Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )

Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )
Bab#6. Red & Black.


__ADS_3

Kedua mobil mewah itu saling bertabrakan karena Black dengan cepat meluncur dan mendahului keduanya.


"Kamu gapapa, Red?" tanya Black yang khawatir karena wajah Red yang pucat.


"Sedikit mual. Kita baru saja selesai makan dan terus main kebut-kebutan. Bahkan makanan itu belum masuk seluruhnya ke lambungku," jawab Red yang ingin sekali minum tapi tidak mungkin bisa.


Kendaraan yang sedang ia naik ini melaju sangat kencang dan menyalip kendaraan lain dengan begitu lihai.


Semoga tidak ada polisi patroli yang menyadari aksi mereka.


Karena memang mereka kejar-kejaran di jalanan protokol.


Untung saja jam malam sehingga jalanan tidak terlalu ramai seperti siang hari.


"Maaf, Red sayang. Aku sama sekali tidak memprediksi kejadian ini. Ah, sial! Siapa sih mereka!" ucap Black seraya mengumpat karena kesal. Harusnya malam ini menjadi saat yang romantis baginya dan Red.


Jarang-jarang mereka berdua bisa keluar bersama tanpa sebuah mis atau tugas dan juga tanpa harus mengawal majikan.


"Entah datang darimana para cecunguk bin bedebah kucrut itu!" gerutu Black lagi.


"Cari tempat lapang dan sepi. Kita harus menghadapi mereka. Aku tak suka main kucing-kucingan seperti ini," saran Red.


"Kamu benar, Red. Biar ku habisi saja mereka semua. Belum tau apa lagi berhadapan dengan siapa!" kesal Black yang terlihat mencengkeram gagang kemudi erat.


"Karena itu kita harus mencari tempat sepi agar tidak meninggalkan jejak kriminal kau paham!" kata Red lagi.


"Hemm," jawab Black singkat.


Black keluar dari jalan raya utama dan memilih untuk memasuki jalanan sebuah kampung. Ia tau daerah ini memiliki banyak kebun kosong yang luas. Daerah pinggiran kita yang belum tersentuh pembangunan karena warganya masih mempertahankan tahan leluhur mereka.


Black menyembunyikan kendaraannya di balik semak belukar. Memetikan mesin kendaraan dan juga lampunya. Sehingga keadaan sangatlah gelap. Hanya ada cahaya yang berasal dari mata keduanya saja.


Sambil mengawasi keadaan apakah para penguntit itu dapat mengikuti serta menemukan mereka di sini.


Jika iya, maka Black dan Red sudah siap. Beberapa senjata telah berada di pinggang dan pergelangan kaki mereka.

__ADS_1


Apalagi, Red. Di sebuah tas kecil yang menempel pada ikat pinggangnya terdapat senjata rahasia yang mematikan.


Red yang mengerti ilmu posion atau racun memiliki senjata rahasia berupa jarum dan juga pisau kecil. Dimana pada ujung timah benda ini telah ia oleskan racun yang akan langsung menyerang sistem syaraf manusia.


"Red, kok kita kayak anak muda yang lagi mojok ya," celetuk Black yang bercanda di waktu tak tepat. Hingga ...


Plak!


"Aw! Sakit Red," rintihnya seraya mengusap bahu yang di pukul Red dengan kencang.


"Liat sikon kalo mau ngelawak!" omel Red. Kedua manik mata wanita itu mengedar di tempat yang gelap tersebut.


Kresek.


Mendengar suara nyaring yang mengagetkan sontak membuat Red reflek mencengkeram lengan Black dan merapatkan tubuhnya pada pria di sebelahnya ini.


"Kau ini, tadi memukul sekarang tiba-tiba memelukku. Sudah tidak usah berpura-pura galak lagi," ucap Black sambil tertawa gemas.


Tangannya terulur hendak mencubit pipi Red.


Plak!


"Duh, calon istri tapi sukanya kekerasan mulu kerjaannya." Black mengerucutkan bibirnya lucu. Membuat Red yang melihatnya dalam kegelapan dan remang-remang cahaya sontak menyemburkan gelak tawanya seketika.


