Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )

Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )
Bab#23. Red & Black.


__ADS_3

"Maaf, jika penolakan dariku kemarin membuat kamu banyak pikiran," gumam Red seraya memeluk tubuh suaminya itu erat. Rasanya tak tega melihat si kuat perkasa ini mendadak lemah tak berdaya. Bahkan untuk membuka kedua matanya saja Black tak mampu.


"Jangan pergi ... ku mohon. Jangan pergi ...," racau Black lirih masih dengan kedua mata yang terpejam.


"Haih dia sampai mengigau," bisik Red yang semakin melekatkan tubuh mereka berdua.


"Red, aku hanya mencintaimu ... jangan pergi ...," racau Black lagi yang mana ucapannya itu dapat di dengar dengan jelas oleh Red.


"Tenanglah, aku tidak akan pergi,"jawab Red, sambil mengencangkan pelukannya. Ia tak menyangka jika penolakannya akan berakhir seperti ini.


Lama kelamaan, Black bangun ketika ia menyadari bahwa ada sesuatu yang kenyal terasa menempel di dadanya, serta permukaan kulit yang halus dan dingin, hingga Black memutuskan untuk membuka sedikit matanya yang sedari tadi menutup.


"Sayang. Red, apa ini kamu?" tanya Black memastikan penglihatan serta penciumannya. Karena Black hafal betul bagaimana aroma tubuh Red.


"Iya, ini aku," jawab Red malu-malu. Karena pada saat ini ia tengah memeluk Black dengan bagian tubuh atas yang terbuka dan hanya mengenakan penutup dada saja.


"Apa kau sedang menggodaku di saat seperti ini?" tanya Black lagi masih dengan suaranya yang parau.


"Aku, sedang membantu untuk menurunkan demam pada tubuhmu," jawab Red jujur.


"Kenapa kita berdua gak pake baju?" heran Black yang seketika melebarkan kedua matanya pada saat ia menyadari keadaan mereka saat ini.


Bukannya kaget karena tidak suka, justru Black sangat mengharapkan hal seperti ini. Momen dari hubungan yang sangat dekat antara suami dan istri.


Dimana Red yang ia tau sangat marah karena kejadian di hari pernikahan mereka berdua.


"Aku tidak bermaksud menggoda mu, justru aku sedang menolongmu. Menurunkan suhu tubuhmu dengan cara pelekatan seperti ini. Sungguh saat ini suhu panas tubuhmu tengah berpindah padaku. Lihatlah aku menjadi berkeringat sekarang," jelas Red kepada Black suaminya.


"Tubuhmu sangat lembut dan empuk, sungguh nyaman sekali sayang," ucap Black pelan, seraya meletakkan kepalanya di atas dada istrinya. Di mana kini pipinya menempel pada dua bongkahan kenyal yang masih tertutup pembungkus gunung kembar berwarna merah itu.


Black berusaha menikmati apa yang tersaji di hadapannya saat ini, setidaknya ada untungnya juga dia sakit, pikir Black.

__ADS_1


"Sayang bolehkah aku?" tanya Black seraya menunjuk kepada dua buah benda padat di hadapannya. Dia menunjuk menggunakan kode matanya.


"Tidak, aku begini karena ingin menolong kamu. Jangan berpikiran macam-macam, kau ini sedang sakit!" Red mendorong wajah Black menggunakan telapak tangannya karena pria itu berusaha menciuminya dengan hawa mulut yang mengeluarkan uap panas itu.


"Red, aku hanya ingin merasakan aroma tubuhmu, aku ingin puas mencium dan menyesapnya," ucap Black meskipun masih terdengar lirih dan lemah. Akan tetapi pria ini terlihat lebih bersemangat.


"Diamlah, Black. Aku sedang membantumu. Atau kau sebaiknya minum obat saja," kata Red yang bermaksud memisahkan dirinya dari Black.


" Tidak, tidak! Aku tidak mau minum obat! Lebih baik begini saja." Black menolak dan pria ini justru semakin mengeratkan pelukannya pada tubuh ramping nan indah milik Red istrinya.


Kedua tangannya melingkar erat pada pinggang ramping Red. !"Kalau begitu menurut lah!" titah Red yang mulai mengeluarkan suara aslinya yang tegas, seraya mengelus lembut punggung suaminya itu.


