
Hingga beberapa menit kemudian, Black tidak juga menemukan sosok istrinya itu. Bahkan ia berlarian ke area belakang mansion menyisir ke setiap paviliun para pekerja.
Akan tetapi tak ada satupun yang tau dimana keberadaan istrinya itu.
"Oh, Red. Kamu dimana sih?" gumam Black dengan ponsel yang menempel di telinganya.
"Kenapa dia tidak juga mengangkat teleponnya." Black mulai gusar memikirkan keberadaan istrinya itu. Karena tak biasanya Red susah untuk di hubungi. Apalagi, biasanya wanita itu sudah beberapa kali menghubunginya, tapi hari ini tidak.
Black benar-benar khawatir dan takut kalau saja analisa dari istri karyawannya itu terjadi pada Red saat ini.
"Sebenarnya dia kemana? Sampai tak ada satupun penghuni mansion yang tau," gumam Black seraya berlari keruang cctv. Dengan begini maka ia dapat mencari tau dari setiap sudut ruangan yang terdapat di mansion ini.
Sebab, istrinya itu memang memiliki teknik militer yang mana kedatangan maupun kepergiannya dari suatu tempat ke tempat yang lain tak dapat di ketahui oleh siapapun.
Black memeriksa layar monitor sendirian dengan cepat. Hingga satu tempat memunculkan tanda-tanda dari sosok istrinya itu. "Garasi motor? Ngapain Red bawa motor sport?" heran Black yang langsung berlari keluar dari ruang monitoring tersebut.
Para pekerja yang menunggu ruangan itu hanya bisa menatap kepergian Black dengan heran.
Black terus berlari keluar mansion setelah lift dari bangunan mewah tersebut membawanya turun.
Setelah keluar dari lift, ia berusaha kembali mengirim pesan pada Red.
"Kenapa ponselnya masih belom aktif," batin Black mulai risau, pasalnya sang istri tidak pernah pergi tanpa memberitahu dirinya.
Black langsung mendatangi tempat dimana Red mendapatkan kendaraan. Karena Black juga memilih untuk mengunakan kendaraan roda dua
"Kenapa kau membuatku khawatir, sayang. Aku baru saja mendapat secercah cahaya, kenapa sikapmu mendadak aneh," batinnya lagi.
Black langsung melakukan kendaraannya hingga keluar area pemukiman para konglomerat ini. Hatinya kalut, dan pikirannya sudah tak tentu arah.
Sementara itu di satu tempat.
Duggh!!
"Ammpuunn!!"
"Jangan pukul lagi! Saya ... saya akan kembalikan kendaraannya!" mohon pria yang berwajah sangar dan beringas itu.
__ADS_1
"Sekarang, Lo baru nyerah! Setelah tau berhadapan dengan siapa hah!" hardik wanita cantik maskulin dengan seringai sinis-nya.
"Ampun, Nona! Tolong jangan hajar lagi," pinta penjahat itu dengan tampang yang memelas.
"Enak saja!"
Kretek!!
"Arrggh!" pekik pria itu, merasakan nyeri pada jemari tangannya.
"Dasar begal! Kau tidak layak memiliki tangan lagi! Masih untung aku hanya mematahkan jari-jarimu!" sarkas wanita tersebut.
"Wanita gila kau! Kenapa kuat sekali," geram penjahat itu masih berani mengumpat sang wanita.
"Kau pantas menerima ini! Manusia sampah! Beraninya kau menyerang wanita yang membawa anak kecil!" makinya lagi.
Terlihat telah banyak orang-orang yang berkerumun di tempat tersebut. Anggap saja pasar rakyat.
Melihat sebuah kerumunan yang ramai, Black merangsek untuk membelah orang banyak tersebut, dimana beberapa diantara mereka bersorak tanpa ada yang berusaha melerai.
Seketika kedua mata elang Black terbelalak. Melihat adegan yang tak di duganya sama sekali akan terjadi.
"Hentikan!" Black langsung meneriaki wanita maskulin yang tentu saja sangat ia kenal itu, dimana Red tengah menghajar seorang pria tanpa ampun. Hingga, wajah pria tersebut sudah tak berbentuk lagi.Tentu saja karena terdapat bengkak di sana-sini.
"Ampun, Nona! Ampun!" teriak pria, yang punggung tangannya tengah diinjak oleh kaki Red. Dimana wanita itu mengenakan sepatu pantofel berhak sepuluh sentimeter.
"Sekarang kau minta ampun? Lalu, tadi disaat kau merampas motor wanita itu, hingga dirinya terseret di atas aspal bersama anaknya apa kau berpikir untuk mengampuninya!" Red semakin menekan ujung hal sepatunya. Hingga pria itu memekik semakin kencang.
