengambil alih koper dan barang bawaan Leo. Tak banyak, hanya satu koper besar dan tas kecil berisi laptop. Ia mendorongnya dengan troli. Sementara Shine juga menggendong tas di punggungnya.


"Hei kau, bawakan juga koperku!" Perintah Paulina ketus.


"Maaf Nona, saya bukan anak buah anda." Shine menepis koper besar berwarna magenta milik Paulina.


"Kau!"


Paulina mencekal lengan Shine agar pria itu berhenti dan terpaksa menuruti perintahnya.


"Lepaskan tanganmu darinya Nona Paulina!" Black yang sedang menerima telepon sontak memutuskan secara sepihak.


Untung saja ia menoleh ketika mendengar suara cempreng khas wanita judes.


Shine sontak terkekeh, melihat wajah Paulina yang tak berdaya. Barang bawaannya banyak tetapi wanita itu tak mau membawa asisten.


"Shine bukan anak buahmu dan anda tak bisa memerintahnya!"ujar Black dengan cukup tegas. Kali ia berbicara sambil menatap Paulina intens.


"Baik. Maafkan aku!" Paulina nampak menundukkan kepalanya sungkan. Tentu saja hanya demi sebuah pencitraan. Karena yang sesungguhnya, dalam hatinya wanita itu terus mengumpat geram setengah mati.


"Ahh, kau pun akhirnya menatapku juga Zo. Kau pasti terpesona padaku kan? Semakin galak maka aku semakin penasaran padamu," batin Paulina.


_______


"Kamar kita ternyata saling berhadapan. Padahal, jika kamu meminta sekamar dengan aku. Sungguh aku sama sekali tidak keberatan, Zo." Paulina menoleh dengan gaya kearah Black yang berdiri kaku menatap antara kamar mereka yang saling bersebrangan itu.


"Peringatan saya tadi apa kurang jelas Nona Paulina!" hardik Black dengan aura tegas dan dingin yang semakin kentara.


Shine bahkan sampai mengusap tengkuknya sendiri.


"Hahaha, ternyata jiwa humoris anda payah Tuan ajudan perkasa." Setelah menertawakan Black, maka Paulina segera berlalu memasuki kamarnya terlebih dahulu. Sebelum ia mati malu karena penolakan kembali dari Black.


"Aku tidak menyangka jika ajudan Black akan menolak pesona dari nona Paulina. padahal bukanlah hal yang tabu jika sesama partner bisnis juga akan melakukan kerjasama di atas ranjang hotel. Atau, cinta ajudan Black sudah mentok kepada ajudan Red," batin Shine yang sangat menyayangkan kesempatan emas barusan.


Seandainya ia yang di tawari pasti tidak akan menolak. Masalahnya, wanita sekelas Paulina tidak mungkin menawarkan diri pada pria yang hanya berpangkat kacung sepertinya.


"Awas saja kau, Zo. Berkali-kali sudah kau mempermalukan ku di depan anak buahmu sendiri!" Paulina terlihat kesal kemudian melempar tas miliknya ke atas tempat tidur beralas khas berwarna putih gading itu.

__ADS_1


Kemudian ia menggenggam sebuah botol kecil berwarna ungu metalik, dengan seringai jahat di wajahnya.


...Bersambung...


__ADS_2