Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )

Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )
Bab#45. Red & Black.


__ADS_3

"Hah, apa? Tapi kan saya sudah kalah?" kata pria berbadan kekar itu heran. Sebelah tangannya memegangi rahang yang agak geser karena pukulan dari Red tadi.


"Kau memang kalah, tapi aku tetap ingin membantu istrimu. Berikan nomer rekeningmu sini!" titah Red.


Setelah mentransfer sejumlah uang, Red dan Black pun berlalu. Pria berbadan kekar berkali-kali membungkukkan tubuhnya. Meski pasangan itu telah pergi meninggalkan arena tempatnya mengais rejeki.


"Kau sudah puas sekarang?" tanya Black pada Red. Ia memberanikan diri untuk merangkul bahu sang istri kali ini. Ternyata, wanita yang baru saja membuat geger pasar malam itu, tidak menolaknya.


"Sangat puas, bahkan hatiku sangat senang dan bahagia," jawabnya dengan senyum yang sangat lebar, hingga menampilkan jejeran giginya yang putih dan rapi.


Black, menelaah setiap kejadian hari ini. Meski, semua yang terjadi berada di luar nalar pikirannya. Akan tetapi pria itu tetap mencoba untuk mengikuti saja alurnya.


Sesampainya di mansion.


"Jangan berendam, sayang. Ini sudah malam!" ucap Black memberi pesan kepada istrinya.


"Biarlah, aku hanya ingin menghilangkan rasa lengket di tubuhku ini," sahut Red, seraya menoleh dan tersenyum. Hilang sudah sisi judesnya, yang mana membuat Black terkaget-kaget setiap di bentak oleh Red.


"Apa kau tidak ingin mandi juga, Black?" tanya Red, seraya mengangkat kedua sudut bibirnya.


"Ah, tentu saja aku mau!" Black yang tengah bersandar pada sofa, seketika berdiri, lalu menghampiri istrinya itu.


"Ingat, kita hanya mandi. Lakukan hal yang lain di kamar saja." Red pun berpesan sambil membuka pakaiannya satu persatu. Dimata Black, gerakan yang Red lakukan barusan ketika membuka pakaian seolah bergerak lambat.


Hingga gerakan matanya itu tak bisa bergeser sedikitpun. Black terlalu mengagumi setiap hal ada ada pada tubuh Red. Karena pria ini sungguh tak menyangka jika terdapat bidadari yang tertutup gaya preman.


Bentuk tubuh Red sangat di luar ekspektasinya. Mungkin, jika Red mengikuti kejuaraan miss universe dia bisa saja berada di jajaran para finalis.


Beberapa saat kemudian mereka berdua telah berada di dalam bath room. Itupun, setelah Red meneriaki namanya sehingga pria itu kembali lagi ke alam dunia.


Geloranya yang selama lebih dari sepekan tertahan, membuatnya serasa berjalan di bumi gersang. Begitu kering kerontang, tanpa sentuhan serta belaian dari istri cantiknya.


"Sayang, kesini!" Black memanggil Red yang telah polos untuk mandi di bawah shower. Begitupun dirinya, yang bagaikan bayi baru lahir.


Sontak Red langsung melangkah dengan anggun ke arah Arjuna, lalu mulai membasuh tubuhnya yang basah tersiram air hangat.


Dirinya yang begitu mendamba, keindahan dari setiap lekuk tubuh istrinya itu, mendadak menelan ludahnya kasar. Pada saat Red membasuh tubuhnya di bawah shower. Pada saat Red menyabuni dirinya sendiri, Black langsung mengambil alih spon mandi tersebut.


"Biar aku saja," kata Black.

__ADS_1


"Biar aku bantu menggosoknya dengan sabun," tawar Black, yang hanya di jawab Red dengan senyum dan anggukan kecil.


"Aih, manis banget kan kalo senyum terus," celetuk Black yang lantas mendapat cubitan dari istrinya itu.


"Kondisikan, tanganmu, Black!" Red langsung menepis jemari Black yang mulai merayap di antara lekuk tubuhnya. Meskipun rasa rindu akan kehangatan tak dapat disangkalnya. Tetapi, ia harus menyelesaikan mandinya dengan cepat.


Black mengabaikan, tepisan berkali-kali dari tangan istrinya itu. Ia tetap membasuh dengan lembut, apalagi di bagian yang menjadi favoritnya. Sesekali memberi pijatan penuh penghayatan pada bagian depan yang menantang.


Penolakan dari Red pun semakin lama semakin lemah, wanita itu mulai terhanyut dengan gelombang panas yang menerpa keduanya. .


Melihat sang istri yang terlihat semakin menggoda, karena telah bersih serta wangi. Black, merapatkan raga itu ke dinding kaca. Memandang wajah basah itu lekat, lalu ia memisahkan jarak diantara mereka, hingga bibir basah mereka saling menyesap kuat.


Menyalurkan rasa rindu yang selama ini menumpuk didalam kalbu. Hingga, rasa itu semakin membuncah dan hampir meledak bagaikan bom waktu.


Kecupan dari Black semakin liar dan mulai menjalar. Beralih kebawah dagu, hingga meninggalkan tanda kepemilikan di leher serta dada bagian atas.


Tak mendapat penolakan membuat Black semakin gencar bergerilya hingga tak ada satu bagian pun tak luput dari sentuhan bibirnya. Black tak lupa memberi tekanan lembut di sana dengan kedua tangannya. Sementara bibirnya kembali menyesap bibir istrinya dengan penuh gairah.


