Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )

Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )
Bab#32. Red & Black.


__ADS_3

"Oh ya ampun! Kenapa kau berdandan macam preman di dalam pusat perbelanjaan berkelas seperti ini. Sebenarnya Zo itu memungutmu dari mana sih?" sindir Paulina dengan begitu sinis. Sementara Red hanya menanggapinya dengan senyum tipis.


Baginya hanya membuang-buang waktu saja, jika ia meladeni wanita sampah yang menodongnya saat ini. Red tidak akan menjelaskan siapa dirinya kepada wanita yang saat ini merasa di atas angin.


"Sebaiknya anda singkirkan pisau itu, karena saya masih punya urusan yang lebih penting. Jadi maaf kali ini tidak bisa mendengar ocehan anda." Red hendak berlalu akan tetapi Paulina dengan cepat mendorong tubuh Red hingga merapat pada rak.


"Ck. Makin terpancing juga emosinya kan," batin Red puas. Setidaknya ia harus memiliki alasan untuk memberi pelajaran berharga pada wanita ini nanti.


"Diam dan menurutlah atau mata pisau ini akan menembus limpamu!" ancam Paulina lagi.


"Aku akan membuat perhitungan denganmu. Jadi sebaiknya kau ikut aku aja!" Paulina menarik tangan Red dengan kencang untuk mengikuti ke mana arahnya pergi.


"Akan kulihat apa yang akan dia lakukan padaku," batin Red seraya tersenyum penuh arti dan pura-pura memasang wajah panik.


"Hei, jangan tusuk dong. Aku kan baru aja nikah. Kamu mau bawa aku kemana sih?" rengek Red pura-pura takut.


Paulina terus menyeret Red hingga ke parkiran mobil. "Ayo masuk!" titahnya dengan mendorong keras tubuh Red agar masuk kedalam.


''Sialan juga nih perempuan! Biarlah, aku mau lihat apa yang sebenarnya ingin dia lakukan padaku. Inilah mungkin yang dinamakan ikan menghampiri jaring," batin Red lagi seraya menaikkan salah satu sudut bibirnya ke atas.


"Aku hanya akan mengajakmu jalan-jalan. Jadi tenanglah," ucap Paulina seraya menoleh ke arah Red yang berwajah ketakutan di matanya.


Paulina itu memiringkan senyumnya dengan segala rencana yang sudah disusun dalam otaknya.


"Ya, ya terserahlah apa maumu. Aku ingin lihat wanita manja seperti dia ini bisa apa," gumam Red dalam hati. Meski pandangannya menatap lurus ke depan. Akan tetapi ekor matanya terus memperhatikan gerak-gerik dari gadis di sebelahnya. Di mana pada saat ini Paulina tengah mengemudikan mobil dengan cepat.

__ADS_1


"Ternyata dia gila juga. Sepertinya suka ugal-ugalan karena berasa jalan raya milik nenek moyangnya. Dasar wanita arogan!" umpat Red dalam hati sambil terus menelisik mantan eks partner dari suaminya tersebut.


'' Ini belum seberapa cewek kampung. Aku bakalan bikin kamu mabuk dan menangis ketakutan," batin Paulina seraya terkekeh dalam hatinya seiring dengan ia menambahkan kecepatan laju kendaraannya dua kali lipat.


Sengaja Paulina mencari jalanan yang lengang. Nyatanya wanita ini pun tidak tahu jika saat ini tengah membawa wanita seperti apa dalam mobilnya.


Paulina terus mengeluarkan skillnya dalam mengendarai mobil sport itu dengan kecepatan penuh. Sementara, Red yang berada di sebelahnya, tetap tenang tak bergeming.


Bahkan Paulina sengaja memakai jalur yang berkelok, karena wanita ini benar-benar hendak mengerjai wanita yang ia anggap kampungan ini. Di luar itu ternyata Red tengah menahan tawanya. Hingga akhirnya Paulina menginjak rem mobilnya tiba-tiba. Suara ban berdecit terdengar nyaring. Pertanda kendaraan roda empat itu telah berhenti secara paksa.


Red yang memiliki sensor reflek tinggi, sudah tentu bisa membaca apa maksud dan niat dari Paulina.


Dengan gerakan cepat Red menekan satu kakinya ke depan, alhasil kepalanya tidak terbentur dasbor mobil.