Black sontak memandangi wajah Red yang tengah terbahak itu dengan seulas senyum senang. Tanpa komando tangannya terjulur kedepan menyibak surai yang menutupi kening calon istrinya ini.


Tak ada penolakan, Red masih terus tertawa geli. "Sejak kapan seorang Black dapat memasang ekspresi seperti itu. Kau sungguh tidak cocok kala merajuk," ledek Red masih dengan tawanya.


"Kau ternyata sangat cantik kalau tertawa begini Red," puji Black dengan suara yang terdengar lembut.


"Aku akan lebih sering memasang wajah itu, jika bisa membuatmu tertawa karenanya. Daripada melihat kau marah-marah, lebih baik seperti ini." Black meneruskan usapan jemarinya pada pipi dan rahang Red. Sehingga membuat wanita di hadapannya ini seketika menghentikan tawanya.


Dadanya berdesir hangat kala mendapat sentuhan serta tatapan selembut itu dari Black. Pria ini bisa manis juga, pikirnya.


"Red, aku mencintaimu. Takkan kubiarkan siapapun melukaimu. Aku berjanji malam ini kita akan kembali ke mansion dengan selamat. Kita akan mewujudkan keinginan Nyonya atau nanti baby twins terlahir ileran," kata Black yang kembali membuat Red menyemburkan tawanya.

__ADS_1


Penampakan indah dan langka yang ada di hadapan Black saat ini membuatnya menatap semakin lekat ke dalam wajah Red yang teduh. Sepertinya ia mulai terbawa suasana sepi dan syahdu ini.


Semoga saja para penguntit itu nyasar dan tidak dapat menemukan keberadaan mereka.


Black menggerakkan ibu jarinya ke depan wajah Red. Hingga ia menyentuh dagu kemudian naik ke bibir bawah Red yang penuh menggoda.


Karena tak ada penolakan dari Red maka Black memajukan wajahnya perlahan, hingga keduanya semakin dekat dan dekat lagi.


Black bahkan menelan ludahnya kasar kala kedua matanya menatap bibir Red yang ia ingat terus akan rasa manisnya. Timbul niat dalam hatinya untuk mereguk kembali rasa pada bibir itu.


Red tak bergeming atas apapun yang Black lakukan padanya. Ia seakan terhipnotis tatapan Black yang berkabut, sampai ketika kedua bibir mereka pada akhirnya kembali bertemu.


Keduanya terdiam sesaat, merasakan benda kenyal dan basah itu saling beradu. Atau, mungkin Black tengah menimbang apakah akan ada penolakan dari Red atau tidak.


Merasa mendapat lampu hijau, maka Black kembali menekan bibirnya untuk memberi kecupan ringan.


Perlahan-lahan ia memperdalam ciumannya dengan memberi sedikit sesapan dan juga lumaatan. Sebelah tangannya terulur untuk menekan tengkuk Red, dan di luar dugaan jika wanita itu merespon dengan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Black.


Red ternyata menikmati dan perlahan membalas serangan demi serangan yang Black berikan. Hingga pria ini tersenyum tipis di sela-sela ciumannya. Ia menggigit pelan bibir bawah Red agar wanita itu membuka akses lebih luas untuk lidahnya bereksplorasi. Hatinya senang bukan kepalang, begini saja sudah merupakan berkah baginya.


_________


Sementara itu Sage dan Milo terus menyisir lokasi tempat terakhir mereka melihat mobil sport hitam metalik itu menghilang.


"Kemana mereka? Macam hantu saja!" kesal Sage, seraya memukul gagang kemudi pada kendaraannya ini.


"Tempat ini sangat sepi dan gelap, Bro. Bagaimana kalau kau nyalakan lampu sorot mobilnya," saran Sage.


Tapi ...


Bugh!


"Duh! Kenapa di pukul?" protes Milo tak terima kepalanya mendapat pukulan keras.


"Biar otak kau tidak beku! Kalau aku sorot pake lampu yang ada ketauan. Terus kalo kita di tembak gimana??"

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2