Black langsung membungkus tubuh Red dan menggendong istrinya itu keluar dari kamar mandi. Pria itu membawa Red ke atas peraduan mereka.


Sebab, Black sudah tak sabar untuk menikmati tubuh yang telah lama tidak ia jamah itu.


"Aku merindukanmu, sangat," ucap Black parau tanda pria itu tengah menahan sesuatu. Matanya tak bergeser sedikit pun dari wajah yang di dambakan nya itu. Menciuminya hingga puas, sampai dahaganya terhempaskan.


"Mmh ...." Red tak sengaja mengeluarkan suara merdu yang begitu di tahannya.


"Keluarkan saja, sayang ... aku begitu menyukainya. Desah suaramu sangatlah merdu.


Setelah mengatakannya, Black kembali melabuhkan kecupannya pada ceruk leher yang putih nan mulus itu.


Membuat desah dan lenguhan melengking semakin kencang. Apalagi diiringi dengan pijat-memijat bagian kenyal kesukaannya.


Alunan suara merdu dari Red, telah membuat gairahnya semakin membara. Black sontak meraup bibir yang menggoda itu, begitu manis dan hangat. Hingga, ia tak pernah bosan, dan berakhir menyesapnya dengan rakus.


Red yang sebenarnya sudah terpancing sejak tadi, mulai meladeni permainan suaminya. Sebenarnya ia juga merindukan kehangatan dari Black. Setiap sentuhan pria tampan nan perkasa itu, mampu membuatnya melayang hingga ke langit tertinggi.


Black terlihat merendahkan tubuhnya. Pria itu bertumpu pada salah satu lututnya. Setelahnya, ia memuaskan dirinya bermain di bawah sana karena ia memang sudah sangat merindukan aroma khas pada bagian itu.


"Sshh," desis Red dengan lirih. Tak ayal ia pun memberi remasan pada rambut ikal suaminya. Karena, pria itu secara tak langsung telah memberi sengatan pada setiap sendi tubuhnya.

__ADS_1


Mendapat respon malu tapi mau, membuat Black semakin bersemangat.


Stimulasi semakin dalam maka Red pun memberi akses semakin lebar.


Setelah berhasil membuat Red bergetar hebat, Black mendaratkan kecupannya di atas perut istrinya itu dengan lembut. Lalu beralih pada kening dan kemudian seluruh permukaan wajah wanita yang sangat ia cintai itu.


"Sayang, semoga dia cepat besar sehingga bisa memberi anugerah serta kebahagiaan bagi kehidupan kita. Terimakasih, karena telah memberikan kejutan yang membahagiakan. Aku sangat menyayangi kalian berdua." Black mengatakan kalimat yang menyentuh hati dengan kedua mata yang juga berkaca-kaca.


"Anak Papa tidak boleh menyusahkan Mama ya. Atau, kau akan langsung berhadapan denganku. Karena, Papa sangat mencintai Mama–mu lebih dari apapun," ucap Black lembut sembari memberi kecupan pada perut yang masih rata itu.


Red sontak saja menyusut air matanya karena terharu, oleh kata-kata ungkapan dari hati suaminya itu.


Black kembali memanjakan Red dengan stimulasinya. Hingga melihat istrinya telah siap tempur, Black pun meminta ijin dulu sebelum memposisikan dirinya. Apalagi kali ini, ada calon bayi mereka yang tengah bersemayam di dalam rahim hangat itu.


Cup! Cup! Cup!


Black memberi kecupan berkali-kali pada seluruh area wajah cantik natural Red. Seakan belum puas, meski sedari tadi ia telah ratusan kali melabuhkan ciumannya.


"Sayang, aku ingin menyapa bayi kita. Boleh?" tanya Black dengan suara berat. Sementara, Red yang telah di selimuti gelora hanya bisa mengangguk lemah dengan pandangan berkabut.


"Jangan lupa pengamannya karena kandunganku masih sangat lemah," kata Red memberi peringatan pada suaminya.


Black mengangguk tanda mengerti karena pria itu memang telah di peringati oleh Arnett, jika ****** bisa membuat rahim terpicu untuk kontraksi.


Miliknya tersebut, sudah siap di depan gerbang sarangnya. Ia akan menerobos pertahanan Red secara perlahan, seperti saran yang di katakan oleh dokter kandungan.


"Aku sampai, sayang ...!" pekik Red, pada akhir, permainan panas mereka. Wanita itu mendekap erat raga perkasanya. Pertanda ia telah sampai pada pelepasan pertamanya.


"Ahh!!" Tak lama kemudian, Black pun menyusul. Pria perkasa itu melengking kan tubuhnya, bak serigala yang tengah melolong di bawah purnama.


"Terima kasih, sayang. Aku mencintaimu dengan sangat," kata Black seraya menatap lekat iris pekat istrinya itu.


"Jangan membuatku sedih dan khawatir lagi. Lain kali bicaralah, katakan apapun yang ada di dalam hati serta pikiranmu," ucapnya sembari memberi kecupan dalam di kening istrinya itu.


Tak terasa, bulir kristal bening kembali menyeruak tanpa permisi. Hingga mengalir lumayan deras ke pipinya.


"Hei, kenapa kau sekarang cengeng sekali?"


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2