''Sial! Bagaimana bisa wanita itu menahan guncangan. Aku sengaja melakukan ini karena dia tidak menggunakan seat belt. Kenapa wajahnya bisa biasa saja? Seharusnya kan dia ketakutan dan mabuk? Padahal aku sudah sengaja membawa mobil dengan kecepatan pembalap," gerutu Paulina yang kecewa dalam hatinya.


wanita bodoh yang sedang menahan garam pada dirinya ini.


Red menyeringai tipis, mengetahui bahwa Paulina sangat kesal padanya. Karena aksinya untuk membuat dirinya takut barusan gagal total.


" Dia pikir tadi aksinya sudah keren. Memangnya hanya kau perempuan yang pernah melakukan balapan liar. Mungkin kau saat itu masih di suapi babysittermu pada saat aku beraksi mengejar mafia di jalanan," batin Red dalam hati seraya menggelengkan kepalanya.


Paulina terus menarik tangan Red hingga berakhir mendorong tubuh wanita sanderanya ini ke batang pohon besar, di sebuah pinggiran hutan.


"Heh, kau wanita kampung! Saat ini aku akan membuatmu menanggung akibat dari perbuatan Zo yang telah membuat ayah membungkuk serta kesalahannya mempermalukanku di panggung pelaminan kalian beberapa pekan yang lalu!" bentak Paulina kasar seraya menekan bahu Red dengan keras.

__ADS_1


Paulina kembali menyeringai sinis, kemudian ia mengeluarkan sesuatu dari dalam saku coatnya.


"Kau lihat ini apa? Dengan benda ini aku akan membuatmu menyesal seumur hidup karena telah merebut Zo dariku. Kau tahu, kalau Zo selamanya hanya akan menjadi milikku!" Paulina pun menempelkan pisau kecil yang dipegang tangannya ke pipi Red.


Akan tetapi keningnya berkerut tanda berpikir akan sesuatu. "Kenapa kulitnya tidak berdarah? Apa wanita ini punya ilmu kebal?" batin Paulina bingung dalam hatinya


"Kau ini bagaimana? Punya senjata tapi tidak tau cara menggunakannya?" ledek Red tertawa remeh. Membuat Paulina semakin menekan permukaan pipih senjata yang dipegangnya untuk menggores pipi mulus nan licin milik Red.


Paulina terus menekan dan menggores tapi tidak terjadi apapun pada kulit sanderanya ini. Hingga sebuah tangan memutar pergelangan tangan Paulina dan dengan gerakan cepat pula, Red membalik posisi. Kini, Paulina yang berada di bawah kuasa seorang ajudan top nomer dua milik klan Leon.


"Sini! Biarkan aku beritahukan padamu bagaimana cara menggunakan alat ini." Red kemudian merampas senjata tajam ditangan Paulina, dan langsung menggores pelan pada kulit pipi mulus lembut bak bayi milik Paulina.


"Nih, yang bener tuh begini. Duh, mana lembut banget," ucap Red seraya menggores terus hingga Paulina meringis kencang.


"Bagian tipis tajam ini di bagian bawah. Lalu kau tekan perlahan dan mulailah beri sayatan tipis-tipis." Red seperti tengah melakukan tutorial dengan memberi penjelasan sekalian prakteknya.


Kedua bola mata Paulina pun membelalak dengan lebar serta berair. Ketika benda dingin itu menyayat kulit wajahnya yang setipis kulit bayi.


Paulina menangis kencang merasakan perih seiring dengan cairan berwarna merah yang mengalir hingga ke dagunya. Sayangnya ia tak bisa meronta ataupun berontak. Wanita di belakangnya ini telah mengunci pergerakannya.


"Sakit!" pekiknya bersamaan dengan air mata yang bercucuran. Bahkan seluruh tubuhnya bergetar. Paulina sungguh tidak menyangka jika tenaga Red bisa sebesar dan sekuat ini.


Tubuhnya kaku tidak dapat bergerak. Red juga tiba-tiba dapat merubah wajahnya yang polos menjadi bengis pada saat ini.


''Sebenarnya, dia ini wanita seperti apa? Kenapa begitu kuat dan juga auranya seram sekali. Oh ****! Aku menyesal telah menyerangnya seorang diri. Harusnya aku menggunakan tenaga pembunuh bayaran," batin Paulina penuh sesal terhadap kenyataan yang terlambat di sadarinya.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2