
Suara tembakan dan baku hantam pun terdengar cukup jelas di sana. Kendrick nampaknya kewalahan melawan Leo dan teman-temannya, sedangkan anak buah Kendrick yang lain sudah tumbang tak berdaya.
"Menyerahlah kau, pria tua! Ini upahmu karena kau telah membuat Black terbaring koma!" sentak Leo.
"Apa? Menyerah? Tidak akan, Leo! Ini semua salah Black jika dia koma saat ini, dia terlalu ceroboh, hahaha!" ucap Kendrick dengan tubuh yang sudah lemas di lantai.
BRAAKK
"Masih sempat-sempatnya kau menyombongkan diri ya, Kendrick! Kenapa kau seangkuh ini, hah?!" Leo menginjak tangan Kendrick dengan sebelah kakinya karena sudah terlalu geram.
"Blue! Bawa pria tua sialan ini ke dalam mobil! Kita bawa dia ke penjara markas!" perintah Leo pada Blue. Dengan cepat, Blue dibantu dua orang lelaki lainnya membawa Kendrick yang sudah tak berdaya ke dalam mobil. Tak lupa mereka mengikat tangan Kendrick agar tak berontak. Leo dan kawan-kawannya pergi meninggalkan markas Kendrick dan kembali ke markas Leon The Kings.
Di dalam mobil disepanjang perjalanan Kendrick terus meracau tak jelas, di mana intinya dia akan membalas dendam pada Leo dan Black. Blue yang tak tahan dengan racauannya pun memukul wajah Kendrick dengan sikunya dengan cukup keras hingga membuat mulut Kendrick berdarah dan langsung pingsan tak sadarkan diri.
"Dasar pria tua, bau tanah! Harusnya kau bertobat, bukannya malah banyak bertingkah! Memang benar, kau lebih cocok membusuk di penjara bawah tanah!" ucap Blue dengan emosi.
Sesampainya di markas Leon The Kings, Blue, Leo, dan yang lainnya membawa Kendrick yang mulai sadar. Blue menyeret Kendrick berjalan menuruni anak tangga dan mendorongnya hingga Kendrick terjatuh tersungkur. Pria tua tersebut hanya nyengir kuda menahan sakit tubuhnya yang dilempar begitu saja di atas lantai dingin.
"Dasar anak muda! Beraninya kau mendorongku hingga tersungkur!" bentak Kendrick mencoba berdiri dengan tangan yang masih terikat.
Lalu salah seorang dari mereka menghampiri Kendrick dan menyuruhnya masuk ke dalam salah satu sel. Awalnya Kendrick menolak, tetapi akhirnya masuk juga setelah didorong paksa.
"Beraninya kalian memasukkanku ke dalam penjara, hah! Ku pastikan kalian akan lenyap di tanganku!" teriak Kendrick dengan tangan yang sudah terlepas dari ikatan.
"Kau salah, Kendrick! Kau lah yang akan lenyap di tanganku, hahaha!" sahut Leo dengan tertawa puas. Lalu mereka pun pergi meninggalkan Kendrick sendirian di sel penjara.
"Sial! Beraninya kau, Leo!" gerutu Kendrick.
__ADS_1
***
Di rumah sakit, Red terus memberikan stimulasi dengan menyentuh Black, membisikkan kata-kata, serta menyanyi untuk Black. Itu semua ia lakukan agar Black lekas sadar dan bereaksi meresponnya. Hingga akhirnya usaha Red pun membuahkan hasil, Black mulai bereaksi dengan menggerakkan jari-jarinya.
Dari hari ke hari pun kondisinya mulai membaik, ia sudah bisa dipindah ke ruangan yang lain, ia sudah tak koma lagi. Walaupun belum sadar sepenuhnya, tetapi setidaknya Red bisa bernapas lega.
"Sayang, cepatlah sadar, baby mu ini sudah sangat merindukan daddy nya. Dan yang harus kau tahu sekarang adalah, Tuan Leo ternyata sudah menangkap Kendrick dan sekarang pria tua itu mendekam di penjara bawah tanah markas Leon The Kings. Kau harus bangun, Black, kau harus membalaskan dendammu pada Kendrick itu sendiri, kau dengar aku, kan, Black?" bisik Red di telinga Black.
Red menatap wajah Black untuk beberapa saat, belum ada reaksi yang Black perlihatkan di sana. Red lalu mengelus-elus lengan Black dengan lembut. Ia memeluknya pelan, dengan kepalanya yang berada di dada Black, wanita itu berucap dengan pelan.
"Jika kau tak bangun, Black, maka aku yang akan membalaskan dendam pada pamanmu itu. Aku yang akan melenyapkannya dengan tanganku sendiri. Salah siapa, dia terus mencari masalah dengan kita. Dia terus megusik hidup kita dan sekarang dia menyakitimu hingga nyaris membuatmu tewas," ujar Red.
