
Cahaya kamar yang redup membuat gelora kedua manusia berbeda jenis ini telah tersihir dengan aroma yang mereka hirup. Mereka menikmati apa yang ada di depan muka sesuai dengan apa yang ada dalam angan keduanya.
"Akh! Perlahan sayang. Aku tau kau pasti sangat merindukanku. Begitu juga denganku, Zo sayang." Paulina memberi cengkeraman dan juga tekanan pada kepala pria yang kini tengah melahap apa yang terpampang nyata pada tubuh bagian atasnya.
"Oh, Zo!" pekiknya meronta di sela gigitan dan juga sesapan. Dimana setiap perlakuan pada bagian tubuhnya itu memberinya kenikmatan untuk memuaskan gelora yang sudah ia tahan selama beberapa hari ini.
"Oh sayangku ... kau adalah milikku. Aku sangat menyukai ini semua. Ugh!" Pria bertubuh polos yang kini tengah meracau di atas tubuh Paulina mengeluarkan lenguhannya.
Antara sadar dan tidak mereka pun melakukan apa yang ingin mereka tuntaskan sebelumnya.
"Aku sangat beruntung malam ini. Ah, sayang aku akan meledak." Pria itu kembali meracau penuh hasrat bergejolak dan terus menghujam inti Paulina, hingga saat wanita itu terus mengeluarkan suara yang di laknat.
"Ah Zo sayang, kita harus bersenang-senang sampai pagi," oceh Paulina yang kini telah menukar posisinya menjadi di atas tubuh pria tampan bertubuh atletis itu.
"Zo, sejak kapan kau memotong rambutmu?" tanya Paulina di sela-sela goyangannya. Karena kedua tangannya berniat ingin menarik rambut pria di bawah kuasanya itu namun ia merasa aneh dan mengenal model rambut ini.
Akan tetapi, Paulina yang sedang terbakar hasrat serta menikmati permainan mereka pun acuh.
"Sayang, aku akan memanjangkan rambutku jika kau tidak menyukai gaya ini," sahut pria yang tengah merasakan sesuatu yang kembali hendak meledak dari inti tubuhnya.
"Ah sayang, kau membuatku gila!" Pria di bawah Paulina berteriak seiring dengan lengkingan tubuhnya.
Begitu juga dengan Paulina, wanita itu mencengkeram pahanya sendiri merasakan hujaman yang menyentuh dinding pada daerah inti pribadinya.
Keduanya terus bermain tanpa henti, hingga bunyi nyaring dari kedua bibir mereka di susul oleh bunyi tempat tidur yang bergoyang laksana di terjang oleh gempa.
Sementara di kamar yang lain. Seorang pria tengah tersiksa luar biasa. Karena ada sesuatu yang membakar dan ingin meledak dari tubuhnya, akan tetapi tak ada tempat untuk menyalurkannya saat ini.
"Wanita sialan! Kau hampir saja menyeretku ke dalam neraka jahanam." Pria itu menggeram merasakan gairah yang tak kunjung padam. Padahal dia sudah selama itu berendam dalam bak berisi air yang dingin.
"Sayang, kau harus membantuku. Semoga saja dirimu belum tidur cintaku. Aku ... sudah tidak kuat lagi menahannya." Black menggertakkan giginya merasakan hal tak nyaman yang menyiksanya sejak tadi.
Terpaksa, ia pun menghubungi Red. Walaupun jarak perbedaan waktu antara dirinya dan mansion dua jam. Black tak lagi peduli karena hanya bantuan dari Red yang ia inginkan.
Ia berharap calon istrinya itu mampu melepaskan semua penderitaannya saat ini.
__ADS_1
Di jam yang sama di dalam kamar pada paviliun pribadi, dimana kala itu Red tengah tertidur sambil memeluk guling.
Lalu terdengar dering nyaring dari ponselnya.
Takkan siakan dia ... belum tentu ada yang seperti dia ... seluruh dunia tau aku bahagia ...
Penggalan lirik lagu berputar berulang-ulang seiring getaran dari ponsel yang di letakkan pada bawah bantal.
Red pun terlihat menggeliat kemudian mengucek matanya yang baru saja terpejam beberapa jam yang lalu.
"Jam berapa ini? Apa iya Black yang menghubungi?" gumamnya sambil sesekali menguap.
"Eh, ternyata benar. Aneh, gak biasanya nelpon jam segini. Apa ada yang terjadi padanya ya?" bingung Red dengan spekulasi yang mampir di dalam kepalanya, tapi ia tetap memutuskan untuk mengangkat panggilan vidio dari calon suaminya itu.
"Halo Black ..." Red mencoba memasang senyum dengan wajah bantalnya itu.
"Black, Kenapa wajahmu sangat merah? Apa yang sebenarnya terjadi!" kaget Red. Ia tak mengerti dengan raut wajah Black yang terlihat begitu merana dalam pandangan matanya saat ini. Pria itu seperti tengah menahan sesuatu didalam dirinya.
"Ku mohon bantu aku Red. Aku sangat menderita saat ini," kata Black dengan ekspresi yang begitu memelas dan terlihat frustrasi.
"Aku akan menceritakannya, tapi jangan kau potong sedikitpun ya," pinta Black yang kemudian diangguki oleh Red tanpa banyak bertanya lagi.
