
"Maka itu cepatlah mandi, sebelum aku muntah mencium aroma tubuhmu!" dorong Red kepada Black.
"Astaga, kupikir dia telah membaik," batin Black begitu sedih.
Setelah makan malam Black mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya.
"Apa katamu! Aku kemungkinan hamil?" kaget Red setelah mendengar cerita dari suaminya mengenai tanda-tanda wanita yang sedang mengidam.
Kemudian Red mengingat-ingat bagaimana kelakuan dari Nadia pada saat wanita itu hamil baby twins.
"Tapi, pada saat itu Nyonya tidak membenci bau badan Tuan Leo," kata Red masih tak yakin.
"Sayang, istri dari karyawanku itu mengatakan kalau bawaan wanita yang mengidap itu lain-lain tergantung dengan hormon mereka. Aku, juga sudah mencari tahu di beberapa artikel yang terdapat pada website internet. Jadi, kemungkinan besar bisa saja kau ambil sayang," jelas Black lagi.
"Tapi, bagaimana bisa terkadang aku membencimu dan terkadang juga merindukanmu. Apakah, hormon kehamilan itu bisa mempengaruhi perasaan dan bisa mengubah-ubahnya seketika? Padahal yang dikandung adalah buah cinta dari pasangan itu sendiri?" cecar Red kembali membuat suaminya menggaruk kepala dengan seru.
"Kalau itu Aku tidak bisa menjawabnya. Makanya ayo kita ketemu dokter Arnett. Dia kan ahli kandungan. Dia sudah pasti memiliki jawaban apa yang ada di dalam kepala kita," bujuk Blvwk lagi.
"Baiklah ayo!" ujar Red yang tau-tau bangun dari duduknya kemudian meninggalkan meja makan begitu saja.
"Ya ampun, kenapa aku di tinggal," gumam Black.
Singkat cerita mereka berdua telah bertemu dengan dokter spesialis kandungan di rumah sakit dimana tempat Nadia melahirkan baby twins.
Mendapat kabar baik yang keduanya harapkan itu tentu saja membuat, Black serta Red berteriak gembira.
"Aaaa ... Black. Ternyata aku bener-benar hamil!" pekik Red senang dan begitu antusias. Dia berkali-kali mengusap dan melihat perut ratanya. Black pun memberanikan dirinya untuk mencium istrinya itu. Pria itu lega karena tak ada penolakan dari Red.
"Aku dan istriku, akan mendengar nasihatmu baik-baik. Sekali lagi, terima kasih." Black pun meraih tangan Arnett untuk menjabatnya.
"Aku pun sangat berterimakasih padamu, mohon bimbingannya. Karena, aku ingin bayi kami ini terjaga serta terawat dengan baik," timpal Red tulus, dengan air mata yang tiba-tiba tumpah membasahi pipinya.
"Baiklah, hanya satu pintaku. Pastikan bayi kalian memanggil ku aunty Ar." Senyum lebar pun menghias wajah sang dokter kandungan cantik itu. Ketika Red dan Black menanggapi permintaannya dengan sebuah anggukan.
"Yes, aku punya keponakan!" soraknya gembira.
"Tak sabar menantikan mu launching," ucap Arnett seraya mengelus perut rata Red. Seketika wanita itu merasakan kehangatan menyentuh hatinya.
__ADS_1
_______
"Sayang, apa kau tidak menginginkan sesuatu. Kebetulan kita masih di luar, mungkin ada yang ingin kamu makan lagi?" tanya Black pada Red.
"Em, tidak ada. Aku masih kenyang," jawab Red, dengan seulas senyum yang tak lekang dari wajahnya sejak tadi, sembari meletakkan telapak tangan di atas perutnya yang masih rata itu.
"Apa iya, makanan tadi pasti di bagi dua dengan bayi kita. Katakan saja, aku akan membelikan apa yang kau minta. Ayo sebut saja!" cecar Black, ia ingat pesan Arnett, bahwa ibu hamil membutuhkan asupan nutrisi dua kali lipat. Black juga teringat bagaimana perhatian dari tuan Leo kepada Nyonya Nadia pada saat wanita itu hamil.
Red tiba-tiba menatap Black dengan mata yang berembun.
"Kenapa, sedih sayang?" tanya Black heran. Karena sedang fokus menyetir, sehingga ia hanya bisa menoleh sesekali saja. Belum lagi jalanan malam lebih mengharuskan mata untuk lebih fokus ke depan.
"Aku baik-baik saja, Black. Tetaplah fokus saja pada jalan. Aku ingin segera sampai ke rumah dan mengabarkan hal ini kepada semuanya." Red mengerti, suaminya itu sedang fokus mengendarai agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Sehingga, ia memutuskan untuk menyimpan apa yang ingin Ia sampaikan nanti saja ketika sudah sampai di rumah.
