Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )

Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )
Bab#26. Red & Black.


__ADS_3

"Cepat selamatkan istri saya! Dia sudah pendarahan!" teriak Leo, setelah mereka sampai di rumah sakit dengan napasnya yang tersengal-sengal.


"Tenanglah,Tuan. Kami akan berusaha menyelamatkan keduanya." ucap perawat tersebut, sembari mendorong ranjang pasien.


"Sayang, bertahanlah," bisiknya di samping kepala Nadia.


"Jangan tinggalkan aku," pinta Nadia yang mulai merasa takut.


"Aku akan terus menemanimu, sayang. Kau tenang saja, karena tidak ada yang bisa memisahkan mu dariku." Leo berkata sembari menggenggam tangan dingin Nadia.


"Tuan, kami akan membawa Nyonya ke dalam. Mohon tunggu di sini," kata perawat tersebut yang langsung mendapat bentakan dari Leo.


"Tidak bisa! Aku harus ikut kemana pun kalian membawa istriku! Jangan berani memisahkan aku dengannya!" marah Leo, bahkan ia berteriak kencang dengan suara baritonnya itu.


Bagaimana bisa ia di suruh menunggu di luar sementara istrinya di bawa kedalam. Bahkan ia sempat melihat Nadia meneteskan air matanya tadi. Karena Leo tau jika istrinya itu sangat menginginkan kehadiran dirinya.


"Tapi, Tuan. Maksud kami adalah--"


"Panggil, dokter Arnett sekarang! Atau ku cabut investasi ku di rumah sakit ini!" bentak Leo lagi hingga, membuat sang perawat gemetaran dan pucat pasi.


Kasian anak orang Leo, di bentak-bentak terus.😌


"Tuan Leo!" Panggil seorang dokter wanita dari dalam ruangan tersebut. Dokter cantik itu bahkan berlari, menghampiri pasiennya.


"Masuklah!" Dokter Arnett memerintahkan para perawat itu membawa Nadia masuk, lalu ia berlalu diikuti oleh Leo di belakangnya.


"Maaf, mereka hanya perawat magang. Kami belum sempat mengadakan briefing tentang kedatangan mu. Ku pikir, paling cepat dua minggu ke depan barulah Nadia akan melahirkan. Ternyata, semua di luar dugaan dan prediksi. Mungkin, anakmu sudah sangat merindukan kalian." Dokter SpOG itu berkata, sambil sesekali tersenyum, ia menoleh sebentar melihat wajah kecut bin masam di sebelahnya.


"Sayang, bertahan ya. Sebentar lagi baby twins kita akan lahir dan semua rasa sakit ini akan hilang" ucap Leo lembut. Seraya merapikan anak rambut Nadia yang berantakan ke depan wajahnya.


"Kau juga jangan berisik, dan marah-marah terus. Aku tidak apa-apa ... aku sangat menikmati momen ini, asalkan ada kau di sisiku" ucap Nadia pelan, memperingati suaminya yang begitu paranoid.


"Katakan padaku, apa yang kau rasakan. Berbagilah sakit itu denganku. Jika saja bisa, biarlah aku saja yang merasakannya. Jangan dirimu, aku tidak kuat melihatmu menahan sakit sendirian." Leo mengutarakan isi hatinya sembari menatap wajah sendu yang semakin pucat itu. Keringat yang barusan kering, nampak sudah mulai bercucuran lagi.

__ADS_1


Kedua mata istrinya itu kembali terpejam dengan kedua alis yang menukik tajam. Hingga, sebuah geraman kecil terdengar diiringi dengan tarikan napas yang panjang.


"Sayang, katakan mana yang sakit. Bagaimana rasanya, aku juga ingin merasakannya untuk meringankan bebanmu." Leo hampir menangis mengatakannya.


Bukan karena kuku Nadia yang menancap pada lengannya, akan tetapi karena ekspresi istrinya, yang ia tahu bahwa pada saat ini sedang menahan rasa sakit luar biasa.


"Rasanya semakin sakit. Sepertinya ... seluruh tulangku patah bersamaan. Dan ... Setiap rasa sakit itu datang, aku ... seperti ingin berteriak sekencangnya. Aku juga ingin mengejan dengan kuat," ucap Nadia terbata, disertai isakan kecil.


Akhirnya, pertahanannya runtuh juga. Ia tak bisa lagi menyimpan rasa sakit itu sendirian. Ia mengungkap semuanya ketika kontraksi itu berangsur pergi.


Tapi, tak lama kemudian. Air mata dan keringat kembali bercampur baur di wajahnya. Wanita itu menarik napas dalam dan menghembuskannya berulang kali.


Tapi, tetap saja geraman serta rintihan dari mulutnya tak mampu ia tahan. Cengkeramannya semakin kuat dengan kepala yang tak bisa diam menggeleng kesana dan kemari. Meskipun kedua mata Nadia terpejam.


Hal itu tentu saja membuat Leo merasakan takut juga rasa tak tega yang teramat sangat.


Leo kembali mengecup kening Nadia dalam, demi menyalurkan kekuatan tak kasat mata. Pada saat raga istrinya itu kembali luruh karena lemas. Jeda dari kontraksinya semakin dekat. Membuat Nadia benar-benar lelah dan kehabisan napas.


