Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )

Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )
Bab#9. Red & Black.


__ADS_3

"Aku akan berangkat ke luar kota menemani tuan Leo. Jadi, apa salahnya jika aku meminta bekal padamu sedikit saja," dalih Black.


Black terlihat berkali-kali merajuk untuk merayu calon istrinya itu, ketika ia akan pamit untuk ke luar kota selama beberapa hari. Ia akan mengawal Leo yang hendak meninjau langsung projek peluasan lahan pada area pemukiman penduduk di sana.


Karena memang perusahaan Leo yang telah memenangkan tender tersebut. Juga, karena perusahan yang menjadi partner adalah orang yang sangat Black kenal.


Red, hanya bisa menghela napasnya. Pria ini selalu bisa meluluhkan hatinya dengan tatapan matanya itu. Lagipula, Red tau jika Black akhir-akhir ini tengah memikirkan sesuatu yang berat.


"Ingat! Sebentar dan sedikit saja!" kecam Red yang mana hal itu membuat Black tersebut semringah.


Black mendekat dan langsung meletakkan kedua telapak tangannya yang besar di kedua pipi Red. Kedua manik mata mereka bertatapan.


"Kau tau, orang-orang yang hendak mencelakai kita, maksdnya aku. Aku adalah sasaran mereka yang sebenarnya. Mereka adalah sekumpulan orang yang tak pantas untuk kusebut sebagai saudara. Aku menjauh demi menghindari hal buruk yang mungkin akan terjadi jika aku tetap berada di sana. Tetapi, ternyata kepergianku saja tak cukup bagi mereka yang serakah," ungkap Black jujur.


"Apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengan orang yang sudah mengirim penyerang untuk menghabisimu?" tanya Red, yang membiarkan memainkan ibu jari pada pipinya.


"Aku, belum memikirkannya. Satu hal yang pasti, aku tidak takut sama sekali dengannya," jawab Black.


"Pergilah. Tugas kita berdua sama-sama penting. Kau menjaga tuan dan aku menjaga nyonya yang sewaktu-waktu bisa saja melahirkan. Aku bahkan ikut cemas jika memikirkan kemungkinan ini. Sementara itu, pernikahan kita--"

__ADS_1


"Tinggal dua pekan lagi," sambung Black dengan senyum tercipta di wajahnya.


Ia menyatukan kening keduanya dengan mata yang terpejam.


"Sudah sana! Kapan jalannya kalau begini terus." Red mendorong wajah Black yang sejak tadi masih asik menggosokkan hidung pada pipinya.


"Sebentar lagi, biarkan aku begini. Biar wangi tubuhmu menempel di seluruh tubuhku," ucap Black. Pria itu justru mengencangkan rangkulan pada calon istrinya tersebut.


"Astaga, apa kau ingin pengawal lain melihat kita!" gemas Red. Walaupun sejujurnya ia pun tak ingin pria ini melepaskan pelukannya.


Nyatanya Red pun masih betah berlama-lama merasakan aroma Wood dari pria menyebalkan yang juga ia sayang.


"Bawa saja parfumku atau sabun cair yang biasa aku pakai mandi. Nanti kan bisa kau gunakan untuk di sana," saran Red.


Karena biasanya mereka berdua akan melaksanakan misi bersama baru kali ini mereka terpisah karena keadaan nyonya Nadia juga harus di pantau dan hanya Red yang Leo percaya.


"Kenapa masih murung? Kau sudah mendapatkannya?" cecar Red dengan senyum yang ia tahan. Entah kenapa lucu sekali raut wajah pria di hadapannya ini.


"Ciumannya kurang," jawab Black jujur, maka pecahlah tawa Red.

__ADS_1


"Hih, kau ini. Kenapa bisa begitu polos mengucapkannya," kata Red tak habis pikir. Kenapa si algojo ini yang merupakan petarung sejati bisa begitu menggemaskan ketika merengek.


"Aku jujur Red. Berat banget hati aku pisah sama kamu, meskipun cuma tiga hari," rengek Black lagi.


"Diamlah, kau ini memalukan," tukas Red seraya mendekatkan wajahnya cepat untuk menyambar bibir Black yang terus mengoceh itu.


Sontak Black pun terkesiap akan perlakuan berani calon istrinya itu yang mendadak itu. Melihat bagaimana cara seorang Red dalam membungkam kecerewetan darinya.


"Ingat ciuman ini. Hanya sama kamu dan untuk kamu. Jangan macam-macam di sana. Ingat pernikahan kita dan hati yang selalu merindu dan akan selalu menunggu. Hati dan ragaku akan menjadi milikmu selamanya. Jadi, jangan khawatir. Berangkatlah!" ucap Red setelah dirinya melepaskan tautan bibir nan mesra keduanya.


"Aaa ... aku jadi makin berat buat ninggalin kamu. Apa kita gak bisa nikah aja dulu gitu ya baru deh pergi," ucap Black asal dan hal itu pun menyebabkan pukulan manja mendarat di bahunya.


______________


"Ternyata perusahaan yang menjalin kerja sama dengan kita adalah pria yang memperkerjakan Lorenzo," terang Cobalt pada Olive istrinya.


"Apa kau sudah menyiapkan rencana untuk keponakanmu itu?" tanya olive dengan seringai jahatnya.


"Tentu saja. Anak sialan itu nyatanya semakin hebat dan tentu saja dia adalah ancaman untuk kita. Lorenzo juga telah menghabisi anak buahku yang cukup hebat itu. Mungkin aku akan merekayasa kecelakaan untuknya," jelas Cobalt.

__ADS_1


"Aku punya hal yang lebih seru lagi," bisik Olive di telinga suaminya itu.


...Bersambung...


__ADS_2