
"Beraninya kau berteriak padaku!" Pria berwajah bengis itulah pun menarik rambut Millie, kemudian menyeretnya ke dalam sebuah ruangan.
"Kendrick! Lepaskan aku, ku mohon!" Sebuah lengkingan menyayat hati terdengar dari dalam sebuah kamar. Karena ruangan tersebut tidaklah kedap suara. Akan tetapi tidak menjadi masalah karena bangunan tersebut terletak jauh dari pemukiman.
"Aku sangat suka mendengar jeritanmu sayang. Ayo, keluarkan lagi suara indahmu itu." Kendrick melebarkan senyumnya hingga garis bibirnya itu hampir sampai ke telinga.
Ia selalu bersemangat dan bahagia setelah mendengar jerit kesakitan dari wanita yang menjadi pemuas napsu ketimbang istrinya ini.
Meskipun status mereka telah menikah, akan tetapi sang Kendrick dengan wajah tampan tapi bengis itu. Menempatkan sang istri sebagai boneka yang akan ia mainkan sampai dirinya puas.
"Max! Hentikan! Hiks ... ini sangat sakit," Dalam tangis wanita itu memohon. Air mata telah bercucuran membanjiri wajah cantiknya. Namun, pria bertubuh berotot yang menguasainya itu tak juga menghentikan kegiatannya.
"Ini akibatnya jika kau melawan padaku. Tak da satupun yang bisa mendikte ku kau tau, Millie sayang. Aah, ayo ... menjeritlah dengan lebih kencang. Wanitaku yang seksi." Kendrick terus saja memompa istrinya itu dari belakang tubuhnya. Meskipun jerit tangis serta permohonan terus diteriakkan oleh Millie.
Wanita itu hanya bisa menerima sakit, perih ketika bagian alat vitalnya terasa robek dan luka. Ia menggigit bibirnya menahan sakit hingga mengeluarkan darah.
Kuku-kuku cantiknya sudah patah dan sebagian menancap di atas meja berbahan kayu pinus tersebut.
Millie mendelik dan memejamkan matanya bergantian. Merasakan hujaman dari suaminya yang kasar dan gila. Masalahnya suaminya itu menyetubuhinya di tempat yang salah.
Dengan ukuran senjata miliknya yang di atas rata-rata. Bahkan jika benda itu dimasukkan ke dalam bagian yang benar saja akan membuat Millie nyeri sesudahnya. Kini, pria itu justru memasukkannya ke dalam lubang yang bukan seharusnya.
Cairan berbau anyir merembes di sela-sela kaki jenjang nan mulus milik Millie. Wanita ini meskipun tak lagi muda akan tetapi seluruh anggota tubuhnya begitu terawat.
Tak lama kemudian Kendrick mengerang kencang seiring dengan ambruknya raga sang istri. Wanita cantik itu pingsan dalam keadaan mengenaskan. Setelah kekerasan dan perlakuan kejam dari suaminya sendiri.
"Rasakan kau! Hahaha!" Kendrick tanpa hati justru tergelak di belakang raga lemah Millie.
"Ternyata rasanya nikmat juga. Aku jadi teringat akan malam pertama kita. Dimana kala itu aku merobek selaput perawanmu hingga kau pingsan. Dan kini terjadi lagi pada saat aku merobek lubang pembuanganmu, dimana kupikir rasanya tidak akan seenak ini," bisik Kendrick di telinga Millie. Entah wanita itu dengar atau tidak, Ken sungguh tidak peduli.
Setelah menyiksa istrinya, Kendrick membersihkan diri lalu keluar dari kamar itu.
__ADS_1
"Cari mereka sampai ketemu dengan mengerahkan orang-orang kita lebih banyak. Karena nampaknya keponakanku saat ini bukanlah orang yang sembarangan!" titah Kendrick Gouvarte pada bawahannya.
Pria berkaca mata hitam dengan ikat pinggang berkepala ular kobra itu sontak membungkukkan kepalanya sebelum ia berlalu cepat. Pertanda ia akan segera menjalankan perintah dari tuannya.
Pria berkacamata hitam langsung berteriak memanggil para anak buahnya yang ahli berkendara motor itu.
"Kita akan bersenang-senang malam ini!"
