
Dip dip dip.
Arloji yang melingkar di pergelangan lengan Black berkedip. Membuat keduanya sadar dan sontak melepaskan tautan bibir mereka yang sedang manis-manisnya.
Black sempat tersenyum seraya mengusap bibir Red yang basah karena perbuatan keduanya barusan. Red langsung memalingkan wajahnya kesamping demi menutupi semburat merah muda di kedua pipinya.
'Kau payah! Bagaimana bisa terbawa suasana begini!' batin Red merutuki perbuatannya barusan. Telinganya tiba-tiba menangkap sayup-sayup suara. Nalurinya merasakan ancaman. Serta merta Red pun mengedarkan pandangannya di tempat gelap itu.
"Blue bagaimana?" tanya Black pada alat yang terpasang pada pergelangan tangannya dengan mendekatkan kedua bibirnya ke depan arloji tersebut.
Black sedang mencoba berkomunikasi pada Blue demi meminta pertolongan pada kawannya itu. Karena jika ia menghubungi Leo itu hal yang tidak mungkin. Masa iya ajudan minta tolong sama majikan. Dimana ia letak kredibilitasnya?
"Bagaimana keadaan lu dan Red saat ini. Sebentar lagi gue sampe lokasi," ucap Blue di sana.
"Kami baik, bahkan sangat baik. Hanya saja aku sudah tidak tahan," jelas Black.
Red pun menguping apa yang Black bicarakan dengan orang di seberang sana yang ia tau jika itu Blue.
" Bertahanlah, sebentar lagi Dark dan Shine akan menghampiri kalian berdua," terang Blue yang memahami maksud Black yang berbeda dengan apa yang ada di dalam pikiran pria itu saat ini.
Akan tetapi, tiba-tiba saja Black merasakan sesuatu. Ia menoleh kearah Red yang mana calon istrinya itu langsung menatap lekat padanya.
"Sepertinya ada yang datang," bisik Red.
"Aku juga merasakannya, tapi tidak mungkin jika itu adalah bantuan yang di kirim Blue," kata Black sambil mengerutkan keningnya pertanda ia berpikir keras.
Red seketika merundukkan tubuhnya diikuti oleh Black. Kemudian keduanya mencoba keluar dari dalam mobil.
Tiarap di sisi mobil dan mengintip dari balik roda. Pada saat itulah mereka berdua dapat melihat beberapa pasang sepatu melangkah mendekat.
"Lebih dari lima orang," ucap Red yang kemudian diangguki oleh Black. Sepasang mata Black menajamkan pandangannya, seketika itu juga aura petarung kembali menguar dari rahangnya yang mengeras.
"Aku tidak tahu siapa mereka, yang pasti mereka menginginkanku. Karena itu kau bersembunyilah. Jangan keluar sampai bantuan datang," ucap Black pada Red.
"Hei! Kau pikir aku ini anak kucing, yang akan ketakutan ketika di serbu musuh." Red menolak perintah Black mentah-mentah, tentu dengan sorot mata yang tajam menatap kearah pria di sampingnya.
Red yang tidak pernah takut apapun merasa di rendahkan dengan perintah Black barusan. Tanpa memahami maksud pria itu untuknya.
"Aku tau jika kau adalah titisan singa gurun. Tapi ingatlah, jika saat ini aku tidak mau kau terluka sedikitpun," bisik Black.
Pria itu berkata dengan hati-hati sambil menatap dalam manik mata calon istrinya itu. Ia tentu sangat paham bagaimana Red terbentuk memiliki jiwa petarung macam dirinya. Akan tetapi keadaannya saat ini membuat Black tak bisa membiarkan Red bertarung mati-matian lagi.
"Aku tetap akan meladeni mereka dengan atau tanpa ijin darimu." Red menolak dengan keras perintah serta larangan Black apapun itu alasannya.
"Keras kepala! Kau membuatku khawatir," kata Black lagi dengan berdecak.
__ADS_1
"Apa itu?" tanya Black dengan kedua alis yang saling bertaut, pada saat Red mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecilnya.
"Ini adalah jarum dan juga pisau kecil penuh beracun, aku akan melumpuhkan mereka sebelum mereka tersadar sedang berhadapan dengan siapa." Red berjongkok. Ia mengeluarkan dua pisau dari bawah sepatunya.
"Ya kau si ahli racun. Sebenarnya darimana kau belajar hal seperti ini?" heran Black. Sambil mempersiapkan senjata di tangannya.
"Tentu saja ketika aku mengikuti wajib militer. Kami mempelajari beberapa tanaman beracun yang akan berguna di kala perang gerilya. Dan aku terus mempelajarinya sekalipun sudah tak lagi jadi tentara," jelas Red pelan.