"Baiklah aku akan diam dan menurut, tapi kau jangan pergi. Ku mohon jangan tinggalkan aku," pinta Black lirih.


"Aku akan tetep di sini. Karena itu kau diamlah agar cepat turun demamnya," kata Red.


"Aku, lebih baik demam. Sebab, dengan begini kamu jadi mau dekat dengan aku," ucap Black seraya menatap kedalam mata coklat milik Red. Mereka terpaku sesaat, dalam pandangan yang sepertinya menyesatkan mereka berdua.


Red tak bisa menolak meskipun Black mengeluarkan hawa panas dari mulutnya. Sebenarnya, jauh di dalam lubuk hatinya Red juga menginginkan kedekatan ini.


Keduanya semakin intens berciuman dengan memagut bibir satu sama lain. Perlahan tangan Black mulai merayap bagaikan Spiderman.


Tangan satunya mengelus punggung Red, dan tangan yang satunya lagi meraba paha mulus terbuka istrinya itu.


"Hentikan, Black!" pekik Red, ketika tangan suaminya itu semakin merayap ke atas. Dimana pada kedua sisi segitiga merahnya itu terdapat simpul pita.


Tapi sayang sekali, jari jemari Black ternyata lebih cepat dan lincah. Dia sudah sangat fasih dan cekatan dalam hal mengurai simpul. Bahkan tangan yang satunya lagi sudah berhasil membuka pengait dari penutup gunung kembar.


"Kau nakal sekali, Black!" pekik Red, pada saat wajah Black telah tenggelam di sana.


'Kenapa rasanya begini? Apa yang ia lakukan sebenarnya?" batin Red, heran. Pada saat Black menikmati apa yang tersaji di hadapannya ini.

__ADS_1


"Apa yang sedang kau lakukan? Kenapa aku, merasa aneh?" tanya Red pada Black seraya mencengkeram rambut Black dengan kedua tangannya.


Black tidak menjawab, karena dirinya sedang asik menikmati apa yang telah lama tidak ia jamah.


" Apa ini? Aku merasa, ah bahkan sulit untuk mendeskripsikannya," batin Red menikmati hal yang belum pernah dirasakan sebelumnya.


Hal yang di lakukan oleh Black telah membuat sekujur tubuhnya seakan tersengat listrik.


Desiran halus perlahan mulai menjalar melalui urat nadinya. Perlahan darahnya mulai bergejolak mengeluarkan gelora panas yang sebentar lagi akan meledak.


Black sontak menghentikan kegiatannya, ternyata tanpa disadari olehnya dirinya begitu menikmati momen barusan.


Black menjilati bibirnya sekilas kemudian mendongakkan kepalanya menghadap wajah istrinya.


"Maaf, apa kau marah? Seharusnya aku meminta ijin dulu dari kamu," kata Black terlihat menyesal.


"Tidak, Black. Aku ... juga menikmatinya," jawab Red jujur.


Perkataan yang di ucapkan oleh Red barusan bagaikan air pegunungan yang menyiram ubun-ubun kepala yang baru saja terpanggang matahari. Segar dan sejuk sekali, bahkan dingin sampai merasuk ke dalam hati.


"Benarkah sayang. Kamu menyukainya?" tanya Black seraya menarik pinggang Red agar tubuh keduanya semakin menempel.


Red hanya tersenyum, dengan tatapan mata yang juga berkabut.


Bagaimana pun Red tak bisa menolak jika sebenarnya hati dan tubuhnya pun ingin mendapat perlakuan yang hangat dan juga int!m dari pasangannya ini.


"Kamu senyum. Berarti udah gak marah lagi kan sama aku? Maafin aku ya. Aku sama sekali gak nyangka kalau--" Red sontak meletakkan jari telunjuknya untuk menghentikan ucapan sesal dan permintaan maaf yang keluar dari bibir suaminya ini.


"Sudah, jangan di bahas lagi. Karena ada yang mengatakan padaku. Bahwa, lihatlah orang dari masa yang sekarang bukan masa lalunya. Tetapi, aku minta sebelum kita melakukannya, sebaiknya kamu melakukan pemeriksaan menyeluruh pada organ vital dan juga reproduksi," pinta Red.


"Hemm, jadi malam ini gagal lagi dong,"

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2