Mereka semua masuk ke dalam mobil kontainer besar bersama dengan kendaraan mereka.
Sementara itu Black sama sekali tidak tau hal apa yang saat ini tengah mengancam hidupnya.
Ketika Leo dan Nadia telah berbahagia dan sedikit tenang menikmati hidup serta keluarga kecil mereka.
Berbanding terbalik dengan keadaan yang tengah di rasakan oleh Black. Pasalnya pria berambut gondrong itu, terlihat kalut dan khawatir. Karena Black tau ada yang tengah mengintainya belakangan ini.
"Aku tau paman tidak akan diam saja pada saat dia mengetahui keadaan putri tirinya itu. Mungkin saja Paulina sudah mati," ucap Black pada suatu sore pada Red istrinya.
"Apa yang dialami Paulina adalah karena kesalahannya sendiri. Kita akan menghadapi masalah ini sama-sama. Jika memang harus kembali berperang maka aku pun siap," kata Red.
"Tuan pasti terbawa ya. Karena pembatalan kontrak kerja sama itu kan?" tanya Red memastikan. Black pun mengangguk membenarkan analisa istrinya itu.
_________
Sudah beberapa pekan belakangan ini Black tidak mendapati istrinya datang bulan. Akan tetapi hal yang menjadi kekhawatirannya adalah, Red justru sering kali mengalami keram pada perutnya.
Bahkan, ketika keram itu datang berdiri pun Red tidak akan bisa. Suami mana yang kuat melihat wajah istrinya yang meringis hampir disepanjang malam.
"Sayang, apa bisa aku tinggal ke kantor? Akan ada rapat menghadapi serangan cyber. Tentu aku dan Blue akan ada di sana," tanya Black seraya menyisir rambut Red yang masih sedikit lembab.
Mereka baru saja mandi lagi bersama setelah apa yang mereka lakukan semalam.
__ADS_1
"Pergilah. Lagipula saat ini aku baik-baik saja," jawab Red seraya berbalik untuk memandangi wajah tampan suaminya ini.
Baginya setiap hari ketampanan dari Black naik satu tingkat. Apalagi ketika raut wajahnya sedang serius menyisir rambut panjangnya seperti ini.
"Baiklah aku akan pergi. Setelah selesai semuanya, akan kuusahakan untuk cepat pulang," janji Black yang entah kenapa akhir-akhir ini merasa selalu khawatir jika jauh dari istrinya.
Cup!
Ciuman singkat mendarat di bibir Black.
"Pergilah. Aku ini bukan wanita biasa kau tau kan. Aku dapat menghadapi semuanya meski tanpa kau di sisiku," kata Red berusaha membuat tenang batin suaminya.
Walaupun ia juga menyadari bahwa ada yang aneh dalam dirinya akhir-akhir ini.
"Ya, kau memang lain dari yang lain. Bahkan dirimu takkan tergantikan oleh apapun," kata Black lagi. Sehingga mencipta senyum lebar di wajah istri cantiknya itu.
Red juga belakangan ini sangat suka kata-kata manis serta rayuan gombal yang keluar dari bibir sensual Black.
Red bahkan menghambur kedalam pelukan suaminya. Menghirup dalam aroma tubuh Black sebelum pria itu berangkat kerja dan meninggalkannya di mansion.
"Sudah sana pergilah," usir Red dengan senyum manisnya. Dimana raut wajah istrinya itu justru membuat Black semakin berat untuk meninggalkannya.
Black menarik raga Red untuk kemudian melabuhkan ciuman dalam pada bibir yang selalu menggodanya itu.
"Kau ini, menyuruhku pergi tapi memperlakukanku sehangat ini," ucap Black setelah dirinya melepas lumataannya dari bibir tipis nan seksi di hadapannya ini.
"Kan emang harus begitu, istri itu harus mengiringi kepergian suaminya dengan senyum, biar makin semangat kerjanya," jelas Red yang kemudian di tanggapi dengan gelak tawa kecil dari Black.
Istrinya ini selalu saja memiliki jawaban dari setiap argumennya serta membuatnya kagum. Karena Red begitu pandai menempati dirinya.
Setelah Black pergi, Red langsung memegangi dadanya.
__ADS_1
"Kenapa aku jadi mau nangis tiba-tiba?'
...Bersambung...