Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )

Kisah Cinta Dua Ajudan. ( Red & Black )
Bab#37. Red & Black.


__ADS_3

Beberapa hari kemudian dilalui Black dengan beberapa perubahan terhadap kelakuan dan sikap Red padanya.


Entah kenapa wanita itu menjadi agak melankolis. Bahkan Black diharuskan untuk selalu mengabari keadaan serta lokasi dimana Pria itu berada secara berkala.


Akan tetapi anehnya jika dekat maka Black akan diusir menjauh dari Red.


"Menjauh sana, Black! Aku tak ingin kau dekati malam ini!" Seperti beberapa hari sebelumnya, Red akan selalu mengusir suaminya. Dimana, pada malam-malam sebelumnya, mereka berdua akan tidur dengan berpelukan erat.


Padahal tadi Black sudah berusaha mempercepat pekerjaannya karena Red menginginkannya agar segera pulang. Nyatanya pas di rumah dirinya justru dilarang dekat-dekat.


"Kamu kenapa sih, sayang?" tanya Black bingung. Pasalnya, sambil garuk-garuk kepalanya yang tak gatal. Keningnya berkerut dengan kedua alis bertaut, sebab sudah beberapa hari ini, istrinya itu bersikap aneh.


"Aku tak apa, Black. Hanya saja, aku tidak mau di dekati," ketus Red dengan lirikan sinis.


"Loh kenapa? Tadi aku di suruh pulang cepat tapi pas sampai rumah lantas kau usir keluar. Aku punya salah sih, Red?" cecar Black bercampur gemas.


Pria itu maju mendekat beberapa langkah yang malah membuat Red mundur menjauh.


"Aku gak suka melihat wajahmu apalagi aroma tubuhmu itu," jawab Red. "Aku tidak suka bau keringatmu."


"Oh, sial. Apa dia bilang barusan?" batin Black.


Lantas, dirinya langsung menghirup aroma ketiaknya, tapi tidak ada yang salah. Karena dirinya baru saja mandi setengah jam yang lalu.


"Aku tidak bau kok, sayang," kata Black, sambil memasang wajah bingung. Pasalnya, sudah beberapa malam ini, ia belum mendapatkan jatahnya. Hingga keperkasaannya itu, selalu berdenyut nyeri hendak meledakkan sesuatu didalam dirinya.


"Ya sudah, kalau kamu tidak mau turun dari kasur. Biar aku saja yang tidur di kamar sebelah." red yang hendak turun pun segera di tahan oleh Black.


"Tunggu! Apa aku ada salah pada mu? Katakan saja, jangan membuatku bingung dengan sikapmu ini?" cecar Black, yang benar-benar tak habis pikir akan perubahan sikap istrinya itu.


"Kamu itu, tidak salah apa-apa. Hanya saja, aku tidak suka di dekatmu. Entah kenapa aku rasanya kesal sekali dan mual." Red menepis tangan suaminya itu untuk benar-benar turun dari tempat tidur dengan cepat.

__ADS_1


"Sayang!" panggil Black pada istrinya. "Jangan keluar dari kamar ini, biar aku saja yang tidur di sofa." Black langsung menghadang langkah istrinya yang sudah hampir sampai ke pintu.


"Baiklah." Red pun berbalik dengan sikap acuhnya, benar-benar tak ada lagi sosok wanita yang lemah-lembut. Padahal Black baru saja menikmati sisi lembut dan manis Red beberapa pekan ini.


"Sebenarnya kamu ini kenapa sih sayang? Mengapa sikapmu seperti awal-awal kita bertemu dulu? Tidak mungkin kan kamu marah hanya karena perbuatan dari Paulina. Aku bahkan tidak tahu lagi bagaimana kabar berita dari wanita itu sekarang," batin Black frustrasi.


Hingga ia dari kamar seraya menatap punggung istrinya itu dengan raut wajah yang begitu sendu. Pulang kerja, bukannya di sambut dengan mesra, justru sikap dingin serta penolakan yang ia terima.


"Apa mungkin ini cara Red membalas segala kenakalanku dulu?" batin Black lagi mulai menyalahkan dirinya.


Red merebahkan tubuhnya di sofa dengan enggan. Rasanya kepalanya akan meledak saat ini juga.


Tak lama terlihat pintu kamar dibuka. Black langsung berdiri dengan memasang senyum gembira.


