
Pagi hari yang seharusnya Black pergi bekerja untuk menemui Leon, malah harus melayani dan menuruti permintaan istrinya, Red. Ya, tak ada yang menolak jika untuk satu hal itu, semua pasti akan menurutinya. Ah ya, tapi ini sudah hampir siang.
“Ah, Sayang, terima kasih untuk waktumu,” ucap Red yang masih terbaring di atas ranjang dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
“Ya, Sayang, sudah menjadi kewajibanku sebagai suamimu untuk menuruti apa permintaanmu. Apa lagi untuk hal satu ini,” jawab Black sembari memasang kancing kemejanya.
“Apa kau akan langsung berangkat, Sayang? Tak ingin mandi dulu?”
“Ah, no baby, ini sudah cukup siang, Tuan Leon pasti sudah menungguku saat ini. Aku berangkat ya, Sayang.” Black menghampiri Red yang masih terbaring dan mengecup kening istrinya, lalu beralih mengecup perutnya yang mulai membuncit.
“Aku berangkat ya, Sayang.” Black pun meninggalkan rumah besar tersebut, meninggalkan Red yang baru saja hendak berdiri ke kamar mandi untuk membersihkan badannya. Rasanya terasa lengket di tubuhnya dan itu membuatnya risih jika tak mandi kembali.
***
Di rumah megah Leo, Black datang dengan tergesa-gesa, dan benar apa yang diduga Black pun benar, Leo sudah menunggunya dengan raut wajah yang muram dan masam.
“Dari mana saja kau, Black? Kenapa sampai sesiang ini? Kau tahu ini sudah pukul berapa?” tanya Leon dengan nada kesalnya.
“Maaf, Tuan, tadi saya harus melayani istri saya, Red agak rewel akhir-akhir ini. Maklum, kan sedang hamil muda, Tuan," ucap Black dengan bingung.
"Hem, ya sudah, cepatlah antar aku ke kantor saat ini juga, kita sudah sangat terlambat!"
Black lalu membawa mobilnya melaju meninggalkan rumah mewah tuannya. Leo masih saja menggerutu karena ulah Black. Black hanya diam saja mendengar gerutuan Leo. Ia sedikit membodohkan dirinya sendiri karena menuruti kemauan Red, tetapi ia tak bisa juga menolak kemauan istrinya. Ah, ya sudahlah, semuanya sudah terjadi, resiko baginya jika Leo marah padanya, ini semua karenanya yang tak bisa sat set dalam bekerja.
Sesampainya di kantor, Leo meminta Black untuk menemui kliennya di luar kota. Black yang merasa bersalah hanya menurut saja dari pada ia harus menerima omelan lagi dari sang tuan. Karena bagaimana pun, sekalipun ajudan, harus menuruti keinginan tuannya bukan?
Sebelum berangkat, Black menghubungi Red terlebih dahulu, takut jika istrinya akan bingung dan mencari dirinya yang pergi ke luar kota tanpa pamit.
__ADS_1
"Hallo, Sayang!" sapa Black dari telepon.
'Ya, ada apa, Sayang? Apa Tuan Leo memarahimu pagi ini? Apa yang dia katakan padamu?'
"Ya, dia mengomel dan memarahiku, Sayang. Tapi tak apa, semua bisa ku atasi."
'Ah ya, syukurlah, Sayang. Lalu ada apa kau meneleponku, Black?' tanya Red dari balik telepon.
"Aku hanya ingin memberitahukan padamu, Red, jika hari ini aku akan pergi ke luar kota untuk menemui klien Tuan Leo. Apa kau tak apa-apa jika ku tinggal dahulu malam ini, Sayang?"
'Ya, tak apa-apa, Sayang. Yang penting kau jaga dirimu baik-baik di sana ya,' ujar Red lagi.
"Ya, Sayang, kau tenang saja."
Black pun menutup teleponnya lalu melajukan mobilnya meninggalkan perusahaan Leo, meninggalkan kota dengan mobilnya.
***
Ia meninggalkan tempat dirinya bertemu dengan sang klien untuk menuju hotelnya. Namun, setibanya di tengah jalan, sebuah mobil menghentikan laju mobilnya. Black mengambil pistol yang tersimpan di laci mobilnya, menatap dengan lekat siapa orang yang ada di dalam mobil di depannya.