" Lepaskan, dia!" teriak Black, lalu maju ke tengah lahan parkiran tersebut.
"Black?" kaget Red yang menemukan keberadaan sang suami mendapatinya seperti ini. Tetaplah, Black sudah pasti akan mendukungnya.
"Apa yang terjadi? Sehingga kau lakukan hal itu padanya?" tanya Black pelan, seraya mendekap raga istrinya. Meninggalkan pria yang sudah lemas tak berdaya itu begitu saja di tengah jalanan.
Lalu, dua orang sekuriti pun datang berniat membawa dua penjahat itu ke pihak yang berwajib. Mungkin, akan di bawa kerumah sakit dulu. Karena dua pria tersebut mengalami luka-luka yang serius.
"Kau sendiri, kenapa bisa ada di sini. Kembali sana ke mansion. Nanti juga aku akan pulang, setelah urusanku selesai," ketus Red, sembari melipat tangan di depan dadanya.
__ADS_1
"Haih, kambuh lagi galaknya. Bagaimana pun aku harus membawanya untuk menemui dokter spesialis kandungan," batin Black.
"Sayang, aku mencarimu di mansion. Aku sangat khawatir karena ponselmu tidak aktif. Katakan, apa yang baru saja terjadi?" tanya Black tetap lembut.
"Kau liat kan tadi, aku menghajar dua orang begal hingga mereka tak berdaya!" tunjuk Red dengan santai, tanpa tersirat kelelahan wajahnya.
"Kau menghajar mereka seorang diri? Orang segini banyak apa tidak ada yang membantumu!" pekik Black, heran. Bagaimana bisa, Red menghajar penjahat sendirian sementara yang lain hanya menonton saja istrinya melakukan hal sebesar itu. Sekalipun istrinya itu, memiliki ilmu beladiri, juga tidak pantas ia berkelahi melawan dua orang pria bertubuh besar seorang.
Pikirnya.
"Tentu saja, aku yang menghajarnya. Penjahat amatir kejam yang seperti itu, harus di beri pelajaran. Lagipula Black, ini bukanlah hal yang besar. Kau bahkan tau aku bisa melawan penjahat lebih banyak dari ini," ucap Red dengan gemas. Hingga satu tangannya dipukulkan pada telapak tangan yang lain.
Walaupun begitu dalam hati Black entah kenapa tak bisa terima.
"Kalian semua, kenapa diam saja! Membiarkan istri saya menghajar dua penjahat itu sendirian!" teriak Black tegas, pada warga yang menonton kejadian itu.
Tatapan mata elangnya nyalang, menyiratkan amarah dan khawatir yang menyatu.
Para penonton saling pandang dan langsung menunduk ketakutan menerima sorot mata tajam dari seorang Black.
Black kembali menoleh ke arah Red, kepala serta dadanya berdenyut nyeri bersamaan.
"Tapi, apa kau harus melakukannya? Bagaimana, jika dirimu terluka? Kenapa juga keluar rumah tidak menungguku pulang?" cecar, Black dengan nada khawatir yang tersirat dari nada bicaranya.
Akan tetapi Red menganggap hal yang diucapkan suaminya terlalu berlebihan.
"Ponselku jatuh dan pecah pada saat pengejaran tadi. Melihat seorang ibu yang hendak di begal masa iya, aku harus diam saja! Lagipula, aku hampir mati bosan karena menunggumu pulang. Makanya memilih jalan-jalan sendiri," jelas Red, seraya memalingkan wajah dari suaminya itu.
"Ck. Dia masih tak suka melihat wajahku."
Black menghela napasnya perlahan. Berusaha menenangkan emosinya. Ketika ia begitu menghawatirkan sang istri, tapi wanita itu bahkan tidak mengharapkan kehadirannya.
"Tuan, tolong jangan dimarahi istrinya ya. Nona, hanya berusaha menolong istri saya," jelas seorang pria yang datang dengan tergesa-gesa menghampiri keduanya.
Terlihat ia tengah menuntun putranya yang masih kecil. Ia berbicara dengan sangat lirih, tersirat sesal serta kesedihan dari nada suaranya.
Ia terpaksa membiarkan sang istri menjemput anaknya sekolah karena pria ini harus menunggui dagangannya. Pria ini menghampiri Red. Karena mendapat laporan dari warga di sekitar daerah itu. Bahwa, suami dari wanita yang mengalahkan begal marah serta tidak terima dan mengamuk di lahan parkir.
__ADS_1
"Istri saya bilang, Nona ini mengejar begal itu dari depan depan sekolah sana melewati pasar," jelas, pria tersebut seraya menunduk takut. Menghindari tatapan Black, yang seakan dapat mengulitinya hidup-hidup.
...Bersambung...