Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )

Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )
Bab#14. Red & Black.


__ADS_3

Paulina terdiam dan hanya bisa menunduk. Sesekali ia terlihat menyeka air matanya.


Black menatap malas ketika wanita di hadapannya melepas drama baru. "Kau hanya membuang waktuku." Black berlalu tanpa sepatah katapun lagi.


"Masa laluku bersamamu telah ku kubur dalam-dalam. Aku mengutuk perbuatan kita dulu, jadi jangan pernah kau ungkit lagi karena aku tidak akan pernah kembali masuk ke dalam jurang yang sama. Dimana untuk keluar dari sana membutuhkan perjuangan yang tidak mudah. Jangan kau buang waktu dengan perbuatan yang hanya akan berakhir sia-sia," tutur Black memberi penjelasan serta peringatan keras pada Paulina.


Tekad Black untuk menjauh dan melupakan masa lalu termasuk keluarganya sangat kuat tak terpatahkan.


Iman serta keteguhan hatinya memang patut di acungi empat jempol. Karena secara harfiah, pria mana yang takkan tergoda oleh sajian menarik yang sudah pasti akan sangat nikmat jika di cicipi.


Rupa dan bentuk tanpa cela yang di suguhkan oleh Paulina, ternyata tak cukup untuk membuat pendirian seorang ajudan dari mantan ketua mafia itu goyah.


"Ternyata aku memang harus bermain curang dan sedikit licik padamu. Salahmu, karena telah berkali-kali menolakku! Aku tau, kau begini karena telah memiliki seseorang. Lihat saja Zo, aku akan membuatmu menjadi pria yang jahat karena telah mengkhianati seseorang yang kau cintai" batin Paulina yang ingin selagi tergelak pada saat memikirkan rencana jahatnya.


Paulina tergelak tanpa suara. Ia begitu senang hingga tertawa bahagia dalam hatinya. Tak di sangka jika asisten dari Lorenzo sendiri yang justru memuluskan segala rencananya.


"Kau harus memasang ini di dalam kamar nanti. Karena kau akan mengabadikan kisah kami yang sebentar lagi akan kembali terulang!" titah Paulina pada Shine yang pada saat ini memandanginya dengan tatapan nakal.


Sementara Paulina acuh dah membiarkan pria itu membayangkan apapun. Wanita itu terus tersenyum memandang benda mirip kamera yang ada di dalam genggaman tangannya.


"Kau tunggu saja cantik. Apa yang akan kita lakukan nanti," kata Shine seraya mengambil benda tersebut dari tangan Paulina dengan begitu sensual.


"Lakukan tugasmu dengan baik dan jangan kecewakan aku!" kecam Paulina yang sangat risih ketika pria berkepala pelontos ini terus menggodanya.


"Baik Bos cantik," bisik Shine di telinga Paulina hingga wanita itu bergidik ngeri.


"Haish tak terbayang jika nanti aku bercinta dengan pria botak itu. Menjijikkan! Aku harap sebisa mungkin mengelak dari perjanjian ini nanti," batin Paulina dengan segala rencana liciknya.


"Kau pasti akan ku dapatkan nona," batin Shine tertawa tanpa suara. Kemudian berlalu masuk ke dalam kamar yang ia tempati bersama Black.


Shine menyiapkan apa yang harus ia persiapkan dengan botol aroma terapi elektrik tersebut. Kemudian memasang kamera pengintai super mini di tempat yang pas. Pria itu terus bekerja sambil sesekali tertawa lalu menyeka air liurnya.


"Ah, aku sudah tidak tahan untuk merasakan tubuh indahnya itu," gelak Shine lagi. Kali ini tawanya sungguh menyeramkan.

__ADS_1


Tak lama kemudian pintu kamar terbuka dan nampak sosok Black yang terlihat lelah telah masuk. Black langsung mengendurkan dasi dan juga kancing pada kemejanya.


Ia menoleh ke arah Black yang nampak santai memainkan ponselnya.


"Tumben banget masuk kamar duluan," tanya Black penuh selidik. Sementara Shine tak menoleh dan tertawa di depan layar ponselnya sebagai kamuflase. Karena dirinya bingung harus menjawab apa.


"Maafkan saya, ajudan," batin Shine mulai merasa bersalah. Tetapi, dia harus melakukan ini demi bisa meniduri Paulina.


Black menggelengkan kepala karena mengira jika Shine sedang menonton film pronoh.