"Paman Kendrick," bisiknya. Ia tahu, itu adalah pamannya dari kaca mobil dan penerangan yang minim, ia paham betul bagaimana postur tubuh pamannya.
Black lalu memundurkan mobilnya beberapa meter dari tempatnya semula, lalu ia melajukan kembali mobilnya meninggalkan mobil Kendrick. Aksi saling kejar-kejaran mobil pun terjadi. Black melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, mencoba menghindari Kendrick dan teman-temannya.
DOORR
Satu tembakan mengenai kaca mobil bagian belakang Black, nyaris saja mengenai kepalanya jika ia tak bergerak dengan cepat.
__ADS_1
"Sial!" Black pun menembakkan beberapa tembakan pistol ke arah belakang mobil Kendrick hingga ia tak fokus mengemudikan mobilnya yang ternyata sudah salah masuk jalur, ya, ia malah masuk jalur ke jalur hutan. Black terus menembakkan senjata apinya tanpa fokus ke arah mana ia membawa mobilnya.
Hingga akhirnya mobilnya pun berhenti karena menabrak sebuah pohon. Black keluar dengan membawa beberapa pistol yang telah ia isi dengan timah. Kini ia berhadapan dengan Kendrick dan keempat teman-temannya, yang tak lain adalah seorang pembunuh bayaran yang ia sewa untuk menghabisi Black.
Kini nyawa Black terkepung, ia bisa saja tewas begitu saja di sana, tetapi ia tak semudah itu menyerahkan nyawanya. Ia lebih memilih menghadapi kelima manusia brengsek yang hanya beraninya main keroyokan tanpa main adil satu lawan satu.
DOORR DOORR DOORR!
Black menembakkan beberapa kali tembakan ke arah mereka berlima. Satu persatu orang suruhan Black tumbang. Kini hanya Black dan Kendrick yang tersisa. Black menembakkan kembali pistol ke arah Kendrick, tetapi ternyata Kendrick tak sebodoh itu, nyatanya ia lebih hebat dari yang Black kira. Beberapa kali ia berhasil lolos dari tembakan pistol yang Black luncurkan hingga akhirnya timah panas itu pun habis tanpa bisa melumpuhkan Kendrick.
"Kau mau ke mana, Black? Kau tak bisa ke mana-mana sekarang. Kini hanya ada kau dan aku, jika tewas, maka kita harus tewas berdua, Black. Tak ada yang boleh lolos di sini," ujar Kendrick dengan melangkah maju mengunci pergerakan Black.
Black mundur, ia tak bisa berkutik. Sedangkan di tangan Kendrick pistol itu masih ada timah panasnya. Kendrick bisa menembakkan pistol tersebut kapan saja ke arahnya, saat ini, atau beberapa menit kemudian.
Yang Black pikirkan saat ini adalah, bagaimana caranya agar bisa merebut pistol yang ada di tangan Kendrick dan melumpuhkan pria tua itu. Kendrick berjalan ke arah Black, melemparkan sebilah pisau hingga mengenai pohon yang ada di belakang Black.
"Apa yang akan kau lakukan padaku, Paman?"
"Apa? Kau bilang apa? Tentu aku ingin nyawamu, Black," jawab Kendrick dengan sinis.
"Semudah itukah, Paman? Tidak, hoho! Aku akan melumpuhkan Paman terlebih dahulu!" seru Black di tengah hutan yang gelap. Suaranya memantul dan menggema di gelapnya malam. Kini, mati atau tidak, ada di tangan mereka berdua.
"Kau yakin bisa mengalahkanku, Black? Tidak, Black! Aku yang akan menghabisimu terlebih dahulu, hahaha!"
Black menyerang Kendrick secara tiba-tiba dengan merengkuh badannya, mendorongnya, hingga akhirnya berhasil merebut pistol di tangan Kendrick. "Mati kau sekarang, Paman! Kau yang membuatku melakukan ini semua! Sekarang, kau yang tewas, Paman!" ujar Black dengan menodongkan pistol ke arah wajah Kendrick, tetapi apa yang ia lakukan terlambat.
DOORR!
__ADS_1
Satu tembakan Kendrick lancarkan tepat mengenai pinggang Black. "Kau lihat, Black, sekarang kau yang tewas," seringainya sambil tertawa.
...Bersambung. ...