"Pasti kau sudah lelah. Sabar ya, sebentar lagi kita sampai." Black berkata, seraya mengelus punggung tangan Red sekejap. Karena, ia kembali meletakkan tangannya di depan kemudi.
Red menatap suaminya itu dari samping. Ia sangat bersyukur mendapat pasangan hidup yang begitu menyayanginya. Begitu memperhatikan dirinya, juga perasaannya.
Red yang kini sedang membuang pandangannya ke jendela tiba-tiba menangkap sesuatu.
"Sebentar, sayang." Black pun mencari tempat yang pas untuk memarkirkan kendaraan roda empatnya itu.
"Apa ada yang kau inginkan, biar aku belikan. Kau mau apa?" cecar Black. Karena dilihatnya sepanjang tepi jalan banyak sekali tukang dagang. Ia berpikir, ada salah satu jajanan yang ingin di beli oleh istrinya.
"Aku ingin turun sebentar, boleh?" tanya Red, meminta izin pada suaminya itu. Sejak tau hamil, Red menjadi begitu memperhatikan keadaannya.
"Bukankah, kau sudah lelah? Biar aku saja. Aku akan mencari barang apa yang kau inginkan," larang Black.
"Aku, ingin berjalan-jalan sebentar." Red berkata sembari mengusap pelan perut yang masih tampak rata itu. Black menangkap gerakan tangan itu, kemudian ia menghela napasnya.
"Baiklah, bila lelah katakan padaku, ok!" pesannya.
"Baik, bos!" kelakar Red, tawa renyah yang menandakan bahwa dirinya senang.
Kemudian Black menuntun Red memasuki area, yang tenyata adalah pasar malam rakyat. Pantas saja ramai sekali.
__ADS_1
Red sesekali menoleh ke arah suaminya, memperhatikan bagaimana wajah itu agak kusut selama sepekan belakangan ini.
Bahkan, bulu-bulu di rahangnya semakin terlihat lebat. Padahal, biasanya Black akan mencukurnya tiga hari sekali. Rambut gondrongnya bahkan terlihat sedikit berantakan.
"Selama pekan ini ternyata aku sudah menyiksamu. Menyakiti hatimu dengan berbagai penolakan ku. Sungguh itu sama sekali bukan kemauanku. Ku harap perasaan saat ini tidak akan berubah lagi kedepannya. Karena sepertinya penciumanku sudah kembali normal.
"Tempat ini mirip yang waktu itu kami datangi. Red nampak tersenyum getir karena mengingat sesuatu.
"Kenapa sayang, apa ada yang salah?" tanya Black khawatir dengan tiga garis yang tercetak di dahinya.
Red hanya memasang senyumnya sambil menggeleng.
"Kita beli popcorn, yuk!" Black menarik tangan Red agar menjauh dari area yang lumayan riuh itu. Sebab dekat dengan wahana pontang-panting, sehingga teriakan demi teriakan bersahutan. Begitu memekakkan telinga.
"Aku mau gulali kapas!" tunjuk Red pada pedagang di sebelah kang popcorn.
"Warna biru ya, Bang!" pesan Red, dengan senyum lebar menghiasi wajah cantiknya.
Cahaya lampu membiaskan rona kebahagiaan sederhana dari istrinya itu. Ketika wanita lain akan meminta pergi ke mall, atau tempat bergengsi lainnya. Red nampak sudah cukup bahagia, hanya dengan pergi ke taman hiburan dadakan semacam ini.
"Ciloknya, mau gak?" tanya Black yang mana kini tangannya tengah di genggam erat oleh Red.
"Emang boleh?" tanya Red dengan mata berbinar serta senyum lebar.
"Kenapa memang? Arnett tidak menyebutkan cilok dalam daftar makanan yang tidak boleh kamu makan. Hanya saja, jangan terlalu pedas, oke!" pesan dari Black, masih dengan senyum hangat serta tatapan penuh cinta.
"Wah, makasih ya, sayang!" pekik Red seraya menubruk dada bidang Black dan memeluknya erat, bahkan ia lupa sedang dimana saat ini.
Alangkah senang istrinya ini kala mendapatkan jajanan rakyat jelata seperti itu.
Tak tau saja Black, jika saat ini Red dengan nostalgia kembali ke masa lampau.
Kang gulali dan kang popcorn hanya saling pandang lalu menggeleng dengan senyum mereka.
Yang muda yang bercinta.
Dunia terasa milik berdua yang lainnya ngontrak.
__ADS_1
🤣
...Bersambung...