"Dengar baik-baik, Black, kau harus sadar, atau aku yang akan bertindak sendiri," lanjutnya, ia lalu mengangkat kepalanya ketika ia merasakan sebuah tangan mengusap pelan rambutnya.
"B-Black?" bisik Red, ia hampir terlonjak girang ketika melihat Black mulai membuka matanya dan tangannya mengusap lembut rambutnya.
"Black? Kau sudah sadar? Kau lihat aku, kan? Ya Tuhan, terima kasih, kau telah mendengar setiap doaku untuknya," ujarnya kegirangan. Ia lalu memanggil dokter untuk mengecek kondisi Black.
Red menunggu beberapa saat ketika dokter dan perawat mengecek kondisi Black. "Kondisi pasien saat ini cukup baik, ia sudah sadar sepenuhnya, tetapi saran saya jangan terlalu diberi beban pikiran yang berat ya, Nona. Takut jika kondisinya akan buruk kembali," jelas dokter lalu meninggalkan ruang rawat.
Leo dan Nadia yang menunggu di luar pun masuk untuk melihat kondisi Black. Keduanya nampak ikut bahagia melihat Black yang sudah sadar sepenuhnya.
"Syukurlah, Black, akhirnya kau sadar juga, aku turut bahagia. Kami sudah sangat mengkhawatirkanmu," ucap Leo.
Black menatap hangat orang-orang yang mengelilinginya.
"Terima kasih, Tuan, sudah mengkhawatirkan saya dan terima kasih karena sudah menjaga istri saya," balas Black dengan tersenyum dan mencium pucuk kepala istrinya. Red yang diperlakukan begitu baiknya dengan Black, itu pun hanya tersenyum salah tingkah, ia malu karena di sini ada Leo dan Nadia. Sedangkan Leo dan Nadia hanya tersenyum saja, memakluminya.
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu kami pamit ke hotel dulu ya, kami akan kembali malam nanti. Kami pun perlu waktu untuk menghabiskan waktu berdua," ujar Leo dengan tersenyum ke arah Nadia, sedangkan yang disenyumi hanya tersipu malu.
"Ah ya, baiklah, kami mengerti," jawab Black.
Kini hanya ada mereka berdua, Red menyuapi Black dengan bubur, walaupun awalnya Black menolak, tetapi akhirnya mau juga setelah Red membujuknya. Usai menghabiskan buburnya, Red memberikan obat yang sudah disiapkan.
"Kau tahu, Black, aku sangat takut kehilanganmu. Aku takut jika kau mati saat itu juga. Aku tak akan pernah memaafkanmu jika kau meninggalkanku dan bayi kita," ujar Red dengan memeluk Black, seolah-olah ia tak mau jika harus jauh-jauh lagi dari Black.
Ia yang gengsi sejak dulu mengungkapkan jika ia sangat mencintai Black, akhirnya kini ia pun mengungkapkan perasaannya. Kejadian ini menyadarkan Red, jika ia tak bisa hidup tanpa Black. Apa lagi sebentar lagi akan ada seorang bayi yang lahir di kehidupan mereka, yang pasti akan menambah kebahagiaan pula bagi mereka.
"Benarkah kau takut kehilanganku, Red?" tanya Black, basa-basi.
"Kenapa kau tanya begitu? Apa aku terlihat berbohong? Aku benar-benar mencintaimu, Red, jangan pernah meninggalkanku lagi ya. Mulai saat ini, ke mana pun kau pergi walaupun untuk bertemu klien, aku harus ikut denganmu, kau harus membawaku," kekeh Red.
"Hem, aku tahu, kau tak berbohong, tetapi sebelumnya bahkan kau tak pernah mengatakan ini semua, hehe!" Mendengar itu, Red mencubit lengan suaminya.
"Aw! Sakit, Sayang!" ujar Black mengaduh.
"Ya habisnya kau itu aneh, aku dingin seperti dulu kau terus menggodaku, sekarang aku yang terang-terangan dengan perasaanku, kau malah tak percaya!"
Black yang melihat istrinya ngambek itu pun memeluknya. "Ya, Sayang, kau tenang saja, aku akan selalu ada untukmu, untuk baby kita."
Sore yang indah bagi mereka, sore yang bahagia untuk Red, bisa kembali merasakan pelukan dari Black, bisa kembali melihat tawa dari Black.
"Jangan lagi membuatku takut," bisik Black dan mereka berdua saling menatap dalam. Hingga, Red memajukan wajahnya untuk mengecup bibir suaminya yang agak kering itu.
...Bersambung. ...
__ADS_1