Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )

Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )
Bab#12. Red & Black.


__ADS_3

Pagi ini Black dan sang tuan sarapan di resto penginapan mereka. Shine duduk di meja lain sehingga meja yang Black dan Leo tempati menyisakan satu kursi.


Tak berapa lama datanglah seorang sosok wanita yang berdandan dengan gaya smooth casualnya.


"Pagi semuanya!" sapa Paulina dengan senyumnya yang manis.


Akan tetapi ucapannya tersebut hanya ditanggapi oleh Leo dengan anggukan pelan. Begitupun reaksi dari Black yang hanya sekedarnya saja.


"Pagi Nona Pau--" jawab Shine terpotong, bahkan senyum secerah sang surya yang ia tampilkan mendadak tenggelam setelah mendapat tatapan tajam menusuk bak ujung belati yang baru diasah oleh tukang jagal.


"Pagi, Zo." Paulina menyapa Black yang sedang asik meneguk secangkir susu hangat, seraya mendudukkan bokongnya pelan di kursi yang kosong tersebut.


"Ya pagi," jawab Black datar seraya menyeruput sisa minumannya lalu ia berdiri dengan ponsel yang menempel di telinganya. "Selesaikan sarapanmu dengan cepat, karena kita akan meninjau lokasi," tambahnya lagi seraya meninggalkan Paulina sarapan sendirian.


Bahkan Leo juga telah menjauh dari mereka karena sedang menghubungi seseorang. Dapat di duga siapa orang yang di hubunginya itu. Karena Leo tak henti melebarkan senyumnya sejak tadi.


Black, menyingkir dari meja makan menuju ujung restoran. Pria itu bersandar di pagar dengan sesekali tersenyum saat bicara dengan orang di seberang teleponnya.


"Haih, gak bos gak ajudan kerjaannya pada bucin. Lah gue kemana?" gumam Shine yang nampak iri melihat kelakuan kedua pimpinannya itu.


"Hei kau. Sebenarnya siapa sih yang sedang di hubungi oleh bos-mu itu?" tanya Paulina pada Shine dengan cara bicaranya yang arogan.


Terpaksa wanita seksi ini duduk satu meja dengan shine.


"Hei, apakah Nona berbicara dengan saya?" tanya Shine sambil menunjuk ke arah dirinya sendiri.


"Tentu saja sama kamu! Memangnya ada orang lain lagi di meja makan ini!" sarkas Paulina semakin ketus.

__ADS_1


"Ya siapa tau, Nona juga tidak menyebut nama saya," kilah Shine asal. Ia tak mau sopan lagi dengan wanita yang angkuh seperti Paulina.


"Sudah jawab saja!" tekan Paulina tak sabar.


"Jawab apa?" Pria berkepala pelontos justru balik bertanya, sengaja mengulur waktu demi mengerjai rekan bisnis majikannya ini.


"Kau ini! Baiklah, aku memberimu harga yang mahal demi sebuah informasi akurat. Bahkan, aku bisa memberi apapun yang kau inginkan, asal--" Paulina tidak menyelesaikan kata-katanya. Karena Shine menatapnya dengan tatapan penuh arti.


"Aku tidak butuh uang Nona. Jujur aku tertarik padamu sejak pertama kita bertemu. Aku hanya ingin ... ah, anda pasti mengerti kan?" jelas Shine dengan alis terangkat serta senyum miringnya. Sembari menatap tak berkedip wanita muda yang begitu segar di pandang mata, dimana kebetulan duduk didepannya.


Mendapat tatapan menuntut dari Shine, seketika Paulina pun paham. Ia pun mengibas rambut panjang coklatnya. Hingga menampilkan leher jenjangnya yang putih mulus berhiaskan sebuah tato kecil bergambar bunga mawar.


Hal itu tentu saja mampu membuat pria pelontos ini menelan ludahnya susah. Buru-buru ia meneguk sisa minumannya demi membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba kering.


"Pria manapun tidak akan dapat menolak pesonaku. Apalagi hanya pesuruh rendahan macam dirimu. Tapi, jika kau membantuku hingga misi ini berhasil. Maka ... aku akan mengizinkanmu mencicipi bagian tubuhku yang kau inginkan." Paulina tersenyum penuh arti pada pria di hadapannya ini. Dimana langsung disambut dengan sebuah senyum tipis joker yang menghias wajah sang asisten nakal itu.


