
"Arrggh! Keterlaluan!" Paulina menghentakkan kakinya seraya meluapkan emosinya. Kini ia dan Shine telah berada di hotel kembali.
"Sepertinya anda marah Nona. Tapi menurut saya memang benar sih. Setiap perusahaan yang bekerja sama dengan perusahaan kami maka harus mengikuti cara kerja kami," ucap Shine, dengan tatapan yang tak bergeser sedikitpun dari tubuh yang sintal ini.
"Diam kau! Aku sudah tidak tahan. Bos-mu itu terus berlagak di hadapanku. Bagaimanapun juga dua misi ini harus dapat ku selesaikan malam ini juga. Kalau ingin menjadi orang sukses dan jaya itu haruslah jeli saat melihat peluang besar. Mengambil kesempatan dikala kita dapat meraih keuntungan sebesar-besarnya. Aku harus mendapatkan dua lalat dalam satu tepukan." Paulina berkata panjang lebar sambil menghembuskan napas kasarnya.
Wanita itu menjauh dari jendela kemudian mendaratkan bokongnya di atas sofa mewah dalam kamarnya.
Satu kakinya ia tumpang di atas kaki yang lain. Hingga paha mulusnya terekspos karena ukuran roknya yang super mini. Ia sengaja menggoda Shine agar pria berkepala pelontos itu semakin tergila-gila pada tubuhnya. Menurutnya, ia akan mendapatkan sekutu untuk memuluskan rencananya ini.
"Katakan saja, apa yang harus aku lakukan," bisik Shine di belakang kursi yang di duduki oleh Paulina. Hingga napasnya menyapu tengkuk wanita itu yang mana tertutup surai coklat lurus panjang.
"Nyalakan ini di kamarnya. Pengharum elektrik ini akan membuatnya mabuk kepayang," kata Paulina seraya menyerahkan botol kecil berwarna hitam.
"Baiklah, beri aku uang muka untuk tugas berat ini," tawar Shine yang mengerti apa maksud dari wanita licik ini.
Paulina pun berbalik seraya mengulurkan tangannya untuk mengusap rahang Shine.
"Kau ini penjahat atau makelar tanah," goda Paulina dengan senyum dan kedipan nakalnya.
Emmphh!
Paulina hanya bisa melotot pada saat pria berkepala pelontos ini menyambar bibirnya.
"Sialan nih si botak! Berani-beraninya dia main cium aja bibirku!" maki Paulina dalam hati.
Sepersekian detik kemudian. "Lepaskan!" Paulina mendorong Shine dengan keras, kemudian ...
Plak!!
__ADS_1
"Cuih!" Shine meludah ke atas lantai hingga cairan berwarna merah itu mengotori marmer tersebut.
Sudut bibirnya berdarah lantaran mendapat tamparan kencang dari Paulina Sebelah pipinya pun panas, karena wanita itu memukulnya dengan cukup keras.
"Jangan kurang ajar kau botak! Aku bisa melemparmu dari perusahaan Leon dengan mudah!" ancam Paulina yang kesal akibat Shine dengan seenaknya saja merampas sebuah ciuman panas darinya.
"Begitu saja kau marah. Aku hanya minta uang muka sebagai tanda jadi kerja sama kita." Shine berkata asal seraya menampilkan seringai konyol di wajahnya. Hal itu lantas membuat Paulina bergidik dalam hatinya.
"Dasar pria gila! Aku sungguh rugi banyak karenanya," batin Paulina penuh umpatan yang di tujukan teruntuk Shine.
"Cepat kerjakan perintahku. Setelah aku mendapatkan Zo-ku kembali. Baru kau bisa menikmati tubuhku ini sepuasmu, tapi cukup satu hari. Setelahnya, biarkan aku bahagia bersamanya," kecam Paulina dengan tatapan setajam ujung belati.
"Sehari itu cukup sepadan dengan resiko yang akan ku terima." Shine menimpali ucapan Paulina sambil menyeringai licik. Kemudian ia berlalu sambil melempar-lempar botol kecil berisi aroma terapi itu ke udara.
"Hei, hati-hati! Bagaimana kalau benda itu jatuh dan pecah! Dasar bodoh!" umpat Paulina geram. Sementara Shine hanya menoleh sekilas sambil tersenyum mengejek.
"Aku akan segera mengabarimu!" teriak Shine seraya melambaikan tangannya.