"Sayang sampai kapan aku harus melihat perjuanganmu ini? Ingin rasanya aku mengambil alih rasa sakit itu," batin Leo. Sekuat tenaga ia menahan diri agar tidak ikut menangis. Bagaimanapun ia harus tetap tenang untuk dapat memberi semangat kepada Nadia.


Salah satu perawat mengatakan bahwa tekanan darah Nadia sangat rendah, sementara detak jantung dari kedua janin juga lemah. Nadia juga cukup banyak mengeluarkan darah.


"Apa yang terjadi dok? Kenapa wajah Nadia semakin pucat!" seru Leo panik.


Sebagai tenaga medis, nyatanya Arnetta tetap harus tenang, apapun masalah yang terjadi dengan pasien. Karena, ketenangan pikiran dan tingkah lakunya, berakibat pada tindakan yang akan ia ambil nantinya.


"Anda tenanglah karena kami akan melakukan penanganan yang terbaik untuk istri anda," jawab Arnetta berusaha menenangkan pasien.


"Apa yang terjadi sebenarnya?" tanya Leo dengan wajah bingungnya. Perasaannya sungguh kalut saat ini. Belum lagi, ketika ia melihat paras pucat dan lemah dari istrinya itu.


Nadia nampak masih merintih menahan sakit yang luar biasa. Kini, ritme kontraksinya datang dua menit sekali. Nampak Nadia sudah tidak mampu lagi menjawab pertanyaannya.


"Sayang, operasi saja ya. Aku tidak tega melihatmu begini." Leo, meletakkan telapak tangan Nadia ke pipinya. Air matanya pun luruh juga, karena ia tak kuasa melihat sang istri tersiksa hanya demi melahirkan buah cinta mereka.

__ADS_1


"Aku ... masih kuat ... sayang," jawab Nadia lemah dan terbata-bata. Entah kenapa, tiba-tiba napasnya terasa sesak.


"Dokter! Hentikan proses menyakitkan ini! Ambil jalur operasi saja!" teriak Leo yang sudah sangat panik sekali.


"Tuan, anda tenanglah dulu." Sang dokter pun menahan komentar dari Leo dengan telapak tangannya yang diangkat ke atas.


"Nyonya, dengarkan saya. Anda tidak bisa bersikeras untuk melahirkan secara normal. Kedua bayimu, sudah lemah karena kekurangan oksigen. Anda juga harus transfusi darah karena hb sangat rendah. Kami, harus mengeluarkan mereka, sebelum keduanya keracunan ketuban yang sudah bercampur dengan feses bayi itu sendiri." Jelas sang dokter perlahan, demi memberikan pengertian pada pasiennya ini .


"Tetapi, aku sudah berjuang sejauh ini. Aku yakin sebentar lagi, ergh! Aku ingin pup!" Nadia pun mengeram di sela ucapannya.


"Tidak, Nyonya. Anda jangan mengejan dulu. Ikuti saya, untuk tarik napas ... lalu hembuskan perlahan-lahan." Dokter Arnett mengarahkan pasiennya, agar tidak mengejan sebelum pembukaan sempurna. Apalagi, Nadia baru pembukaan lima, sementara keadaan jantung ibu dan bayi juga melemah.


"Leo, jangan biarkan mereka membawaku keruang operasi ku mohon," ucap Nadia merengek dengan tangisannya.


"Sayang, ini semua demi kebaikan kalian. Aku--" Leo tidak kuasa meneruskan kata-katanya. Hatinya bingung dan di lema.


"Tuan, ikut saya!" Ajak dokter tersebut.


"Maaf Tuan, kami menemukan sedikit masalah pada jaringan di rahimnya. Hanya masalah kecil, namun keadaan air ketuban yang hampir kering akan sangat beresiko. Pertama pada kedua bayi, mereka jika terlalu lama di dalam bisa saja menelan kotorannya sendiri yang akan berakibat buruk pada paru-paru dan juga perkembangan otaknya. Kedua, jaringan pada rahim istri anda bisa saja robek atau luka. Sekali lagi, pilihan ada di tangan kalian. Satu, yang saya tekankan pada anda bahwa jika nyonya bersikeras ingin melahirkan secara normal maka akan sangat beresiko, meski perkiraan kami memang belum tentu sepenuhnya benar." Jelas dokter Arnett detil.


"Lakukan apa yang terbaik. Siapkan operasinya sekarang juga. Aku, tidak akan mengambil resiko apapun untuk keduanya." Leo pun menyetujui anjuran dari dokter Arnett.


"Tapi aku tidak mau operasi! Bayiku sebentar lagi akan lahir, percayalah! Aku dapat merasakannya!" jerit Nadia ketika beberapa perawat ingin memberikannya bius epidural, yang di suntikkan melalui tulang punggung. Rasanya pasti sakit sekali.


"Sayang, ku mohon menurutlah. Ini semua demi kebaikan kalian bertiga," bujuk Leo.


Nadia pun memejamkan matanya pasrah.


Ia pun sangat ingin baby twins selamat.


Sementara di luar ruangan, Black dan Red saling menggenggam tangan.


Keduanya berdoa demi kelancaran sang nyonya dalam melahirkan.

__ADS_1


"Apakah suatu saat nanti aku akan berada di posisi Tuan Leo?" batin Black gamang.


...Bersambung...


__ADS_2