Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )

Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )
Bab#27. Red & Black.


__ADS_3

"Black. Apakah nyonya Nadia akan baik-baik saja?" tanya Red pada pria yang terus menggenggam tangannya erat. Seakan mereka berdua tengah menyalurkan rasa khawatir kita kasih sayang kepada sang nyonya saat ini.


"Aku tidak tahu sayang. Tapi, Aku berharap nyonya dan kedua bayinya baik-baik saja. Karena, aku tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi dengan Tuan jika terjadi sesuatu yang buruk di antara mereka bertiga," jawab Black menatap wajah Red disampingnya.


"Tuan pasti akan sangat sedih dan hancur. Aku juga berharap mereka semua baik-baik saja. Perutku sampai keram memikirkan keadaan nyonya," ucap Red.


"Kalian, Kaum Wanita itu sangat istimewa. Kalian begitu hebat dengan segala perjuangan dan melewati rasa sakit," puji Black penuh dengan kekaguman. Seketika pria ini teringat akan sosok mendiang sang ibu.


Hal itu membuat air mata menetes perlahan dari wajah, Black.


"Black. Nyonya pasti baik-baik saja," kata Red seraya memeluk raga suaminya ini. Tanpa ia tau bahwa kini pria itu tengah merindukan sosok ibu.


Kembali ke ruang bersalin.


"Selamatkan anakku ...," ucap Nadia lirih dan lemah.


"Kami akan berusaha untuk menyelamatkan karya mereka. Tetaplah tenangkan hati serta berfikir positif," kata sang dokter SpOG tersebut menenangkan Nadia.


"Segera persiapkan semuanya. Kita lakukan pembedahan segera!" titah Arnett pada tim medis.


Sungguh pengorbanan seorang wanita yang akan menjadi ibu itu luar biasa. Perjalanan panjang dalam mengandung sang buah hati tercinta, masih di uji dengan proses melahirkan yang menguras keringat serta darah.


Apapun jalannya, semua itu membuat nasib sang ibu bagaikan berada di ujung tanduk.

__ADS_1


Tak ada yang tau, tak ada yang bisa memprediksi. Dokter bahkan ahli sekalipun. Karena komplikasi terhadap proses kelahiran pasti akan terjadi. Baik secara normal maupun cesar.


Tak ada satupun alat yang mampu mendeteksi, kerusakan pada salah satu jaringan alat reproduksi wanita yang sangat rentan itu.


Wahai para laki-laki, masihkah kau menganggap bahwa wanita adalah makhluk lemah? Ketika dirinya telah mampu menanggung kesakitan dan kelelahan hingga nyawa yang menjadi taruhannya.


Masihkah kalian tega, menyakiti hati bahkan fisik mereka. Para wanita, yang telah bersusah payah dan rela berkorban, demi melahirkan keturunanmu di muka bumi. Agar, kau mampu berjalan di atasnya dengan bangga dan percaya diri.


Proses operasi pun berlangsung, agak lama karena bayi yang akan Nadia lahirkan ada dua. Leo tak sedetik pun bergeser dari sisi istrinya itu bahkan dia terus mengecup pucuk kepala Nadia berkali-kali, hingga sebuah senyum samar tercipta dari wajah yang pucat itu pada saat terdengar suara tangis bayi pertama mereka lahir.


"Leo, apakah itu suara baby twins?" tanya Nadia dan Leo pun mengangguk cepat.


"Oh, terima kasih sayang. Kau telah memberikan kebahagiaan yang begitu luar biasa untukku," lirih Nadia di sertai Isak tangis haru.


Ia pun kembali mengecup kening Nadia dalam. Hingga tanpa terasa bulir air mata itu pun menetes membasahi rahangnya yang di tumbuhi bulu-bulu halus itu.


"Pendarahan kembali terjadi, segera tutup jalurnya dan lakukan transfusi darah sekarang!" Arnett memerintahkan kepada timnya agar bergerak cepat, karena keadaan Nadia yang mendapat komplikasi dari jaringan rahimnya yang luka.


"Apa yang terjadi dengan istri saya! Mana bayiku, bawa kesini! Istriku ingin melihatnya!" Leo berteriak panik, karena semua tim medis juga panik. Keadaan Nadia juga sangat lemah hingga tak lama istrinya itu tak lagi sadarkan diri.


"Sayang, sayang!" panggil Leo pada Nadia.


"Tenang, Tuan. Sebaiknya anda keluar. Biarkan kami menangani istri anda. Kedua bayi kembar itu pasti akan membutuhkan anda untuk pelekatan. Tolong anda ikuti, perawat!" kata Arnett, mengusir Leo secara halus.

__ADS_1


Selain akan mengganggu tim medis dengan kepanikannya. Bayi kembar itu juga membutuhkannya, karena keadaan Nadia yang pingsan, sehingga tidak dapat melakukan proses π™„π™ˆπ˜Ώ (𝘐𝘯π˜ͺ𝘴π˜ͺ𝘒𝘴π˜ͺ π˜”π˜¦π˜―π˜Ίπ˜Άπ˜΄π˜Ά π˜‹π˜ͺ𝘯π˜ͺ ).


Leo keluar ruangan dengan perasaan campur aduk. Entah ia harus senang atau sedih karena, kedua bayinya telah berhasil lahir dengan selamat. Akan tetapi, di balik itu semua hatinya sangatlah hancur melihat keadaan Nadia yang tak sadarkan diri.


"Sayang, kau pasti baik-baik saja," batin Leo seraya menghapus air matanya yang berlinang tiada henti.


"Tuan, ini kedua bayi anda. Bergantian ya," kata sang perawat.


Leo nampak berbinar penuh bahagia menatap baby twins yang di letakkan di atas dada terbukanya. Leo tak dapat menguasai emosinya, lantas ia memeluk bayi itu sembari menangis.


Tak lama dokter Arnett memanggil.


"Katakan saja cepat! Bagaimana operasinya!" Leo menggebrak meja kerja Arnett, hingga dokter Obgyn itu tersentak.


" Bagaimana, saya akan memberitahu anda? Jika tidak bisa tenang? Anda harus menerima kabar apapun yang akan saya katakan. Karena, semua yang terjadi di luar kuasa kami. Anda juga sudah tau, jika wanita yang melahirkan nasibnya berada di ujung tanduk." Arnett terlihat menghela napasnya, sebelum ia menyampaikan kabar buruk ini pada suami pasiennya.


Seketika Leo terjatuh duduk di kursi ketika sang dokter berhasil menjelaskan padanya apa yang terjadi pada Nadia saat ini.


"Black, bagaimana? Apa Tuan belum memberi juga?" tanya Red pada Black yang sedang fokus pada ponselnya.


"Tuan, telah mengirim pesan. Nyonya Nadia--" Black sungguh tidak dapat meneruskan kata-katanya. Ia justru menatap Red dengan wajah sendunya.


"Ada kabar apa! Nyonya kenapa! Black, kenapa kau memasang wajah yang ku benci? Katakan kalau Nyonya dan baby twins baik- baik saja!" pekik Red dengan sorot mata mendung.

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2