"Ada seorang wanita yang ku curigai dia memang sengaja di kirim oleh pamanku. Dia adalah wanita yang berasal dari masa laluku. Dia bermaksud ingin menjebakku. Kau ... mengerti kan sayang," jelas Black dengan wajah yang semakin terlihat menderita dan tatapan mata yang merah berkabut.
Red syok dan kaget bukan main. "Laโlalu apa yang bisa ku lakukan untukmu?" tanya Red yang sangat merasa kasian atas apa yang menimpa Black saat ini.
Satu sisi Red merasa lega dan senang karena Black ternyata bisa menjaga diri dan juga hatinya dengan baik. Akan tetapi pada saat ini dirinya bingung apa yang dapat dia lakukan untuk membantu Black di sana.
Apalagi, sesekali terdengar Black menjerit seperti tengah menahan kesakitan.
"Sayang, dengar aku. Ku mohon ... tuntun aku dengan suaramu ya. Katakan apa yang ingin kau lakukan padaku. Juga apa yang kau ingin aku lakukan padamu saat ini," kata Black yang mana kini tengah berdiri di bawah shower. Kedua tangannya dengan posisi mendorong dinding.
Black menuntut Red untuk berpindah tempat ke kamar mandi lalu meminta calon istrinya itu mandi ketika waktu menunjukkan pukul tiga dini hari.
"Apa! Dia memintaku mandi! Tapi aku malu, jika Black melihat seluruh tubuhku, bagaimana ini," batinnya bingung campur panik.
__ADS_1
"Oh, Red sayang, cepatlah, ku mohon!" pinta Black tak tahan.
"Black, ini adalah hal gila yang pernah aku lakukan dalam hidupku. Dan semua karena dirimu," kata Red ambil melucuti satu persatu pakaiannya.
"Red, aku menginginkanmu ... ugh!" Black terdengar melenguh padahal dia hanya melihat Red membasuh tubuh polosnya dengan sabun.
Keadaan Red yang sudah tanpa busana di jadikan oleh Black sebagai salah satu alat bantu fantasi untuk menuntaskan hasratnya saat ini.
"Aku sangat merindukanmu sayang. Kau sangat menggairahkan. Hanya kau yang pemilik hati dan tubuhku. Aku sangat menyukai aroma tubuhmu ini." Black menajamkan pandangan matanya sambil membayangkan jika saat ia tengah menikmati tubuh indah itu.
Ia sengaja membaluri seluruh tubuhnya dengan sabun yang di bawakan sang Red untuknya. Hingga pelepasan itu terjadi dengan bantuan imajinasi. Begitupun di seberang sana, karena Red pun tengah melenguh melepaskan geloranya. Ia pun bersandar pada bath up kosong dengan keadaan tubuh yang terbuka.
"Terimakasih sayang. Aku mencintaimu," ucap Black dengan senyum puas yang menghiasi layar ponsel Red.
๐๐ฏ๐ต๐ข๐ฉ๐ญ๐ข๐ฉ, ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด ๐ด๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ต ๐ฎ๐ข๐ญ๐ถ. ๐๐ฏ๐ช ๐ฉ๐ข๐ญ ๐ฅ๐ช ๐ญ๐ถ๐ข๐ณ ๐ฃ๐ข๐บ๐ข๐ฏ๐จ๐ข๐ฏ ๐๐ช๐ฏ๐ช๐ด. ๐๐ข๐จ๐ข๐ช๐ฎ๐ข๐ฏ๐ข ๐ฌ๐ช๐ต๐ข ๐ฃ๐ฆ๐ณ๐ฅ๐ถ๐ข ๐ฅ๐ข๐ฑ๐ข๐ต ๐ฎ๐ฆ๐ญ๐ข๐ฌ๐ถ๐ฌ๐ข๐ฏ ๐ด๐ฆ๐ฏ๐ด๐ข๐ด๐ช ๐จ๐ช๐ญ๐ข ๐ด๐ฆ๐ฑ๐ฆ๐ณ๐ต๐ช
"Aku pasti akan sangat malu jika bertemu dengannya nanti," gumam Red sambil menutupi wajahnya yang memerah bak udang rebus.
"Aku sangat menyukainya, Red sayang!" puji Black yang mana membuat Red kini semakin malu saja. Bagaimana tidak, jika dia telah menunjukkan apa yang belum waktunya pria itu lihat dari dirinya.
"Aku berjanji akan selalu menjagaku. Setelah menikah nanti, kita akan melakukannya secara langsung kan," kekeh Black yang berniat sekedar bercanda.
Nyatanya Black semakin tak sabar menanti saat itu tiba.
Sambungan vidio call pun terputus sudah.
"Aku akan memberi pelajaran yang tidak akan pernah kau lupakan seumur hidup. Beraninya, bermain-main denganku." Black mencengkeram ujung keran. Setelahnya pria yang rambut gondrongnya di urai itu kembali membilas tubuhnya.
Setelah bermain selama lima jam. Kini tubuh Shine dan Paulina ambruk di atas kasur yang sudah tak berbentuk lagi itu.
Di kamar lain, Black menyimpan video tersebut dan memindahkannya ke flashdisk.
"Akan kubuat kau hancur, Pau!"
...Bersambung...
__ADS_1