Wanita itu tiarap dan meniup sebuah benda panjang yang akan melewatkan jarum dari jarak jauh.
Sleep slep slep!
Beberapa Jarum melesat dan menancap pada kaki-kaki penguntit yang hampir saja menemukan lokasi persembunyian keduanya.
Ahh!!
Brugh!!
Beberapa penyusup jatuh dan setelahnya tak bergerak.
" Kau benar-benar hebat! Macam rambo wanita saja!" puji Black yang memang selalu ada hal yang ia kagumi dari Red.
"Cukup, kagumnya nanti saja. Mulai saat ini jangan meremehkanku lagi." Red kembali mengajak Black bersembunyi ketika ia mendengar derap kaki.
"Aku tidak bermaksud meremehkanmu. Aku hanya terlalu khawatir," bisik Black pelan dihadapan wajah Red. Bahkan ia menangkup sebelah pipi wanita itu dengan tangannya. Red sempat terkesiap dan hanya dapat mengedipkan kedua matanya. Sekali lagi ia mendapat tatapan hangat dari Black.
Musuh semakin dekat dan jumlah mereka nyatanya telah berkurang dari sebelumnya. Black pun memberikan kode karena dia ingin menampakkan diri untuk segera mengakhiri pertempuran ini.
Black berteriak serta melepaskan tembakan hingga ketiga musuh yang mengendap terkaget.
Mereka juga balas menembak yang langsung di balas kembali oleh Red.
Nyatanya kemahiran dari keduanya mampu melumpuhkan ketiga musuh hingga mereka semua jatuh dalam keadaan bersimbah darah.
Beberapa bagian tubuh mereka telah berlubang karena tertembus timah panas.
"Sial! Mereka benar-benar bersenjata!" teriak Black sangat marah sambil menendang tubuh yang sudah meregang nyawa itu.
Sementara Red terlihat memeriksa sekiranya dapat menemukan petunjuk apapun itu.
"Black! Daripada kau marah-marah, cepat nyalakan lampu sorot mobil untuk menerangi mayat-mayat ini!" titah Red tegas.
Black pun dengan patuh menuruti perintah dari Red. Mereka berdua pun memeriksa dengan teliti hingga tak berapa lama kemudian kiriman bantuan baru datang.
"Telat!" maki Black seraya melempar pistol kosong ke arah Shine dan juga Dark yang baru turun dari mobil mereka.
__ADS_1
"Maaf, Bos," jawab Shine takut. Bagaimana pun Black adalah atasan mereka. Dan keduanya saat ini sudah melakukan kesalahan fatal.
"Urus mayat-mayat ini!" titah Black yang geram karena tak menemukan satu pun petunjuk kecil.
"Black!" panggil Red keras.
"Ada apa? Kau menemukan sesuatu!"
"Ini!"
Red menunjukkan sebuah tato yang sangat kecil di belakang telinga para musuh.
"Ct? Apa itu?"
Red pun memfoto tato tersebut.
"Mayatnya cuma ada empat. Lalu dimana satu orang lagi?" heran Red dengan manik mata yang mengedar ke segala arah.
Tak lama kemudian terdengar suara kendaraan melaju kencang di belakang mereka.
"Apa! Bagaimana bisa ada yang kabur!" teriak Black seraya mengusap wajahnya kasar.
"Kejar mereka cepat!" titah Black pada Dark dan Shine."
Red nampak menautkan kedua alis matanya yang tebal. "Bagaimana pria itu bisa selamat dari racunnya?" heran Red tak habis pikir. Baru kali ada yang selamat dari Jarum pencabut nyawa miliknya.
Pengejaran terpaksa dihentikan karena mereka semua kehilangan jejak.
_________
"Kau kembali membawa kegagalan! Tak berguna!"
Dor!
Cobalt menembak tepat di samping kaki Sage.
"Dia dan wanita itu sangat hebat. Bahkan kedua orangku mati terkena racun dan aku telah berusaha payah kembali demi mengantar informasi ini kepada anda," terang Sage dengan napas yang terengah-engah.
"Olive! Berikan dia penawar racun!"
"Terlambat, racunnya telah sampai ke hati dan, uhukk!!"
Sage memuntahkan darah hitam dari mulutnya dan tak berapa lama darah juga keluar dari mata, hidung dan juga telinganya.
"Buang mayatnya ke kandang buaya!" titah Cobalt.
__ADS_1
"Ternyata putra Kendrick bukan orang sembarangan. Dia benar-benar akan menjadi ancaman suatu saat nanti," kata Olive yang merupakan istri dari Cobalt yang tak lain adalah paman dari Lorenzo alias Black sendiri.
...Bersambung...