Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )

Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )
Bab#34. Red & Black.


__ADS_3

Dengan sedikit tenaga yang tersisa Paulina meneriaki kedua pasangan yang saling menumpahkan rindu.


Red, menaikkan salah satu sudut bibirnya karena ia memiliki ide untuk membuat Paulina semakin sadar.


Red mengalungkan tangannya ke leher Black dengan tatapan yang menggoda. Sontak, pria yang masih setia merangkul pinggangnya ini terlihat menelan ludahnya kasar. "Sayang, apa aku ini kurang seksi dan lebih mirip laki-laki sehingga tidak layak untuk menjadi pendampingmu?" tanya Red dengan nada yang manja. Hal yang belum pernah sekalipun dilakukan olehnya di depan siapapun.


Black saja sontak kaget dan tak lama ia mengerti apa yang dimaksud oleh istrinya saat ini. Pria ini pun memutuskan untuk mengikuti permainan.


"Tentu saja kau sangat seksi sayang. Hanya aku yang dapat melihat kecantikannya yang sebenarnya. Aku nyatanya sangat beruntung dapat memilikimu. Dimana bahkan masa laluku sangatlah suram," kata Black sesuai apa yang ia rasakan dalam hatinya dan kejujuran itu sampai kepada sang istri.


Red hanya bisa tersenyum meskipun hatinya sangat tersentuh.


"Tidak ada wanita manapun yang ku ingin mendampingiku, entah itu dari masa lalu maupun masa yang akan datang," tambah Black lagi.


"Kau itu pria kotor Zo, dan kau hanya pantas bersanding denganku saja!" teriak Paulina sarkas yang terganggu dengan kemesraan pasangan di hadapannya yang ia tau sengaja untuk menyindirnya.


"Diam kau sialan! Bagaimana aku bisa lupakan kehadiranmu!" kesal Black, langsung menatap Paulina dengan marah. Di kemudian berbalik dengan cepat dari hadapan Red, bahkan kini dirinya telah berjongkok di depan wanita yang wajahnya telah bersimbah darah itu.


"Zo, Kasihanilah aku. Tolong aku, Zo. Kau lihatlah wajahku ini, semua akibat perbuatan istrimu yang gila, dia menyiksaku!" adu Paulina sambil terisak. Satu tangannya terulur untuk menggenggam pergelangan Black.


PLAK!!


Sepasang mata Paulina mendelik ketika mendapat tepisan keras dari pria maskulin di hadapannya.


SRETT!


"Kau ini benar-benar cari mati, hah!" hardik Black dengan kasar, kemudian menarik rambut panjang Paulina yang berwarna merah hingga kepala wanita yang nekat ini mendongak. Darah yang bercampur dengan air mata telah membuat wajahnya begitu berantakan.

__ADS_1


Tak ada lagi kesan cantik dan menggoda seperti pertama kali Black melihatnya dulu. Kini dia bahkan menatap wanita masa lalunya ini dengan penuh kebencian serta jijik.


"Lepaskan aku Zo, ini sakit! Bagaimana bisa kau memperlakukan aku seperti ini!" Paulina merintih, satu tangannya memegangi tangan Zo yang tengah menarik rambutnya.


"Kalian ini memang pasangan gila! Kalian berdua sungguh menyakitiku! Aku tidak terima ini semua!" jerit Paulina tertahan, karena tenggorokannya mulai sakit, dan juga tenaganya seakan habis.


Raganya gemetar, tiada lagi daya serta keberanian untuk sekedar melawan. Aura bengis dari wajah Black membuat jantungnya seakan diremas.


"Kau berniat mencelakai istriku dan juga sempat mengacau pernikahan kami. Aku tidak akan pernah mengampunimu." Black berkata dengan nada dingin. Tatapannya berkilat penuh amarah. Tiba-tiba tangannya terulur ke tubuh bagian depan Paulina.


Red yang menyaksikan perbuatan Black pun menahan napasnya.


SREK!


"Jangan!" teriak Paulina dengan sisa-sisa tenaganya. Ketika Black merobek pakaian bagian atas tubuhnya.