"Dia pasti telah menyesal karena mengusirku, Karena bagaimanapun juga dirinya pasti membutuhkanku," gumam Black yang mengira bahwa Red berjalan mendekat untuk mengajaknya masuk kembali kedalam kamar mereka.


"Nih, biar kamu gak kedinginan." Red ternyata hanya menyerahkan selimut serta guling pada suaminya itu.


"Jadi, aku cuma boleh meluk guling kamu aja?" tanya Black dengan nada lemas.


"Ya ampun rasanya kok sedih banget. Aku bener-benar ngerasa di buang. Gak lagi berguna dan berarti buat kamu Red. Padahal kan aku udah mandi dia kali sepulang kerja tadi," batin Black yang seketika merasa sedih.


Black, menghela napas berat dalam resah yang ia rasakan kini. Tungkai kakinya seketika tak bertenaga. Apalagi, ketika pintu kamar di tutup rapat, mendadak hatinya serasa berdenyut nyeri.


Black menyeka air yang telah menggenang di ujung matanya.


"Ck, apa aku benar-benar menangis? Sejak kapan aku jadi cengeng begini?"gumamnya, seraya berdecak sebal.


"Ternyata, hatiku lemah ketika kau acuh dan bersikap dingin padaku Red. Oh, sayang," Black menghela napasnya berat. Pria itu benar-benar terlihat menyedihkan saat ini.


Black menjatuhkan raganya di sofa, menatap guling serta selimut yang ada di tangannya. Kemarin, beberapa hari yang lalu, ia masih bisa mengendap-endap setelah lewat tengah malam. Karena, saat itu pintu kamar tidak di kunci. Akan tetapi kini, dirinya hanya bisa gigit jari meratapi nasibnya yang malang.

__ADS_1


"Hei prajurit kecilku yang perkasa. Sampai kapan kita akan tersiksa seperti ini? Jangankan untuk masuk ke dalam gua persembunyianmu, merasakan manis bibirnya pun aku tak bisa," keluh Black lagi seraya melempar guling itu ke atas lantai.


"Aku butuh seseorang untuk mendengarkan ceritaku ini. Tapi, kira-kira siapa!" Black mengangguk kepalanya kasar saking geram sendiri.


"Arrggh!" Black pun berteriak frustrasi, sembari mengacak-acak rambutnya. Tak ada satupun nama yang nyangkut di kepalanya. Pasalnya, dirinya memang tak pernah curhat akan masalah pribadinya dengan orang lain. Siapapun itu.


"Sudahlah, tidur saja. Semoga ini semua hanya mimpi." Black pada akhirnya menutupi tubuhnya hingga kepalanya dengan selimut.


Keesokan harinya di kantor.


"Lu ngapa Black, kenapa tuh muka di tekuk begitu?" heran Blue. Melihat kawannya itu macam zombie. Tak nampak seperti biasanya karena Black saat ini terlihat begitu lesu dan tak bergairah, bahkan rambutnya seperti tidak disisir.


"Sejak kapan gayalu berantakan gini Bray?" tanya Blue heran.


"Kepala gue, pusing." Black menjawab, seraya meremas kepalanya dengan kedua tangan.


"Eh, kepala yang mana?" kelakar Blue, yang mana langsung membuat kawannya itu naik darah. Tak ayal bolpoin pun melayang dan mendarat dengan tepat pada kening Blue.


"Jirrr, sakit!"


"Cari mati lu!" geram Black, seraya memandang kawannya itu dengan tatapan tajam.


"Lah, siapa yang ngeledek? Gue serius kali, serius, banget malahan. Lah, kan lu sekarang udah punya pasangan hidup," elak Blue yang tentu saja tak mau di salahkan.


"Dua-duanya, sialan!" kesal Black.


"Elu yang sialan. Kesel sama siapa gue yang kena!" sarkas Blue.


"Cepat deh lu panggil karyawan yang kira-kira baru nikah." Black memberikan perintah yang tidak bisa di bantah dan sebagai kawan sepenanggungan, blue pun faham bahwa keadaan teman berantemnya itu sedang tidak baik-baik saja.


Blue akhirnya mengangguk patuh. Ajudan Leo yang khusus berada di kantor itu memang serba bisa. Blue langsung menyusuri lobi lalu menghampiri beberapa divisi untuk mencari karyawan yang sudah menikah.

__ADS_1


"Siapa yang baru nikah beberapa bulan cepat temui saya!" titah Blue.


...Bersambung...


__ADS_2