Ia tak dapat dapat berhenti berpikiran nakal pada saat harus melihat cara Paulina berpakaian. Dimana wanita itu selalu mengenakan style yang seksi dan menggoda.


Meskipun casual tapi begitu pas di badan. Bagaimana tidak, kaus yang di kenakan Paulina sungguh membentuk bukit kembarnya yang besar.


Bahkan jika Paulina mengangkat tangannya ke atas maka pusarnya yang berhiaskan tindik berlian akan terlihat jelas menggoda. Belum lagi celana denim nya yang press body, sehingga mencetak jelas bokongnya yang bulat sempurna.


"Kita akan bicarakan ini lagi nanti. Sepertinya bos sudah memberi kode untuk segera menuju lokasi," ucap Shine dengan senyum nakalnya. Ia berani sekarang, karena tanggapannya tentang bagaimana Paulina ini ternyata benar.


"Baiklah, hubungi saja aku." Paulina pun memberikan secarik kartu pada Shine. Kemudian segera diambil oleh pria itu dan di masukkan kedalam saku celananya.


Mereka semua mulai melihat lahan luas bertanya merah dimana kini telah kosong tanpa tanaman apapun.

__ADS_1


Di beberapa sudut terdapat tanaman singkong yang di tumpuk setelah di cabut.


"Sepertinya lahan yang ini lebih cocok dan aman Tuan!" seru Black yang kini berdiri di atas batu besar sambil melihat sekeliling area di belakang kebun kosong tersebut.


"Atur pertemuan dengan pemilik tanah. Kerja cepat agar selesainya juga cepat!" titah Leo. Entah kenapa hatinya begitu ingin berada di samping istrinya saat ini. Senyum dan tawa Nadia menari-nari di wajahnya sejak tadi.


Black pun mengangguk setuju, dimana sebelahnya ini terdapat penyambung lidah para warga yang memiliki hak penuh terhadap tanah tersebut.


Apalagi gestur dari Paulina yang terlihat mencari perhatiannya ini justru semakin membuat Black muak, sehingga ingin segera menyelesaikan pekerjaannya saat ini.


Wanita itu terus mengambil kesempatan untuk mendekatinya. Black nyatanya sudah cukup menahan diri. Bagaimanapun, nilai kerja sama dengan perusahaan Cutton akan memberi keuntungan besar pada perusahaan tuannya ini.


"Menurutku. Jika kita bisa menekan warga sedikit. Pasti perusahaan dapat memperoleh harga yang lebih murah. Tentu saja hal itu dapat memberi keuntungan yang lebih besar pada perusahaan. Bukankah begitu?" saran Paulina penuh percaya diri. Seakan ia baru saja mengeluarkan ide cemerlang yang kemungkinan besar membuat Leo terkesan padanya.


"Bukan gayaku mendapatkan sesuatu dengan cara menekan serta memaksakan kehendak. Aku lebih suka bernegosiasi dengan cara yang sehat dan sportif," tegas Leo.


"Tentu saja, karena perusahaan kami bekerja dengan cara yang bersih bukan dengan cara kotor dan licik seperti itu," timpal Black dengan lugas mematahkan ide yang dilontarkan oleh Paulina.


"Apa kau baru saja mengatakan bahwa ideku barusan adalah salah satu cara yang kotor dan licik? Kurasa hampir semua perusahaan tinggi dan besar menggunakan cara yang hampir sama dengan apa yang ku pikirkan. Terkadang warga kampung yang sok seperti itu harus diberi pelajaran. Agar mereka tidak merasa di atas awan dengan mempertahankan lahan mereka!" tandas Paulina tetap bersikukuh dengan pendapatnya.


"Lakukan apapun caramu sesuai dengan keinginanmu. Akan tetapi, jika bukan kami sebagai partner dari perusahaanmu!" tegas Black menolak.


"Jika bekerja dengan kami maka gunakanlah cara kerja kami. Jika kau keberatan, laporkan pada atasanmu dan kita masih bisa membatalkan semuanya saat ini!" tambah Black lagi seraya berlalu menyusul sang tuan yang telah lebih dulu pergi.


Akan tetapi Paulina tampak berdiri angkuh sambil berkacak pinggang.


Beberapa aparat di sana berjalan mengikuti Leo dan Black. Mereka senang dan bersyukur, bahwa pihak perusahaan mau bersabar dengan mencoba bernegosiasi terhadap pemilik lahan setempat.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2