"Udara di tempat ini jika malam sangatlah dingin, dengan keadaannya yang begini, kemungkinan kecil dia akan bertahan sampai besok pagi." Black berkata pada istrinya itu sambil menatap ke sembarang arah. Kedua mata tajamnya berkilat penuh amarah.


Karena ia telah berjanji takkan mengotori tangannya dengan darah lawannya lagi maka Black tidak akan menghabisi musuhnya dengan menggunakan kedua tangannya secara langsung.


Kali ini ia akan membiarkan alam yang bekerja. Jika bukan udara maka para binatang hutan pun juga dapat membuat wanita itu meregang nyawa.


"Kau kejam Zo! Kau bahkan telah membuatku ditendang dari keluarga crazy rich Turquoise!" teriak Paulina yang menyebut klan dari sang ibu yang tak lain adalah istri kedua dari paman Black sendiri.


"Kau yang berbuat maka rasakanlah akibat dari perbuatanmu. Sebaiknya kau cari tau dulu pada saat hendak menghancurkan targetmu. Alih-alih kau yang akan hancur binasa bukan aku!" ujar Black lagi penuh penekanan serta tatapan mata mengintimidasi.


"Sudah jangan melihat dia terus! Tadi itu hanya akal-akalanmu saja kan untuk melihat tubuhnya!" protes Red dengan nada marah yang masih ia tahan.

__ADS_1


"Sudahlah sayang. Kamu tidak perlu cemburu lebih baik sekarang kita pulang." Black pun meraih tangan Red untuk kemudian menarik istrinya itu masuk ke dalam mobil.


" Hei! Aku tidak sedang cemburu ya! Jangan berpikiran macam-macam!" bantah Red yang justru semakin menunjukkan perasaannya.


"Diamlah atau aku bungkam dengan ciuman panas!" ancam Black yang sontak membuat Red terdiam.


Black melajukan kendaraan sport beroda empat itu dengan cepat, agar mereka berdua segera kembali ke mansion.


Mereka meninggalkan Paulina begitu saja tergeletak lemah di pinggiran hutan yang sepi. Wanita itu hanya bisa menangis terisak, meratapi keadaannya saat ini.


Hendak menghampiri mobilnya pun dia tidak sanggup. Satu lengannya patah sementara wajahnya sudah kebas. Seluruh sendinya seakan lemas tak bertenaga, kedua tungkai kakinya masih terus bergetar hebat hingga saat ini.


Bagaimanapun dirinya hanyalah seorang nona muda yang mentalnya hanya sebatas itu. Mendapat gertakan serta ancaman sedikit saja jantungnya sudah kembang kempis. Apalagi mendapat kekerasan seperti ini.


Salahnya yang sejak awal tidak mencari tahu dulu siapa Zo saat ini dan juga siapa Red yang sebenarnya.


Paulina yang hanya memiliki pengalaman melakukan kekerasan ketika mengerjai teman sekolahnya dulu serta anak buah di kantornya


Wanita ini terbiasa mencari lawan yang lebih lemah darinya dan pada saat ini ia terkena getahnya karena telah salah sangka.


Baru pertama kali ini dirinya di pertemukan dengan pasangan bengis dan kejam. Serta pertama kali mendapatkan kekerasan dan perlakuan sadis dalam hidupnya.


Selama ini dirinya hanya tau menyakiti orang lain dan bahagia karena perbuatannya itu. Ia tidak pernah berpikir jika apa yang pernah dilakukannya terhadap orang lain akan menimpanya juga suatu saat nanti.


"Apakah aku akan mati di hutan ini? Dengan keadaan mengenaskan setengah telanjang begini. Aku seperti mengingat sesuatu, ya otak ini telah kembali mengingatnya sekarang. Beberapa tahun lalu, kala itu bersama beberapa kawan sekolah pernah memerintahkan kepada mereka agar membuang salah satu murid penerima beasiswa itu ke pinggiran rawa yang penuh semak belukar serta lintah. Tentunya setelah kami puas menyiksa juga melecehkannya," gumam Paulina yang mulai di hinggapi sesal tapi percuma takkan ada orang yang lewat dan akan menolongnya.


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2