"Nyatanya aku hanya tinggal menunggu pria berkepala botak itu melakukan tugasnya dengan baik. lihatlah nanti Lorenzo kau akan ku ajak bermain." Paulina mengusap wajahnya sendiri seraya tertawa gemas. Bahkan kedua kakinya ia hentakan ke atas tanah. Karena pada saat ini ia tengah melanglang buana dengan segala pikiran liarnya sendiri.
"Jangan salahkan aku, Zo. Kau yang memulainya!" batin Paulina.
________
"Selesai juga Bos. Ternyata cara anda yang elegan dan berwibawa justru dapat merubah pendiri mereka semua. Sungguh cara yang pintar." Black benar-benar kagum dengan cara negosiasi yang di gunakan oleh tuannya ini.
"Ini semua juga berkat kau Black, dimana kamu ternyata sangat fasih dan lihai dalam berargumentasi. Sungguh aku tidak pernah menyesal telah menyimpan kekaguman ini sejak dulu. Karena kau memang seorang ajudan yang hebat." Paulina, masih dengan sikap penjilat dan tak tau malunya. Membuat Black menghela napasnya kasar karena jengah.
"Ayolah, Zo. Kau pasti saat ini sudah mulai tergoda kan denganku?" batin Paulina tertawa dengan tingkat, percaya dirinya yang begitu tinggi. Berpikir bahwa segala ulasannya adalah benar dan nyata.
__ADS_1
"Black, selesaikan semua pembayarannya. Jangan berhutang sepeserpun. Kumpulkan semua calon pekerja besok pagi. Semua harus sudah selesai. Karena besok sore kita semua sudah harus kembali!" titah Leo tegas sambil berjalan penuh wibawa dengan kedua tangan yang di masukkan kedalam saku celananya. Vest berwarna hitamnya cukup kontras dengan kemeja putih yang lengannya ia gelung hingga siku, membuat aura pria itu nampak luar biasa.
"Zo, tunggu sebentar!" Paulina memanggil Black dan berusaha mensejajarkan langkah tegap dan lebar pria dengan rambut yang di kuncir kebelakang.
Sekali lagi Black menarik napas dan Menghembuskannya perlahan. "Kalau tak ada perlu lagi, sebaiknya kita kembali. Dan jika ada yang kau ingin katakan, sebaiknya aku tunggu di mobil," katanya yang berbicara tanpa menoleh sedikitpun kearah Paulina.
" Tapi, Zo!" Wanita itu memberanikan dirinya menarik lengan Black. Ia merasa tak akan ada kesempatan lagi untuk bicara baik-baik dengan mantan kekasihnya itu.
"Jaga sikapmu!" tegur Black tegas. Kemudian ia segera menarik tangannya dari cengkeraman Paulin yang cukup kencang.
"Cukup Zo! Jangan bersikap seolah kita tak pernah berhubungan sebelumnya!" pekik Paulina tak tahan lagi. Menahan segala kesal yang bercokol di hatinya selama beberapa hari ini.
"Tak ada yang perlu diingat. Apalagi dikenang. Masa lalu yang buruk hanya mengingatkan betapa rusak dan bodohnya kita kala itu. Lagipula, hubungan yang telah lama usai karena penghianatan. Apa yang perlu diingat?" sarkas Black dengan segala sindiran di setiap nada pada kalimatnya. Begitu menohok dan menghujam sanubari.
Sengaja, agar wanita masa lalunya ini malu dikarenakan teringat akan perbuatannya dulu.
" Karena itu, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya Zo," lirih Paulina dengan tatapan memohon. Bahkan kedua matanya nampak berkaca-kaca.
Mungkin jika pria lain yang melihatnya pasti akan iba dan langsung luluh. Tapi, tidak dengan Black yang nyatanya hafal dengan sifat dari wanita masa lalunya ini.
Justru Black semakin jengah dan jijik dengan sandiwara yang diperankan oleh Paulina. Wanita yang membuat penyesalan panjang dalam hidupnya.
Black bersusah payah menjauh dari keluarga termasuk masa lalunya tetapi, entah bagaimana tiba-tiba semua seakan kembali muncul ke depan mukanya.
"Zo, aku masih mencintaimu," lirih Paulina.
"Apa kau masih mengira jika aku sebodoh itu?" sindir Black.
...Bersambung...
__ADS_1