Ketika Black keluar dari kamar mandi maka, Shine mengenakan maskernya kemudian segera menyalakan aroma terapi elektrik tersebut.


Slashh.


Shine segera menutup hidung dan mulutnya dengan masker. Ketika aroma yang akan menyerang syaraf di otak itu mulai menguarkan keharuman menyihir siapapun yang nanti akan menghirupnya.


"Uh, aroma apa ini Shine?" tanya Black yang merasa aneh merasuk melalui Indera penciumannya.


"Maaf Ajudan."


Klek!


Shine mematikan lampu kamar tersebut.


Di seberang kamar seorang wanita nampak menyeringai.


"Shine lumayan juga. Aku hanya tinggal menunggu ia mengabari ku melalui pesan singkat." Paulina terus memandangi ponselnya sambil berjalan mondar-mandir dalam kamarnya. Ia telah melihat bagaimana aksi pria botak itu dari layar laptopnya.


Wanita cantik bertubuh tinggi dengan kulit putih mulusnya itu, telah begitu mempersiapkan dirinya begitu sempurna. Ia mengenakan pakaian yang sangat menggoda dengan bahan yang tipis dan menerawang. Hingga setiap lekuk di tubuhnya terlihat dan tergambar dengan jelas.


Dip!


Ponselnya berkedip pertanda ada sebuah pesan yang masuk.

__ADS_1


"Kemarilah, Paulina. Tugasku telah selesai, kau tinggal membayarnya." Begitulah pesan yang disampaikan oleh Shine. Hingga menciptakan senyum kegirangan di wajah cantik Paulina.


Wanita itu hampir saja memekik girang, ketika membaca pesan yang dikirim oleh Shine.


"Aku datang Zo sayang. Tunggu aku ya!"


Paulina pun langsung masuk ke dalam kamar yang memang terletak di sebrang kamarnya ini. Pintu tak di kunci karena Shine telah mempersiapkan semuanya.


"Apa yang kau lakukan dengan topeng ini Shine?" tanya Paulina ketika ada pria di tengah cahaya remang-remang dalam kamar yang menyambutnya dengan tatapan tajam.


Pria tersebut tidak menjawab justru mendorong tubuhnya ke atas tempat tidur.


"Dasar pria gila! Pergi sana jangan mengganggu malam panas menggeloraku dengan Zo." Paulina mendorong tubuh pria bertopeng serta berpenutup kepala itu keluar kamar.


Pria tersebut hanya memberi kode dengan menyatukan antara jari jempol dan telunjuknya hingga membentuk huruf O.


"Emh!" Sebuah geraman disertai lenguhan terdengar begitu nyaring, ketika pria dengan bagian tubuh atas polos ini memeluk paulina dari belakang.


"Zo, aku di sini." Dalam keremangan cahaya kamar Paulina menyambut pelukan erat pada tubuhnya itu. Tak lama kemudian aroma wangi yang memabukkan kembali menguar di dalam kamar tersebut.


Pria bertopeng tersebut ternyata memang masih menyalakan perangsang elektrik tersebut kembali.


"Si botak gila. Kenapa kau juga membuatku mabuk, hah?" Paulina pun mulai merasa melayang, wajahnya menghangat dengan perasaan tak nyaman yang perlahan membuatnya menggeliat bagai cacing kremi.


"Selamat bersenang-senang untuk kalian berdua." Pria di balik topeng tersenyum miring. Ia kemudian masuk ke dalam kamar di seberang dan menutup pintu kamar tersebut rapat-rapat.


Ia sebenarnya tengah merasakan panas di pusat tubuhnya. Karena memang telah menghirup aroma terapi perangsang birahi itu. Saat ini dirinya tengah berusaha menahan geloranya setengah mati, tatkala di hadapannya tadi berdiri sosok Paulina yang berpakaian tapi nampak bugil.


"Sial! Aku harus berendam di air dingin!" gumamnya kesal. Kemudian ia berlalu meninggalkan sepasang manusia tenaga bercinta yang dapat ia lihat melalui layar laptop karena karena yang di pasang oleh Shine memang tersambung dengan perangkat tersebut.


Kembali ke kamar satunya.


"Ah, Zo, akhirnya kita bisa bersama," ucap lirih Paulina yang kini telah berada di bawah kuasa pria penuh napsu. Dimana pria itu terus menikmati setiap inchi bagian dari tubuhnya dengan sangat buas.

__ADS_1


...Bersambung ...


__ADS_2